Sebuah rumah melayang di luar angkasa tanpa arah dan tak terjamah radar manusia. Cahaya lilin berwarna kuning temaram menerangi jendelanya.
Seorang bocah
yang berdiri di dekat tirai tampak menunggu sesuatu. Berulang kali ia menoleh
pada lemari jam pendulum di sudut ruangan. Jam itu menunjukkan 12 angka yang akan
selalu berbunyi keras setiap kedua jarumnya mengarah pada angka 12.
Meskipun bocah laki-laki itu juga seorang anak manusia, ia tumbuh dibesarkan bintang dan bulan. Dahulu planet-planet bergantian menyanyikan lagu pengantar tidur khusus untuknya.
Entah sejak kapan bintang, bulan, dan planet berhenti membuainya dengan kasih sayang. Mungkin sejak ia mampu makan, mandi, berpakaian sendiri, dan membaca. Membaca yang dimaksud termasuk waktu dan buku.
Setiap kedua jarum mengarah pada angka 12, warna langit yang kelam akan berubah menjadi paduan warna. Semua warna yang indah tumpah ruah di luar sana.
Biru, merah, dan ungu menjadi warna yang paling dominan memenuhi angkasa. Awan yang memanjang dengan bentuk abstrak tampak berpendar penuh kerlip cahaya.
Semua itu terjadi sampai lemari jam pendulum berbunyi lagi. Ia bisa berdiri di depan jendela selama angkasa tampak berpendar indah, tapi seringnya ia akan jatuh terlelap di depan jendela dan entah bagaimana ketika membuka matanya, tubuhnya sudah berada di atas sofa.
Seumur hidup ia belum pernah pergi keluar rumah. Segala kebutuhannya selalu tersedia. Makanan dan minuman selalu tersedia di meja makan ketika ia lapar. Pakaian bersih selalu tersusun rapi di dalam lemari pakaian. Buku baru selalu muncul saat ia sudah menyelesaikan membaca satu buku.
Hidupnya tak pernah kekurangan. Rumah itu menjaganya dengan cara yang ajaib.
Suara gedebug membuatnya terkesiap. Sudah lama sejak ia mendengar suara selain suara napasnya sendiri. Terakhir ada suara lain mungkin saat bulan dan bintang masih mengasihinya. Rumah besar itu selalu senyap. Keajaiban lain dari rumah itu memang bisa memunculkan semua kebutuhan si penghuni tanpa suara.
Bocah itu mulai mencari sumber suara. Suara bel rumah saja tidak pernah terdengar, apalagi suara gedebug yang terdengar seperti ada yang jatuh? Bulan dan bintang tidak pernah mengajarinya soal takhayul. Jadi dia tidak percaya hantu. Tapi apa yang mungkin muncul bersuara di rumahnya yang senyap?
Langkahnya terhenti di depan perapian.
“Maaf! Aku tergelincir!” Terdengar suara anak perempuan dari
perapian. Rambutnya yang bergelombang tampak kotor oleh jelaga. “Aku tidak tahu
kalau rumah ini berpenghuni.”
"Tunggu—"
To Be Continued
.png)