Suara di Ruang Hampa
Mungkin perasaan itu enggak akan hilang. Mungkin
kenangan itu akan selamanya bersemanyam di dalam jiwaku. Mungkin seumur hidup
aku akan menyeret kepingan hati yang berserakan di dalam diriku.
Berulang kali, sejak saat itu, aku bilang, aku
enggak apa-apa. Lagi pula ini hidup. Semua orang terluka. Semua orang juga
menyimpan duka atau luka yang mendalam.
Kalimat yang paling sering kudengar dalam
hidupku adalah “jaga perasaan ayah dan ibumu.” Lantas? Apakah aku ini
enggak punya perasaan. Namun ku tahu, perasaanku bukan hal yang penting.
Maaf. Padahal sudah terjadi lebih dari satu dekade
yang lalu. Bukankah seharusnya perasaan itu telah hilang. Maaf, ternyata
seringkali aku ingin jujur. Maaf, aku melontarkan kata-kata yang seharusnya sudah
aku kubur. Maaf, ribuan maaf.
Apakah salah jika aku ingin didengar. Apakah
salah jika aku punya keinginan. Berulang kali aku mengatakan pada diriku sendiri
bahwa aku sudah enggak punya keinginan apa-apa lagi.
Tapi kenapa?
Kenapa aku ingin merasa penuh lagi? Kenapa aku ingin menggapai sesuatu yang mustahil? Kenapa aku ingin keberadaanku dianggap ada? Kenapa aku masih memiliki keinginan untuk didengarkan? Bukankah tidak apa-apa… tidak apa-apa menjadi tanpa makna. Iya bukan?
30 Agustus 2026




