Family

5.51 WIB

Januari 09, 2017

(Gambar hanya pemanis postingan)

5.51 WIB

Sore-sore begini sambil nunggu adzan Maghrib jadi keinget waktu bulan Ramadhan di Pare-Pare. Kota yang selalu aku rindukan karena di sana ada Ibu, Tante, dan Kakek-Nenek-ku yang biasa kupanggil Aba dan Mami.

Duh… >< Omong-omong kayak gini, jadi kangen Pare-Par! Biasanya jam segini tuh lagi ngumpul di depan TV sama adik-adik sepupuku yang selalu heboh. Entah kenapa selalu ada saja yang mereka debatkan -_-‘ Kadang remot TV, kadang film, kadang cerita sekolah mereka… Hahaha… Walau aku enggak bisa Bahasa Bugis, tapi aku sok mudeng aja dengerin cerita mereka.

Kemudian pertengkaran itu berhenti ketika Ibuku menyuruh salah satu dari adik-adik sepupuku membeli Jelangkote (nama risoles di sana. Enak loh :D)


(menggoda euyyy :9)


Akhirnya aku, Asha (nama adik sepupuku yang masih kelas 8), dan Fira (nama adik sepupuku yang udah kelas 9 sekarang) bisa menonton TV dengan tenang. Hahaha… Aku seneng aja berada di depan TV itu walau yang ditonton cuma acara sinetron atau acara dangdut xD Kadang si Asha yang ngefans sama Rafli (aku enggak tau itu siapa tapi yang jelas penyanyi dangdut XD) selalu komen mana Rafli, mana Rafli.

Hahaha…

Kedua adik sepupuku yang tadi disuruh beli Jelangkote kembali sebelum adzan Maghrib. Annun yang habis sunatan dan enggak puasa, makan Jelangkote di depan kami yang sedang puasa. Dasaaar! -_-‘ Tapi emang gitu deh. Pernah juga Tante-ku minum air kelapa di depan aku, Fira, dan Asha pas lagi puasa (tahu kan kenapa cewek enggak puasa kalo lagi bulan Ramadhan? :p) Jadi semacam pamer gitu deh kalo cewek-cewek ini lagi gak puasa di rumah. Aku juga pernah :p /tapi sebenernya gak bermaksud pamer kok. Aku kan anak baik./

Adzan Magrhib berkumandang setelah ada siaran rutin seperti radio (?) dari masjid. Kemudian sirine dan dug dug dug… Allahu akbar… Allahu akbar…!

Buka puasaaaaaa! :D 

Kami langsung menyerbu meja makan /sebenernya enggak menyerbu juga sih xP lebih tepatnya menyerang!!! RAWWWRRRR!!!/ Aku meminum milk tea yang kubuat sendiri lalu memakan Jelangkote dan memakannya di TV yang masih belum adzan. Ah… Senangnya puasa di zona WITA~~~

Tak hanya bocah-bocah ini. Ibuku, Tante, Mami, dan Aba juga berbuka di ruang makan. Seperti biasa, Aba meminum takjil-nya lalu bergegas ke masjid.

Di ruang makan yang bersebelahan dengan ruang tengah itu selalu ada topik heboh. Terutama waktu Annun habis sunat xD Orang-orang sibuk menanyakan kabar ‘burung’-nya. Hahahaha!

Setelah makan beberapa Jelangkote yang nyummyyyy :9 Semuanya pergi shalat bergantian di lantai 2.

Peringatan shalat jangan kilat dari Ibuku untuk aku dan adik-adikku selalu terngiang di kepalaku.

Setelah kewajiban telah dilaksanakan, kami ke bawah lagi. Lanjut menonton TV~ :D Menunggu Aba pulang. Karena di sini, selalu laki-laki dulu yang makan, baru para cewek B-) Hohohoho~~~

Pernah suatu ketika setelah selesai makan, semua lampu dimatikan.

Mami duduk di salah satu kursi yang ada di dekat ruang makan. Para bocah langsung duduk sembarang melingkar di situ. Aku, Asha, Fira, Annun, dan Abrar. Begitu pula Tante dan Ibuku, juga ada di situ.

Aku masih inget banget xD Waktu itu Ibuku habis melihat seperti penampakan lewat. Pakai peci dan baju putih, tapi mukanya enggak kelihatan. Aku enggak percaya xD (padahal Ibuku sendiri yang cerita). Akhirnya Fira praktek di luar dan ternyata Fira yang tinggi aja enggak sampe kelihatan di ventilasi udara. Sebab letak ventilasi udara yang ada di tembok rumah lumayan tinggi.

Terus siapa orang berpeci yang barusan lewat itu? :v Masih menjadi misteri, bung!

Cerita lanjut cerita, ujung-ujungnya Mami bercerita horror. Semua kejadian-kejadian horror yang pernah terjadi di rumah itu diceritakan /yah enggak semua juga sih hehe :D/ Ibuku juga cerita kalau dulu waktu masih kecil suka main jelangkung di rumah.

Suasana gelap-gelap, cerita horror, malem-malem habis Magrhib… IS THE BEST THING EVER!!! :D

Habis itu pada enggak berani ke lantai 2 buat shalat Isya :D :v Termasuk diriku. Awalnya aku sok berani jalan ke lantai atas yang gelap karena lampunya dimatikan. Tapi pas mau ke kamar mandi, aku gak kuat. Aku lambai-lambai ke kamera. /eh ini bukan masih dun*a lain -_-/

Soalnya katanya sering kedengaran langkah-langkah dari lantai 2. Ditambah lantai 2 itu lantainya masih pakai kayu. Jadi suaranya makin terdengar horror... Hihihihihihi (suara kuntilanak) Katanya Ibuku juga pernah denger suara tangisan anak bayi dari luar rumah…

Hahahahahahahahahahahaha… (suara ketawaku)

Jadi begitulah sekilas flashback liburanku di Pare-Pare :’) Kota pinggir laut yang damai~ Semoga liburan besok aku bisa ke sana lagi. Aamiin… :’D 


About Me

Fight With My Friend -END-

April 18, 2015

Fight With My Friend -END-




Sabtu, 18 April 2015
               
Lagu One Direction yang judulnya Spaces seperti biasa membangunkan aku pukul 5 pagi. Aku pun bangun untuk shalat Subuh, lalu karena mataku masih ngantuk, aku pun tidur-tiduran lagi di tempat tidur sampai jam 6 :D Jam 6-nya baru aku siap-siap pergi ke sekolah.
Pukul 6.30 aku udah siap berangkat. Sambil nunggu Ayahku sarapan sama Salsa (nama adik perempuanku), aku nonton Spongebob. Jam 6.45, baru aku berangkat.
Pagi ini enggak ada yang istimewa. Semuanya berjalan dengan biasa. Tapi… tiba-tiba aku teringat sesuatu. Soal perang dinginku dengan suadara sepupuku itu. Kalau aku melanjutkannya… berarti ini memasuki hari ke-10 aku diam-diaman dengannya.
Waktu duduk sambil nonton Spongebob, aku berpikir tentang cara mengakhiri ini… Dengan cara yang heboh atau frontal? Aku membayangkan dengan cara yang heboh… Mungkin waktu masuk ke kelas aku bisa langsung bilang ke dia, ‘Nadya~ Geuriwohaeyo~ ^^ (artinya: aku kangen kamu). Aku merasa itu cara yang bagus buat mengakhiri perang dingin ini. 
Walau begitu, aku mikir lagi. Kenapa aku begitu baik? Kenapa harus aku yang mengakhirinya? Hhhh… Bingung juga. Tapi kalau cara yang frontal gimana? Mungkin bisa, ‘Nadya! Dasar egois! Coba deh sekali-kali mengalah sama gue. Kayaknya lu kaga pernah mengalah sama gua!’
Aku geleng-geleng -_- Hahaha… Aku enggak bisa kayak gitu. Sebenarnya bisa sih… Tapi bisa-bisa masalah sepele itu jadi tambah gede atau akunya yang canggung. Dulu aku pernah mencoba cara kayak gitu, waktu ‘perang dingin 4 hari’ beberapa bulan yang lalu. Hasilnya? Aku sama Nadya baikan lagi :D Soalnya aku sama Nadya sama-sama frontal. Mungkin frontal + frontal = baikan lagi. Seperti (-) x (-) = (+). Hahahaha… LOL.
Aku terkekeh sendiri.

Ah sudahlah… Biarkan saja ini mengalir…

Sesampainya di sekolah…

Hmmm… Entah kesambar jin apa, begitu sampai di sekolah aku langsung menyapa Nadya, kebetulan dia lagi duduk di depan UKS entah lagi ngapain.
“NADYAAAAA!!!” Aku manggil dia dan langsung ikutan duduk di samping Nadya. Dia  enggak nyahut. Aku manggil lagi kali ini persis di samping telinganya. “NADYAAAAA!!!” 
“Aduh… Orang lagi sakit perut jadi tambah sakit,” kata Nadya.
Susi dan Wury yang kebetulan juga ada di depan pintu UKS tertawa. “Hahahaha… Udah baikan lagi, Nan?” kata si Wury.
Aku nyengir lebar. “Udah,” jawabku. “By the way, lu lagi ngapain sih?” tanyaku pada Nadya. Aku sama Nadya kalau ngomong terbiasa pakai lo-gue.
“Gue pengen ke UKS,” jawab Nadya.
“Ya elah… Kenapa lagi lu?”
“Sakit perut,” jawabnya.
“Oh…” Aku hanya menjawab dengan Oh.
“Hhhh… Cuma dijawab Oh,” gerutu Nadya.
“Eh-eh, lo udah liat MV SNSD yang Catch Me If You Can, belum?!” tanyaku dengan nada excited. “Konsep mereka keren loh!” Aku mulai fangirling sendiri.
“Aduh… Buka pintu UKS-nya deh!” kata Nadya sambil memegangi perutnya. Jawabannya sangat tidak nyambung dengan perkataanku sebelumnya. Tapi aku udah biasa dengan reaksi ‘enggak nyambung’ Nadya. Mungkin karena dia udah jadi teman sebangkuku dari awal kelas 9 tahun lalu.
“Tinggal dibuka,” ucapku cuek.
“Dikunci!” kata Nadya.
“Oh…” Dan lagi aku hanya menanggapi dengan kata Oh.
Tiba-tiba Pak Ali (guru Matematika-ku) lewat di depan kami berempatã…¡Aku, Nadya, Wury, dan Susi. Pak Ali menatap Nadya dan aku dengan keheranan. Mungkin karena sekarang hanya aku dan Nadya yang duduk di lantai depan UKS. (Swear deh -_- Kita kayak orang pe-a) Aku pun berdiri untuk menjaga kesopanan. Hehe… :D
”Lagi ngapain di situ?” tanya Pak Ali kepada Nadya.
“Lagi sakit perut, Pak,” jawab Nadya.
“Kenapa?”
Nadya enggak menjawab. Kini aku yang menjawab, “Tapi Pak, mukanya enggak meyakinkan.”
“Pak, ini sakit beneran,” kata Nadya masih sambil duduk di lantai depan UKS.
“Ya udah cari kunci UKS-nya,” kata Pak Ali.
“Ayo Nad…” Aku menarik tangan Nadya.
“Ya yang sehat yang cari kuncinya,” kata Pak Ali lagi sambil menunjukku dan Wury. Ternyata Susi sudah pergi ke kelas. Mungkin dia tidak terbiasa dengan aku dan Nadya. Hahahaha… XD Beda banget sama Wury, yang udah 'tahan banting' kalau udah di dekat kita.
Aku nyengir lebar. “Hehe… Ayo Wur,” ucapku ke Wury. “Cari kuncinya di mana, Pak?”
“Di Pak Caslam, Ruang Multimedia,” jawab Pak Ali kemudian berlalu.
Kini aku menarik tangan Wury dan berjalan menyebrangi lapangan upcara menuju Ruang Multimedia.
“Kamu baca yang kemarin?” tanyaku antusias kepada Wury sambil berjalan.
“Iya. Aku baca. Pas buka Facebook langsung buka itu. Pertamanya enggak bisa tapi yang kedua bisa,” kata Wury curhat.
“Oh… Aku seneng deh! Banyak yang baca cerita itu. Hehehe…” kataku sambil tersenyum.
“Padahal baru tadi malam loh, aku ngomong-ngomong sama Hani mau buat bikin kalian baikan,” kata Wury lagi. “Rencanya mau bikin akting apa gitu… biar kalian bisa baikan lagi,” sambungnya.
“Oh… Tapi aku udah baikan lagi,” ucapku.
Setelah beberapa saat, kami sudah sampai di depan pintu Ruang Multimedia. Dengan cuek, aku membuka pintu itu. Kosong. Tidak ada siapa pun di dalam ruangan yang biasanya untuk rapat guru itu. Aku memasuki ruangan itu, mungkin Pak Caslamã…¡penjaga sekolahã…¡ada, tapi tidak terlihat dari pintu.
“Yah enggak ada,” kata Wury.
“Hhhh… Ya udah. Balik lagi yuk…”
“Enggak nyari Pak Caslam?”
“Enggak usah,” ucapku. “Mungkin Pak Caslam belum datang.”
“Tadi aku liat,” kata Wury bersikeras.
“Nanti aja. Bel udah bunyi tuh,” ucapku ketika bel masuk berbunyi keras.
Aku dan Wury kembali lagi ke depan ruang UKS yang masih terkunci rapat. “Enggak ada Pak Caslam,” ucapku ke Nadya.
“Aduuuh…” Nadya mengeluh lebih karena sakit perutnya.
“Emang sakit perut kenapa sih?” tanyaku curious.
“Ituloh…”
“Ituloh apa?” tanyaku masih enggak mudeng.
“Nadya lagi halangan, Nan,” kata Wury kepadaku.
“Oh…” Aku ber-oh.
“Nad, mendingan ke kelas dulu,” kata Wury ke Nadya yang masih di posisinyaã…¡duduk di lantai depan ruang UKS.
“Sakiiit…” keluhnya.
“Eh aku ke kelas dulu ya. Udah mulai baris tuh,” kata Wury sambil berlalu menuju ke kelas.
Aku mengangguk. “Lu bikin repot deh,” kataku ke Nadya. Aku ikut duduk di samping Nadya. Tanpa kami sadari, kami jadi pusat perhatian anak-anak yang lewat. Tapi kami cuek aja. 
“Orang lagi sakit juga!” kata Nadya.
Tiba-tiba aja Isna datang. Wury pergi, Isna datang. “Ternyata kalian ada di sini,” kata Isna sambil berjalan menghampiri kami berdua. “Kamu lagi sakit perut, Nad?”
“Iyaaa…” kata Nadya.
“Aku taruh tas dulu ya,” kataku sambil berlari ke kelas. Setelah menaruh tas di bangkuku, aku balik lagi ke tempat Nadya tanpa mempedulikan Pak Kartim yang sudah berdiri di lapangan sekolah untuk memulai olahraga bersama pagi hari ini.
Aku melihat lapangan yang sudah penuh dengan murid-murid. “Jadi gimana, Nad? Kita tinggalin ya?” kataku ke Nadya. 
“Situ…” kata Nadya. Tapi baru berapa langkah menjauhi Nadya memanggil aku dan Isna. “Jangan!”
Isna dan Aku berhenti melangkah.
“Bukain pintu UKS duluuu,” kata Nadya kepada kami berdua.
Aku memasang wajah BT. Nyebelin banget sih ini orang… Pagi-pagi udah bikin ribet… Tahu begini mendingan aku melanjutkan perang dinginku sampai besok dan besok dan besoknya lagi! ><
“Eh ke Pak Tugi (guru Seni Budaya) aja yuk buat ngambil kunci ruang UKS,” ajak Isna ke aku.
Ternyata Isna berpikiran lain denganku. Ia justru lebih memilih menolong Nadya.
“Hhhh.. Iya,” ucapku. “Nad, lu mau di situ aja?” tanyaku ke Nadya.
Ia pun bangun berdiri dan ikut berjalan menuju ke ruang guru. Wah! Untung aja ada Pak Tugi, aku pun langsung mendekati guru tersebut dan bertanya, “Permisi Pak... Pak Guru pegang kunci ruang UKS enggak?”
“Oh yang pegang bukan saya. Tapi Pak Caslam,” jawab Pak Tugi.
Aku mendesah dalam hati. Ribetnya pagi ini! “Terima kasih, Pak…” kata Isna mewakili kami berdua.
Kami pun keluar dari ruang guru. “Kaga ada kuncinya, Nad,” ucapku ke Nadya yang baru saja kembali dari toilet. 
Belum sempat Nadya menjawab, tiba-tiba dari lapangan terdengar suara Pak Kartim. “Untuk anak yang belum berkumpul di lapangan, saya hitung sampai 10. Kalau tidak sampai di lapangan, saya suruh push-up.”
APAAA?!!!!!
Tanpa basa-basi lagi, aku dan Isna berlari ke lapangan. “Sial,” umpatku dengan kesal.
“5…”
Loh? Kenapa sudah sampai hitungan ke 5? Aku bahkan belum sampai di lapangaaan!!!
“6…”
“7…”
“8…”
Ugh sedikit lagi sampai di barisan kelasku…
“9…”
Aishhh… Kenapa kelasku harus berada di paling pinggir sih?!
“10!!!”
Fiuuuh… Akhirnya aku sampai di barisan kelasku. Aku menghembuskan napas paling lega. Paling tidak aku enggak perlu disuruh push-up pagi-pagi di depan umum. Itu enggak boleh terjadi! ><
“Nadya kenapa, Nan?” tanya Anggi kepadaku yang baris di depankuã…¡membuyarkan lamunanku.
“Sakit perut gara-gara halangan,” jawabku.
“Oh…”
Kukira pagi ini akan olahraga bersama, ternyata… ENGGAK! Pak Kartim mengumpulkan anak-anak dari kelas 7 sampai kelas 9 di lapangan hanya untuk memberikan pengumuman kalau pagi ini langsung jam pelajaran dan pelajaran terakhir diganti untuk bersih-bersih.
-____-‘ Hhhhhh… Padahal udah dibela-belain lari ke lapangan… Ya sudahlah… Enggak apa-apa…

**

Setelah apel selesai, aku dan teman sekelasku yang lain pergi Shalat Dhuha. Tapi sebelumnya, enggak sengaja aku ketemu Pak Ali lagi.
“Gimana si Nadya?” tanya Pak Ali.
“Di depan ruang guru, Pak,” jawabku.
“Itu ada Pak Caslam kalau mau ambil kunci UKS,” kata Pak Ali lagi.
Aku langsung menghampiri Pak Caslam yang kebetulan berada tak jauh dari tempatku berdiri. Setelah kunci ruang UKS sudah di tangan, aku pergi menghampiri Nadya lagi. (Dasar tukang bikin repot! -,-)
“UKS-nya udah dibuka tuh,” ucapku dengan wajah badmood.
“Oh ya?!” Nadya pun langsung ngacir ke ruang UKS. Sementara itu aku pergi ke Musholla untuk Shalat Dhuha.
Hhhh… Benar-benar pagi yang hilarious!

**

Hari Sabtu, jadwal pelajarannya hanya Matematika. 
2 jam berlalu, pelajaran Matematika telah berakhir digantikan jam kebersihan. Sebetulnya jam kebersihan lebih mirip jam kosong. Aku, Hani, dan Wury memilih pergi ke perpustakaan daripada bengong di kelas. Mereka pinjam buku sedangkan aku cuma numpang baca Buku ‘Koala Kumal’ ciptaan Raditya Dika di perpustakaan.
Pukul 10 pulang. Aku, Isna, dan Nadya berencana main di rumahku. Hehehe… Kita udah lama banget enggak main >< Di rumahku, sebenarnya kita enggak benar-benar main… tapi cuma nonton MV K-POP dan Naruto. (Kuanggap itu main :D)
Jam 12 tepat, Nadya dijemput. Isna juga ikut-ikutan pulang. Aku pun nganterin mereka sampai depan rumah.

**

Nah… Jadi begitulah akhir kisah dari ‘Fight With My Sister’. Perang dingin selama 9 hari itu pun berakhir. Awalnya memang sangat berbeda dengan rencanaku XD Hahaha...
Tapi sudahlah… Yang penting aku dan Nadya udah baikan lagi ;) Jangan ada pertengkaran lagi dengan saudara sendiri :D Hehehehe…

-END-

Family

Fight With My Firend

April 17, 2015

Fight With My Sister 



Kalian pernah enggak berantem sama temen sendiri? Pastinya pernah dong… Tapi pernah enggak kalian berantem hanya gara-gara masalah keciiil dan berlanjut-lanjut sampe lebih dari 1 minggu?
Dan inilah yang lagi kualami dengan sahabatku sekaligus saudara sepupuku sekaligus teman sebangkuku di kelas (kebanyakan sekaligus, nih…) Ini memang terdengar kekanakan, tapi aku emang masih anak-anak kok!
Semua ini bermula di suatu pagi yang tak terlalu cerah pada tanggal 8 April 2015…

Rabu, 8 April 2015

Seperti biasa aku berangkat sekolah jam 7 kurang 15. Aku suka waktu yang pas-pasan kalau berangkat sekolah, biar sampai di sekolah ga perlu nunggu bel masuk lagi. Walau udah berangkat di waktu yang pas-pasan, masih aja ada waktu longgar.
Pelajaran pertama hari itu adalah Matematika. Di sekolahku ada aturan, sebelum pelajaran Matematika harus Shalat Dhuha. Berhubung waktu itu aku lagi halangan, aku pun duduk di kelas menunggu teman-teman lain pergi ke Musholla untuk Shalat Dhuha.
Enggak lama kemudian, temen-temen balik dan pelajaran Matematika pun dimulai.
Aku agak deg-degan, aku takut banget nilai US Matematika bakal dikasih tahu karena hari itu adalah hari pertama masuk setelah Ujian Sekolah. Untungnya enggak :D Hehehehe… Aku pun bersyukur dalam hati.
Setelah Pak Ali (nama guru Matematika-ku) selesai bicara beberapa patah kata, Pak Ali ngasih tugas mengerjakan soal di LKS Prediksi. Aku pun mengerjakan soal itu, tapi baru mengerjakan 2 soal, ada soal yang membuatku bingung. Daripada pusing sendiri, mending nanya temenku yang pinter Matematika, namanya Hani. Dia bahkan pernah ikut Olimpiade Matematika loh :D
“Hani,” panggilku ke Hani yang duduk di belakangku. Dia termasuk teman dekatku. “Cara nomor 7 gimana?” tanyaku.
“Cari bunganya dulu,” jawab si Hani.
Soal itu emang menanyakan tentang tabungan awal. Pasti kalian tahu ;D
“Oh…” Aku menurut dan langsung mengambil pensilku. Aku mengerjakan soal itu bukan di mejaku, tapi di mejanya Hani. Emang biasanya gitu. Makanya kalau pelajaran Matematika, mejaku selalu bersih sedangkan mejanya Hani… berantakan. Hahahaha… “Lah? Cari bunganya gimana, Han?” Aku nanya lagi.
“9 per 12 kaliin 12 persen,” jawabnya.
“Ohoke.” Aku manggut-manggut sambil asyik mengerjakan. “Terus?”
“100 per 100+9 kaliin uang sekarang,” jawab Hani dengan sabar. Hehehehe…
“Oke oke. Makasih Haniii~~~” ucapku sambil tersenyum manis (?) ke Hani. Kekekeke~
Aku pun melanjutkan soal itu di mejaku sendiri, tapi 2 soal berikutnya, aku bingung lagi! (Kebanyakan bingungnya nih anak -_-)
“Haniii! Ini caranya gimana?” tanyaku.
“Aku juga bingung,” jawab Hani.
Eh ternyata dia juga bingung…
“Aku tahu!” Wury yang merupakan teman sebangku Hani menyahut. “Mungkin ini cari S10nya!”
“Loh? Kok bisa?” ucapku.
“Kan bedanya 2, terus a-nya 1,” jelas Wury.
“Bukan U10?” tanya Hani ikut-ikutan.
“Bukan,” jawab Wury.
“Aku enggak percaya,” ucapku sambil mengerutkan kening. “Kok bisa-bisanya a-nya 1?” Aku mulai berdebat.
“Kalian debatin apa siiih?” Kali ini Nadya (teman sebangkuku) ikutan ngomong.
“Nomor 9, Nad,” jawab Hani.
“Kayaknya yang 1 itu bukan a-nya deh,” ucapku. “Mungkin itu U keberapanya.”
“Iya mungkin,” kata Hani menyetujui pendapatku.
“Eh enggak…” kata Wury.
“Kupikir kita lagi nyari U ke 10-nya.” Aku masih berdebat dengan Wury.
“Aku… Setuju sama Wury…” kata Hani setelah membaca soal nomor 9 itu dengan seksama.
Aku agak kesel, kenapa 2 anak ini enggak mau menyetujui pendapatku? “Aku gak yakin itu nyari S,” kataku.
“Pokoknya cari S10,” kata Hani bersikeras. Sementara itu Wury mulai bingung dengan soal itu. Ia jadi enggak yakin dengan caranya tadi. “Iya mungkin, kita cari U-nya…”
“HHHH… Kenapa sih kalian enggak dengerin aku?!” Tiba-tiba aja Nadya ngomong begitu.
Aku, Hani, dan Wury langsung ngeliat ke arah dia. “Apa?” tanya Hani tapi Nadya enggak menjawab. Tiba-tiba ia menjauhkan bangkunya dari bangkuku.
“Apaan sih, Nad?” tanyaku agak kesel.
Dia enggak ngejawab. Dia justru pura-pura ngerjain soal, sok serius.
“Aishhh… Sorry. Tadi aku lagi berdebat sama Hani-Wury. Jangan kacangin aku dong,” ucapku. Tapi dia tetap diam.
Aku menghembuskan napas dengan kesal. “Ya udah!” Aku juga bisa mendiamkan dia. Yang penting aku udah minta ma’af. Biarin aja dia.

**

Jam pelajaran berlanjut, ia mau ngomong sama Hani dan Wury lagi. Tapi enggak ke aku. Agak kesel juga sih… Padahal, aku udah minta ma’af…
Tapi biarin ajalah… Hhhh…

**

Jum’at, 17 April 2015

Kembali ke waktu sekarang. Jadi, itulah asal mula aku sama Nadya masih perang dingin sampe sekarang. Bener kan? Masalahnya sepele? Cuma gara-gara ‘gak sengaja’ omongan Nadya enggak kutanggapi waktu itu. Hhhh… Enggak betah juga sih kayak gini… Aku jadi enggak bisa curcol ke dia. Padahal biasanya aku selalu curcol atau ngobrolin tentang K-POP sama dia.
Tapi aku juga kesel >< Aku pengen dia duluan yang mengakhiri perang dingin ini. Coba deh sekali-kali dia yang mengalah. Dulu aku juga pernah ngalamin hal kayak gini sama Nadya. Bahkan 2 kali! Yang pertama terjadi tahun lalu dan perang dinginnya hanya berlangsung beberapa menit. Yang kedua… terjadinya aku lupa kapan. Yang jelas aku juga perang dingin sama Nadya selama 4 hari.
Ini rekor! Aku udah gak ngomong sama dia selama 9 hari! Padahal, aku sebangku sama Nadya!
Memang sih, dalam Agama enggak boleh bermusuhan dengan sesama saudara. Selain jadi temen deketku, Nadya juga saudara sepupuku. Tapi…


Ah sudahlah… Nanti juga baikan lagi… Walaupun enggak tahu kapan…