Dancing with Your Ghost
He fell first, he fell harder, but what if she knew about this too late?
── ⋆⋅𖤓⋅⋆ ──
Matamu yang terpejam saat kamu kewalahan dengan
dunia yang bising. Angin
laut yang bertiup menyentuh rambut pirangmu yang selalu masai. Laut biru yang
memantulkan semburat jingga dari matahari terbenam. Tanggul pantai yang menyaksikan
untaian rahasia dan mimpi yang semu.
Tawa renyah yang terlontar waktu kami masih sangat
belia. Tangan yang saling bertaut tanpa sengaja saat aku hampir terjatuh ke air
laut hanya karena kehilangan keseimbangan saat berjalan sambil berputar di atas
tanggul pantai. Mungkin situasinya akan lain kalau kami berjalan menysuri jalan
setapak yang dikelilngi pepohonan rimbun dan tumbuhan bunga liar. Waktu itu,
aku tidak menyadarinya karena aku tenggelam dalam awan dan kabut tak terlihat
yang menghalauku dari bahagia seutuhnya.
Jarak yang jauh membuat awan dan kabut tak terlihat itu semakin pekat. Aku terjebak. Keberadaan pemuda itu yang memberiku rasa aman tak tergapai lagi oleh tanganku. Maka, aku berlarut dalam kehampaan. Menjalani hidup tanpa binar. Tersenyum dan tertawa bukan dari lubuk hati. Berharap semua ini cepat selesai.
Namun, aku tahu. Hidup tak benar-benar usai sampai napas berhenti berembus.
Lalu, setelah bertahun-tahun tak kembali, aku muncul dengan
hati yang kebas.
Dari luar, aku mungkin tampak sama. Rambut yang
masih diwarnai biru, buku sketsa kecil yang kubawa kemana-mana, tangan yang menuangkan
imajinasi, wajah ekspresif yang sama. Dari dalam, aku seperti bunga yang layu
dan kering.
Mereka juga masih sama seperti yang kuingat. Hanya
beberapa fitur wjaah mereka yang semakin terdefinisi. Topik obrolan yang makin
luas. Tapi mereka masih sama bahkan aku memutuskan untuk pergi ke sebuah pantai di Kabupaten Bulukumba tanpa rencana dengan teman-teman masa mudaku yang lama
telah terkubur—Yegor, Zahira, dan Owen.
Keberadaan mereka bukan berarti langsung mengisi
penuh tangki cintaku yang sudah bocor.
Lalu aku melihat Yegor. Sesuatu telah berubah dari dirinya. Dalam diam, aku
mengamati gerak-geriknya yang semakin sensitif dengan keadaan sekitar. Ia semakin
lihai membaca keadaan sekitar. Orang yang melihatnya tak akan sadar kalau dia memiliki
disabilitas. Tubuh tingginya masih mencolok. Rambutnya masih sama berantakan.
Bahunya makin lebar. Dia tampak lebih kokoh.
Saat kami sampai di tempat tujuan dan barang-barang sudah beres, rasanya seperti tidak ada yang berubah. Kami bagaikan menjadi anak usia 17 tahun yang tanpa beban lagi.
“Aku merindukanmu.” Waktu itu, kami sedang duduk di depan tumpukan
kayu. Langit yang berwarna biru terang berubah menjadi semburat warna jingga
dan nila. Sementara yang lainnya sibuk bermain voli pantai, kami menyalakan api
unggun.
“Sama.” Aku berkata dengan jujur.
“Gimana kehidupan di Bandung? Maaf enggak bisa datang ke wisudamu.”
“Enggak apa-apa.”
“Udah diterima kerja?”
“Udah, tapi baru mulai kerja bulan depan. Kamu?”
“Aku juga, di Makassar. Udah mulai kerja dari
bulan lalu.”
Selama kami bercakap, matanya terpaku kepadaku. Tanpa berkedip. Aku sampai lupa kebiasaannya yang satu ini. Mungkin ini yang dirasakan orang lain saat Yegor membaca ucapan mereka? Membuatku sedikit kikuk karena dia begitu fokus. Padahal dia teman masa kecil dan masa remajaku.
“Oh ya, di sana aku juga jadi pengajar bahasa
isyarat.” Aku berusaha mencari topik pembicaraan. Tapi, aku baru teringat akan pekerjaan sampinganku karena hanya kukerjakan
di hari Rabu dan Sabtu.
“Pasti gampang karena kamu biasa ngomong dengan
aku.”
“Enggak juga. Aku tetap harus belajar dulu sebelum
mengajar. Soalnya ngomong sama kamu kayak ngomong sama orang dengar.” Kali ini
aku berkata dengan bahasa verbal dan bahasa isyarat.
Yegor terkekeh.
“Sekarang aku juga udah bisa nyetir mobil.” Aku mengangkat dagu dengan bangga.
“Kenapa baru bilang? Harusnya tadi kamu yang
bawa mobil.”
“Bawa mobil segede Land Cruiser mana aku berani!”
Kayu bakar mulai terdengar berderak dan berdesis setelah Yegor menuangkan minyak tanah dan menyalakan api. Suasana sore itu membuatku nyaman. Sudah lama aku tidak merasa nyaman.
Tawa riang dari mereka yang masih bermain bola terdengar riuh.
Ombak yang tanpa henti menghantam garis pantai terdengar menenangkan.
Tapi, baginya dunia sunyi senyap.
“Aku mencintaimu.”
Suara beratnya yang mengungkapkan kalimat itu
dengan sangat lembut membuatku terhenyak. Spontan, aku menoleh kepadanya dengan
tatapan tak percaya. Waktu itu, bukan kalimat itu yang kuinginkan. Bagaimana
mungkin dia mengucapkan kalimat itu tanpa aba-aba sama sekali? “Sebagai teman?
Aku juga.”
Lalu dia beringsut mendekatiku. Kami duduk di
atas batang kayu dengan jarak sepuluh senti. Radiasi hangat terpancar dari
tubuhnya. Aku bisa menghirup aroma parfumnya. Sorot matanya yang teduh menatapku. Aku bisa melihat frecklesnya. Tangannya menggapai tanganku lalu menyelipkan sesuatu. Aku merasakan bentuk
benda kecil itu. Sebuah cincin.
“Bukan itu maksudku, Xeva. Aku mencintaimu. Aku
ingin menjalani apapun yang ditawarkan kehidupan—bersamamu.”
Saat itu, kami sedang berada di sebuah pantai yang jauh dari kota kecil kami. Kami pergi berkemah dengan adik-adiknya yang semakin besar, juga Zahira dan Owen yang sedang cuti. Aku masih ingat bagaimana suara tawa mereka langsung mengabur setelah pengakuan cinta dari Yegor. Tapi, tetap tak ada yang memperhatikan kami yang duduk di depan api unggun.
Waktu itu, kami masih berusia 22 tahun. Baru
saja lulus kuliah. Baru saja memperoleh pekerjaan pertama kami. Baru saja mencicipi
dunia dewasa yang tanpa ampun. Tapi entah kenapa perasaanku waktu itu masih
sama layaknya anak remaja berusia 16 tahun.
“Maaf Yegor. Bukan ini. Aku enggak bisa.” Perlahan
aku menggelengkan kepalaku dan menyelipkan kembali cincin yang berat itu di
tangannya yang selalu hangat. Aku bahkan tak sanggup menatap mata hijaunya yang
tampak terluka.
“Kenapa?” Pertanyaan lirih terlontar dari
bibirnya.
“Kamu teman terbaikku, Yegor. Kamu tahu aku.
Kamu pantas menerima yang lebih baik dari aku.”
“Aku mengenalmu sejak aku bahkan enggak bisa
bicara.”
“Maaf Yegor. Maaf. Aku—aku belum bisa.”
“Aku akan menunggu sampai kamu siap untuk lebih
lanjut lagi.”
“Bukan itu. Yegor, kamu mungkin enggak tahu apa
yang sudah terjadi selama aku tinggal jauh darimu.” Bodoh. Waktu itu kenapa aku
berkata demikian? Masa kuliahku memang kacau. Berulang kali aku kehilangan motivasi
melanjutkan kuliahku. Aku terjerat di hubungan yang menguras diriku hanya
karena kebodohanku. Takut ditinggalkan. Takut tidak dicintai. Aku hidup dalam
rasa takut dan trauma. Meskipun aku tahu dia mampu memberikan rasa aman dan melindungiku. aku tak siap
menerimanya tanpa persiapan seperti ini.
“Ceritakan kalau begitu. Aku akan dengar.”
“Aku hidup dalam rasa bersalah, takut,
penyesalan. Aku ini sangat kacau, Yegor. Aku mohon. Aku ingin kamu jadi temanku.”
“Teman hidup?” Matanya tampak mengiba. Oh,
Yegor. Aku tak akan mampu menghapus ingatan tentang sorot matamu waktu itu.
Begitu memohon dan mengiba.
Aku menggeleng. “Teman terbaikku yang selalu
ada untukku.”
“Artinya apa lagi kalau bukan menikah, Xeva?”
“Maaf Yegor. Maaf—aku enggak bisa.” Aku bukan takut menikah—tapi aku paham konsekuensi menikah. Risiko perceraian, kemungkinan ditinggalkan, dan bagaimana kalau cintanya surut?
Dia menggenggam tanganku. Jika aku tak
mengenalnya, aku akan mengira dia demam.
“Aku tak akan meninggalkanmu. Kamu tetap bisa
menjadi dirimu sendiri. Berpuisi, berkarya, menjadi seniman tersohor di dunia.
Aku akan mendukungmu, mencintaimu tanpa alasan, menerimamu, memujamu, melindungimu. Kumohon. Kumohon, Xeva.”
Lagi-lagi aku menggeleng. Mataku mulai terasa
berair. Entah kenapa aku ingin berlari menjauh darinya. Maafkan aku, Yegor. Waktunya
belum tepat.
Tapi, satu hal yang aku masih muda itu belum tahu—waktu
yang tepat itu tak pernah datang.
── ⋆⋅𖤓⋅⋆ ──
Maka aku berdiri di sini dengan bayangmu. Tanggul
pantai yang sama, tetapi perasaan yang berubah bagai laut yang pasang-surut.
Aku mencoba berdamai, Yegor. Menari dengan bayanganmu. Melangkah berputar di
atas tunggul pantai tanpa ada tangan yang akan menggapaiku saat kehilangan
keseimbangan. Menyadari bahwa semuanya terlambat.
END
