Uncategorized

Suara di Ruang Hampa

Agustus 30, 2026

 

Suara di Ruang Hampa


Mungkin perasaan itu enggak akan hilang. Mungkin kenangan itu akan selamanya bersemanyam di dalam jiwaku. Mungkin seumur hidup aku akan menyeret kepingan hati yang berserakan di dalam diriku.

 

Berulang kali, sejak saat itu, aku bilang, aku enggak apa-apa. Lagi pula ini hidup. Semua orang terluka. Semua orang juga menyimpan duka atau luka yang mendalam.

 

Kalimat yang paling sering kudengar dalam hidupku adalah “jaga perasaan ayah dan ibumu.” Lantas? Apakah aku ini enggak punya perasaan. Namun ku tahu, perasaanku bukan hal yang penting.

 

Maaf. Padahal sudah terjadi lebih dari satu dekade yang lalu. Bukankah seharusnya perasaan itu telah hilang. Maaf, ternyata seringkali aku ingin jujur. Maaf, aku melontarkan kata-kata yang seharusnya sudah aku kubur. Maaf, ribuan maaf.

 

Apakah salah jika aku ingin didengar. Apakah salah jika aku punya keinginan. Berulang kali aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku sudah enggak punya keinginan apa-apa lagi.

 

Tapi kenapa?

 

Kenapa aku ingin merasa penuh lagi? Kenapa aku ingin menggapai sesuatu yang mustahil?  Kenapa aku ingin keberadaanku dianggap ada? Kenapa aku masih memiliki keinginan untuk didengarkan? Bukankah tidak apa-apa… tidak apa-apa menjadi tanpa makna. Iya bukan?

 

30 Agustus 2026

Uncategorized

Bintang

Agustus 28, 2026

Bintang

Terima kasih pada Tuhan yang telah menciptakan bintang yang bersinar. Terima kasih, bintang yang cahayanya mengenai makhluk penghuni bumi. Terima kasih telah mewakili aku yang mengapung di kehampaan. Terima kasih pada yang telah berani bersuara karena suaraku tak mungkin terdengar oleh siapapun. Terima kasih telah menorehkan kata yang tak mampu kutuangkan dari benakku.


Maaf atas kehadiranku di sini. Redup cahayaku tak akan mengenai siapapun layaknya lampu mercusuar di tengah badai yang mengarah pada bebatuan karang, mustahil menggapai kapal yang berlayar nun jauh di sana.

 

Dari kejauhan, aku memandang cahaya bintang yang menyilaukan. Dalam hening, terbersit rasa takjub. Bagaimana rasanya jika ada yang menyadari keberadaanku di sudut alam semesta. Keinginanku terlalu muluk. Jadi aku menguburnya. Bagaimana rasanya jika aku tetap menumpahkan bisikan di kepalaku pada kanvas gelap ini. Kelak aku hanya menjadi titik kecil di angkasa yang gulita. Mungkin cahayaku tak sampai pada makhluk penghuni bumi. Tapi bukankah tidak apa-apa jika aku hanya ada? Bukankah tidak apa-apa menjadi tanpa makna? 


28 Agustus 2026