Our Comfort Place
Sejauh apapun arus kehidupan membawanya, jarum kompas di dalam jiwanya akan selalu membawanya kembali ke tempat ini. Kota kecil dengan pemandangan laut yang indah. Semburat jingga di kala matahari terbenam. Suara kapal berlabuh yang terdengar dari jendela. Aroma laut yang menguar di udara. Serta masa muda yang tertambat di kota kecil ini. Pekerjaan membuatnya melanglang buana sehingga ia baru mendapat kesempatan untuk kembali tahun ini. Banyak hal yang berubah, tetapi banyak juga yang tetap sama.
Sejujurnya agak
canggung duduk di tunggul pantai yang menjadi tempatnya dahulu menghabiskan
sore hanya untuk menonton kapal yang bersandar, mencoret buku tulisnya, atau
sekadar duduk bengong. Tanpa sadar, ia meringis saat membayangkan dirinya yang
dulu sangat naif dan berpikir mimpinya akan tergapai. Sudah bertahun-tahun
semenjak terakhir kali menginjakkan kaki di kota kecil ini. Usianya sekarang
sudah 24 tahun. Dia bukan lagi anak remaja, tapi entah kenapa ia merasa masih
sama seperti yang dulu.
“Xeva?”
Sebuah suara yang
familiar dan juga asing membuatnya terhenyak. Ia menoleh ke sumber suara.
Matanya melebar kala mengenali sosok yang baru saja menegurnya.
“Yegor! Apa kabar?”
Ia bertanya dengan verbal dan isyarat.
Pemuda itu melepas
topinya lantas duduk di atas tunggul pantai yang sama—sedikit menjaga jarak
dari sang gadis. “Baik,” balasnya lugas.
Janji bahwa mereka
akan saling berkabar meskipun berjauhan ternyata tak terpenuhi. Mereka
kehilangan kontak selama bertahun-tahun. Namun, takdir membawa mereka ke tempat
yang sama hari ini.
Entah bagaimana
harus memulai percakapan dengan seseorang yang dulu sangat dekat tapi sekarang
menjadi asing. Mereka tumbuh bersama, saling menyaksikan satu sama lain
bertambah usia, berbagi rahasia, tawa receh, dan kenangan. Berbagai perasaan
berkecamuk di hati gadis itu. Aneh. Baru kali ini aku sangat kikuk berada di
dekatnya, pikir Xeva sambil menggoyangkan kakinya di atas air laut yang
tenang. Aku harus basa-basi atau gimana? Aku enggak tahu harus mulai dari
mana.
Selama beberapa
saat, hanya terdengar suara ombak kecil di bawah kaki mereka. Tenggelam dalam
pikiran masing-masing. Sesekali Xeva menoleh pada suara kapal ferry yang
berada tak jauh dari tempat mereka duduk.
“Kamu masih sama.”
Kali ini suara Yegor memecahkan keheningan di antara mereka. Suaranya terdengar
lebih berat. Angin sepoi-sepoi memainkan rambut pirangnya yang selalu masai.
Tanpa Xeva sadari, Yegor mengamati rambut biru Xeva yang terurai dengan sorot mata
yang redup. “Udah berapa tahun enggak balik ke sini?” tanyanya.
“Enam tahun,” jawab
Xeva. Selama itu pula mereka kehilangan kontak. Ada yang ganjil. Seharusnya dia
tak perlu berpikir lama sebelum mengutarakan segala sesuatu saat berbicara pada
pemuda itu. Masalahnya, dia tidak menyangka akan bertemu dengan Yegor sore ini.
“Setelah kamu pergi,
kamu enggak bisa dihubungi lagi. Menghilang dari setiap grup alumni.
Meninggalkan jejak. Bahkan rumahmu kosong,” kata Yegor tanpa tedeng
aling-aling.
“Sekarang Nenekku
tinggal bersama Mama di luar kota. Makanya rumah itu sekarang kosong, baru aja
aku bersihkan pas aku kembali,” jelas Xeva. “Aku lagi cuti kerja. Terus, enggak
tahu kenapa aku ingin pulang ke sini padahal udah enggak ada siapa-siapa lagi.”
“Ada aku kan?” Yegor
duduk menghadap ke Xeva, menekuk kedua lututnya, dan sepenuhnya menatap gadis
itu.
Tanpa sadar suasana
di antara mereka mulai mencair. Xeva tersenyum mendengar pernyataan dari Yegor.
Ia pun menggeser posisi duduknya lebih dekat agar keduanya dapat berbicara
dengan jelas—seperti yang selalu mereka lakukan saat masih remaja.
“Maaf aku udah
menghilang tanpa alasan. Aku juga kehilangan kamu, Zahira, dan Owen. Aku selalu
kangen kota ini dan juga kalian, tapi aku malah menutup diri.” Wajahnya tampak
getir ketika menyebutkan dua teman masa remajanya yang juga sering menghabiskan
waktu bersama.
Dulu, tempat ini
juga menjadi tempat pelarian mereka saat malam penuh bintang. Mereka hanya
sekumpulan bocah yang sering menyelinap keluar malam hari hanya untuk melihat
bintang, menatap laut yang dipenuhi lampu dari barisan kapal nelayan, dan
memakan jajan yang mereka borong dari pasar malam yang ada di lapangan kota.
Yegor tersenyum
penuh pengertian. “Enggak apa-apa. At least you’re here now though I did not
expect you to be here right now.”
“Ada apa ke sini
hari ini?” Xeva balas bertanya.
Yegor mengangkat
bahu. “Aku cuma pengen duduk di sini aja tanpa alasan.”
Xeva tersenyum
hangat. “Aku juga selalu kangen duduk di sini kalau lagi banyak masalah.”
“Dan lihat matahari
terbenam. Kamu masih suka bikin puisi?”
Pipi Xeva bersemu
merah karena ia sudah lama melupakan hobinya yang satu itu. “Enggak,” ketusnya.
“Aku masih ingat
puisi buatanmu.”
“Jangan disebut
lagi, please!” Ia mengulurkan telapak tangan yang terbuka, berharap
Yegor melupakan bait-bait puisi dramatis yang ia tulis waktu SMA.
Yegor terkekeh. “The
sunset always has different purposes day by day—to douse the wounded heart, to
bury the remnants of youth, and to remember that everything would end.”
“STOOOP!”
Xeva bangkit berdiri dan berusaha mendorong Yegor, tapi justru dia yang oleng
dan hampir tercebur ke laut kalau saja Yegor tak menarik tangannya.
“Kalau jatuh, enggak
akan aku tolongin,” ucap Yegor setengah bercanda seraya membantu Xeva duduk
lagi di hadapannya.
“You remind me of my
silly dreams.”
“Your dreams are
never silly.” Mata hijau pemuda itu tampa
sungguh-sungguh di bawah pancaran sinar mentari yang sebentar lagi akan
tenggelam. “Mulai hari ini jangan menghilang lagi.”
Langit yang berwarna
biru perlahan berubah menjadi nila. Semburat jingga terpantul pada permukaan
laut. Siluet Ujung Lero yang selalu tampak dari tunggul pantai terlihat sangat
indah. Perahu nelayan yang mulai melaut menghiasi pemandangan laut sore ini. Kota
kecil ini dengan segala kemelutnya selalu membuatnya nyaman dan ingin tinggal
lebih lama lagi.
Gadis itu perlahan
mengangguk.
Pemuda di depannya
tersenyum. Ternyata banyak hal yang tak berubah meski usia mereka bertambah.
Sudut kecil di muka bumi ini ternyata masih menerima mereka untuk menjadi
tempat nyaman untuk melupakan hiruk-pikuk dunia barang sejenak.
Finn?
