OC Universe

Our Comfort Place

September 17, 2026

 


Our Comfort Place

Sejauh apapun arus kehidupan membawanya, jarum kompas di dalam jiwanya akan selalu membawanya kembali ke tempat ini. Kota kecil dengan pemandangan laut yang indah. Semburat jingga di kala matahari terbenam. Suara kapal berlabuh yang terdengar dari jendela. Aroma laut yang menguar di udara. Serta masa muda yang tertambat di kota kecil ini. Pekerjaan membuatnya melanglang buana sehingga ia baru mendapat kesempatan untuk kembali tahun ini. Banyak hal yang berubah, tetapi banyak juga yang tetap sama.

Sejujurnya agak canggung duduk di tunggul pantai yang menjadi tempatnya dahulu menghabiskan sore hanya untuk menonton kapal yang bersandar, mencoret buku tulisnya, atau sekadar duduk bengong. Tanpa sadar, ia meringis saat membayangkan dirinya yang dulu sangat naif dan berpikir mimpinya akan tergapai. Sudah bertahun-tahun semenjak terakhir kali menginjakkan kaki di kota kecil ini. Usianya sekarang sudah 24 tahun. Dia bukan lagi anak remaja, tapi entah kenapa ia merasa masih sama seperti yang dulu.

“Xeva?”

Sebuah suara yang familiar dan juga asing membuatnya terhenyak. Ia menoleh ke sumber suara. Matanya melebar kala mengenali sosok yang baru saja menegurnya.

“Yegor! Apa kabar?” Ia bertanya dengan verbal dan isyarat.

Pemuda itu melepas topinya lantas duduk di atas tunggul pantai yang sama—sedikit menjaga jarak dari sang gadis. “Baik,” balasnya lugas.

Janji bahwa mereka akan saling berkabar meskipun berjauhan ternyata tak terpenuhi. Mereka kehilangan kontak selama bertahun-tahun. Namun, takdir membawa mereka ke tempat yang sama hari ini.

Entah bagaimana harus memulai percakapan dengan seseorang yang dulu sangat dekat tapi sekarang menjadi asing. Mereka tumbuh bersama, saling menyaksikan satu sama lain bertambah usia, berbagi rahasia, tawa receh, dan kenangan. Berbagai perasaan berkecamuk di hati gadis itu. Aneh. Baru kali ini aku sangat kikuk berada di dekatnya, pikir Xeva sambil menggoyangkan kakinya di atas air laut yang tenang. Aku harus basa-basi atau gimana? Aku enggak tahu harus mulai dari mana.

Selama beberapa saat, hanya terdengar suara ombak kecil di bawah kaki mereka. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sesekali Xeva menoleh pada suara kapal ferry yang berada tak jauh dari tempat mereka duduk.

“Kamu masih sama.” Kali ini suara Yegor memecahkan keheningan di antara mereka. Suaranya terdengar lebih berat. Angin sepoi-sepoi memainkan rambut pirangnya yang selalu masai. Tanpa Xeva sadari, Yegor mengamati rambut biru Xeva yang terurai dengan sorot mata yang redup. “Udah berapa tahun enggak balik ke sini?” tanyanya.

“Enam tahun,” jawab Xeva. Selama itu pula mereka kehilangan kontak. Ada yang ganjil. Seharusnya dia tak perlu berpikir lama sebelum mengutarakan segala sesuatu saat berbicara pada pemuda itu. Masalahnya, dia tidak menyangka akan bertemu dengan Yegor sore ini.

“Setelah kamu pergi, kamu enggak bisa dihubungi lagi. Menghilang dari setiap grup alumni. Meninggalkan jejak. Bahkan rumahmu kosong,” kata Yegor tanpa tedeng aling-aling.

“Sekarang Nenekku tinggal bersama Mama di luar kota. Makanya rumah itu sekarang kosong, baru aja aku bersihkan pas aku kembali,” jelas Xeva. “Aku lagi cuti kerja. Terus, enggak tahu kenapa aku ingin pulang ke sini padahal udah enggak ada siapa-siapa lagi.”

“Ada aku kan?” Yegor duduk menghadap ke Xeva, menekuk kedua lututnya, dan sepenuhnya menatap gadis itu.

Tanpa sadar suasana di antara mereka mulai mencair. Xeva tersenyum mendengar pernyataan dari Yegor. Ia pun menggeser posisi duduknya lebih dekat agar keduanya dapat berbicara dengan jelas—seperti yang selalu mereka lakukan saat masih remaja.

“Maaf aku udah menghilang tanpa alasan. Aku juga kehilangan kamu, Zahira, dan Owen. Aku selalu kangen kota ini dan juga kalian, tapi aku malah menutup diri.” Wajahnya tampak getir ketika menyebutkan dua teman masa remajanya yang juga sering menghabiskan waktu bersama.

Dulu, tempat ini juga menjadi tempat pelarian mereka saat malam penuh bintang. Mereka hanya sekumpulan bocah yang sering menyelinap keluar malam hari hanya untuk melihat bintang, menatap laut yang dipenuhi lampu dari barisan kapal nelayan, dan memakan jajan yang mereka borong dari pasar malam yang ada di lapangan kota.

Yegor tersenyum penuh pengertian. “Enggak apa-apa. At least you’re here now though I did not expect you to be here right now.”

“Ada apa ke sini hari ini?” Xeva balas bertanya.

Yegor mengangkat bahu. “Aku cuma pengen duduk di sini aja tanpa alasan.”

Xeva tersenyum hangat. “Aku juga selalu kangen duduk di sini kalau lagi banyak masalah.”

“Dan lihat matahari terbenam. Kamu masih suka bikin puisi?”

Pipi Xeva bersemu merah karena ia sudah lama melupakan hobinya yang satu itu. “Enggak,” ketusnya.

“Aku masih ingat puisi buatanmu.”

“Jangan disebut lagi, please!” Ia mengulurkan telapak tangan yang terbuka, berharap Yegor melupakan bait-bait puisi dramatis yang ia tulis waktu SMA.

Yegor terkekeh. “The sunset always has different purposes day by day—to douse the wounded heart, to bury the remnants of youth, and to remember that everything would end.”

STOOOP!” Xeva bangkit berdiri dan berusaha mendorong Yegor, tapi justru dia yang oleng dan hampir tercebur ke laut kalau saja Yegor tak menarik tangannya.

“Kalau jatuh, enggak akan aku tolongin,” ucap Yegor setengah bercanda seraya membantu Xeva duduk lagi di hadapannya.

“You remind me of my silly dreams.”

“Your dreams are never silly.” Mata hijau pemuda itu tampa sungguh-sungguh di bawah pancaran sinar mentari yang sebentar lagi akan tenggelam. “Mulai hari ini jangan menghilang lagi.”

Langit yang berwarna biru perlahan berubah menjadi nila. Semburat jingga terpantul pada permukaan laut. Siluet Ujung Lero yang selalu tampak dari tunggul pantai terlihat sangat indah. Perahu nelayan yang mulai melaut menghiasi pemandangan laut sore ini. Kota kecil ini dengan segala kemelutnya selalu membuatnya nyaman dan ingin tinggal lebih lama lagi.

Gadis itu perlahan mengangguk.

Pemuda di depannya tersenyum. Ternyata banyak hal yang tak berubah meski usia mereka bertambah. Sudut kecil di muka bumi ini ternyata masih menerima mereka untuk menjadi tempat nyaman untuk melupakan hiruk-pikuk dunia barang sejenak.

 

Finn?