Suara di Ruang Hampa

Agustus 30, 2026

 

Suara di Ruang Hampa


Mungkin perasaan itu enggak akan hilang. Mungkin kenangan itu akan selamanya bersemanyam di dalam jiwaku. Mungkin seumur hidup aku akan menyeret kepingan hati yang berserakan di dalam diriku.

 

Berulang kali, sejak saat itu, aku bilang, aku enggak apa-apa. Lagi pula ini hidup. Semua orang terluka. Semua orang juga menyimpan duka atau luka yang mendalam.

 

Kalimat yang paling sering kudengar dalam hidupku adalah “jaga perasaan ayah dan ibumu.” Lantas? Apakah aku ini enggak punya perasaan. Namun ku tahu, perasaanku bukan hal yang penting.

 

Maaf. Padahal sudah terjadi lebih dari satu dekade yang lalu. Bukankah seharusnya perasaan itu telah hilang. Maaf, ternyata seringkali aku ingin jujur. Maaf, aku melontarkan kata-kata yang seharusnya sudah aku kubur. Maaf, ribuan maaf.

 

Apakah salah jika aku ingin didengar. Apakah salah jika aku punya keinginan. Berulang kali aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku sudah enggak punya keinginan apa-apa lagi.

 

Tapi kenapa?

 

Kenapa aku ingin merasa penuh lagi? Kenapa aku ingin menggapai sesuatu yang mustahil?  Kenapa aku ingin keberadaanku dianggap ada? Kenapa aku masih memiliki keinginan untuk didengarkan? Bukankah tidak apa-apa… tidak apa-apa menjadi tanpa makna. Iya bukan?

 

30 Agustus 2026

You Might Also Like

0 comments