Ingar bingar
memenuhi lokasi perkumpulan pemilik mobil modifikasi di Kota San Francisco.
Lokasinya berada tidak jauh dari tengah kota. Sebuah night bar menjadi titik temu para pengunjung yang ingin
menghabiskan malam memamerkan pesona mobil mereka. Beberapa membiarkan kap
mobil terbuka untuk menunjukkan mesin mobil yang sudah dimodifikasi sembari
mengecek mesin untuk berjaga-jaga siapa tahu ada balapan liar malam itu.
Beberapa duduk bersandar di bodi mobil sambil menggoda siapapun yang melewati
mobil mereka. Tidak hanya pemilik mobil dan penikmat mobil mewah, para
pengunjung yang senang menghabiskan malam dengan musik menggelegar juga tumpah
ruah di area tersebut.
Pengeras
suara besar memutar musik klub yang menarik perhatian pengunjung. Para
pengunjung meminum champagne sambil
menonton mobil mewah yang berjejer di lahan parkir night bar. Beberapa pemilik mobil melakukan drift di area yang sengaja dikosongkan pada depan night bar. Kali ini sebuah Subaru BRZ
biru penuh stiker memasuki area drift dengan
kecepatan tinggi membuat suasana riuh. Asap kendaraan mengepul dan suara mesin
yang garang membuat orang-orang menoleh pada mobil yang baru saja datang itu.
Berikutnya,
Nissan Skyline GTR R34 berwarna midnight
purple menyusul Subaru. Beberapa pengunjung bersorak saat mobil itu
berputar dengan mulus di area drift
sebelum akhirnya parkir di samping Subaru. Pengemudi Nissan Skyline itu
menyeringai lebar ketika melihat perhatian para pengunjung terpusat pada
mobilnya yang baru selesai dimodifikasi.
“Kau
gila?!” seorang pemuda berkulit coklat yang duduk di samping pengemudi R34 itu
tertawa. Dia tak menyangka laki-laki di sampingnya mampu melakukan drift semulus itu.
“Kau
yang gila Jay, karena tidak pernah mengajakku ke tempat ini sebelumnya,” ucap
pengemudi berambut silver itu sambil
mematikan mesin mobilnya.
“Dude, you are still underage,” balas Jay
atau yang biasa dipanggil Jaden di situasi formal. Usianya 22 tahun. Dia
seorang car enthusiast yang juga
memiliki mobil sport. Namun, malam
ini adalah agendanya menemani bocah di sampingnya ke night bar tersebut sehingga ia membiarkan BMW M3 hijau miliknya
terparkir di garasi.
“Well, I'll be 18 this year,” kata
Aiden seraya menyugar rambut curlynya
yang berwarna silver. Warna rambut barunya hampir senada dengan warna kulitnya.
Ia berusaha keras terlihat lebih dewasa malam ini demi bisa datang ke night bar. Ia memakai kemeja polo
berwarna biru muda yang kancingnya dibuka sedikit dan celana jeans biru. Jam
tangan Breitling Endurance Pro melingkar di pergelangan tangan kanannya.
Lagipula di tengah ingar bingar seperti ini, siapa yang akan mengecek ID Cardnya?
“Akan
kutraktir apple juice malam ini.” Jay
meledek yang disambut tinjuan dari Aiden di bahunya.
Ketika
mereka turun, mereka langsung menghampiri Roscoe dan Dexter dari mobil sebelah.
Roscoe tersenyum pada mereka. “See, mobilmu
yang paling menarik perhatian,” ucapnya sambil tertawa tertawa renyah. Tubuh
besarnya tampak mencolok di depan jejeran mobil sport mewah.
“Dari
mana kau belajar drift hah?” Dexter
merangkul dan menepuk lengan Aiden. Cowok berambut panjang sebahu itu memiliki
kulit seputih susu. Tidak ada yang pernah menyangka pria Korea yang berjalan
dengan elegan itu pernah menjadi buronan polisi dan terlibat dalam geng. Roscoe
yang menyelamatkannya sehingga sekarang dia bekerja sebagai hacker di dunia gelap. Yeah, tidak
semudah itu melepaskan diri dari dunia gelap kalau godaan uangnya sangat
menggiurkan. Dia hanya punya satu mobil—Mazda RX7 merah—yang belum pernah
dimodifikasi.
Aiden
terlihat canggung dengan skinship dadakan
dari Dexter. “Bakat alami mungkin?”
Dexter
mendengus tertawa. “I like this kid.”
Sementara
itu, Roscoe dan Jay yang keranjingan mengotak-atik mesin mobil tenggelam dalam
dunianya. Mereka memperhatikan mesin-mesin mobil yang kapnya terbuka.
Kebanyakan pemilik mobil di perkumpulan itu sudah menambahkan NOS dan sistem
turbo pada mobil mereka. Jay bersiul saat melihat mesin silinder V8 paling baru
terpasang di salah satu Lamborghini Huracan.
“Kira-kira
seberapa berisik suaranya?” ucap Jay sambil menyikut Roscoe.
Meskipun pemilik mobil itu tidak mendengar komentar Jay tiba-tiba ia menggeber mesin mobilnya. Suaranya yang menggelegar terdengar seperti benteng mengamuk.
Roscoe
terkekeh, “Yeah, sayang sekali mobil seperti itu biasanya hanya berakhir di
garasi kolektor dan tidak pernah dibiarkan membuas di jalan raya.” Mereka
berempat terus berjalan dan melihat sekeliling dengan tak acuh. Tapi sebenarnya
mereka sedang mencari inspirasi untuk melakukan modifikasi di mobil mereka
selanjutnya. Tanpa sadar mereka sampai ke sumber musik klub yang berdentum
dimana para pengunjung sengaja datang untuk menghabiskan malam untuk bergerak
mengikuti musik yang keras.
“Kalian
tidak mau cari cewek huh?” tanya Dexter seraya mengerling pada Roscoe dan Jay.
Malam itu, kedua ahli montir mobil tersebut tampak rapi. Padahal di hari-hari
biasa, mereka biasa mengenakan t-shirt dan celana kargo yang bernoda oli.
Sementara itu, Aiden lebih banyak terkagum dengan mobil sport yang ada di sekelilingnya. Ia bergumam wah berulang kali dengan mata berbinar.
Dexter
yang baru saja memesan champagne
berulang kali berkedip pada wanita yang beradu pandang dengannya. Siapapun akan
terpesona padanya. Malam itu, ia mengenakan sleeveless
shirt yang dipadu dengan kemeja yang tersampir asal di pundaknya, celana
jeans berwarna hitam, dan sneakers casual merk Colehaan. Rambut hitamnya yang
sebahu diikat setengah. Kalung Maison Margiela dengan rantai perak yang tipis
menghiasi lehernya yang jenjang.
“Aku
sedang tidak mau berurusan dengan cewek,” kata Jay sambil mengangkat bahu.
Pikirannya sedang berkelana pada harga mesin mobil dan biaya modifikasi mobil sport di sekitarnya.
Menit
berikutnya Dexter sudah mendekati seorang wanita pirang dengan crop top dan mini skirt yang duduk di atas kap mobil Mini Cooper pink yang penuh stiker. Ia memegang
segelas cocktail dan sudah sedari
tadi memperhatikan Dexter. Sedangkan, Roscoe sudah mengobrol dengan sesama
pemilik mobil modifikasi lainnya. Meninggalkan dua yang lebih muda berdiri di
depan pintu bar sambil bersedekap
menonton kerumunan orang. Jay pun memesan dua gelas minuman tanpa alkohol dan
memberikan salah satunya pada Aiden. Sesuai janjinya, ia benar-benar memesan apple juice di gelas champagne. Aiden tak begitu
memperhatikan minumannya karena matanya terfokus pada salah satu mobil american muscle yang paling mencolok di
antara deretan sport car.
“Jay,
ada info balapan malam ini?” tanya Aiden pada Jay yang berdiri di sebelahnya.
Temannya yang satu itu biasanya paling update
mengenai info balapan liar.
“Nope, kecuali kalau kau mau menantang
seseorang.” Perhatian Jay teralihkan. Malam itu, tidak ada informasi mengenai drag race. “Memang siapa yang mau kau
tantang?”
“Mustang
abu-abu itu,” kata Aiden sambil mengangkat dagunya.
Jay
mengikuti arah pandangan Aiden dan langsung terbahak. “HAHAHAHA. DUDE. No fucking way!”
“Kenapa?”
Aiden mengerjapkan matanya. “Kau bilang, boleh mengajak siapapun balapan di
tempat ini.”
“Tapi
bukan yang itu,” balas Jay sambil menggelengkan kepalanya. “Kau hanya akan
bunuh diri melawan mobil itu.”
“What? Kau meragukan godzilla? GTR R34 disebut sebagai godzilla dengan alasan, dude.”
Aiden tersenyum penuh percaya diri dan sudah bertekad. “Baiklah, aku akan menghampiri
pemiliknya.”
Jay
langsung menarik lengan kemeja Aiden. “Hey hey, jangan gegabah. Kau harus
dengar dulu siapa pengemudinya.”
“Memang
kau tahu siapa?” Aiden menoleh pada Jay yang sepuluh senti lebih pendek
darinya.
Jay
menyeringai karena dia adalah pengepul informasi handal. Segala informasi
tentang mobil, mesin, biaya modifikasi, dan tentunya sebagian besar sekelebat
informasi dari para pemilik sport car di
perkumpulan itu. “Yeah, tentu. Dia tidak pernah tertarik dengan taruhan uang.
Aku pernah melihatnya mengemudi dan dia cukup
nekat kalau sudah menyetir mobilnya. Bisa dibilang, cara menyetirnya mengerikan. Di jalan yang penuh dengan
mobil pun, ia bisa menyalip dengan mudah. Dan satu hal lagi, kau tidak pernah
tahu apa yang sudah dimasukan dalam mobilnya.”
“Menarik.
Aku akan mendatanginya sekarang.”
“Bruh, kau rela kehilangan godzilla-mu malam ini?”
“Ha,
mobil seberat itu mana mungkin bisa melaju secepat R34.” Mobil Mustang memang
terkenal dengan bobotnya yang berton-ton.
Jay
masih menggelengkan kepalanya sambil tertawa miris. “Aiden, he
is Leonard. He is a fucking devil. Kau akan menyesal berurusan dengannya.”
“Biarkan
saja,” kata Roscoe yang sudah kembali menghampiri mereka. Ia memantik api ke
batang rokoknya. Rambut pendeknya tertiup angin. “Aku sudah pernah berurusan
dengan anak itu. Siapa sangka di umurnya yang baru 17 tahun, skillnya sudah semengerikan itu.”
“Kapan
kau berurusan dengannya?”
“Balapan beberapa bulan yang lalu. Dia memintaku untuk memodifikasi Aventador miliknya karena dia yang memenangkan balapan.” Sorot mata Roscoe tampak menerawang. Ia menghisap rokoknya sambil terkenang pertemuannya dengan anak yang sangat bossy itu. Leonard bisa membuat siapapun bertekuk lutut di depannya. Bukan hanya uang ataupun background keluarganya yang berkuasa yang menjadikannya seperti itu, melainkan ada sesuatu yang membuat Leonard menjadi setan di jalan raya.
“Tuh kan. Dia seumuran denganku. Buat apa
aku takut?” Aiden nyengir lebar lantas ia berjalan mendekati Mustang berwarna
abu-abu itu. Mobil sedan itu tampak megah. Stiker garis berwarna putih membujur di mobil itu dari kap mesin sampai bagasi belakang. Ford Mustang Shelby GT500 itu
bisa jadi akan menjadi miliknya jika benar taruhannya adalah pink slip (surat kepemilikan kendaraan).
Sebelum
Aiden mendekat, Leonard mengerling ke arahnya. Cowok itu tidak tampak seperti
anak berumur 17 tahun. He seemed around 21 if Roscoe didn't tell him. Kemeja Brioni berwarna hitam melekat di tubuhnya dengan
pas. Ia selalu menyadari jika sedang menjadi pusat perhatian. Pertama,
orang-orang akan melirik pada Mustang miliknya. Kedua, mereka akan membicarakan
cara dia membalap. Ketiga, terperangkap.
Cowok
dengan rambut brunette itu sebenarnya
sudah melihat Nissan GTR R34 sejak mobil itu bermanuver drift. Ia bisa menilai mobil itu sudah dimodifikasi berkali-kali
dan cukup menggoda. Mobil itu mungkin bisa dibelinya dengan mudah tapi
memperoleh mobil dengan balapan jauh lebih menantang.
“Wanna race?” Aiden menyeringai pada
Leonard. Ia sudah pernah balapan sebelumnya tapi belum pernah mobil American muscle. Malam itu akan menjadi
malam pertamanya berpacu dengan Mustang.
Leonard berlagak tidak acuh. Ia memandang Aiden dengan sorot tak tertarik. “What’s the bet?”
“If you win, you’ll get my R34. If you lose, I’ll get your GT500.” Aiden
menunjukkan sertifikat mobilnya yang terlipat asal di saku jeansnya.
Sudut
bibir Leonard terangkat naik. “Sure.”
Meskipun ia tersenyum, sorot matanya tetap angkuh dan penuh intimidasi. Manik
mata coklatnya menatap tajam pada Nissan GTR R34 yang terparkir di pinggiran.
“You decide the route.”
“How about a 10 mil race around the main road and get back here as fast as you can.” Dia sedang tidak bernegosiasi, dia yang memutuskan. Leonard mengambil iPadnya dari dalam mobil dan menunjukkan peta rute yang akan mereka ambil. Mereka menghindari rute jalan yang berkelak-kelok ciri khas San Francisco. Namun mereka tetap tak bisa menghindari jalan one way yang menukik naik.
“Maksudmu
di keramaian kota saat ini?”
“Yeah. Sekarang juga sudah jam 1 malam. Takut?” Kilatan berbahaya muncul di kedua
netranya.
Aiden tersenyum miring. “Deal?”
Dari kejauhan, Jay menepuk dahinya ketika melihat Leonard dan Aiden berjabat tangan membuat kesepakatan. “Jesus, he is losing his mind!” keluhnya sambil mengusap wajahnya tidak percaya semudah itu Aiden mengajak Leonard balapan. Biasanya cowok itu tidak sembarang menerima tantangan balapan. Ia melihat Leonard bergerak masuk ke dalam Mustang-nya, sedangkan Aiden bergegas ke Nissan GTR R34 miliknya. “Terserah dialah! As long as it’s not my car who’s going to lose.”
“Finally, ada keseruan malam ini,” kata Roscoe tampak bergairah. “Jay, jadilah master of ceremony malam ini.”
Jay menghela napas. “Alright.” Lantas ia mulai berjalan ke tengah
area drift yang akan menjadi garis start dan finish balapan. Tak lama kemudian kedua
mobil itu berjalan bersisian ke tengah area drift.
Sontak, perhatian
orang-orang teralihkan pada kedua mobil sport
yang akan saling berpacu di jalan raya. Leonard dan Aiden saling menggeber
mesin mobil masing-masing. Suara garang dari mesin mobil terdengar menggelegar.
Para pengunjung night bar langsung
mengerubungi kedua mobil tersebut. Beberapa menyalakan kamera ponsel untuk
memotret keindahan kedua mobil itu. Selebihnya mulai bertaruh siapa yang akan
menang.
“Everybody, please welcome the drag race
tonight!” seru Jay di antara kedua mobil yang siap berpacu menembus kota. “We got the American muscle Mustang Shelby
GT500 and the Godzilla Nissan GTR R34!”
Seluruh
pengunjung bersorak riuh. Mereka yang mengenal reputasi pemilik Mustang abu-abu
tersebut langsung mempertaruhkan beberapa lembar 100 dollar. Leonard the Devil vs the New-comer Boy. Mereka yang percaya pada kemampuan Nissan R34
memasang taruhan pada mobil midnight
purple tersebut.
“Hmmm,
american muscle dan godzilla. Pilihan yang sulit,” ucap
Dexter sambil memegang dagunya. “Your bet?”
“I am pretty sure Aiden will be the first,”
kata Roscoe pada Dexter yang berdiri di sampingnya bersama seorang wanita
menawan. Ia menyelipkan segulung uang yang bernilai 1.000 dollar pada Dexter.
“Hahaha, kau seperti tidak tahu Leonard saja,” kata Dexter yang pernah sekali bertemu langsung dengan Leonard ketika remaja berusia 17 tahun itu datang ke bengkel milik mereka dengan arogan—seenaknya menyuruh Roscoe yang berusia 30 tahun memodifikasi aventador miliknya yang hanya berakhir di garasi mansion. Diam-diam Dexter mencari tahu dari mana Leonars bersikap seperti itu. Ia pernah bertemu Ryan—abangnya Leonard—yang jauh lebih mengerikan. Sebagai hacker profesional yang kelewat penasaran, ia membongkar habis latar belakang keluarga Leonard. Ryan yang mengetahui hal itu menyumpal mulutnya dengan uang. Maka, ia bertaruh sebaliknya dari Roscoe.
Kedua remaja di bawah umur itu saling menoleh sekilas sambil menggeber mesin mobil mereka. Aiden menyeringai lebar, sementara Leonard memasang wajah tanpa ekspresi. Hanya kilat di matanya yang menandakan kalau ia bergairah.
Tanpa mengulur waktu lagi, Jay mengangkat tangan untuk memberi aba-aba. “Race... start!” Angin mengempaskan rambut dread lockednya ketika kedua mobil sport itu melejit meninggalkan garis start.
Kedua mobil itu saling berpacu. Para pengunjung berbondong-bondong ke pinggir jalan untuk menonton kedua mobil itu bertanding. Nissan GTR R34 menjadi yang pertama melesat dari garis start. Mustang tertinggal beberapa senti di belakangnya karena memang bodi mobilnya yang jauh lebih berat dari R34 membuatnya lebih lambat beberapa detik.
Mereka
berbelok tajam keluar dari area drift menuju
jalan raya. Aiden terus menambah kecepatan menyusuri jalan raya. Mobil dengan
kekuatan hanya 332 horsepower itu
mendahului Mustang. Aiden terbahak ketika melihat melalui rearview bahwa Leonard mulai tertinggal jauh di belakangnya. Ia
melirik layar terpasang di dashboard yang
menunjukkan rute yang harus ditempuhnya.
9
mil lagi.
Namun,
sang pengemudi Mustang tahu bagaimana memanipulasi. Ia tidak gentar melihat R34
itu menjauh sebab detik berikutnya ia sudah melaju dengan lihai di antara
truk dan mobil yang melintas di jalan raya—tanpa menurunkan kecepatan. Ia
justru menambah kecepatan hingga berhasil menyalip R34.
7
mil lagi.
R34 kembali mendahului di jalan one way yang lurus. Aiden memanfaatkan kesempatan ini untuk menambah kecepatan. R34 memiliki 6-speed. Saat itu, ia sudah di speed ketiga. Suara mesin Nissan GTR R34 yang khas memecah keheningan malam. Di belakang, Mustang sedang kesulitan menyalip beberapa mobil SUV.
5
mil lagi.
Mereka
berbelok ke sebuah jalan two way lagi.
R34 terus menyalip sambil menghindari mobil dari arah depan. Mustang abu-abu
itu semakin mendekat.
3
mil lagi.
Dua
belokan lagi maka mereka sampai di garis finish.
Adrenalin mengalir semakin deras. Aiden melirik rearview dan tidak melihat Mustang, melainkan hanya melihat truk
scania yang diperbolehkan melintas di jalan kota pada tengah malam. Ia semakin
percaya diri kalau dirinya akan mendapatkan Mustang itu.
2
mil lagi.
Mustang
itu muncul dari rute jalan yang lebih tinggi. Mobil itu meluncur begitu saja
dari ketinggian dua meter tanpa mengurangi kecepatan. “Shit.” Aiden mengumpat melihat mobil itu bersisian dengannya dan
hampir menempel. Dalam aturan balap liar, menempuh rute lain diperbolehkan selama masih
sejalan dengan rute awal.
Leonard
menekan pedal gas penuh, menaikan kecepatan hingga sejajar dengan Nissan GTR
R34, kemudian menarik tuas NOS.
Aiden mendesis kesal dan melakukan hal yang sama. Mobilnya juga dilengkapi monster serupa. Tapi, sebuah mobil datang dari arah berlawanan menuju mobil mereka yang hampir berdempetan. Suara klakson panjang membuat mereka membanting setir ke arah berlawanan untuk menghindari tabrakan. Belum sempat Aiden meluruskan mobilnya lagi di jalan raya, Mustang itu menyerempet mobilnya.
“WHATTTT???” Aiden mencengkram stir,
berusaha mendorong Mustang itu menjauh. Namun, mobil American muscle itu terus menempel tanpa
ampun. Lalu ia tersadar sesuatu, kaca mobil Mustang itu sudah retak. Mungkin
akibat bermanuver lompat dari ketinggian tiga meter. Ia kagum melihat
ketangguhan mobil itu.
500
meter lagi.
Leonard mengendarai Mustang-nya dengan semakin ganas. Mobilnya terus menyerempet sehingga Nissan GTR R34 itu limbung ke kanan hingga mengenai pembatas jalan sebelum memasuki garis finish. Mobil milik Leonard juga kehilangan keseimbangan dan menabrak tiang penerangan yang ada di pintu masuk night bar. Kaca spion kirinya terpental lepas. Mobilnya bermanuver drift. Asap mengepul dari knalpotnya. Leonard menggeber mesin mobilnya sekali lagi untuk menunjukkan bahwa dia pemenangnya. Ia berhasil masuk ke garis finish meskipun kepalanya berdarah akibat terbentur kaca yang pecah berkeping-keping.
Jay
menutup mata melihat kerusakan Mustang yang cukup parah itu. Jendela samping
pengemudi pecah. Kaca depan retak. Spion kiri lepas. Bodi mobil penuh baret.
“Damn, you’re right.” Roscoe berkata pada
Dexter.
Dexter hanya terkekeh.
Di lain sisi, Aiden memukul setir mobilnya. “Sialan,” umpatnya kesal sambil melihat mobil
Mustang yang sedang dikerumuni para pengagum barunya yang semakin bertambah di setiap balapan. Aiden menabrak pembatas jalan
hingga pembatas jalan itu patah, namun tidak sampai meretakkan kaca mobil. Seharusnya dia yang menang, tapi Leonard ternyata sangat kasar. Cowok itu sama sekali tidak peduli mobil mahalnya menabrak lampu penerangan
jalan sampai membuat tiang lampu itu sekarang miring. Beberapa kabelnya
perlahan mulai putus. Terlihat percikan listrik di kabel yang mulai putus.
Kerumunan
orang itu tiba-tiba berpencar ketika terdengar sirine mobil polisi datang. Para
pengunjung night bar langsung buyar
melarikan diri dan membawa pergi mobil sport
milik mereka. Siapapun tidak mau terlibat kalau polisi sudah datang.
Ditambah ada dua mobil di perkumpulan itu yang baru saja merusak fasilitas
umum.
Lagipula tidak ada jalan kabur bagi Aiden. Dua mobil polisi mengerubunginya dengan lampu sorot terarah padanya. Sementara itu, dua mobil polisi yang lain melaju mengepung Mustang milik Leonard di garis finish. Leonard menutup mata ketika sorot lampu mobil polisi terarah pada wajahnya. “Don’t move!” teriak salah satu officer.
Leonard mengangkat tangan di dalam mobilnya. Ia menyeringai. Persetan dengan polisi. Nissan GTR R34 itu akan menjadi miliknya.
—
To be continued?