Alternative OC Universe

(Don't) Take My Breath Away

Oktober 12, 2025

 

Illustrated by me


🕰

 


Mereka akan bilang ini tidak nyata. Tapi aku sedang terbangun saat ini.

Deras air sungai mengisi keheningan hutan. Aroma lembap menguar di udara. Bunga liar menyerbakkan wangi. Ranting pohon menumbuh rapat. Lumut hijau menyesaki tanah. Jalan setapak menurun licin. Semua berakhir dan berawal di aliran sungai dangkal yang deras.

Kejadiannya sangat cepat. Ya, aku baru saja tergelincir dari jurang dan tercebur ke air yang dingin. Untungnya sungai ini dangkal jadi aku tidak harus tenggelam.  Namun, sekarang sepatuku kotor oleh lumpur, begitu pula celana kargoku. Topi merahku lepas, tersangkut entah dimana. Kucoba berdiri sambil mengaduh dan kusadari kalau tulang tibiaku terbentur keras, membuat mataku berair. Tertatih-tatih aku berjalan menuju tepi sungai.

Bekas tanah tempatku terpeleset melintang di atas sana. Ternyata cukup tinggi. Mungkin saat ini rombongan open tripku menyadari ada salah satu dari mereka yang menghilang. Aku berjalan pincang mencari jalur untuk mendaki. Beberapa kali aku melewati pohon yang sama. Aku panik karena aku sudah kehilangan arah. Kulihat ponselku yang tidak ada sinyal. Kompas di ponselku juga tidak berfungsi. Suaraku habis untuk berteriak meminta tolong, tapi aku tetap tidak mendengar suara-suara yang mungkin menjadi penolongku. Perjalanan menuju air terjun yang kupikir hanya sebentar, ternyata berakhir seperti ini.

Ketika aku mulai menyerah, mataku menangkap sebuah pintu yang berhias mawar dan tumbuhan liar. Secercah harapan muncul. Mungkin pintu itu akan menjadi tanda peradaban manusia. Aku mendekati dan membukanya, tapi apa yang kuharapkan terjadi? Sebuah pintu ajaib yang menjadi jalan pintas ke arah rombongan?

Sebentar. Kenapa ada pintu yang berdiri tegak di tengah hutan?

Aku terhenyak di depan pintu dan duduk memeluk lututku. Mataku terpejam, lalu aku menangis dengan suara pelan karena lebam di kakiku terasa semakin nyeri.

Kumohon. Siapapun. Temukan aku.

Saat itulah, aku menyadari suara kapal yang biasa terdengar dari jendela kamarku, di rumah yang jaraknya ribuan kilometer dari tempat ini. Aku tersentak ketika mencium aroma asin laut yang membuat hatiku perih karena aku rindu rumah. Aku pasti berhalusinasi ketika melihat siluet sebuah kota dari kejauhan. Apakah ini yang sering dibilang orang-orang yang hilang di pegunungan? Kota gaib. Pasar hantu. Tampaknya aku sedang mengalami fatamorgana. Iya kan?

Tetapi, aku sangat yakin dengan penglihatanku. Kota itu nyata. Kadang dunia memang bekerja secara mustahil. Tidak ada salahnya melangkah menuju kota itu untuk mencari pertolongan. Sudah berjam-jam aku berputar di area hutan, tapi sama sekali tidak melihat tanda-tanda perkotaan. Perlahan aku berjalan memasuki area kota sambil memeluk diriku diriku sendiri.  

Kota itu berbau seperti kota pinggir laut. Kedai-kedai yang penuh dengan masakan seafood berjejer di sepanjang jalan setapak. Terdengar suara penggorengan panci di atas kompor panas, derap langkah kaki yang terburu-buru, dan tawa anak kecil maupun orang dewasa yang wujudnya gaib.

Tidak ada siapapun.

Aku menatap sekelilingku dengan ngeri. Tempat apa ini? Meskipun kepiting saus padang dan udang goreng tepung sangat menggiurkan, aku sama sekali tidak tertarik untuk menjaja makanan di tempat ini.

Kupaksa kakiku terus berjalan. Aku mulai menyesal karena telah mendekati pintu tadi. Sebenarnya apa yang terjadi? Aku ingin kembali ke rombongan dan pulang ke kost. Aku rindu kamar kecilku. Aku juga rindu rumah yang jauh dari lokasi penempatan kerjaku.

Entah kenapa, langkahku semakin berat. Punggungku membungkuk semakin dalam. Kurasakan eksistensiku mengabur, menyusut, dan meleleh. Tanpa kusadari, langit biru berganti menjadi senja. Warna indigo dan oranye menghiasi cakrawala tanpa awan.

Lalu … kulihat penghuni kota di sekitarku.

Suara tanpa wujud berubah menjadi mimpi buruk. Sekarang, aku bisa melihat makhluk-makhluk aneh ini … atau hantu? Atau jin? Atau monster?

Rupa mereka beraneka ragam. Manusia berkepala tikus. Tarantula raksasa bersepatu. Kera berdasi. Makhluk bersayap kelelawar. Makhluk bermata empat. Termasuk makhluk mitologi dari cerita rakyat, seperti genderuwo dan leak. Mereka menatapku penasaran seolah aku ini satwa langka di kebun binatang.

Sorot mata yang tertuju ke arahku membuat dadaku sesak. Aku ingin berlari kabur, tapi kakiku terasa berat seperti menyeret belenggu tak kasat mata. Tatapan mereka menghujaniku penuh selidik, sampai akhirnya indra penglihatanku menangkap sesosok manusia di antara kemelut makhluk menakutkan.

“Tolong aku,” bisikku mengibakan.  

Manik mata hijaunya mengerling kepadaku. Kemudian, tangannya menggapai tanganku. Ia menarikku menjauh. Aku pun berlari di belakangnya tanpa beban, seolah kakiku tidak pernah ngilu akibat jatuh di sungai. Tangannya yang menggamit erat tanganku membuatku bisa belari secepat angin.

Kami sampai ke dapur sebuah toko roti. Aroma roti yang lezat memenuhi udara. Hanya ada oven-oven yang menyala di sekitar kami. Akhirnya, aku bisa menjauh dari makhluk-makhluk mengerikan itu. Walau begitu, aku tetap tidak mengerti apa yang terjadi padaku.

“Aku takut,” ucapku lirih. Tanpa sadar air mataku mengalir lagi dengan bodoh. Sial, kenapa aku sangat cengeng hari ini. “Di mana aku?”

“Sekarang kamu aman, tapi jangan berada di tengah keramaian seperti itu lagi ya.” Sosok laki-laki penyelamatku berdiri di hadapanku. Suaranya lembut menenangkan, meskipun tidak ada senyum di wajahnya.

Perlahan tubuhku merosot di tembok belakangku. Aku berjongkok sambil tersedu-sedan. Bodoh. Air mataku yang sebesar biji jagung terus berjatuhan. Hentikan apapun ini. Aku benar-benar tidak tahu di mana aku. Apa aku masih hidup? Atau aku bermimpi? Atau aku sudah gila?

“Makan ini,” ucapnya tegas sambil mengambil roti yang baru saja matang dengan gerakan diam-diam layaknya pencuri. Berulang kali matanya melirik ke arah pintu yang menuju area toko roti.

“Enggak apa-apa?” tanyaku sesenggukan.

“Cepat, soalnya kamu memudar.”

“Hah?!” Lantas, kuangkat tanganku yang transparan. “HAAAH????”

“Ssshhhh!” Dia menyumpal mulutku dengan roti. “Gigit, kunyah, telan.” Mata hijaunya menatap lurus ke mataku. Ia berjongkok di depanku. Jarak wajah kami sangat dekat, aku bisa merasakan napasnya yang hangat di wajahku. Ia beraroma seperti petrikor, mengingatkanku pada embun hujan di pagi hari.

Terpaksa, aku menggigit roti abon yang ada di mulutku. Runtukan abon berceceran di lantai, sementara rasa asin dan manis melumer di lidahku. Awalnya aku ragu, tapi doyan dan lapar membuatku melahap roti itu dengan rakus.

Aku mengamati tanganku lagi dan tanganku kembali padat. “Terima kasih.”

“Namamu siapa?” Mata hijaunya mengerjap penasaran.

“Xevara,” jawabku.

“Kamu harus ganti namamu di sini.”

“Enggak mau!” tolakku bersikeras.

“Ya udah, sekarang aku panggil kamu X.”

“Dih?” Seenaknya saja dia mengganti nama orang.

Tiba-tiba pintu yang menghubungkan ruang oven ke toko roti terbuka lebar. Seorang pria tambun berkepala babi berteriak. “HEH PENCURI!”

Sosok tanpa nama di depanku menggenggam tanganku lagi dan melesat kabur lewat pintu belakang, tempat kami masuk tadi. Ternyata dia hanya asal membawaku ke mana saja yang sepi, hanya untuk bersembunyi dari keramaian. Di luar, angkasa sudah gelap. Kami berhenti di bawah jembatan yang menyala terang oleh lampu beraneka warna. Makhluk-makhluk yang bukan manusia memadati jembatan sambil membawa umbul-umbul. Suasana tampak meriah bak festival hari raya. Satu-satunya makhluk berbentuk manusia ya, hanya laki-laki di depanku ini.

Kami bersembunyi di bawah jembatan, mendudukan diri di rerumputan basah, membiarkan riuh keramaian di atas kami.

“Namamu siapa?” Aku balas bertanya.

“Aku udah lupa,” jawab laki-laki itu sambil memandang riak sungai yang berkilauan di depan kami.

“Terus orang-orang manggil kamu apa?”

“Y,” balasnya.

“Cuma Y?”

Dia manggut-manggut.

Aku termenung. Apa dia juga sama sepertiku? Pertama, tersesat di tengah hutan, kedua masuk ke dunia lain ini? Dalam diam, aku mengamati pakaiannya yang tampak seperti remaja kota pada umumnya, kaos oblong dan celana jeans.

“Kamu harus kembali ke duniamu besok, maksimal sebelum matahari tenggelam. Kalau enggak, kamu bakal terjebak di sini selamanya.”

“Itukah yang terjadi padamu?!” tanyaku asal ceplos tanpa berpikir dulu. Tentu dia tidak menjawab. Ketakutan mulai merayapiku. “Aku harus bagaimana?”

“Pertama, kamu harus cari tempat berteduh malam ini karena malam adalah waktu berbahaya.”

“Di mana?” selaku.

“Kedua, kamu wajib ingat namamu sendiri,” lanjutnya tanpa mengindahkan dua pertanyaanku.

“Namaku Xevara …” Entah mengapa lidahku mulai terasa kelu mengucapkan nama sendiri.

“Ingat baik-baik.” Ia mengacungkan jari telunjuknya padaku. “Tapi rahasiakan. Soalnya nanti namamu bisa dicuri.”

Aku mengangguk patuh. Mengingat namaku sendiri adalah satu-satunya hal termudah. “Kalau dicuri gimana?”

“Kamu enggak bisa balik ke duniamu.”

“Hmmm, kalau namanya dikembalikan lagi?”

“Tamat riwayatmu.”

“Terus caraku keluar dari sini?”

“Menghadap ke walikota. Kantornya ada di sana.” Ia menunjuk ke bangunan megah berwarna emas nun jauh di sana. Ribuan lampu menerangi bangunan megah itu.

“Kamu mau nganterin aku ke sana kan?”

“Enggak. Kamu harus usaha sendiri.”

“Aku takut. Aku enggak tau di sana harus ngapain?” Air mataku mulai menggenang lagi.

“Maaf, aku banyak kerjaan. Lagian kamu sudah dewasa kan?” Lalu, dia beranjak berdiri.

Sedangkan aku bergeming di tempatku duduk. Mataku terarah pada permukaan riak air sungai. Tidak terbayang apa yang harus kuhadapi besok. Kota yang penuh dengan makhluk ganjil dan monster ini membuatku gentar. Aku takut. Benar-benar takut. Belum pernah aku setakut ini. Rasanya aku ingin berhenti. Bagaimana kalau aku tidak perlu berusaha untuk kembali ke duniaku?

Tapi bagaimana dengan pekerjaanku? Aku harus memberi uang untuk nenekku di rumah karena hanya aku yang tersisa untuk merawat beliau. Aku bahkan sedikit menyesal karena meninggalkan nenek untuk bekerja di luar kota. Aku mulai menyesal telah memutuskan pergi jalan-jalan ke air terjun bersama kumpulan orang asing yang kutemui di sosial media. Aku hanya mau menyegarkan pikiranku yang sumpek dengan pergi ke alam, tapi kenapa berakhir malapetaka?  

“Hey. Selama kamu melakukan hal yang benar, kamu enggak perlu takut.” Ia menunduk, menepuk pundakku pelan seraya tersenyum simpul.

Buru-buru aku mengusap air mataku yang hampir jatuh. Y benar. Aku belum boleh menyerah sampai matahari terbenam besok. Waktu terus berjalan. Perlahan aku beranjak berdiri tanpa bantuan tangannya yang terbuka. “Sekarang aku harus ke mana?”

“Ayo ikut aku. Akan aku antar ke tempat kamu bisa berteduh.” Kali ini, aku menyambut uluran tangannya.

🕰

Kami sampai di sebuah kapal yang sedang sandar di dermaga. Kapal ini mirip dengan kapal Prince Soya yang sering kulihat di pelabuhan dekat rumah. Lambungnya yang besar tampak megah.

“Silakan masuk,” kata Y sambil mengarahkanku ke sebuah tangga.

“Aku mau dikirim ke mana?” tanyaku cemas.

Y menghela napas. “Ini hanya tempat berteduhmu malam ini, bukan mau mengirimmu pergi.” Dia berhenti sejenak, tampak menimbang-nimbang sesuatu dalam benaknya. “Ya udah, kuantar masuk.”

Tangannya yang kokoh  menuntunku berjalan di atas tangga. Angin bertiup membuat tangga reyot itu bergoyang sedikit. Aku hampir terpeleset jatuh kalau tidak berpegangan pada susur tangan tangga.

Kami masuk ke dalam kapal dan disambut oleh seseorang.

“Hai Bang Y!” Sosok itu menyapa Y dengan nada centil sambil melambaikan tangan. Dia tampak seumuranku, bukan manusia, tapi berpakaian dan berdiri seperti manusia. Kepalanya berbentuk kelinci putih yang sangat cantik. Tangannya seperti tangan manusia pada umumnya.

“Aku nitip seseorang. Tolong jaga dia malam ini,” kata Y sambil menunjukku.

“Siap, Bang,” kata nona kelinci dengan sikap hormat. Lalu dia terkekeh sambil menutup mulut kelincinya. “Aku boleh mempekerjakan dia kan? Kebetulan malam ini lagi kurang orang nih buat bersihin kapal.”

“Terserah.” Y melirik kepadaku.

Spontan aku menjawab, “Ya, siap!”

Y tersenyum geli melihat sikapku. “Aku tinggal dulu. Jangan lupakan namamu dan misimu,” ucap Y pelan tanpa terdengar nona kelinci. Sorot matanya begitu serius. Dia baru menuruni tangga setelah aku mengangguk penuh tekad.

“Nah, ayo ikut denganku!” Sekarang giliran nona kelinci yang menarik tanganku untuk mulai bekerja. “Pertama-tama, kamu ganti baju dulu biar bajumu yang sekarang enggak kotor.”

Dia berlari ke lemari persediaan, mengambil sepasang pakaian, lalu menyodorkannya padaku. Aku menerima dengan canggung sambil mencari-cari ruang ganti.

“Oh!” Nona kelinci menjentikkan jarinya. “Ganti baju di kamarku yaa, biar kamu nyaman.”

Lantas dia mengantarkanku pada sebuah kamar di lantai bawah. Dia berdiri di depan pintu sementara aku ganti baju sendirian di dalam kamarnya. Kamar itu gelap, sumber penerangannya hanya cahaya perak rembulan dari jendela yang terbuka. Ponselku ternyata tidak berfungsi di tempat ini. Mati total. Padahal tadi masih ada baterai 50%. Aku menyembunyikan ponsel dan selembar uang seratus ribu di sela-sela lipatan baju. Sudah kubilang. Perjalanan ini kukira hanya memakan waktu maksimal dua jam, jadi aku tidak membawa tas.

Buru-buru kuganti pakaianku. Seragam itu sama persis dengan yang dikenakan nona kelinci. Dress pink berlengan balon yang imut, dipadukan dengan celemek bermotif tartan. Aku berputar di depan cermin sebelum keluar dari kamar nona kelinci.  Sungguh pakaian ini membuatku seperti maid lady.

“Yuk kita mulai kerja.” Nona kelinci menyodorkan semprotan pembersih kaca dan kain lap kepadaku begitu aku keluar. Sedangkan dia sudah siap menenteng ember dan pel. “Oh iya, nama kamu siapa ya?”

“Aku …” Siapa? Aku panik. Seperti ada sesuatu yang hilang. Lalu aku teringat namaku. “X. Panggil aku X.”

“Salam kenal, X. Namaku Konijntje,” kata nona kelinci dengan suaranya yang menggemaskan.

“Eh? Bukan satu huruf?”

“Hahaha, cuma Y aja yang namanya satu huruf di sini. Sekarang sama kamu.” Ia mengedipkan matanya.

Aku hanya bisa tertegun. Tahu begitu aku bakal ganti namaku jadi nama lain yang bagusan dikit. “Y itu kerjanya apa ya?”

“Hahaha, dia itu super sibuk.” Kami menaiki tangga ke ruang penumpang yang luas. Kursi dan kasur berjejer rapi. Ada beberapa makhluk lain yang juga sedang mengelap dinding kapal. Mereka juga memakai seragam yang sama. “X, kamu mulai lap semua kursi, lalu bersihkan kaca jendela ya!"

Konijntje ternyata enggan memberitahu lebih banyak soal Y.

🕰

Entah sudah berapa jam aku membersihkan semua kursi penumpang, jendela ruangan penumpang, layar televisi, sampai mengelap susur tangga. Aku capek membersihkan kapal ferry sebesar ini, bersama Konijntje dan staff lain yang bentuknya beraneka ragam. Tidak ada satupun dari mereka yang berupa manusia.

Sekarang mereka memandangku seperti aku ini anomali.

Pekerjaanku rampung. Aku pun termenung di depan salah satu jendela, memandang pesisir kota ini yang sangat mirip dengan kotaku. Angin sepoi-sepoi memainkan rambut panjangku yang dikuncir asal dengan karet bekas nasi bungkus. Malam itu sejuk. Benakku mulai berpikir, aku harus segera kembali, mengajukan surat permohonan mutasi, atau berganti pekerjaan yang bisa dekat kampung halaman supaya aku bisa menjaga nenekku. Huft. Beginilah kalau hidup di negara kepulauan yang luas dan pemberi kerjamu menjauhkanmu dari rumah. 

“X, udahan yuk. Kamu lapar?” tanya Konijntje yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingku.

Aku menggelengkan kepala saat dia menawariku segenggam nasi kepal. Tapi waktu mendengarnya mengunyah, aku jadi lapar dan tergoda untuk ikut makan.

“Nih kalau mau.” Konijntje mengambil satu nasi kepal lagi dari kresek yang di bawa.

Kami pun memakan nasi kepal isi tuna—seperti yang biasa dijual di Indomaret Point—sambil bersandar pada kusen jendela kapal. Aku masih tidak mengerti banyak hal. Tadi siang, aku berada di tengah hutan yang seharusnya menuju ke air terjun, lalu sekarang aku berada di atas kapal.

“Konijntje, kamu tau kantor walikota di mana?”

“Tau dong. Ada di sana.” Konijntje menunjuk ke sebuah bangunan megah di ujung sana. Jauh dari pelabuhan tempat kami berada sekarang. “Kenapa?”

“Y menyuruhku pergi ke sana. Caranya ke sana gimana?”

“Jalan aja,” jawabnya tanpa memberi solusi. Aku yakin dia tidak pernah ke sana sebelumnya. Lalu Konijntje menoleh kepadaku. Mata hitamnya yang bulat mengerjap. “Kamu pasti tersesat di sini. Tempat ini enggak seharusnya didatangi manusia kayak kamu.”

“Bukannya Y juga manusia?”

Konijntje mengendikkan bahu. Nasi kepal kami sudah habis. “Kamu belum lihat wujud aslinya.”

“Loh? Berarti dia apa?”

Nona kelinci mengangkat jari telunjuk di depan mulutnya. Lagaknya seperti mau membeberkan rahasia misterius, ternyata dia malah berkata, “Aku juga enggak tahu.”

“Kamu kenapa bisa ada di sini?” tanyaku penasaran.

“Tempatku memang di sini.”

Suara bel menyentakku dari lamunan.

Konijntje berkata. “Yeay! Selesai sudah hari ini.”

Aku pun mengurungkan niatku untuk bercerita dan bertanya lebih banyak. Suasana kapal langsung ramai oleh berbagai makhluk yang berebut masuk ke tempat istirahat masing-masing. Riuh obrolan, sambatan, dan candaan memenuhi seisi kapal. Padahal tadi tidak seramai ini.

Begitu masuk ke kamar Konijntje, dia langsung menggelar karpet untukku dan memberikan satu bantal. Kemudian, aku langsung tepar.

🕰

Sebelum pagi merekah dan Konijntje bangun, mataku terbuka lebar. Aku menatap langit-langit kamar. Kurasakan ayunan kapal yang bergerak di atas gelombang pesisir pantai. Bukan mimpi. Ini semua kenyataan dan aku harus menghadapinya. Aku bergegas mengganti pakaianku dengan bajuku yang kemarin—sweater ungu dan celana kargo cokelat. Kulipat seragam lady maid di atas karpet. Kupakai lagi sepatu kedsku. Pelan-pelan kugeser pintu kamar Konijntje, lalu aku menyelinap pergi ke kantor Walikota.

Hati-hati kususuri tangga kapal menuju dermaga. Begitu sampai di anak terakhir, aku meloncat ke lantai kayu dermaga. Petualangan baruku dimulai.

Kota tampak sunyi jika dibandingkan semalam. Matahari mulai terbit di ufuk Timur. Aku berjalan di pinggir pantai dengan was-was. Ombak pantai memecah keheningan fajar. Tiba-tiba sebuah trem berhenti di depanku. Aku pun menaikinya karena kutebak tram itu mengarah ke kantor walikota. Di dalam tram, terdapat beberapa makhluk aneh yang menatapku penasaran.

Perlahan aku mencoba duduk sambil membuat diriku tidak terlihat.

Walau begitu, pandangan pria berkepala buaya terus menusukku. Sementara burung hantu di sampingnya yang bertengger di atas kursi, juga ikut mengamatiku seolah aku barang ajaib. Aku sangat risih tapi aku tidak punya tempat bersembunyi.  

Posisi tempat duduk di dalam tram memang seperti tempat duduk di KRL, jadi penumpangnya duduk berhadapan di kedua sisi.

Aku meringkuk di tempatku duduk sambil berusaha mengalihkan perhatianku pada pemandangan jendela di luar. Kuabsen satu per satu objek yang kuamati. Kapal ferry, kapal klotok, dermaga, laut, matahari, pelelangan  ikan, pasar pagi, dan makhluk-makhluk aneh yang bekerja di pagi hari.

Kubiarkan tram membuaiku dalam ayunan lembut.

🕰

Markah hijau bertuliskan kantor walikota menangkap perhatianku. Tram berhenti tepat di depan markah. Lantas aku turun setelah lama dibuai oleh tram yang melaju lembut.

Aku mengikuti petunjuk jalan yang menuntunku ke tangga emas. Ratusan tangga di depanku, mengarah ke sebuah kantor yang lebih tepat disebut istana megah. Aku menghela napas, lalu aku mulai menaiki tangga satu per satu hingga sampai ke depan pintu gerbang raksasa yang terbuka. Cukup menguras energi. Meskipun udara masih dingin, matahari mulai bersinar terang di atasku.

Ukiran tulisan kantor walikota terpampang nyata di belakang meja resepsionis. Aku menghampiri meja tersebut dan menghadapi sesosok makhluk berantena semut.

“Permisi, saya mau bertemu walikota,” ucapku pelan. Aneh. Tidak ada siapapun di kantor itu. Kayaknya aku datang kepagian.

Makhluk berantena semut menatapku enggan. “Apakah sudah ada janji?”

Aku melirik ke kanan dan ke kiri. “Sudah,” jawabku yakin?

“Silakan isi buku tamu,” ujarnya sambil memberikan buku tamu kepadaku.

Aku kebingungan di kolom pertama yang bertuliskan ‘nama’. Aku siapa? Aku siapa? Oh Tuhan, siapa namaku? Sesuatu berawalan X? Tidak penting sekarang. Buru-buru aku tulis X, tujuanku ke kantor walikota, dan tanda tangan asal.

“Baik.” Makhluk berantena semut berkata datar. “Jadi Anda ini dari instansi mana?”

“Saya perwakilan diplomat dari negeri lain,” jawabku ngarang.

“Sudah bersurat ke Sekretaris Daerah sebelumnya?”

Aku menggerutu dalam hati. Ya Tuhan, di tempat ini juga ada birokrasi ribet? Waktuku hanya sampai matahari terbenam! “Ini keperluan mendesak. Tidak butuh surat,” ucapku tanpa keraguan sedikitpun agar dia percaya pada penjelasan fiktifku.

Makhluk berantena terdiam sejenak. “Baik. Silakan masuk. Ruang walikota ada di lantai tiga. Tangganya ada di sisi kiri gedung."

Aku langsung melesat ke arah yang ditunjuk makhluk berantena. Tangga lagi. Aku menaiki tangga hingga ke lantai tiga. Suara sepatu kedsku bergema di lorong tangga. Belum ada siapapun yang lewat selain diriku.

Sesampainya di lantai tiga, aku menemukan papan penunjuk yang mengarahkan ke ruang walikota. Belok kanan. Aku berjalan menyusuri selasar panjang yang memiliki puluhan pintu berjejer. Ruang walikota berada di ujung koridor ini.

Sepasang mata raksasa di pintu ruang walikota menyambutku, mendelik ke arahku tanpa bicara, seolah sedang mengevaluasi apakah aku layak masuk. Aku bergidik ngeri lalu aku berdeham. “Perkenalkan. Saya perwakilan diplomat dari negeri tetangga,” ucapku penuh keyakinan. Aku harus bisa keluar dari dunia aneh ini dan kembali ke duniaku apapun caranya, bahkan jika harus berbohong ratusan kali. Aku benci berbohong, tapi aku tidak punya pilihan.

Sepasang mata itu mengerjap sekali, kemudian membukakan pintu yang tingginya lebih dari lima meter, mempersilakanku untuk masuk. Semua yang ada di kantor ini serba raksasa dan berwarna emas menyilaukan.  Dindingnya diberi cat emas tanpa cela. Lantainya bersih kinclong tanpa debu. Langit-langitnya dihiasi lampu chandelier terang-benderang.

Begitu pula saat aku masuk ke ruangan walikota. Ruangan itu penuh dengan ornamen, boneka, bantal, sofa empuk, meja panjang, permadani, dan lukisan abstrak. Aroma ruangan itu berbau seperti dupa. Atapnya terbuat dari kaca sehingga cahaya matahari bebas masuk dengan leluasa. Sejauh mata memandang, aku selalu menemukan objek baru. Rak buku berisi cinderamata, tropi, dan batu berlian. Meja panjang berisi buah-buahan segar. Patung kupu-kupu raksasa. Guci keramik antik. Sangkar burung merak. Vas bunga anggrek.

Aku pun duduk ragu-ragu di salah satu sofa. Kedua tanganku mengepal di atas lutut. Tegang. Di mana sang walikota?

Lalu, aku menyadari kalau ruangan walikota juga dikelilingi pintu-pintu yang terbuat dari kayu meranti sama seperti selasar tadi.

Apa sang walikota ada di balik salah satu pintu? Aku menunggu dan menunggu tanpa kepastian. Ruangan itu sangat senyap. Lama-lama aku mengantuk akibat sinar matahari dan embusan angin dari jendela yang terbuka.

Suara berdebum seperti ada yang jatuh membuatku tersentak dari kantuk. Kubuka mataku lebar. Jantungku bertalu. Penasaran aku menoleh ke kanan dan kiri, mencari sumber suaranya, selanjutnya aku menangkap satu pintu yang berbeda. Dengan waspada, aku mendekati pintu itu. Mataku mulai memantau melalui celah pintu.

Aku terpukau pada pemandangan di depanku. Di dalam ruangan itu, seseorang yang memiliki sayap putih duduk membelakangiku dengan sayap terbentang di lantai. Bulu-bulu berwarna putih berterbangan di udara. Sebuah jendela raksasa yang menghadap langsung ke arah laut terbuka lebar. Samar, aroma anyir darah merebak. Lalu, warna skarlet mulai mewarnai salah satu sayapnya yang patah.

Saat dia mengangkat kepalanya, aku mengenali sosoknya berkat rambut pirang masai penuh jelaga dan bahu yang lebar. Dia penyelamatku semalam!

“Y!” Aku berteriak.

Dia tak mendengarku atau pura-pura tidak dengar? Kucoba membuka pintu tapi pintu itu dipasang rantai yang membuatnya tak bisa terbuka.

Y membungkuk lagi sambil mencoba mengangkat sayapnya. Hanya satu sayap yang terangkat. Yang satu lagi hanya bergetar dengan menyedihkan. Ia terus memaksakan diri untuk mengangkat sayapnya. Detik berikutnya ia mengerang, terengah, kesakitan. Ada sesuatu yang salah.

“Y! BUKA PINTUNYA.” Aku menggedor pintu keras. Dia sudah menolongku di dunia antah-berantah ini. Aku tidak mungkin membiarkannya terluka begitu saja. “TOLONG BUKA!”

Ia tetap mengabaikan teriakanku. Salah satu tangannya menggapai sayapnya yang patah. Ia tampak tertegun ketika lumuran darah membasahi tangannya. Darah dari sayapnya yang patah semakin melebar. Lukanya parah. Pakaiannya kotor oleh abu bagaikan baru saja melewati malam panjang yang penuh pertarungan.

Akhirnya Y menoleh kepadaku. Bukan tatapan lembut yang kudapatkan, melainkan tatapan hewan buas.

Dia menggerakkan tangannya ke arah pintu dan seakan ada sihir, pintu itu berdebam di depan wajahku.

“Y! Y!” Aku menggedor-gedor dan menarik gagang pintu panik. “Y! BUKA!”

Tiba-tiba seseorang muncul di sebelahku.

“Selamat pagi, Kak X.”

Sontak aku melangkah mundur. Aku menatap siapa yang baru saja mendatangiku. Ternyata seorang anak kecil dengan mata kancing, jas berekor warna hijau, dasi kupu-kupu, dan topi bundar bergaya era victoria. Usianya mungkin sekitar enam tahun. Ia memegang sebuah mobil-mobilan yang terbuat dari kayu.

“Pagi?” ucapku seperti sedang tertangkap basah.

“Kakak cari siapa?” tanya si anak kecil dengan nada polos.

“Walikota,” jawabku spontan. Terbersit di pikiranku untuk bertanya misi baru yang mendesak—menyelamatkan Y. Hanya Y satu-satunya yang mengerti kondisiku sekarang. “Kamu bisa bukain pintu ini?” tanyaku sambil tersenyum pada victorian child di hadapanku.

“Bisa, tapi mati.”

“Hah?”

“Lewat luar.” Si anak kecil bermata kancing menunjuk ke jendela.

Aku menepuk dahi. Baiklah, ternyata susah juga menghadapi bocah kematian ini. Kembali ke misi utamaku pergi ke sini. “Kamu tahu di mana Walikota?”

“Walikota lagi keluar kota,” jawab anak kecil itu.

Berikutnya, aku berjongkok di depannya sambil menutup muka. “Hiks, terus gimana caraku keluar dari sini?”

“Tunggu Mama aja,” jawab si anak kecil masih dengan nada polos. Mata kancingnya terus menatapku.  

“Emang Mama kamu siapa?” balasku bertanya.

“Walikota.”

Aku tertegun. Anak ini adalah putra walikota? Lalu aku menyimpulkan kalau walikota adalah seorang wanita. “Kamu tahu Mama kamu ke kota apa?”

“Kota yang jauh, harus terbang buat ke sana.”

Baiklah, apapun caranya akan kususul Walikota ini sebelum matahari terbenam. “Siapa yang bisa terbang?”

Si anak kecil menunjuk ke arah pintu tempat Y terkurung.

Kuakui pertanyaanku sangat bodoh. “Tapi sayapnya dia lagi patah. Ada cara lain enggak?” kataku dengan nada sedih.

“Kita main petak umpet yuk!” Si bocah viktoria mengalihkan percakapan.

“Aduh, engga ada waktu buat main.”

“Nanti aku bunuh kalau enggak mau main,” kata anak kecil itu serius. Sepasang kancing berwarna emas menatapku dengan sorot tajam. Aku menelan ludah. Ucapannya terdengar jauh dari kata bercanda.

“Oke deh. Oh iya, namamu siapa?” Yang benar saja aku takut anak kecil.

“Namaku Robert. Aku yang jaga, kamu sembunyi!” titahnya. Robert mulai menutup mata kancingnya dengan kedua tangannya lalu berputar di tempat sambil berhitung. “Satu … dua … tiga …”

Aku menoleh ke arah jendela yang terbuka. Aku akan mencoba menyusup ke ruangan Y karena setiap ruangan di bangunan ini punya jendela besar. Ditambah, kemungkinan besar ruangan Y ada di sebelah ruangan ini. Aku pasti akan bisa menyelinap masuk ke sana.

“Delapan … Sembilan …”

Perlahan aku memanjat jendela dan meloncat keluar pada pijakan di sekeliling jendela. Beruntung dinding kantor walikota memiliki pijakan yang bisa membuatku berjalan sambil menempel pada tembok. Aku melihat ke bawah. Ada pagar runcing yang siap menyambutku jika aku runtuh. Pagar itu mengelilingi taman labirin. Aku langsung mendongak ke langit yang biru tanpa awan. Tidak ada waktu untuk merinding ketakutan.

Kakiku terus melangkah sambil menempel pada tembok, melewati bata demi bata, hingga akhirnya sampai pada jendela besar yang terbuka. Aku mengintip ke dalam. Sosok bersayap itu sudah terkapar di atas lantai berwarna-warni.

“Y!” Aku melompat lincah dari jendela, mendekati Y yang tersungkur menyedihkan, dan meletakkan jari tanganku di depan hidungnya. Bernapas. Dia masih hidup.

Lalu aku melihat sayapnya yang patah. Tanganku terulur untuk menyentuh lukanya yang dalam dan parah.

Berikutnya aku mengamati ruangan itu untuk mencari kota P3K atau apapun itu yang bisa membantunya. Ruangan itu memiliki sebuah tempat tidur bersprei putih, rak buku, meja yang penuh dengan pernak-pernik, peti terbuka yang berisi pakaian, dan lemari obat. Aku bergegas menuju lemari obat untuk mencari apapun yang bisa menolongnya.

“Kenapa dia punya banyak sekali obat?!” gerutuku sambil mengecek satu per satu botol ramuan obat. Setiap botol diberi keterangan kandungan zat kimia dan khasiatnya. Pil, salep, dan obat cair berbaris tanpa urutan. Sangat berantakan. Berbagai macam tabung reaksi dan gelas kimia beraneka warna berjejer. Ungu, biru, oranye. Sepertinya lemari kaca ini bukan hanya berisi obat karena aku mulai melihat erlenmeyer berisi klorin.

Tiba-tiba aku menemukan sebotol alkohol murni dan povidone iodine. Aku merampasnya dan kembali pada tubuh Y yang terkapar. Sepertinya luka ini harus dibersihkan terlebih dahulu dengan cairan antiseptik. Sial, aku tidak tahu pertolongan pertama pada sayap patah!

Aku membuka tutup botol untuk meneteskan salah satu isi botol pada lukanya.

“Apa-apaan ini?!” Pintu menjeblak terbuka dan seorang berkepala arloji berteriak padaku. Suaranya kasar dan dalam. Ia terdengar seperti pria dewasa hanya saja kepalanya berbentuk arloji dan ia berpakaian seperti detektif amatir. Kakinya melangkah pincang masuk ke ruangan Y. Aduh makhluk apa lagi ini?

Dia merebut botol di tanganku dan mengecek komposisinya. “Y bukan butuh ini!” geramnya memarahiku sambil melangkah ke lemari obat untuk mengembalikan botol kaca.

“Terus dia butuh apa?”

Sosok berkepala arloji itu mendekati Y, memastikan nadinya masih berdenyut, mengukur suhunya dengan punggung tangan, dan menggoyangkan sayap Y yang patah untuk mengecek seberapa parah. Y tetap bergeming selama si kepala arloji mengangkat tubuh Y agar Y bersandar pada kursi. Darah berceceran di lantai.  

“Dia cuma butuh bangun!”

“Hah? Jelas-jelas dia sekarat!”

Sosok berkepala arloji menggerunyem sendiri sambil mengubek-ubek ramuan di lemari obat. Akhirnya ia mengambil salah satu botol kaca berisi zat entah apa dan kembali lagi mendekati Y dengan susah payah. Kakinya yang pincang menghambat manuvernya. Ia memutar tutup botol kaca, membuka mulut Y, dan mencekoki Y dengan apapun isi botol itu.

Mata Y terbelalak. Ia menyembur dan terbatuk-batuk karena tersedak. Tangannya mendorong si kepala arloji dengan kasar karena si kepala arloji terus-terusan mencekokinya. Sontak ia mendudukan dirinya dengan tampang awut-awutan. Matanya yang tadi sempat berkilat liar berubah menjadi lebih ... manusiawi.

“Kenapa kau membangunkanku dengan gin dan tonik?” Ia meringis ketika merasakan sayapnya yang patah.

“Kau harus sadar supaya aku bisa mengobatimu!” kata si kepala arloji parau.

“Jangan pakek alkohol juga dong. Aku bukan kau. Aku benci miras,” gerutu Y sambil memegang kepalanya lalu menyentuh sayapnya yang patah lagi.

“Terus kamu ngapain simpan ginian?” Jika si kepala arloji punya wajah, aku bisa membayangkan dia sedang menyeringai tengik.

Y hanya menatap tajam si kepala arloji. Dia mengalihkan topik percakapan. “Aku menyimpan obat buat sayap yang patah di—” Ucapannya terputus ketika manik matanya mengerling pada botol kaca berwarna hitam di tangan si kepala arloji. Ternyata obat yang dia butuhkan sudah dipegang si kepala arloji.

“Diam! Aku akan meneteskannya ke sayapmu yang busuk ini.” Si kepala arloji mengangkat sebuah botol berisi obat—yang konon katanya—untuk sayap patah. Asap menguar dari botol itu.

“Tolong tuangkan semua saja,” pinta Y sambil membungkukan punggungnya, bersiap diobati. Lantas si kepala arloji menuang tetes demi tetes cairan berwarna perak yang berkilauan pada luka di sayap Y.

Samar terdengar suara berdesis. Y menarik napas dan mengatupkan rahangnya. Punggungnya menegang, lalu ia jatuh menunduk. Napasnya megap-megap. Ia biarkan dirinya membungkuk semakin dalam pada lantai, sementara kedua tangannya menjambak rambutnya sendiri. Giginya gemertak. Sayapnya yang utuh terentang ke atas.

“Ha! Cuma dua puluh tetes aja, kau sudah seperti ini.”

Y tidak merespons apapun. Aku tak bisa melihat wajahnya karena saat ini ia membungkuk seperti dalam posisi bersujud. Beberapa helai pirangnya jatuh ke lantai.

Aku menyaksikan bagaimana benang-benang fibrin secara luar biasa tumbuh menutup lukanya. Asap berwarna perak menguar dari lukanya yang menyembuh. Sayapnya yang terkulai itu perlahan menyatu kembali ke punggungnya. Selama proses itu berlangsung, ia mengepalkan tangannya hingga kukunya menancap pada telapak tangannya, terlihat jelas ia sekuat tenaga menahan efek metode penyembuhan yang menyiksa itu.

“Tau sendiri kan efeknya,” kata si kepala arloji parau. Y hanya menggeram dengan gigi gemeletuk.

Tak lama kemudian, desisan di punggung Y berhenti. Perlahan ia kembali menopang tubuhnya dengan kedua tangan, mengangkat kepalanya, lalu mendudukan dirinya di atas lantai seraya menghela napas lega. Wajahnya pucat pasi. Keringat mengalir deras di pelipisnya. Energinya terkuras habis setelah jaringan di sayapnya menyatu kembali secara paksa. Kepalanya terkulai lemas, sementara kedua sayapnya sudah bisa bergerak lagi seperti sedia kala. Sangat indah, meskipun lumuran warna merah menodainya.

“Laporkan yang terjadi,” kata si kepala arloji tanpa mengindahkan Y yang baru saja melewati hal yang buruk. Nada suaranya layaknya komandan militer.  Tampaknya mereka lupa ada orang lain di ruangan itu.

“Penyerangan,” jawab Y sambil bersender pada kaki kursi di belakangnya.

“Tidak biasanya,” kata si kepala arloji sambil menyentuh dagunya dengan tangannya yang bersarung tangan. Dagu? Maksudku bagian bawah kepala arlojinya.

“Serangan mereka kacau!” seru Y dengan sorot mata nanar. “Mereka tidak waras! Buat apa menyerang acak seperti itu? Strategi idiot. Kuselesaikan dalam sedetik.”

“Terus kenapa sayapmu sampai patah gitu?” tanya si kepala arloji sambil mengembalikan botol obat sayap patah ke lemari kaca.

Y mendengus. Ia menyibak rambutnya. “Lengah sedikit. Untung aku masih bisa terbang ke sini.” 

Apakah aku berubah jadi transparan lagi? Aku sedang berdiri di dekat jendela.

“Istirahatlah,” kata si kepala arloji sambil melipat tangan di depan dada. Suara detak jam terdengar dari kepalanya.

“Tadi malam memang sangat ganjil. Sebelum penyerangan, aku menemukan seorang manusia tersesat masuk ke dunia ini. Mungkin ada kaitannya dengan lemahnya perbatasan semalam.”

“Maksudmu ada gadis cantik tersesat di sini?”

“Yeah. Portal di pintu itu memang sudah seharusnya diganti—”

Si kepala arloji berdeham, lalu aku muncul di depan Y. Spontan Y langsung menghilangkan sayapnya dan ia pun kembali terlihat seperti cowok biasa pada umumnya. Helai-helai sayap berterbangan di sekelilingnya. Ternyata begitu caranya menyembunyikan sayap magisnya.

Y membelalakkan matanya. Pagi itu ia memakai kemeja knitwear putih yang berlumuran jelaga dan celana chino berwarna coklat—sungguh berbeda dengan penampilannya semalam. “Loh X? Kamu ada di sini dari tadi?”

“Kok malah nanya? Kan kamu yang suruh aku ke kantor walikota. Kalau ternyata kamu tinggal di sini, kenapa kamu enggak mau nganterin aku?” ucapku tajam.

Si kepala arloji mengangkat bahu, bersikap tak acuh. Kemudian, ia melipat kedua tangannya di depan dada, menyandar pada tembok, menonton percakapan kami.

Sementara itu, Y gelagapan. “Sudah kubilang, aku banyak kerjaan. Aku harus lanjut kerja,” kilahnya.

“Y, kau harus istirahat,” sela si kepala arloji tegas.

“X, aku minta maaf karena semalam aku tidak yakin Walikota mau memberimu ruangan di sini,” sambung Y dengan mata berbinar penuh penyesalan.

Pipiku merah padam. Benar juga, tak mungkin dia mengajakku ke sini, sementara aku tidak tahu harus tidur dimana. Masa aku langsung tidur di kamarnya. “Terus di mana Walikota hari ini? Kata Robert, dia sedang keluar kota.”

“Eh—?” Y tergagap.

“Robert benar, Walikota ada dinas luar mendadak pagi ini.” Si kepala arloji memvalidasi pernyataanku.

“Tolong antar aku atau please beritahu aku di mana pun lokasi dinas luarnya berada, biar aku yang datengin,” ucapku memohon.

Si kepala arloji mengangkat tangan seolah tak mau tahu situasiku, lalu beranjak keluar. “Aku pergi dulu.”

“Horloge! Tunggu!” Y beranjak berdiri, lalu berlari mengejar Horloge yang sudah berdiri di luar pintu. Jadi nama si kepala arloji adalah Horloge. “Biarkan aku mengakses pintu,” kata Y pada Horloge dengan genting.

“Aturannya sama, Y. Harus dengan persetujuan Walikota.”

“Kau pemegang aksesnya.”

“Y, taruhannya nyawa buat mengakses pintu tanpa otoritas yang sah. Ditambah kau baru saja terluka. Mau nyari mati ha?”

Detik berikutnya, seorang anak kecil bermata kancing emas muncul di selasar depan kamar Y. Kamar Y memang memiliki dua pintu, satu menghadap ke selasar dan satu menghadap ke ruang kantor Walikota. Aku mengenali bocah yang sedang mengentakkan kakinya itu.

Oh tidak! Bocil kematian muncul lagi!

“KAK X CURANG!” teriaknya saat mendapati kepalaku menyembul keluar dari pintu kamar Y. Dia berlari memburuku.

“Tuan Muda Robert, ada apa marah-marah?’ tanya Horloge menangkap tubuh kecil Robert. Suaranya terdengar kebapakan. Sangat berbeda dari cara bicaranya pada Y.

“Kita lagi main petak umpet tapi Kak X malah kabur! BAKAL AKU PANGGIL MAMA KE SINI BIAR MAMA MEMENGGAL KEPALANYA!” Robert berteriak tantrum. Tak kusangka perbendaharaan kata seorang anak kecil bisa seluas itu.

Horloge menggendong Robert. “Sssh … Berarti X sudah menang. Dalam permainan harus sportif dong.”

Manusia kecil itu menendang-nendang torso Horloge sementara Horloge pergi membopongnya menjauh. “HUAAAHHH GAK ADIL!”

Setelah mereka pergi, aku merasakan sepasang mata raksasa menatapku lagi. Tapi tidak ada apapun  saat aku menoleh pada tembok yang ada di sampingku.

Tiba-tiba Y menutup telinganya seolah-olah menangkap gelombang suara yang tak bisa kudengar. Ia mengernyitkan dahinya. “Sebentar X, kamu tunggu di sini. Aku harus pergi.”

“Kamu mau ke mana?”

Y melesat lari menjauh tanpa mengindahkan pertanyaanku. Aku ditinggalkan di depan pintu kamarnya tanpa petunjuk sedikitpun.

Kemudian, lantai di bawahku terbuka membuatku jatuh ke lubang gelap tanpa ujung. Jeritanku memantul di ruang hampa. Tanganku menggapai udara kosong.

🕰

 Entah sudah berapa lama aku terjatuh. Rasanya seperti selamanya. Lubang hitam tanpa ujung menyedotku, mengikisku, menghabisi nyawaku perlahan. Tiada bedanya antara membuka dan menutup mata. Gelap. Sunyi. Nihil. Waktu terus berjalan. Sia-sialah aku.

“Halo Xevara Ellena,” ucap suara seorang yang bernada keibuan sementara aku masih terjun bebas. Aku tidak tahu siapa dia.

“Kumohon, kembalikan aku ke duniaku,” pintaku dengan mata terpejam. “Aku mohon … Aku ingin semuanya normal. Aku rindu Nenekku. Dia hanya punya aku. Aku berjanji akan menjaganya sepenuh hati. Aku akan berhenti mengeluh. Aku tidak akan menyia-nyiakan waktuku lagi. Perbuatan baikku masih kurang. Dosaku terlalu banyak. Tolong. Kembalikan aku …”

Suaraku memantul di sekitarkuku.

Aku jatuh semakin dalam ke inti bumi. Rasanya seperti ada beban berat jatuh di atas dadaku.

“Apa kamu ingat bagaimana kamu masuk dunia ini?” Kali ini suara keibuan itu menyambutku seperti pelukan hangat di tengah hujan. 

“Lewat pintu. Bisakah kamu kembalikan aku ke duniaku?” tanyaku lagi dengan nada lelah.

Tempat ini menguras jiwaku.

“Anak baik. Terlebih dahulu, maukah kamu berbuat satu hal untukku? Sampaikan ini padanya. Dia berhak mendapatkannya setelah melewati banyak hal.”

Udara hangat terasa di telinga kananku. Seseorang baru saja membisikanku rahasia. Dalam kegelapan total, cahaya tak bisa memantul sehingga aku tak bisa mengidentifikasi siapa yang baru saja berbisik kepadaku.

“Kehadiranmu sudah ditakdirkan untuk masuk ke dunia ini. Kamu ada sebagai jawaban untuk dia,” ucapannya bergema di telingaku membuat berdenging.

Rahasia, kebenaran, dan jati dirinya. Semua tentangnya berkelindan dalam benakku. Aku berperan sebagai saluran jawaban untuknya.

Satu hal yang pasti. Hatiku sangat pedih.  

🕰

Aku jatuh terduduk di lantai pualam tanpa patah tulang sedikitmu. Entah kenapa, aku seperti baru tenggelam. Kuraup oksigen sebanyaknya.

Kemudian, pantulan kaca berwarna sepia menyilaukan mataku. Aku tersadar telah jatuh di ruangan berbentuk lingkaran yang dikelilingi ratusan pintu. Temboknya terbuat dari bata berwarna coklat muda. Aku mendongak ke atas dan melihat lampu chandelier. Sepertinya aku sudah kembali ke kantor walikota?

Sebuah kotak berwarna emas dan buket bunga hyacinth ungu muncul di atas pangkuanku. Kotak itu berat dan tersegel. Perlahan aku bangkit berdiri sambil membawa dua objek barang itu. Lalu, aku tersadar ada seorang wanita dengan tiara dan gaun berwarna marun telah menungguku.  

“Selamat sore X, saya dengar kamu mencari saya.” Suaranya sangat mirip dengan suara yang kudengar di lubang hitam.

Bagaimana mungkin waktu sudah sore?

Aku mencoba bersikap ala kerajaan meskipun pakaianku sangat tidak anggun. Tekuk sedikit lutut dan anggukan kepala dengan penuh hormat. “Walikota, ada seseorang yang menitipkan ini.” Aku yakin kalau dia adalah Walikota yang kucari dan aku merasa titipan barang ini untuknya seorang.

Bagaimana aku bisa muncul di ruangan dengan ratusan pintu ini? Dari mana aku muncul di sini? Sepertinya aku harus berhenti bertanya. Terkadang ada hal di dunia ini yang tidak perlu dipertanyakan.

“Berani sekali kamu.”

“Ini bukan suap, Walikota.” Daripada Walikota, dia lebih tepat disebut Ratu.

Walikota membuka kotak itu dan menerima buket bunga hyacinth sambil manik matanya yang terbuat dari rubi—secara harfiah—terus menatapku. “Saya dengar pagi ini kamu mengganggu anak saya Robert.”

“Maaf, saya tidak bermaksud.” Tolong jangan bunuh aku. Aku memejamkan mataku karena teringat ucapan Robert kecil yang penuh ancaman.

“Hmm ya. Kotak ini jelas dari saudari kembar saya yang terjebak di dalam istana. Kamu pasti baru saja menemuinya.” Walikota mengalihkan percakapannya lagi.

Aku tidak bisa menebak kemana arah percakapan ini. Meskipun aku merasa tidak bertemu dengan saudari kembar Walikota, aku hanya bisa menjawab, “Benar.”

“Sepasang mata yang memantaumu dari tembok adalah dia.” Walikota tersenyum kepadaku.

Senyumannya ganjil. Ia bergerak bagai boneka porselen. Hatiku mulai gentar.

“Robert tak hentinya memanggil saya untuk pulang. Tapi saya harus melaksanakan tugas negara. Kamu pasti paham maksud saya. Benar, perwakilan diplomat dari negara lain?”

Pipiku bersemu merah. Tak kusangka Walikota membongkar kebohonganku.

“Kamu masih ingat namamu?”

Aku mengangguk. Seseorang yang berada di lubang hitam telah mengingatkanku pada nama milikku sendiri. Nama yang diberikan oleh orang tuaku.

“Kamu sudah melewati banyak hal. Saya rasa, saatnya kamu kembali ke duniamu. Duniamu ada di salah satu pintu ini. Kamu hanya punya satu kesempatan untuk membuka pintu.” Dia tersenyum ganjil lagi. Kurasa jika aku mendekat, aku bisa melihat garis di bawah dagunya. Kurasa … Walikota adalah sebuah boneka porselen.

Kupandangi ratusan pintu di sekelilingku.

“Silakan, Nona X. Kamu sudah bertemu saya. Misimu terpenuhi dan kembalilah ke duniamu. Kamu hanya punya satu kesempatan membuka pintu. Jika membuka lebih dari satu, kamu tidak akan bisa kembali.”

Angin tak kasat mata mendorongku untuk mulai berjalan mengelilingi ruangan bundar, mengamati setiap pintu yang identik, menilai kemungkinan di baliknya. Sementara, sang walikota pun lenyap dari ruangan ajaib ini.

Perlahan panik merayapiku. Tidak ada yang bisa kutanya. Pintu yang mana? Mana yang mengarah ke duniaku? 

Matahari akan segera tenggelam. Cahaya keemasan dari sang surya memenuhi ruangan itu dan pantulannya berpendar melalui mozaik kaca sepia. Mataku mengerjap. Waktuku akan segera sia-sia, jika aku terus berputar di sini.

Akhirnya, aku membuka salah satu pintu. Aku melindungi wajahku dari terpaan angin mendadak. Awan putih menyambutku. Aku melihat ke bawah sambil berpegangan pada rangka pintu. Pemandangan di bawah terhampar sebuah kota antah-berantah, genangan biru laut, dan daratan bentala hijau yang akan menyambut ragaku setelah terjun bebas.

Tanpa ragu, kakiku melangkah ke udara bebas. Angin berderu di telingaku. Kupejamkan mataku. Bersiap menerima benturan. Aku sudah terlalu sering jatuh di tempat ini. Satu kali jatuh lagi sepertinya aku akan selamat. Lagi pula, aku perlu bangun dari mimpi tak berkesudahan ini.

Tapi aku melayang begitu lama seakan aku terbuat dari kapas.

“X!” teriak seseorang yang menggapai tanganku. Sayapnya terentang lebar. Lukanya hilang tak berbekas. Rambutnya tak lagi dipenuhi jelaga. Pakaiannya bersih tanpa noda. Kedua tangan kami saling bertaut sementara kami mengambang di udara. Ternyata ada seseorang yang membuatku mengapung di udara.

“Y?” Aku menatapnya tak percaya. Aku meraih tangannya yang satu agar kedua tangan kami berpegangan di antara karpet awan. “Bagaimana kamu tahu aku jatuh dari sana?” Aku mendongak ke atas tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan ruang lingkaran penuh pintu yang mengambang di sana.

“Memang tugasku untuk menjaga kota ini,” katanya mengabaikan keanehan dunia ini.

“Kamu yakin?” tanyaku teringat bisikan yang mengungkap semuanya saat di lubang hitam. Dunia tanpa aturan telah mengikis habis jiwa sosok di hadapanku ini.

“Kamu enggak apa-apa?” balas Y lembut sambil mengusap pipiku pelan.

“Justru aku yang harusnya berkata begitu.” Aku memejamkan mataku. Tidak siap mengungkapkan kebenaran jati dirinya pada sang pemilik sesungguhnya.

“Maaf,” ucapnya lagi.

“Untuk apa?”

“Kamu melihat aku dalam kondisi seperti tadi pagi. Maaf karena membanting pintu di depanmu.”

“A-aku—” Aku teringat tatapan matanya yang liar. Lalu aku menepis ingatan itu. “Bukan masalah.”

“Maaf sudah berbohong padamu,” ucap Y  lagi dengan penyesalan. “Aku harus menuruti perkataan Walikota karena peranku sebagai senjata yang harus melindungi kota ini.”

“Berhenti minta maaf,” ujarku dengan suara gemetar. Dia melakukannya bukan tanpa alasan. Perlahan aku menyentuh pipinya dengan salah satu tanganku yang bebas, sementara tanganku yang satu masih digamit olehnya agar aku tidak terjun bebas. Wajahnya yang berfreckles sangat indah. “Kamu pasti juga tersesat di sini kan Y?”

Y mengangguk. “Aku enggak ingat asalku lagi,” katanya getir. Jelas dia merindukan kehidupannya sebelumnya.

“Kamu pasti capek?” tanyaku lagi sambil menyentuh alisnya.

“Capek kenapa?”

“Menipu dirimu sendiri.”

“Adakah pilihan lain?” Dia balas bertanya dengan senyuman pahit.

“Kamu punya, Y. Namamu Yegor Dionysius Tjakra. Kita pernah bersinggungan sebelumnya, di dunia lain, di suatu tempat, di waktu yang tepat. Aku sendiri belum ingat. Takdir pernah mempertemukan kita tanpa sadar.”

Mata Y terbelalak lebar. “Apa?? Aku punya nama?!!”  Kemudian, sayap putihnya lenyap. Bulu-bulu putih melayang di sekitar kami.  Kami pun jatuh dengan cepat dengan kedua tangan saling bertaut.

“IYA, YEGOR! KAMU YEGOR!” teriakku kencang mengalahkan deru angin.

Ia tertawa lebar, terlihat sangat bahagia. Ya Tuhan, bagaimana kamu bisa tertawa? Tawa yang membuat hatiku sedih. Berulang kali aku menyebut nama itu di hatiku.

Aku sendiri tidak ingat kapan kami pernah bertemu dengannya. Apakah kami pernah bertemu di dunia asalku? Atau di dunia lain? Kapanpun waktunya tiba, aku pasti akan mengenalnya.

Yegor tertawa hingga air matanya mengalir. “Aku sudah ingat sekarang. Kita pernah bertemu, Xevara.”

“Eh? Kamu masih ingat namaku?” Kami berputar di udara selama beberapa saat. Lalu kami terhempas di atas hamparan kapas yang empuk.  

Ia merengkuhku di atas hamparan kapas dan dedaunan cokelat yang meranggas. Tidak ada rasa sakit sedikitpun bersamanya. Kudengar detak jantungnya dan detak jantungku beresonansi. Ia wangi petrikor, seperti embun di atas rerumputan pada pagi hari. Tangannya yang hangat mengusap rambutku dengan lembut. Aku belum pernah merasa seaman, seperti dalam rengkuhannya. Ia membenamkan wajahnya pada helai rambutku, sementara aku membenamkan diriku pada lekukan di bawah dagunya—pada klavikula dan sternumnya. 

“Xevara, Xevara, Xevara.” Ia menyebut namaku seolah namaku rangkaian kata paling indah.

Perlahan aku bergerak mundur agar bisa mendongak menatapnya. Kuharap ini nyata. Jangan ambil napasku saat ini.

Kini, tangan kami saling bertaut. “Yegor,” bisikku menyebut namanya di antara embusan angin yang membelai kami bak dua anak kecil. “Walau aku tidak ingat, aku yakin, kita pernah bertemu sebelumnya.”

Tanpa kusadari, matahari telah berubah menjadi oranye. Waktuku segera habis.

“Aku juga merasa begitu, Xevara,” ucapnya sambil memelukku lebih erat. “Sekarang kamu bisa pulang. Berjalanlah melewati pintu, sebrangi sungai, dan jangan menoleh ke belakang sama sekali. Oh ya, satu lagi. Jangan menangis selama berjalan kembali.”

“Kalau aku langgar salah satunya gimana?”

“Kita enggak ketemu lagi.” Ia menyentuh ujung hidungku dengan telunjuknya.

Aku tersenyum sambil mengernyitkan dahiku. “Terus kamu gimana?”

“Aku akan menyusulmu.”

“Yang benar? Kapan kita bisa bertemu lagi?” tanyaku lagi sambil terkekeh.

Yegor tersenyum ragu. “Kita lihat nanti.”

Jawabannya sama sekali tak memuaskanku. “Aku akan ingat kamu kan?”

Kali ini, Yegor mengangguk pasti. Kedua tangan kami masih menyatu. Mata kami saling berpadu. Indah. “Terima kasih, Xevara. Kita pasti akan bertemu lagi.”

Kapan? Di mana? Bagaimana? Pertanyaan bertalu-talu di kepalaku. 

“Aku yang harusnya berterima kasih karena kamu udah menyelamatkanku,” ucapku lirih.

“Kamu menyelamatkan dirimu sendiri.” Ia menyelipkan helai rambutku ke balik telingaku.

“Kamu melindungiku.”

Sinar mentari keemasan menimpa manik mata hijaunya, frecklesnya, dan rambut pirangnya. Senyuman lembut terpatri di wajahnya dan di ingatanku. “Memang tugasku untuk melindungimu selama di sini.”

“Kamu janji akan mengingat namaku?”

Dia mengangguk. Jari kelingking kami saling mengait.

Namun, siapa yang menjamin aku akan mengingat Yegor setelah menyebrangi pintu itu? Apakah aku berbohong? Atau dia yang berbohong? Bisikan di lubang hitam itu sudah mengungkapkan semua kebenaran.

Perlahan kami telentang di atas hamparan kapas yang empuk. Tangan kami mulai terlepas. Radiasi hangat dari tangannya mulai memadam.

Tunggu.

Tunggu.

“Yegor?” Aku beranjak bangun dengan tersentak. Yegor tidak bergerak. Aku mengguncangnya keras, berteriak di samping telinganya, sedangkan matanya terpejam. “YEGOR!”

Lalu aku membenamkan wajahku di lekukan lehernya. Aku teringat ucapannya yang menjelaskan, riwayat seseorang akan berakhir jika identitasnya dicuri. Bahkan meskipun namanya telah kembali, takdir itu tidak akan meleset darinya.

Identitasnya telah dicuri paksa dari dirinyahingga ia tidak bisa kembali ke asalnya. Bahkan jika dulu ia pernah berusaha hal yang sama denganku. Aku sudah menjalankan tugasku. Menjadi jawaban untuknya.

Kedua tanganku merengkuh raganya erat. Mengusap rambutnya yang halus. Menyelipkan helai rambut ke belakang telinganya. Mengecup keningnya. Mengecup matanya yang terpejam. Mengecup bibirnya lembut.

“Kita pasti akan bertemu lagi, kan?” Suaraku bergetar.

Dengan perasaan kalut, aku beranjak berdiri. Waktuku habis. Matahari sebentar lagi akan tenggelam.

Kupaksa kakiku untuk melangkah tanpa menoleh ke belakang. Aku tidak boleh menangis meskipun dadaku seperti ditiban batu. Kulewati pintu terbuka yang dikelilingi sulur bunga mawar merah. Pintu yang telah mengantarku bertemu dengannya. Berikutnya, kulewati aliran sungai dangkal tempatku terjatuh.

Dunia asalku. Aku sudah kembali. Kulihat langit senja berwarna indigo dan oranye di atasku. Burung elang mengepakkan sayapnya. Jangkrik mempertunjukkan paduan suara nyaring. Serangga mengudara di antara tanaman bunga liar. Deras air sungai mengiringi tarian alam. Ranting bergemerisik, daun berdansa mengikuti angin.

Sementara itu, sepatuku yang basah melangkah di atas jalan setapak yang familiar. Samar terdengar suara-suara manusia yang berteriak memanggil namaku. Lalu, salah satu dari mereka mengarahkan senternya kepadaku. Mereka langsung berlari ke arahku. Selanjutnya, anggota open trip dan tim pencari yang lain juga mendatangiku.

Ternyata aku lenyap di hutan selama tujuh jam. Rombongan open trip sampai mengerahkan tim SAR untuk mencariku. Padahal, aku merasa pergi lebih lama dari itu. Tulang keringku yang kemarin—atau tadi?—membentur batu sungai mulai terasa nyeri lagi.

“Xevara! Ya ampun! Akhirnya kami menemukanmu!” seru orang-orang itu saling bersahutan. Aku hanya tersenyum berterima kasih. Aku hanya menjelaskan singkat kalau aku sempat tergelincir ke bawah jurang dan jatuh ke sungai.

Sementara itu, jiwaku kacau. Dunia yang tanpa aturan itu telah merenggut sesuatu dari jiwaku. Sekarang aku berongga. Hampa. Dalam ingatan, kutanam namanya. Kurawat memori pertemuan singkat yang berakhir tragis. Memori tentang nona kelinci, bocah mata kancing, dan kepala arloji juga kusimpan erat dalam benakku. Mereka telah mengambil bagian dari perjalanan panjangku.

Perlahan kusadari sesuatu. Bisikan saat aku jatuh dalam lubang gelap telah memperingatkanku pada harga yang harus dibayar agar aku kembali ke duniaku dan dia menjadi memperoleh identitasnya lagi. Bodohnya, waktu itu aku tidak tahu apa yang harus kutukarkan.

Aku bersyukur karena dapat kembali ke dunia ini dan berjanji tak akan menyia-nyiakan waktuku lagi. Tetapi, pilu merayapiku ketika mengingat lontaran janji yang tak mampu kami tepati. Kami telah menjalani takdir masing-masing.

Ketika tim SAR memapahku kembali ke gerbang masuk hutan, aku memberanikan diri untuk menoleh ke belakang. Sihir dunia tanpa aturan itu tak akan sampai di sini. Kupandangi barisan pepohonan di bawah cahaya senja.  

Semua berakhir dan berawal di aliran sungai deras.

 

FINN 


OC Universe

Disheveled

September 30, 2025

 


Disheveled


After Leonard was expelled to another continent, things started to spiral into discordance swirl.


🎞️

San Francisco, 2017

“Am I being too harsh on Leo?”

Juan looked at the rearview mirror to see the person who sat on the passenger seat behind. The icy blue eyes stared back at him. He pondered a while before answering the question. Any unacceptable answer could be fatal. He calculated the risk on his brain. If he were being brutally honest, his superior could be more grumpy than ever. If he were throwing lies, his superior could be more restless and in the end that man would also be more grumpy. 

His mind traveled back to yesterday when he heard that Ryan’s precious little brother was expelled to another continent alone because he was being reckless in an illegal street race.

Long before that—probably a year ago—he once stumbled into the house’s basement to pick up Ryan for the subsequent schedule at night. Then, he saw their fight in a boxing ring and witnessed how bloody their fight could be. The younger was screaming in pain after the match. It was one of the rare times he looked at the younger Damaris directly, other than hearing about him from Ryan’s depiction. He was just a 17 years old boy and he was hurting because of someone who should be the guardian. I thought Leonard was not as devilish as Ryan’s depiction.

But, what was his position to say anything about their family problem? He was only Ryan’s personal assistant who made sure every schedule was exact and helped Ryan with his hectic schedules. Every family had their own flaws and dramas.

“No, you’re doing right.” Juan answered while checking the tab to make sure they still had time to arrive for a press conference in the city hall. The launching of the new technology was held in the city hall because the project was in cooperation with the government. So, the press conference was quite a big event because it was also attended by the other conglomerate owners and a throng of journalists.

“This little bastard needs a lesson. I sent him away to protect him.” For the first time in a while, Juan caught Ryan’s voice trembling like he was in doubt. That was very unusual of him.

Juan saw how Ryan frequently checked on his phone unlike his usual habits. He was the type of chronically offline that he rarely checked on social media or even personal chats from family. But right now, he looked so restless and his eyes couldn’t lie. He was sleep deprived more than usual. He had no doubt that his boss didn’t sleep at all last night. This morning, the secretary told Ryan to put on some concealer to conceal his eye bag because he needed to look good in the press-conference and he did with the help of Chloe—the excecutive secretary. Today was a big event and he had to look perfect to the audience.

Ryan glanced at the rearview mirror then continued to look at his own tab and read the materials to answer predicted questions from the journalists. “Why do you keep staring at me, Juan?” His icy blue eyes stared back through the rearview. A glare that could put someone on their knees.

Juan blinked his black eyes and looked away. He had not realized he was staring at Ryan’s austere face instead of looking at the road.

“Are you silently judging me?” His deep intimidating voice sounded coarse.

“No, Sir.” 

Few minutes later, the car arrived at the venue. The crowds had gathered in front of the city hall. Everyone was wearing formal attire.

Juan stepped out of the car with his boss. He walked behind Ryan who was so confident and collected. The restless face he had before was completely gone. Ryan met the other honored guests at the meeting room before the press conference started. Juan was watching him and silently admired how he smiled handsomely, talked to everyone, and presented his ideas. His cold and austere posture was gone. He was like that man who was on the Forbes cover 30 under 30—and yes, indeed he did all of that.

Ryan was always immaculate.



 

The day was shorter than usual because the season was changing. They headed back to the office building after the press conference and other interview schedule. The sky was already dark and bleak with clouds when they entered the top floor of the office building.

The main schedule had ended however Ryan decided to go back to the office. Juan knew Ryan so well. When Ryan was worry and lost in his own thoughts, he tended to overwork himself.

“Do you want a hot towel?” asked Juan after reporting several things and delivering the latter’s schedule on the next day. It was already 9 p.m., yet Ryan was still drowned in his duty.

“Yes please,” answered Ryan aloof. His eyes were glued on the screen. His slicked-back hair started losing its form.

Without saying anything, Juan brought him a hot towel a second later. He put it on Ryan’s office desk, then he went back to the front desk where Juan work.

It was almost midnight and Ryan had still not come out. Usually, Ryan would ask him to cancel his meeting schedule after working overtime, then Ryan would order him to prepare his yacht so he could work from his yacht without talking to colleagues.

The office was eerily quiet. The other executives and every employee had been clocked out, even the sweet loyal secretary who usually stayed late to manage the letters in and documents waiting to be reviewed by the executives, already left the office.

The clock was ticking. Juan looked at his wrist-watch to decide whether he should check on Ryan or leave everything behind and go home. The latter option was nearly impossible. His life was already contracted to work with the Damaris family line for the rest of his life. Sounds like slavery, huh?

It was already past midnight. Perhaps Ryan passed out in his office chamber. Then, he walked toward the room right away and knocked on the door.

“Come in.”

The cold voice inside welcomed him. So, he has not passed out yet, thought Juan while opening the door. Actually, Juan never saw Ryan collapse.

However, Juan caught him laying down on the couch in his office room. Unlike Ryan’s usual self, he looked so disheveled, restless, and mentally exhausted. Strands of his dark brown hairs fell on his brow. He rubbed his eyes and slowly took off his spectacles. That man still had papers or anything to be reviewed but he could do it tomorrow or tomorrow after. He was also free to delegate this assignment to the other executive, yet he stayed there.

Illustration by @youngyindah

The hot towel—which had already become cold—was left untouched on the desk.

“Can you track the little rascal? He is not answering my call at all.”

While Ryan was laying on the couch, Juan sat on a chair beside the couch.

“You worry about your younger brother, no?” Honestly, Juan already knew the answer. Instead, he insisted to ask. 

As the spectator, he witnessed Ryan grow from a naïve teenager to the man who carried the most important position in the prosperous conglomerates at the age 27. Juan was accustomed to seeing Ryan’s habit when he was on the edge.

“Never. I am glad he is away so I can avoid his troublesome personality for a while.” Ryan scoffed.

“Well, I already asked the driver who was assigned to pick up Leonard in the airport in Jakarta. He landed safely.”

“I know. He is already at my grandmother’s house. Safe and sound, as he should.”

So, what is the problem here? Juan held himself from throwing the brash question. There was silence before Ryan said anything. His office chamber was indeed always quite because he prefers working in calm ambience. 

“Who can assure that he will be safe over there? He just had a small accident while racing two nights before. He still had some injury.” He huffed out a long sigh.

“He is a tough kid.” Juan said.

Ryan snorted. “He is fragile.”

Juan’s mind went back to the boxing ring when the man in front of him punched Leonard multiple times until there was blood on the floor. Leonard almost knocked out with nosebleeding and was screaming in pain when he came to the gym room. It was a horrible sight. “How is he fragile?” This time, Juan couldn’t hold his curiosity. Leonard didn’t seem like a weak boy. He became the punchbag and survived accident after accident.

“He pretends to be strong.”

“What about you?”

“What do you mean?” Ryan turned his head to fully stare at Juan. His stare was intimidating.

“I wonder, do you think … Leonard is just like you? Or you are just like Leonard?”

“He is nothing compared to me.” Ryan sat down on the couch. He looked very uncomfortable by the midnight deep conversation with the personal assistant. “He is not stable, Juan. His mind, his personality, his damn self is so fucking unpredictable that he could be a tsunami one time or he could be a lake next time. I can’t even protect him from his self-destruction tendency and it fucking stressed me out. Hell. I am the one who is responsible for everything in this ass family and I—the only who could assure he is intact right now.”

Repressed anger. Ryan was venting his rage but he was trying so hard to compose himself. It had been so long and he started to pant.

Juan stared back at his superior. He kind of regretted the question, yet he took the risk to keep on the conversation.

“You are the same, Ryan.”

“I AM NOT LIKE HIM. SHUT THE FUCK UP.” Ryan tugged Juan’s collar shirt. After he realized what he was doing, he loosened his grip. Under the bright light of the office room, fires burned in his icy blue eyes.

Juan trembled and surely he hid his fear so well. It was the first time he witnessed Ryan lashing out his anger. It was also the first time he realized Ryan Vincent Damaris was a menace. The Damaris was more than what he usually showed off in the underground world. The ancient rage buried deep in Ryan’s soul was flaming dangerously.

“You mirrored your own brother and you can’t run away from the family line.”

Ryan was a mess. Beads of perspirations appeared on his temple. He scoffed a deranged laugh to restrain himself from punching or breaking anything. “What are you trying to tell me, Juan? You must think you have the right to speak to me after knowing me for so many fucking years. But you must not cross the line.” He pointed at Juan’s chest.

“This is the reason why I am your personal assistant, to help you unravel your emotions. You are holding so much on your mind that you might wreck yourself, meanwhile at the same time you are the most important person here.”

“I can manage it.”

“No, you’re not. You almost risk your own companies if you keep it that way.”

“YOU ARE NOT IN POSITION TO PUT FUCKING ORDER ON ME.”

“I respect you, Sir.”

“Shut your filthy mouth.” Ryan reached his spectacles on the couch and hooked them over his ears again.

“Apologize for speaking out to you.” Juan mumbled. “Sir.”

Ryan was silent as though an extinguished fire. He messed up his hair, clenched his jaw, and controlled his breathing to steady again. “I am going home,” he said in a threatening calm. He almost hit his limit. Mental workload, overflowing responsibility, high-pressured environment where he must perform perfectly all the time, and family complex might burn his brain.

“I must drive you home because your driver is sick this night,” Juan tried to console.

“No. Stay away from me.” Ryan lifted his hand. Then, he took his suit and leathered-bag.

“Sir, you shouldn’t drive yourself.” Juan knew so well Ryan hated driving.

“I can fucking drive. I am not as helpless as you think. Now, fuck off. This is my order.”

Ryan walked away from his office chamber with an arrogant and domineering attitude he never showed off before—unlike his usual righteous and prestigious self. He put on a ruthless face. He ignored Juan and treated  the latter as a wraith.

Juan watched his boss stroll down the office building. He rubbed his face after all the risks he had been taken. He was expecting Ryan would crash out after his utterance, however he miscalculated the consequence. He started to curse at himself for doing such reckless things. He was doomed, so doomed. He did not have any clue what the future might hold.

Things started to spiral into discordance swirl.

— FINN — 


Bonus pic: Leonard in Juan's memory (illustration by @revveries)



Original Story

A Lighthouse on the Hill [Part 1]

September 15, 2025

Painted by me

─── ・ 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ───


A Lighthouse on the Hill


─── ・ 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ───

September 2017 The sun was about to set and leaving trails of orange hue in the indigo sky. The only audible sound was the sea waves and some seagulls flying in circles. Tranquility wrapped the evening just like any other day.


Eventhough nothing extraordinary had ever happened on the shore, that man dutifully ignited the light that aimed to the horizon. In case, a certain ship was sailing toward the reefs.

After doing his usual evening task, he was hurriedly walking down the stairs because he just remembered the fence was still open. He worried that the lambs were going to escape the fence. Since losing his wife, he tried to farm and look after some livestocks. He bought two lambs from the trade. His old golden retriever was not trained to help him watching the lambs, so he doubted the lambs were still in the yard. He had to check his livestocks.

The golden retriever barked in joyful demeanor when he opened the backyard door. That man scratching the back of its ears and smiling. He was relieved because the lambs were still there grazing in his own yard. These days, he seemed to be forgetful. Was aging the reason he became forgetful? Or was it the loneliness and his isolated life that made him forget several things?

He lost in his thoughts while walking pass the yard. He stopped at the fence and immediately closed the woody fence. His movement slowed down when he caught an odd object laying on the beach. Maybe that was just a tree trunk floating until the shore. He squinted to make sure that object was not what he was thinking. However, that object slowly looked like a human body stranded on the sand beach.

Oh God.

He opened the fence again and ran down the hill. He tried to keep watching his steps because the path down there was steep. He almost slipped when he reached the shore.

He walked fast through the sand beach. This part of the shore was protected by the reefs. However villagers rarely went there because the beach was also protected by some rocky hills. It was pretty isolated and that was the reason that the beach felt like a hidden gem no one knew. He gasped when he saw that the human body was laying on the sand. Never had in his life seen a stranded human body on the beach. What if that was a corpse instead of living human? Nobody would survive in the cold ocean. But he didn’t see any sign of rotten flesh or putrid smell.

Slowly that man got closer to the … boy. That odd object was a male teenager. His skin was pale white. He wore a white loose shirt and dark slacks. His feet were bare. His button shirt was loose and showing some skin. He seemed to eat less for days his ribs were protruding. Blood was stained on his temple. He probably stumbled upon a coral while drowning. He was lucky that the wound was not severe.

There was no movement from his chest that indicated he was breathing air. Nobody would have found this boy if he left the shore right now. He doubted this boy was alive considering the boy’s not moving and knew it would be a foolish decision to wake up a dead body. But then, he crouched and touched the boy’s shoulder.

The man was taken aback when the boy was jarred and breathing air deeply like he was inhaling air for the first time. The boy opened his eyes and his eyes were so strange. One eye was normal with bright blue iris. One eye was fully black as vanta black colour. No light could reflected on his black eye. Only darkness. It was the first time for the man to see a black sclera like that. He watched the boy sat down and touched his bleeding temple. He winced and looked innocently perplexed. His body was soaked. His buzz cut hair was damp.

The man tried to ignore the eeriness of this boy’s eye. He was merely a young man. He needed to help him. He must call the police after this.

“What's your name, kid?” inquired the man in a polite tone.

“My name is Reef,” answered the latter which made the man think this boy was joking.

“I mean your real name. Maybe your head was hit too hard—”

“Reef. You can call me Reef. Does my name bother you?” he said in defense.

The man blinked. “No. It was just not a common name. Can you stand up, Reef? Let me help you clean your wound, but my house is up on the hill.” He still was not sure to call him like the coral rock beneath the ocean.

“What should I call you, sir?” asked Reef before trying to get up while staring at the man warily. His normal eye was allusive while his strange eye was grim.

“You can call me Arthur.”

Reef was able to stand up even with a grimaced face because his head was dizzy. If Arthur didn’t prop him, he would be falling. Then, he walked side by side with Arthur toward the hill. He stared back at the ocean in a vigilant way—like something would chase him and tear him apart.

He walked down the path beneath him and carefully stepped on the path upward the hill. The path appeared like stairs. He tried to keep his balance, while Arthur kept an eye on him.

“Where am I?” asked Reef while climbing the stairs.

“You don’t know?” The man was so awkward.

“How can I know? It’s my first time reaching the surface safely,” answered Reef in sarcasm.

This kid is sassy, thought Arthur. Maybe I should have left him on the shore. And what does he mean by reaching the surface? He looked behind to find out the kid kept staring back at the ocean like watching or waiting for something. Fear was depicted on the kid’s face. Arthur tried to ignore Reef's uncanny way and push his thoughts forward about Reef’s origin. He didn’t even know why but he was curious how Reef ended on the shore.

“You are in Cornwall,” answered Arthur eventually. They already reached the yard. He opened the fence. Copper was running toward them with tongue sticking out.

Reef startled at the dog. He looked like he had never seen a dog before. Arthur’s house was exactly behind a lighthouse that confronted the ocean. The house was two stories high made of grey stones, with square windows on the facade. Ivies grew on the wall. Flower pots were arranged around the door. It was so aesthetically pleasing. Reef stood still in front of the building until Arthur beckoned him to get inside.

Reef’s blue eye looked around the interior of Arthur’s house. It was warm and homely even though some furniture seemed worn out. There were two old sofas that faced a hearth. A picture of a couple stood on the desk beside the sofa—Arthur with his deceased wife. He looked to another room where Arthur was looking for first aid kit. It was a dining room.

Arthur grabbed the first aid kit from a storage cabinet. He immediately gave a sign for Reef to get closer and sat on the stool. “Where do ya come from, kid?” He started to clean Reef’s wounds with gauze and antiseptics.

Reef hesitated before answering, “The North Sea.” He didn’t wince at all when Arthur cleaned his wound.

Arthur stopped his movement. “Are you serious? I heard that concussion can cause short term memory loss indeed.” But there were no lie showing in Reef’s eye. Reef’s stare was so genuine. But Arthur didn’t let his guard down. “Don’t lie, kid. Stop the nonsense.”

“My origin is from beneath the stormy ocean where no one could reach the seabed,” said Reef solemnly. His face slowly became grim and somber. He wasn’t ready to explain his former home. His right eye was no use on the surface. He couldn’t see with his right eye.

Endless questions popped out in Arthur’s mind. It didn’t make sense. But looking at this boy’s soaked body and he could see him trembling a little made him postpone all the queries inside his head. He had no idea what creature he brought home.

Arthur smiled incredulously. “Well alright kid. I’ll ask more later. Clean up and change your clothes first.”


─── ・ 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ───

Reef got into the bathroom. He slowly let panic consume him. His right eye was dull. His magic was gone completely after reaching the surface. He stared at the tub in the bathroom and filled it with water. After the water almost overflowed, he got into the tub and drowned himself. He let the water completely soaked him and tried to breath under the water but it only ached his lungs. He couldn’t breathe. His respiratory organ were burning under the water.


He rose immediately and coughed the water from his mouth. Slowly he touched the supposed gills that hidden behind his ear. It left only scars. The gills were no part of him anymore.

The sea creature’s ability had disappeared completely and he was severely aghast. It reminded him so much of the wandering journey when he was stranded in the middle of desert. But, at that time he could still see using his black eye.

Slowly he touched his black eye where there was no white nor pupil. He remembered clearly years ago when Father took his human eye and replaced it with the vanta black eye so that he could see clearly underwater. And right now this eye was nothing.

He realized. He was already a human. Merely a human who couldn’t breathe underwater. Eventually he reached the surface altogether. He achieved his dream. But something ached his long-dead-heart.

Something lost and crumbled inside him.


─── ・ 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ───

Arthur knocked the door. Worry if the kid was unconscious in the bathroom or slipped. “Kid?” One hour had already passed. He had already put dry towel and clothes for him inside. He even made some warm meal for their dinner.

Slowly Reef opened the bathroom’s door. He wore a worn-out black shirt and shorts that fit him. He didn’t realize time pass by when he sat in the bath tub and thinking all of his life decisions. “Sorry sir, I made you wait.”

“Yeah nevermind. Come, eat with me.”

The dining room was brimming with the smell of beacon, fried egg, roasted asparagus, and garlic bread. Arthur cooked well even since before his wife gone. Then, Reef sat in front of him and tried the homemade meal that Arthur had prepared. He was reluctant at first but then he ate like he had not eaten for days. The food was delicious.

Arthur wanted to ask one or two things after having the dinner, but looking at Reef eating his cooked meal heartily made his heart feeling warmer. It’s been so long since there was anyone inside that lonely house on the hill.

“Did you say you wanna ask me something?” said Reef after he finishing his evening meal. He felt nourished and better now. His head was not throbbing in pain anymore.

Arthur took a deep breath. He didn’t know what thing he should ask first. He wanted to confirm was he a human but ... looking at his lively blue eye and how he devoured the dinner, this boy was so human. “Tomorrow. I have to sleep early because I have to get up early and work in the morning.”

“Oh seriously? Did you wonder if I am really a human?”

Oh this kid is back with his sass after being full stomach. “I am sure you are a completely human after looking at how you eating. But, something kinda bother me. Your right eye. Can you see with it?”

“Not anymore.”

“Did you fall from a certain vessel?”

“I did, when I was infant.” Reef still looked straight into Arthur’s eyes that only meant he wasn’t lying.

“What?” Arthur stared at Reef incredulously. But right he was just trying to believe anything Reef said. “Do you have any family that maybe I can connect?”

“No, please don’t. They already cut the bonds with me.”

A runaway teenager?

“And I already forget my human’s family … Actually, I have no memories to my biological parents.”

“Kid, I’ll come to the police station tomorrow morning.”

─── ・ 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ───

That night, Reef slept on the couch right in front of the hearth. It was a cold night in autumn season. He sat on the couch that supposedly only for one seat. He straightened his long feet to a footrest. He pulled a blanket until his chin. It was not the comfiest position to rest but Arthur only had one bedroom. The other room in the house was already became a storage room.

The house was quite and serene at night. He could only hear the ticking clock on the wall and the faint sound of sea waves.

Reef looked at the fireplace and his mind was swirling with many thoughts.

First, Arthur still didn’t believe him about his origin. Perhaps, his origin story didn’t make sense at all to any human on the surface. Well, his experience meeting human was so little. He only ever met humans in that journey where his soul was wandering. He often questioned whether that event was real or just part of his insane dream.

Second, where should he go after this? How do people live on the surface? He had some theory of being human … but he didn’t know what he should do first.

Slowly he was dozing off. He was exhausted after getting trapped in the current underwater that made him stranded on this place.

The last thing that appeared on his mind was … how he could meet that girl again?

─── ・ 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ───

In the morning, Arthur woke him up and told him to get ready for going to the police station. After eating breakfast, Arthur gave him an eye patch to cover his black eye. “People might be scared of your dark eye,” murmured Arthur while giving it to Reef.

They went out by walking to the small town nearby the lighthouse. The sun was already bright up there.

“Are you going to dump me there?” asked Reef nonchalantly.

Arthur who walked in front of him was silent for a while. “Let’s see if they have any information about a missing person.”

Reef sighed. There would not be any missing news, except perhaps if Father was announced that news under the ocean. Slowly, he looked back to the sea again with vigilance.

They walked past the side streets and stalls. So many people greeted Arthur while he walked by the stalls. Some of them looked at Reef with curious and suspicious eyes.

When they arrived at the police station, Arthur immediately asked for any missing person news in case Reef was on the poster of missing person. However, there was not even any news of a missing person in that small town.

“What’s your family name?” asked the officer.

Reef startled. Common sea creatures never had a family name. But father ever told him to use his name as a legacy. You are Reef Oceanos, his father’s voice echoed in his memories. “Oceanos,” said Reef. “Reef Oceanos.”

Arthur frowned at Reef’s uncommon surname. This kid’s name sounds like a fictional name. Is he saying the truth?

The police officer nonchalantly typed something on the computer. “Well, nothing comes out. His family name is not in our data bank.”

Reef’s stare only meant see-I-am-not-lying. Arthur who sat beside him was tapping the officer’s desk and thinking so hard.

After several minutes, he declared, “Thank you. I think I am going home with this kid.”

“Have a nice day,” said the officer.

Reef blinked in disbelief. In his head, he was already scheming to survive in the surface world. He was ready to get dumped once again.


Even though he was clueless about the surface world, he was confident about surviving. He used to roam under the harsh condition of the seabed. The surface world might be far easier. And here, the real sun shone every day.


Reef held his smile. He didn't want to lookexuberant with this news.

At least, he had a place for a while until he was done analyzing the surface world and being able to survive alone.



─── ・ 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ───
TO BE CONTINUED
─── ・ 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ───