About Me

Fight With My Friend -END-

April 18, 2015

Fight With My Friend -END-




Sabtu, 18 April 2015
               
Lagu One Direction yang judulnya Spaces seperti biasa membangunkan aku pukul 5 pagi. Aku pun bangun untuk shalat Subuh, lalu karena mataku masih ngantuk, aku pun tidur-tiduran lagi di tempat tidur sampai jam 6 :D Jam 6-nya baru aku siap-siap pergi ke sekolah.
Pukul 6.30 aku udah siap berangkat. Sambil nunggu Ayahku sarapan sama Salsa (nama adik perempuanku), aku nonton Spongebob. Jam 6.45, baru aku berangkat.
Pagi ini enggak ada yang istimewa. Semuanya berjalan dengan biasa. Tapi… tiba-tiba aku teringat sesuatu. Soal perang dinginku dengan suadara sepupuku itu. Kalau aku melanjutkannya… berarti ini memasuki hari ke-10 aku diam-diaman dengannya.
Waktu duduk sambil nonton Spongebob, aku berpikir tentang cara mengakhiri ini… Dengan cara yang heboh atau frontal? Aku membayangkan dengan cara yang heboh… Mungkin waktu masuk ke kelas aku bisa langsung bilang ke dia, ‘Nadya~ Geuriwohaeyo~ ^^ (artinya: aku kangen kamu). Aku merasa itu cara yang bagus buat mengakhiri perang dingin ini. 
Walau begitu, aku mikir lagi. Kenapa aku begitu baik? Kenapa harus aku yang mengakhirinya? Hhhh… Bingung juga. Tapi kalau cara yang frontal gimana? Mungkin bisa, ‘Nadya! Dasar egois! Coba deh sekali-kali mengalah sama gue. Kayaknya lu kaga pernah mengalah sama gua!’
Aku geleng-geleng -_- Hahaha… Aku enggak bisa kayak gitu. Sebenarnya bisa sih… Tapi bisa-bisa masalah sepele itu jadi tambah gede atau akunya yang canggung. Dulu aku pernah mencoba cara kayak gitu, waktu ‘perang dingin 4 hari’ beberapa bulan yang lalu. Hasilnya? Aku sama Nadya baikan lagi :D Soalnya aku sama Nadya sama-sama frontal. Mungkin frontal + frontal = baikan lagi. Seperti (-) x (-) = (+). Hahahaha… LOL.
Aku terkekeh sendiri.

Ah sudahlah… Biarkan saja ini mengalir…

Sesampainya di sekolah…

Hmmm… Entah kesambar jin apa, begitu sampai di sekolah aku langsung menyapa Nadya, kebetulan dia lagi duduk di depan UKS entah lagi ngapain.
“NADYAAAAA!!!” Aku manggil dia dan langsung ikutan duduk di samping Nadya. Dia  enggak nyahut. Aku manggil lagi kali ini persis di samping telinganya. “NADYAAAAA!!!” 
“Aduh… Orang lagi sakit perut jadi tambah sakit,” kata Nadya.
Susi dan Wury yang kebetulan juga ada di depan pintu UKS tertawa. “Hahahaha… Udah baikan lagi, Nan?” kata si Wury.
Aku nyengir lebar. “Udah,” jawabku. “By the way, lu lagi ngapain sih?” tanyaku pada Nadya. Aku sama Nadya kalau ngomong terbiasa pakai lo-gue.
“Gue pengen ke UKS,” jawab Nadya.
“Ya elah… Kenapa lagi lu?”
“Sakit perut,” jawabnya.
“Oh…” Aku hanya menjawab dengan Oh.
“Hhhh… Cuma dijawab Oh,” gerutu Nadya.
“Eh-eh, lo udah liat MV SNSD yang Catch Me If You Can, belum?!” tanyaku dengan nada excited. “Konsep mereka keren loh!” Aku mulai fangirling sendiri.
“Aduh… Buka pintu UKS-nya deh!” kata Nadya sambil memegangi perutnya. Jawabannya sangat tidak nyambung dengan perkataanku sebelumnya. Tapi aku udah biasa dengan reaksi ‘enggak nyambung’ Nadya. Mungkin karena dia udah jadi teman sebangkuku dari awal kelas 9 tahun lalu.
“Tinggal dibuka,” ucapku cuek.
“Dikunci!” kata Nadya.
“Oh…” Dan lagi aku hanya menanggapi dengan kata Oh.
Tiba-tiba Pak Ali (guru Matematika-ku) lewat di depan kami berempatAku, Nadya, Wury, dan Susi. Pak Ali menatap Nadya dan aku dengan keheranan. Mungkin karena sekarang hanya aku dan Nadya yang duduk di lantai depan UKS. (Swear deh -_- Kita kayak orang pe-a) Aku pun berdiri untuk menjaga kesopanan. Hehe… :D
”Lagi ngapain di situ?” tanya Pak Ali kepada Nadya.
“Lagi sakit perut, Pak,” jawab Nadya.
“Kenapa?”
Nadya enggak menjawab. Kini aku yang menjawab, “Tapi Pak, mukanya enggak meyakinkan.”
“Pak, ini sakit beneran,” kata Nadya masih sambil duduk di lantai depan UKS.
“Ya udah cari kunci UKS-nya,” kata Pak Ali.
“Ayo Nad…” Aku menarik tangan Nadya.
“Ya yang sehat yang cari kuncinya,” kata Pak Ali lagi sambil menunjukku dan Wury. Ternyata Susi sudah pergi ke kelas. Mungkin dia tidak terbiasa dengan aku dan Nadya. Hahahaha… XD Beda banget sama Wury, yang udah 'tahan banting' kalau udah di dekat kita.
Aku nyengir lebar. “Hehe… Ayo Wur,” ucapku ke Wury. “Cari kuncinya di mana, Pak?”
“Di Pak Caslam, Ruang Multimedia,” jawab Pak Ali kemudian berlalu.
Kini aku menarik tangan Wury dan berjalan menyebrangi lapangan upcara menuju Ruang Multimedia.
“Kamu baca yang kemarin?” tanyaku antusias kepada Wury sambil berjalan.
“Iya. Aku baca. Pas buka Facebook langsung buka itu. Pertamanya enggak bisa tapi yang kedua bisa,” kata Wury curhat.
“Oh… Aku seneng deh! Banyak yang baca cerita itu. Hehehe…” kataku sambil tersenyum.
“Padahal baru tadi malam loh, aku ngomong-ngomong sama Hani mau buat bikin kalian baikan,” kata Wury lagi. “Rencanya mau bikin akting apa gitu… biar kalian bisa baikan lagi,” sambungnya.
“Oh… Tapi aku udah baikan lagi,” ucapku.
Setelah beberapa saat, kami sudah sampai di depan pintu Ruang Multimedia. Dengan cuek, aku membuka pintu itu. Kosong. Tidak ada siapa pun di dalam ruangan yang biasanya untuk rapat guru itu. Aku memasuki ruangan itu, mungkin Pak Caslampenjaga sekolahada, tapi tidak terlihat dari pintu.
“Yah enggak ada,” kata Wury.
“Hhhh… Ya udah. Balik lagi yuk…”
“Enggak nyari Pak Caslam?”
“Enggak usah,” ucapku. “Mungkin Pak Caslam belum datang.”
“Tadi aku liat,” kata Wury bersikeras.
“Nanti aja. Bel udah bunyi tuh,” ucapku ketika bel masuk berbunyi keras.
Aku dan Wury kembali lagi ke depan ruang UKS yang masih terkunci rapat. “Enggak ada Pak Caslam,” ucapku ke Nadya.
“Aduuuh…” Nadya mengeluh lebih karena sakit perutnya.
“Emang sakit perut kenapa sih?” tanyaku curious.
“Ituloh…”
“Ituloh apa?” tanyaku masih enggak mudeng.
“Nadya lagi halangan, Nan,” kata Wury kepadaku.
“Oh…” Aku ber-oh.
“Nad, mendingan ke kelas dulu,” kata Wury ke Nadya yang masih di posisinyaduduk di lantai depan ruang UKS.
“Sakiiit…” keluhnya.
“Eh aku ke kelas dulu ya. Udah mulai baris tuh,” kata Wury sambil berlalu menuju ke kelas.
Aku mengangguk. “Lu bikin repot deh,” kataku ke Nadya. Aku ikut duduk di samping Nadya. Tanpa kami sadari, kami jadi pusat perhatian anak-anak yang lewat. Tapi kami cuek aja. 
“Orang lagi sakit juga!” kata Nadya.
Tiba-tiba aja Isna datang. Wury pergi, Isna datang. “Ternyata kalian ada di sini,” kata Isna sambil berjalan menghampiri kami berdua. “Kamu lagi sakit perut, Nad?”
“Iyaaa…” kata Nadya.
“Aku taruh tas dulu ya,” kataku sambil berlari ke kelas. Setelah menaruh tas di bangkuku, aku balik lagi ke tempat Nadya tanpa mempedulikan Pak Kartim yang sudah berdiri di lapangan sekolah untuk memulai olahraga bersama pagi hari ini.
Aku melihat lapangan yang sudah penuh dengan murid-murid. “Jadi gimana, Nad? Kita tinggalin ya?” kataku ke Nadya. 
“Situ…” kata Nadya. Tapi baru berapa langkah menjauhi Nadya memanggil aku dan Isna. “Jangan!”
Isna dan Aku berhenti melangkah.
“Bukain pintu UKS duluuu,” kata Nadya kepada kami berdua.
Aku memasang wajah BT. Nyebelin banget sih ini orang… Pagi-pagi udah bikin ribet… Tahu begini mendingan aku melanjutkan perang dinginku sampai besok dan besok dan besoknya lagi! ><
“Eh ke Pak Tugi (guru Seni Budaya) aja yuk buat ngambil kunci ruang UKS,” ajak Isna ke aku.
Ternyata Isna berpikiran lain denganku. Ia justru lebih memilih menolong Nadya.
“Hhhh.. Iya,” ucapku. “Nad, lu mau di situ aja?” tanyaku ke Nadya.
Ia pun bangun berdiri dan ikut berjalan menuju ke ruang guru. Wah! Untung aja ada Pak Tugi, aku pun langsung mendekati guru tersebut dan bertanya, “Permisi Pak... Pak Guru pegang kunci ruang UKS enggak?”
“Oh yang pegang bukan saya. Tapi Pak Caslam,” jawab Pak Tugi.
Aku mendesah dalam hati. Ribetnya pagi ini! “Terima kasih, Pak…” kata Isna mewakili kami berdua.
Kami pun keluar dari ruang guru. “Kaga ada kuncinya, Nad,” ucapku ke Nadya yang baru saja kembali dari toilet. 
Belum sempat Nadya menjawab, tiba-tiba dari lapangan terdengar suara Pak Kartim. “Untuk anak yang belum berkumpul di lapangan, saya hitung sampai 10. Kalau tidak sampai di lapangan, saya suruh push-up.”
APAAA?!!!!!
Tanpa basa-basi lagi, aku dan Isna berlari ke lapangan. “Sial,” umpatku dengan kesal.
“5…”
Loh? Kenapa sudah sampai hitungan ke 5? Aku bahkan belum sampai di lapangaaan!!!
“6…”
“7…”
“8…”
Ugh sedikit lagi sampai di barisan kelasku…
“9…”
Aishhh… Kenapa kelasku harus berada di paling pinggir sih?!
“10!!!”
Fiuuuh… Akhirnya aku sampai di barisan kelasku. Aku menghembuskan napas paling lega. Paling tidak aku enggak perlu disuruh push-up pagi-pagi di depan umum. Itu enggak boleh terjadi! ><
“Nadya kenapa, Nan?” tanya Anggi kepadaku yang baris di depankuㅡmembuyarkan lamunanku.
“Sakit perut gara-gara halangan,” jawabku.
“Oh…”
Kukira pagi ini akan olahraga bersama, ternyata… ENGGAK! Pak Kartim mengumpulkan anak-anak dari kelas 7 sampai kelas 9 di lapangan hanya untuk memberikan pengumuman kalau pagi ini langsung jam pelajaran dan pelajaran terakhir diganti untuk bersih-bersih.
-____-‘ Hhhhhh… Padahal udah dibela-belain lari ke lapangan… Ya sudahlah… Enggak apa-apa…

**

Setelah apel selesai, aku dan teman sekelasku yang lain pergi Shalat Dhuha. Tapi sebelumnya, enggak sengaja aku ketemu Pak Ali lagi.
“Gimana si Nadya?” tanya Pak Ali.
“Di depan ruang guru, Pak,” jawabku.
“Itu ada Pak Caslam kalau mau ambil kunci UKS,” kata Pak Ali lagi.
Aku langsung menghampiri Pak Caslam yang kebetulan berada tak jauh dari tempatku berdiri. Setelah kunci ruang UKS sudah di tangan, aku pergi menghampiri Nadya lagi. (Dasar tukang bikin repot! -,-)
“UKS-nya udah dibuka tuh,” ucapku dengan wajah badmood.
“Oh ya?!” Nadya pun langsung ngacir ke ruang UKS. Sementara itu aku pergi ke Musholla untuk Shalat Dhuha.
Hhhh… Benar-benar pagi yang hilarious!

**

Hari Sabtu, jadwal pelajarannya hanya Matematika. 
2 jam berlalu, pelajaran Matematika telah berakhir digantikan jam kebersihan. Sebetulnya jam kebersihan lebih mirip jam kosong. Aku, Hani, dan Wury memilih pergi ke perpustakaan daripada bengong di kelas. Mereka pinjam buku sedangkan aku cuma numpang baca Buku ‘Koala Kumal’ ciptaan Raditya Dika di perpustakaan.
Pukul 10 pulang. Aku, Isna, dan Nadya berencana main di rumahku. Hehehe… Kita udah lama banget enggak main >< Di rumahku, sebenarnya kita enggak benar-benar main… tapi cuma nonton MV K-POP dan Naruto. (Kuanggap itu main :D)
Jam 12 tepat, Nadya dijemput. Isna juga ikut-ikutan pulang. Aku pun nganterin mereka sampai depan rumah.

**

Nah… Jadi begitulah akhir kisah dari ‘Fight With My Sister’. Perang dingin selama 9 hari itu pun berakhir. Awalnya memang sangat berbeda dengan rencanaku XD Hahaha...
Tapi sudahlah… Yang penting aku dan Nadya udah baikan lagi ;) Jangan ada pertengkaran lagi dengan saudara sendiri :D Hehehehe…

-END-

Family

Fight With My Firend

April 17, 2015

Fight With My Sister 



Kalian pernah enggak berantem sama temen sendiri? Pastinya pernah dong… Tapi pernah enggak kalian berantem hanya gara-gara masalah keciiil dan berlanjut-lanjut sampe lebih dari 1 minggu?
Dan inilah yang lagi kualami dengan sahabatku sekaligus saudara sepupuku sekaligus teman sebangkuku di kelas (kebanyakan sekaligus, nih…) Ini memang terdengar kekanakan, tapi aku emang masih anak-anak kok!
Semua ini bermula di suatu pagi yang tak terlalu cerah pada tanggal 8 April 2015…

Rabu, 8 April 2015

Seperti biasa aku berangkat sekolah jam 7 kurang 15. Aku suka waktu yang pas-pasan kalau berangkat sekolah, biar sampai di sekolah ga perlu nunggu bel masuk lagi. Walau udah berangkat di waktu yang pas-pasan, masih aja ada waktu longgar.
Pelajaran pertama hari itu adalah Matematika. Di sekolahku ada aturan, sebelum pelajaran Matematika harus Shalat Dhuha. Berhubung waktu itu aku lagi halangan, aku pun duduk di kelas menunggu teman-teman lain pergi ke Musholla untuk Shalat Dhuha.
Enggak lama kemudian, temen-temen balik dan pelajaran Matematika pun dimulai.
Aku agak deg-degan, aku takut banget nilai US Matematika bakal dikasih tahu karena hari itu adalah hari pertama masuk setelah Ujian Sekolah. Untungnya enggak :D Hehehehe… Aku pun bersyukur dalam hati.
Setelah Pak Ali (nama guru Matematika-ku) selesai bicara beberapa patah kata, Pak Ali ngasih tugas mengerjakan soal di LKS Prediksi. Aku pun mengerjakan soal itu, tapi baru mengerjakan 2 soal, ada soal yang membuatku bingung. Daripada pusing sendiri, mending nanya temenku yang pinter Matematika, namanya Hani. Dia bahkan pernah ikut Olimpiade Matematika loh :D
“Hani,” panggilku ke Hani yang duduk di belakangku. Dia termasuk teman dekatku. “Cara nomor 7 gimana?” tanyaku.
“Cari bunganya dulu,” jawab si Hani.
Soal itu emang menanyakan tentang tabungan awal. Pasti kalian tahu ;D
“Oh…” Aku menurut dan langsung mengambil pensilku. Aku mengerjakan soal itu bukan di mejaku, tapi di mejanya Hani. Emang biasanya gitu. Makanya kalau pelajaran Matematika, mejaku selalu bersih sedangkan mejanya Hani… berantakan. Hahahaha… “Lah? Cari bunganya gimana, Han?” Aku nanya lagi.
“9 per 12 kaliin 12 persen,” jawabnya.
“Ohoke.” Aku manggut-manggut sambil asyik mengerjakan. “Terus?”
“100 per 100+9 kaliin uang sekarang,” jawab Hani dengan sabar. Hehehehe…
“Oke oke. Makasih Haniii~~~” ucapku sambil tersenyum manis (?) ke Hani. Kekekeke~
Aku pun melanjutkan soal itu di mejaku sendiri, tapi 2 soal berikutnya, aku bingung lagi! (Kebanyakan bingungnya nih anak -_-)
“Haniii! Ini caranya gimana?” tanyaku.
“Aku juga bingung,” jawab Hani.
Eh ternyata dia juga bingung…
“Aku tahu!” Wury yang merupakan teman sebangku Hani menyahut. “Mungkin ini cari S10nya!”
“Loh? Kok bisa?” ucapku.
“Kan bedanya 2, terus a-nya 1,” jelas Wury.
“Bukan U10?” tanya Hani ikut-ikutan.
“Bukan,” jawab Wury.
“Aku enggak percaya,” ucapku sambil mengerutkan kening. “Kok bisa-bisanya a-nya 1?” Aku mulai berdebat.
“Kalian debatin apa siiih?” Kali ini Nadya (teman sebangkuku) ikutan ngomong.
“Nomor 9, Nad,” jawab Hani.
“Kayaknya yang 1 itu bukan a-nya deh,” ucapku. “Mungkin itu U keberapanya.”
“Iya mungkin,” kata Hani menyetujui pendapatku.
“Eh enggak…” kata Wury.
“Kupikir kita lagi nyari U ke 10-nya.” Aku masih berdebat dengan Wury.
“Aku… Setuju sama Wury…” kata Hani setelah membaca soal nomor 9 itu dengan seksama.
Aku agak kesel, kenapa 2 anak ini enggak mau menyetujui pendapatku? “Aku gak yakin itu nyari S,” kataku.
“Pokoknya cari S10,” kata Hani bersikeras. Sementara itu Wury mulai bingung dengan soal itu. Ia jadi enggak yakin dengan caranya tadi. “Iya mungkin, kita cari U-nya…”
“HHHH… Kenapa sih kalian enggak dengerin aku?!” Tiba-tiba aja Nadya ngomong begitu.
Aku, Hani, dan Wury langsung ngeliat ke arah dia. “Apa?” tanya Hani tapi Nadya enggak menjawab. Tiba-tiba ia menjauhkan bangkunya dari bangkuku.
“Apaan sih, Nad?” tanyaku agak kesel.
Dia enggak ngejawab. Dia justru pura-pura ngerjain soal, sok serius.
“Aishhh… Sorry. Tadi aku lagi berdebat sama Hani-Wury. Jangan kacangin aku dong,” ucapku. Tapi dia tetap diam.
Aku menghembuskan napas dengan kesal. “Ya udah!” Aku juga bisa mendiamkan dia. Yang penting aku udah minta ma’af. Biarin aja dia.

**

Jam pelajaran berlanjut, ia mau ngomong sama Hani dan Wury lagi. Tapi enggak ke aku. Agak kesel juga sih… Padahal, aku udah minta ma’af…
Tapi biarin ajalah… Hhhh…

**

Jum’at, 17 April 2015

Kembali ke waktu sekarang. Jadi, itulah asal mula aku sama Nadya masih perang dingin sampe sekarang. Bener kan? Masalahnya sepele? Cuma gara-gara ‘gak sengaja’ omongan Nadya enggak kutanggapi waktu itu. Hhhh… Enggak betah juga sih kayak gini… Aku jadi enggak bisa curcol ke dia. Padahal biasanya aku selalu curcol atau ngobrolin tentang K-POP sama dia.
Tapi aku juga kesel >< Aku pengen dia duluan yang mengakhiri perang dingin ini. Coba deh sekali-kali dia yang mengalah. Dulu aku juga pernah ngalamin hal kayak gini sama Nadya. Bahkan 2 kali! Yang pertama terjadi tahun lalu dan perang dinginnya hanya berlangsung beberapa menit. Yang kedua… terjadinya aku lupa kapan. Yang jelas aku juga perang dingin sama Nadya selama 4 hari.
Ini rekor! Aku udah gak ngomong sama dia selama 9 hari! Padahal, aku sebangku sama Nadya!
Memang sih, dalam Agama enggak boleh bermusuhan dengan sesama saudara. Selain jadi temen deketku, Nadya juga saudara sepupuku. Tapi…


Ah sudahlah… Nanti juga baikan lagi… Walaupun enggak tahu kapan…

K-POP

Lirik Lagu Jeon Hye Won - A Good Like This (Roman + English)

November 27, 2014

전혜원이렇게 좋은
Jeon Hye Won –  A Good Day Like This
Doctor Stranger OST Part 3



이렇게 좋은날 사람들 모여서 웃고 즐거워하는데
Ireohke joheun nal saramdeul moyeoseo utgo jeulgeowo haneunde
On this good day, people gather as they laugh and have fun

눈물이 흐르고 혼자만 아파서.. 생각해
Nunmuri heureugo honjaman apaseo... Neol saeng-gak-hae
But I’m shedding tears and in pain so I think of you

아무도 몰래 안돼그렇게 쉽게 잊는게
Amudo mollae andwae... Geureohke... Nal swipge itneun-ge
I can’t do this without anyone knowing, I can’t forget you easily

미안해.. 없이 못살 같은데
Mianhae... Neo eobsi nan mossal geot gateunde
I’m sorry, I don’t think I can live without you

먹지도 자지도 못해
Meokji-do jaji-do mothae
I can’t eat, I can’t sleep

울지도 웃지도 못해그래
Ulji-do utji-do mothae... Geurae...
I can’t cry, I can’t smile

이렇게 좋은 ..우리 헤어진
Ireohke joheun nal... U-ri hae-eojin nal
On this good day, the day we broke up

웃어 보려했지만.. 그게 안돼
Useo boryeohaetjiman... Geu-ge jal andwae
I tried to smile.. but I can’t

괜찮은 애써 ..노력 봐도 ..그래도
Gwaenchaneun cheokaesseo... Noryeokhaebwado... Geuraedo nan...
I tried to pretend that I was okay but still I…

이렇게 좋은 ..우리 헤어진
Ireohke joheun nal... U-ri hae-eojin nal
On this good day, the day we broke up

참아 보려 했지만.. 그게 안돼
Chama boryeohaetjiman... Geugae andwae...
I tried to hold it in but I can’t

햇살이 너무나 밝은 ..이렇게 좋은
Haessari neomu na balgeun nal... Ireohke joheun nal
On this bright and sunny day, on this good day

이렇게 아픈데 .. 때문에 아파.. 울고 그리워 하는데
Ireohke apeunde... Neottaemune a-pa... Ulgo geuriwohaneunde
I’m in such pain because of you, I hurt, I cry and I miss you

웃을 없어서.. 혼자 남겨져 .. 생각해
Useul su eobseo... Na honja namgyeojyeo... Neol saenggak-hae
I can’t laugh so I stay alone to think of you

아무도 몰라.. 그렇게 쉽게 떠났는지
Amudo molla... Neon wae geureohke swipge tteonatneunji
No one knows.. why you left like that

어떻게 .. 없이.. 수가 있는지
Eotteohke... Na eobsi... Jal salsuga itneunji
How you can live without me

하루도 잊지를 못해
Harudo itjireul mothae
I can’t forget you for a single day

매일 너만 생각해 그래
Mae-il nan neoman saeng-gakhae geurae
Every day, I only think of you

이렇게 좋은 ..우리 헤어진
Ireohke joheun nal... U-ri hae-eojin nal
On this good day, the day we broke up

웃어 보려했지만.. 그게 안돼
Useo boryeohaetjiman... Geu-ge jal andwae
I tried to smile.. but I can’t

괜찮은 애써 ..노력 봐도 ..그래도
Gwaenchaneun cheokaesseo... Noryeokhaebwado... Geuraedo nan...
I tried to pretend that I was okay but still I…

이렇게 좋은 ..우리 헤어진
Ireohke joheun nal... U-ri hae-eojin nal
On this good day, the day we broke up

참아 보려 했지만.. 그게 안돼
Chama boryeohaetjiman... Geugae andwae..
I tried to hold it in but I can’t

햇살이 너무나 밝은 ..이렇게 좋은
Haessari neomu na balgeun nal.. ireohke joheun nal
On this bright and sunny day, on this good day


Lyrics

Lirik Lagu Kyuhyun - At Gwanghwamun (Roman + English)

November 14, 2014

Kyuhyun - At Gwanghwamun



Neon eottaenneunji, ajik yeoreumi nama
Waenji nan jogeum jichyeotdeon haru
Gwanghwamun garosu eunhaengip muldeul ttae
Geujeya gogael deureosseonna bwa

Nuni busige banjjagideon
Uri dureun imi nami doeeotjanha
Ne pum aneseo sesangi nae geosieotdeon
Cheoreopdeon sijeoreun annyeong

Oneul babocheoreom
Geu jarie seo inneun geoya
Biga naerimyeon heumppeok jeojeumyeo
Oji annneun neoreul gidaryeo
Naneun haengbokhaesseo
Geu son japgo geotdeon gieoge
Tto dwidora bwa nega seo isseulkka bwa

Nan moreugesseo sesang saraganeun ge
Neul dareun nugul chatneun il inji
Keopi hyang gadeukhan i gil chajaomyeo
Geujeya jogeum useotdeon naya

Cheoeumieosseo
Geutorok nal tteollige han sarameun
Neoppunijanha
Nuguboda deo sarangseureopdeon nega
Wae naegeseo tteonaganneunji

Oneul babocheoreom
Geu jarie seo inneun geoya
Biga naerimyeon heumppeok jeojeumyeo
Oji annneun neoreul gidaryeo
Naneun haengbokhaesseo
Geu son japgo geotdeon gieoge
Tto dwidora bwa
Nega seo isseulkka bwa

Geu jarieseo maeil araga
Jogeumssik byeonhaeganeun nae moseubeun
Meon hutnaren geujeo useojwo

Nan haengbokhae
Oneul yeogin geu ttaecheoreom areumdauni

Gwaenhi babocheoreom
I jarie seo inneun geoya
Biga naerimyeon heumppeok jeojeumyeo
Oji annneun neoreul gidaryeo
Naneun haengbokhaesseo (naneun haengbokhae)
Gwanghwamun i gireul dasi hanbeon dwidora bwa
Nega seo isseulkka bwa


English Translation:

How was your day? There’s still a little bit of summer left
For some reason, I had a tiring day
When the leaves changed color on the side of the road of Gwanghwamun
That was when I finally lifted my head

We used to shine so bright together
But now we are strangers
In your arms, the world was mine
Goodbye to those childish days

Today, like a fool, I am standing at that spot
Getting wet in the rain
Waiting for you, who won’t come
I was happy
At the memories of holding hands and walking together, I look back
In case you are standing there

I don’t know if living in this world
Is just about always looking for another person
As I came to this street, filled with the aroma of coffee
That was when I finally smiled

It was the first time that someone made me that nervous
You were the only one
You were more lovable than anyone else
But why did you leave me?

Today, like a fool, I am standing at that spot
Getting wet in the rain
Waiting for you, who won’t come
I was happy
At the memories of holding hands and walking together, I look back
In case you are standing there

At that place, I get to know
How I’m slowly changing every day
In the far days ahead, just smile for me
I’m happy
Because today, this place is just as beautiful as back then

For no reason, like a fool, I’m standing at this spot
Getting wet in the rain
Waiting for you, who won’t come
I was happy
I look back once again at this road in Gwanghwamun
In case you are standing there