Namanya Shena Adrellia Bintara Liu. Papa dan Mama memberikan nama Shena
agar ia bisa bersinar seperti bintang. Namun kenyataannya, ia hanyalah salah
satu bintang yang redup.
Dua insan manusia yang saling
mencintai namun tiba-tiba cinta mereka retak ketika tornado menerjang rumah
kecil mereka. Mereka pun terpisah jauh dan tak mau kembali. Seakan mereka lupa
kalau dulu mereka pernah saling mencintai.
Hasil cinta mereka berjuang di
antara puing-puing rumah kecil mereka yang telah lama hancur. Berjuang agar
tetap hidup dan melanjutkan cinta yang telah lama hilang itu.
Cinta itu dulunya sangat
indah, tapi mendadak retak. Patah. Hancur. Dan hanya meninggalkan abu yang
menyisakan rasa sakit.
This holiday I went to Makassar. I went there to meet my mom and my big family in
Pare-Pare. Pare-Pare was my mom’s hometown. It took 4 hours trip from Makassar
Town. I went to Makassar by plane. It was my first time having a flight alone
without family or any friends. I was a little bit nervous in the airport, but
everything was all right. My baggage was not overweight. I was relieved.
Yogyakarta
to Makassar took 1 hour 30 minutes flight. The plane took off at 6.50 p.m. and
arrived at around 9.30 p.m. because of the different time zone. My mom picked
me up right after I arrived in the airport. I was very happy because I have
never met her for a year!
My
uncle and my cousin also picked me up. I stayed in Makassar for 3 days
to waited my other cousins arrival in Makassar. On June 17, Reyhan arrived
followed by her sisterã…¡Firaã…¡in the next day.
As I
stayed in Makassar, we went to many places. In the first day, we (my mom,
Reyhan, and I) went to mall (oh I forgot the mall’s name). My mom brought me some
new clothes. We went there to waited Israr in dentist. In the evening of that
day, we had breakfasting
in TaWan Restaurant in Trans Studio Mall. It was delicious dinner :9 Kkkk~
After
that, we walked for sight-walking. Ayah Jabir bought a new watch. Then, we went
Losari Beach.
In
the next day, we went to Trans Studio Mall again ._.v But it was with Fira too.
I went to Gramedia for bought a comic and a novel. Then, we went to game
centre, but seriously I was very sleepy in there.
On
June 18, we went to Pare-Pare. At 2 p.m., we arrived in my Grandparent’s house.
At first, I was a little bit awkward because I have never been there for 4
years. When I went there 4 years ago, I only stayed there for 3 days. So, no
wonder if I felt awkward at firs. But, little by little I got closer with my
cousins, aunts, grandpa, and my grandma. They were very warm. I started playing
games with my cousins, talked with them, and laughed with them.
Like
last night. I was sitting in living room and talked about everything with
Abrar, Annun, Asha, and Fira. My cousins were so funny. They were talkactive,
especially Abrar, Annun, and Fira. But sometimes they were argued and
quarelled.
Also
this morning! I was morning walking to the beach with Kak Mila, Vira, and Asha.
We went to the beach at 5 a.m. It was very beautiful sea. We walked around the
beach and enjoyed the scenery. After had walking around, we sat on the side
of the beach. We sat on the stones and saw many little fish. It
was enjoyable moment.
At 8
a.m., we went home and continued our sleep. Seriously, after I reached home, I
slept again until 1 p.m. lol
~
Okay. This is some story from my holiday. It’s only the beginning of long
holiday. I’ll write more if I get new experience. ^^ And also, don’t forget to
enjoy your holiday! It’s time to spend your days with your family. ~
Hari ini berlangsung seperti
biasa. Berangkat sekolah seperti biasa, pelajaran seperti biasa, jam istirahat
seperti biasa, dan sebagainya. Tapi ada yang berbeda sore harinya. Well, bukan kejadian yang sangat
istimewa, tapi kejadian biasa yang terjadi pada orang yang sedang ulang tahun. Kejadian
biasa yang terjadi pada anak remaja sekarang.
**
Setelah
jam pelajaran terakhir selesai, tak banyak anak yang langsung pulang ke rumah.
Termasuk cewek berkerudung itu. Begitu sang guru pergi meninggalkan kelas, ia
langsung pergi ke masjid sekolah untuk shalat Ashar.
Sesudah
shalat, ia kembali lagi ke kelas dan langsung mendapati suasana yang berbeda.
“Mau
ada apaan sih?” tanya cewek itu sambil memperhatikan suasana kelas yang gelap.
Sementara itu, beberapa teman sekelasnya yang lain sibuk mengumpulkan
botol-botol berisi air dan yang lain menyiapkan dua roti pizza mini dengan tiga
lilin di atas masing-masing roti itu. “Oh, buat ulang tahunnya Keanu sama Bari
ya?”
Alya
yang sedang menyiapkan dua roti pizza itu di atas karton langsung menjawab,
“Iya. Tuh, kamu mau ikutan siramin mereka?” tawarnya. Walau terkadang usil dan
suka meledek, ia cewek yang cukup perhatian dan paling rajin membuat kejutan
untuk teman sekelasnya yang berulang tahun. Apalagi dia juga dekat dengan semua
anak cowok di kelas.
“Enggak
ah,” jawab Nindya sambil menyalakan handphone-nya.
Mungkin saja ada SMS penting yang masuk. Dan benar saja, ada SMS dari sohibnya.
“Nin,
kamu mau enggak ikutan siramin Keanu sama Bari?” tanya Yoshi sambil menyodorkan
botol berisi air penuh.
Ya ampun, fotocopy-an Sejarah belum
diambil! Aishhh… batin
Nindya setelah membaca SMS dari sohibnya itu.
“Nin?”
panggil Yoshi.
“Bentar
ya, aku mau ke fotocopy-an,” jawab
Nindya sambil berlari tanpa mempedulikan Yoshi ke tempat fotocopy-an sekolah. Ia agak panik karena buku yang sedang difotocopy adalah materi untuk ulangan
Sejarah besok.
Ia
mengumpat kesal ketika mendapati tempat fotocopy-an
sekolah sudah tutup. Ia membuka handphone-nya
lagi dan langsung meng-SMS Deevaã…¡bestie-nya di kelas.
Fotocopy-annya
udah tutup weh!
Sent.
Ia pun berjalan menuju ke kelasnya kembali. Tak lama
kemudian Deeva membalas pesannya.
Ya udah diambil besok.
Nindya tak membalas lagi. Tapi tak apa juga, sih…
Minggu yang lalu, gurunya bilang kalau ulangan Sejarah besok boleh open book tapi tidak boleh open internet. Lagi pula ia juga ada
buku yang lain plus catatan. Ia
memang cukup rajin mencatat pelajaran Sejarah.
“Oy oy, Keanu sama Bari mana?” tanya Sharfina pada
temannya yang lain.
“Mereka masih di deket pohon markisa (?),” jawab Rila.
“Suruh mereka ke sini,” kata Alya dari dalam kelas
lewat jendela kelas.
“Emang udah siap?” tanya Sharfina.
“Udah,” jawab Alya.
“Ini siapa yang mau ngodein mereka?” tanya Chandraã…¡ikut dalam
pembicaraan.
Tiba-tiba Cahyo datang. “Aku aja.”
“Emang enggak keliatan banget kalau mereka lagi
dikerjain?” tanya Sharfina.
“Iya. Entar aku bilang ke Fa’i, kalau dia harus kumpul
OSIS. Kan enggak keliatan mereka mau dikerjain,” jelas Cahyo.
Tanpa banyak bicara lagi, ia pun langsung menuju ke
pohon markisa yang berada di taman sekolah. Entah apa yang anak-anak cowok
lakukan di dekat pohon markisa…
Sedangkan anak-anak cewek yang berada di dekat kelas
sudah terlihat siap untuk mengerjai dua anak yang sedang berulang tahun. Mereka
terlihat excited mengerjai dua anak
cowok ini. Mereka sudah menyiapkan botol-botol air dan siap untuk menyiramkan
air itu ke Keanu dan Bari.
Tapi Nindya malah merasa tak begitu excited. Ia hanya duduk di bangku
panjang kelas sambil memperhatikan teman-teman sekelasnya merencanakan keusilan
untuk teman mereka yang sedang ulang tahun. Sebenarnya ia bisa saja ikut exicted, tapi jujur saja, perutnya
sedang sakit karena lapar… Bukan karena hal-hal lain. Entahlah, baru kali ini
perutnya sakit waktu lapar. Ia mulai berpikir kalau mungkin ia terkena maag. Jadi ia hanya diam saja bermain game di handphone-nya.
“Eh, mereka mulai mendektat!” kata Qyara memberi
aba-aba.
“Alya, mereka udah mau dateng,” kata Chandra pada
Alya.
“Waaah! Serius? Bentar! Lilinnya dinyalain dulu!” kata
Alya dari dalam kelas. Ia pun langsung menyalakan api di tiga lilin pada
masing-masing roti.
Tak lama kemudian, anak-anak cowok kelas X IPA 4
datang dari pohon markisa (?) Maksudnya, datang dari taman sekolah tempat pohon
markisa berada. Kelihatan mereka membawa buah markisa di tangan mereka.
Nindya pikir, anak-anak cewek lain akan langsung
menyirami Keanu dan Bari. Tapi ternyata menunggu Alya dulu.
“Boleh masuk enggak?” tanya Keanu pada Yoshi yang
bertugas menjaga pintu kelas.
“Bentar,” jawab Yoshi.
Keanu menurut saja pada Yoshi. Ia pun berdiri di dekat
kelas bersama anak-anak cowok lain.
Tiba-tiba pintu kelas terbuka… dan muncullah Alya
bersama dua roti pizza mini dengan tiga lilin kecil di atas masing-masing pizza
mini! Roti pizza mini itu berperan sebagai kue ulang tahun Keanu dan Bari.
Serentak anak-anak cewek sekelas menyanyikan lagu Happy Birthday untuk dua anak cowok yang sedang ulang tahun itu.
“Happy birthday
to you~ Happy birthday to you~ Happy birthday, happy birhtday~ Happy birthday
to you~”
Dan setelah bernyanyi… anak-anak cewek yang sudah
berkomplot itu langsung menyiramkan air ke Keanu dan Bari. Bahkan Cahyoã…¡ketua
kelas X IPA 4ã…¡ikut
menyiram air ke Bari dan berakhir dengan Bari menabrak pohon yang ada di depan
kelas! Anak-anak sekelas tertawa melihat Bari yang menabrak pohon.
Sementara anak cowok lainnya ikut menyiram air ke
Keanu dan Bari. Mereka juga mulai melempar buah-buah markisa ke satu sama lainã…¡bukan
hanya Keanu dan Bari saja. Sepertinya Taka yang mengumpulkan paling banyak
markisa. Ia melempar buah-buah markisa itu ke Bari.
Nindya
ikut tertawa melihat pemandangan ‘pe-a’ di depannya. Salah satu hal kenapa ia
sangat suka dengan kelasnya. Solid dan gesrek!
Kini
Keanu dan Bari berdiri di rerumputan yang ada di depan kelas. Mereka sudah
disiram air habis-habisan. Kedua cowok itu dikerubungi anak sekelas dan Alya
berada di hadapan mereka membawa dua roti pizza.
Tiba-tiba
saja mereka menyanyi lagiã…¡tapi kali ini dengan lirik yang diubah.
Di akhir
lagu mereka menyoraki kedua anak cowok yang sedang berulang tahun yang ke-16
itu. Kemudian secara berebutan, anak sekelas mengucapkan ‘HBD’. Hanya HBD,
bukan happy birthday atau selamat
ulang tahun. Beberapa yang lain ada yang mengucapkan ‘WYATB’ alias wish you all the best dan ada yang
mengucapkan harapan-harapan untuk mereka. Semuanya diucapkan bersamaan
membuatnya terdengar sangat ribut.
“Wooo
Bari nangis ya?” kata Cahyo ketika melhat Bari membersihkan mata dengan
tangannya.
“Hahahaha…
Bari nangis!” sorak yang lainnya.
Sebenarnya
Bari bukan menangis, tapi hanya membersihkan air yang tadi menyiprat ke
matanya. “Terharu,” kata Bari sambil nyengir.
Bari
dan Keanu meniup lilinnya bergantian. Mereka berdua hanya nyengir ketika
mendapati akan diberi kejutan ulang tahun seperti ini. Ulang tahun mereka
memang ada di tanggal yang sama yaitu 26 April. Walaupun mereka disiram air
habis-habisan dan diciprati buah markisa, mereka tetap nyengir senang.
“Wahaha…
Itu biji markisanya kayak upil,” celetuk Tria yang membuat anak lain tertawa.
Bari
langsung membersihkan biji-biji markisa yang menempel di seragam OSIS-nya. Ia
juga ikut tertawa mendengar celetukan Tria barusan.
“Nah,
sekarang foto yuuuk!” kata Alya.
Anak-anak
sekelas langsung mengumpul di atas rumput dan bersiap untuk berfoto. Beruntung
ada anak kelas lain yang mau sukarela memotret kenangan ini. Mereka pun
mengambil beberapa kali foto dengan berbagai pose.
“Sekarang
apa lagi?” tanya Alya.
Aryo
langsung menjawab, “Makan laaah!”
Anak
kelas itu langsung mengerubungi Keanu dan Bari kemudian mengambil roti pizza
mini itu bergantian. Untung saja kali ini mereka tidak begitu anarkis soal
makanan…
Acara
ulang tahun sederhana itu berakhir dengan makan roti pizza mini bersama. Mungkin
lebih tepatnya menjawil roti pizza mini itu. Walaupun ini hanyalah perayaan
ulang tahun sederhana, suasana seperti ini tak akan pernah mereka lupakan
selamanya. Kejadian yang hanya terjadi sekali di masa putih abu-abu mereka.
Untuk sesaat, mereka melupakan ulangan harian, remidial, nilai, tugas, dan pelajaran.
Mereka hanya merasakan kebahagiaan karena bisa berkumpul, tertawa, dan berbagi
kebahagiaan. Hidup ini hanya sekali! Nikmati, syukuri, dan jangan lupa berbagi
kebahagiaan! ;)
SELESAI
Cerita ini diambil hari Selasa, 26 April 2016. Dan di kelasku memang
benar ada dua orang yang ulang tahun ^^ Perayaannya persis seperti di atas xD
Karena ini cerita based on true story.
Cewek
berkerudung itu setengah berlari menuju kelasnya yang berada di dekat ruang
podium sekolah. Ia baru saja kumpul organisasi, padahal ia masih ada tugas
kelompok. Terpaksa ia meninggalkan tugasnya selama kurang lebih sejam. Ia
merasa tidak enak karena meninggalkan tugas kelompok tanpa keterangan, karena
tadi ia pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan.
Aishhh… Jangan-jangan kelas udah
sepi! batinnya
ketika melihat deretan kelas lain yang mulai sepi.
Ia
pun mempercepat langkahnya dan ketika sampai di kelas… ternyata masih banyak
teman-teman sekelasnya yang lain yang juga masih mengerjakan tugas kelompok PK.
Masih ada Bari, Keanu, Cahyo, Yuuto, Taka, Deeva, Alya, Nisa, Qyara, Feby, Kamila,
Chandra, Tria, dan Sharfina. Ia mengembuskan napas lega sekaligus menggerutu
dalam hati.
Tahu begitu aku jalan santai aja
tadi, ucapnya dalam
hati.
Ia
berjalan menuju bangkunya dan melihat pekerjaannya masih tergeletak di atas
meja. Ia pun langsung memanggil Bariã…¡yang merupakan teman sekelompok PK-nya. Seharusnya anggota kelompoknya ada 4, tapi 2 yang lain sedang ada ekskul.
“Bari!
Kamu udah mulai ngerjain?” panggilnya pada Bari yang sedang duduk di bangku
dekat jendela. Muka cewek itu terlihat kesal karena Bari sepertinya belum
menyentuh tugas kelompok mereka. Tugas PK kali ini yaitu membuat percobaan
prinsip motor listrik. Ia kesal karena kotak untuk menempatkan alat-alat
percobaan tugas PK itu masih sama seperti sebelum ia meninggalkan kelas.
Tiba-tiba
saja Bari berjalan mendekat sambil memegang batre yang sudah direkatkan dengan
dua paper clip di masing-masing
sisinya. “Nih udah,” ucapnya sambil menyodorkan batre itu.
Nindyaã…¡nama
cewek ituã…¡langsung tersenyum puas melihat pekerjaan Bari. “Sekarang apa? Batrenya ditempelin
ke gabus kan?” tanya cewek itu sambil menunjuk gabus yang sudah ditata rapih di
dalam kotak untuk menempatkan alat-alat percobaan. Ia yang menata gabus-gabus
itu.
“Iya.
Tapi ini mau dicoba dulu bisa atau enggak,” kata Bari dengan nada datarnya.
Nindya
mengangguk saja. “Ya udah. Terus aku ngapain?”
Belum
menjawab pertanyaan cewek itu, Bari langsung pergi begitu saja ke bangku
tempatnya duduk tadi meninggalkan Nindya yang bingung mau mengerjakan apa. Hhhh… Menyebalkan! Harusnya kasih tahu dong,
tugasku ngapain setelah menata gabus!
Ia
pun hanya duduk sambil memperhatikan anak-anak lain yang sedang sibuk. Ada yang
sedang memotong gabus, merekatkan batre, mencoba percobaan, menata alat-alat
percobaan… Sepertinya hanya ia yang tidak melakukan apa pun.
Karena
bosan, ia pun berjalan menghampiri kelompok lain. “Punya kalian udah bisa?”
tanya cewek bermata sipit itu.
“Belum,
ini baru mau dicoba,” jawab Nisa.
“Magnetnya
mana?” tanya Keanu pada Nisa yang duduk di sampingnya. Mereka sekelompok dalam
tugas PK ini.
“Eh,
kalian dapet dari mana magnet kayak gitu?” tanya Nindya langsung karena ia baru
ingat kalau kelompoknya kekurangan magnet.
Karena
bingung mau ngapain lagi, akhirnya Nindya mendudukan dirinya di bangku yang ada
di dekat kelompok Nisa dan Keanu.
“Hey
Nindya!” sapa Alya tiba-tiba membuat Nindya kaget.
“Apaan
sih, Al?” jawab Nindya.
Alya
dengan senyum isengnya langsung berkata, “Waaah! Kamu lagi ngeliatin Keanu
yaaa?”
“Enggak,”
jawab Nindya sambil mengernyit.
“Keanu,
lihat deh! Nindya lihatin kamu! Kamu suka sama dia kan? Eh bukanã…¡tapi
sayang Nindya kaaan?”
Alya tertawa melihat ekspresi Nindya yang kesal.
“Enggak!
Alya apaan sih?!” Nindya kesal karena ia terus saja diledek dengan Keanu.
“Hahahaha!
Udah deh… Kalian itu cocok banget!” kata Alya yang disambut tawa anak lain.
“Iya kan, Keanu?”
“Cocok
dari mana sih?!”
“Pokoknya
kalian cocok!” kata Alya sambil tertawa.
“Keanu
itu cocoknya sama Nisa,” elak Nindya ketus.
“Enggaaak!
Keanu sama Nindya,” kata Nisa tiba-tiba ikut meledek Nindya.
“Tuh
kan, Nisa aja bilang gitu,” kekeh Alya senang.
Karena
kesal, Nindya pun langsung berdiri dari bangkunya dan menuju bangku lain yang
jauh dari Alya. Ia bahkan bisa melihat Deevaã…¡sohibnyaã…¡juga
tertawa mendengar perkataan Alya barusan. Beruntung, sehabis itu Alya pergi keluar kelas
karena ia mau pulang. Ia hanya ingin iseng saja pada Nindya sebelum pulang.
Wajahnya selalu terlihat puas melihat muka kesal Nindya.
Ugh, dasar nyebelin! Aku enggak ada
hubungannya sama Keanu!
Sudah
pukul 5.15 p.m. Nindya sudah ingin pulang. Ia ingin cepat-cepat sampai rumahnya
dan makan karena dari tadi perutnya kelaparan. Akhirnya ia pun memanggil
Bari yang baru saja lewat di depannya untuk mengambil cutter. Cowok itu mau memotong kabel yang akan diambil tembaganya
untuk dijadikan alat percobaan tugas PK kali ini.
“Keanu…”
Tanpa sengaja, Nindya malah menyebut nama Keanu waktu memanggil Bari. “Eh…
Bari!”
“Wah
wah, ternyata alam bawah sadar Nindya memanggil nama Keanu!” kata Cahyo yang
ternyata ikut meledek cewek itu. Nindya tak menyangka ketua kelas X IPA 4 akan
ikut meledek dirinya.
“Ih
apaan sih? Aku enggak!” elak Nindya yang merasa malu. Argh… Sial! Kenapa sih aku malah manggil Keanu?!!!
Keanu
yang merasa namanya disebut hanya menoleh, “Ada apa sih?”
“Gini
loh, Nindya mau manggil Bari, tapi yang kepanggil malah Keanu,” jelas Qyara
yang disambut tawa anak sekelas.
Nindya
yang merasa terpojokan di kelas langsung mengambil tas sekolahnya. “Udah ah!!! Aku
mau pulang!” ucapnya keras-keras sambil berjalan keluar kelas. Namun baru
beberapa langkah keluar kelas, ia berbalik lagi dengan wajah cemberut. Ia
terlalu sebal dan malu karena diledek teman sekelas. Tanpa sadar ia
menggembungkan pipinya karena kesal.
Ia
lupa kalau ia belum izin ke Bari. “Bari, kamu kerjain sisanya ya! Aku mau
pulang!”
Kali
ini ia pun langsung melangkahkan kakinya ke gerbang sekolah lewat gerbang
utama. Fiuuuh… Ia merasa beruntung Alya sudah pulang. Coba kalau Alya melihat
kejadian barusan, pasti akan lebih heboh dan akan dijadikan topik pembicaraan
selama seminggu! Berhubung Alya sangat suka dengan hal-hal seperti ini. Ia
pasti akan sangat heboh membicarakan ini kalau melihat kejadian barusan.
Nindya
menggelengkan kepalanya ketika membayangkan hal itu. Ia tak menyangka sorenya
akan seperti ini. Ah, lebih baik ia pulang, makan, lalu mengerjakan tugas.
SELESAI
NB: Cerita ini berasal dari kejadian nyata yang
kualami di kelas hari ini -_- (Selasa, 12 April 2016) Serius! Kejadian ini
benar-benar memalukan dan nyebelin! ><