Alternative OC Universe

In the middle of Nowhere

Juni 12, 2023

 In the middle of Nowhere


🌿

A usual morning in my small town. The sky looks so bright and clear without any clouds. Birds are chirping outside the window. The wind blows the leaves. 


I avert my eyes from the scenery outside my mom’s bakery shop window before I accidentally drop one of these breads to the floor.

 

There’s only two bakery shops in this place. One is located by the main road and my mom’s bakery shop is located in residential areas. 


I still got one hour left to prepare and clean the shop. But I already arrange all the breads on the display. Well, I intend to finish my job earlier so I'll be able to read my book and drink my coffee before the open hours.

 

But I guess my plans to read book on the cashier table has to be postponed.



Motor matic itu berhenti di depan toko roti tepat saat aku meletakkan tanda ‘open’ di pintu kaca. Aku mengenali pengendara motornya. Maka, aku melangkah mundur dan pura-pura sibuk menata roti di atas rak roti. Namunmataku tetap terarah kepadanya. 


Dia laki-laki yang kutemui di padang rumput beberapa hari yang lalu saat hujan turun. Dia yang menunjukanku jalan keluar dari area padang rumput tanpa harus memanjat pagar.

 

Selama toko ini berdirisejak aku lahirbaru kali ini aku melihatnya ke sini. Kenapa? Apakah dia orang baru di kota yang penduduknya cuma 20.000 orang ini? Kalau dia orang baru, kenapa eksistensinya begitu familiar?

 

Ia menemukanku. Mata cokelatnya menemukanku yang sedang diam memperhatikannya di balik rak roti.


“Kamu? Yang waktu itu kan?” tanyanya.

 

Aku pura-pura berpikir padahal aku masih ingat setiap detail pertemuan hari itu. “Yeah, kamu yang waktu itu numpang mobilku kan?”  tanyaku sambil memperhatikan penampilannya hari itu. 


Hari ini dia memakai hoodie dan celana training. Astaga. Dia sepertinya baru bangun tidur karena rambutnya masih berantakan. Sangat berbeda dengan penampilannya beberapa hari yang lalu. Waktu itu dia kelihatan rebel dengan celana jeans robek-robeknya dan kemeja flannelnya. Tapi, kali ini dia terlihat seperti anak rumahan.


Ia tersenyum ramah. “Sekarang aku bawa motor, jadi enggak perlu numpang lagi.”

 

“Waktu itu kenapa enggak?” tanyaku berbasa-basi. Actually there are so many questions that I want to ask you. Firstly, why do you feel so familiar? 

 

“Waktu itu motornya dipakek abangku,” jawabnya sambil lalu. Ia mengalihkan matanya ke rak roti yang ada di sekitar kamitampak mencari-cari sesuatu. “Aku disuruh beli roti tawar, ada enggak?” 

 

Aku pun langsung berjalan menunjukkan rak yang berisi berbagai jenis roti tawar. Dia mengambil dua bungkus lantas membawanya ke kasir. Aku buru-buru kembali ke meja kasir karena pegawai yang lain masih berada di dapur menyiapkan roti.

 

Dengan cepat, aku mencatat pembelian dan menyebutkan harga yang harus dibayarnya. Lalu ia memberikanku uang. “Terima kasih sudah membeli,” jawabku sesuai SOP yang ada di bakery shop punya Mamaku.

 

Ia tidak langsung pergi. Ia terdiam selama beberapa saat memperhatikan buku yang tergeletak di atas meja kasir. Buku yang rencananya mau kubaca pagi ini. “Kamu beli buku ini dari toko buku antik?”

 

"Dari mana kamu tahu? Ah ya" Tiba-tiba aku teringat saat aku mengantarnya ke satu-satunya toko buku antik di kota ini. Rumahnya. “Iya. Kamu... tinggal di situ?” tanyaku hati-hati.

 

Ia mengangguk.

 

“Berarti toko buku itu milik keluargamu?”

 

“Yeah, makanya aku kembali.” Ia mengambil kantong belanjaannya dan pergi. Begitu saja. 

 

Oh aku iri. Dia punya toko buku yang isinya buku-buku terbitan pertama—termasuk novel klasik yang merupakan terbitan pertama dengan kertas menguning. Meskipun itu menjadi sebab beberapa buku di toko itu harganya mahal.  Namun, toko buku itu juga terkadang menjual buku terbitar baru yang cukup update.


Buku yang kubaca kali ini memang salah satu terbitan awal novel klasik dan harganya cukup menguras tabunganku.


Dari meja kasirku, aku memperhatikannya melaju dengan motor maticnya. Apa maksudnya “kembali? Atau itu sebabnya dia tidak pernah terlihat selama aku tinggal di sini? Tapi kenapa aku merasa mengenalnya dengan baik? 

 

Aku lanjut membaca selama tidak ada pembeli yang datang. Tetapi baru mencapai halaman ke-20, seorang pelanggan datang. Pelanggan yang baru saja masuk adalah tetangga baik kami yang setiap tiga hari sekali membeli stok roti gandum. Ia seorang wanita berusia 40 tahunan yang sudah kenal keluargaku sejak aku belum lahir. 

 

Tak lama kemudian, ia menghampiri meja kasir dengan roti gandum di tangannya. “Seira, ada kartu yang jatuh nih,” kata Tante Via—nama tetangga kami itu—seraya membungkuk dan menyodorkan sebuah kartu pelajar kepadaku.


"Eh? Kartunya siapa?" tanyaku seraya menerima kartu itu. 

 

Kartu itu jelas bukan punyaku karena foto ID-nya laki-laki. Kartu itu menunjukkan nama pemiliknya, nomor induk mahasiswa, tahun angkatan, dan tanggal lahir. Kartu itu milik Leo… dan dia ternyata seumuran denganku, tapi dia sudah satu tahun berada di universitas. Wow... universitas ini termasuk sulit ditembus.


Kartunya pasti tak sengaja jatuh waktu ia membuka dompetmya.

 

“Halooo? Tante mau bayar, Ra.” Suara Tante membuatku tersadar dari lamunanku.

 

Aku langsung mencatat pembelian dan menyebutkan harganya.

 

“Kartu pelajarnya siapa itu?” tanya Tante sambil mengamati kartu pelajar yang kuletakkan di atas meja kasir itu. Kartu pelajar punya Leo.

 

“Punya pelanggan, Tan,” jawabku.

 

Tante membaca nama di kartu pelajar itu. “Namanya kayak kenal. Bukannya dia anak yang pernah hilang waktu kecil ya?”

 

Aku mengerjapkan mataku. “Masa', Tan?”

 

“Tante ingat soalnya kamu yang menemukan anak itu.”

 

“Eh? Yang benar? Aku enggak ingat.” Aku tertawa kecil.

 

“Iya, waktu itu semua orang heboh. Semua orang di kota udah mencari anak itu, tapi enggak ada yang bisa menemukannya.” Tante Via mengambil kantong belanjaannya. “Udah ya, Tante udah ditungguin sama anak tante.”

 

Aku mengangguk sambil tersenyum. “Terima kasih, Tante.”


Lalu senyumku hilang. Aku baru tahu soal fakta itu? Apa maksudnya? Kenapa aku enggak ingat sama sekali??? Aku menatap nama di kartu pelajar itu. Leonard? Anak hilang? Aku yang menemukannya? It doesn’t make sense at all! 

 

Suara bel yang menandakan pintu terbuka membuat perhatianku terfokuskan lagi ke pekerjaanku hari ini. Aku menyimpan kartu pelajar itu kantong celana jeansku. Tidak ada waktu untuk melamun. Semakin siang, semakin banyak pembeli berdatangan sampai aku tidak sempat memikirkan kejadian yang tidak bisa kuingat.

 

Menjelang sore, Mama akhirnya tiba dari kota lain. Hari ini jadwalnya untuk membeli stok bahan-bahan kue. Ketika ia tiba, aku sedang merapihkan sisa roti yang terpajang di rak. Aku tersenyum cerah menyambut Mama yang sedang memasuki bakery shop.


“Bagaimana hari ini?” tanya Mama seraya duduk di depan meja kasir untuk beristirahat. Bahan-bahan kue itu sudah dibawa ke dapur oleh salah satu pegawai Mama. 

 

“Ramai dan sibuk,” balasku. 

 

“Syukurlah,” kata Mama seraya mengecek data penjualan hari ini di PC yang ada di meja kasir.

 

“Ma, memangnya aku pernah menemukan anak hilang?” tanyaku tiba-tiba. Bahkan aku tak sadar melontarkan pertanyaan itu. 

 

Mama yang tadinya sedang menatap layar langsung mengangkat wajahnya. “Mama pikir kamu masih ingat,” kata Mama.


Aku pun mendekati meja kasir dan mengambil tempat duduk di depannya. “Enggak. Aku sama sekali enggak ingat.”

 

“Waktu itu umurmu masih 6 tahun.”

 

“Berarti itu terjadi waktu kita mulai tinggal di sini?”

 

“Iya. Kamu yang tanpa sengaja menemukan anak hilang itu karena kebetulan waktu itu keluarga kita sedang camping. Siapa ya namanya? Mama bahkan tidak ingat nama anak hilang itu.”

 

“Leonard,” gumamku. “Kenapa aku bisa sampai enggak ingat kejadiannya ya, Ma?” Aku menghela napas.

 

“Memang kenapa tiba-tiba nanyain soal itu?” tanya Mama sambil mengelus kepalaku.

 

“Aku bertemu lagi dengannya,” jawabku.

 

“Eh bagus dong? Dia ingat kejadian itu?”

 

Aku menggeleng. Tiba-tiba aku teringat kalau aku harus mengembalikan kartu pelajar itu ke pemiliknya. Dan sebenarnya waktu shiftku sudah selesai. Bakery shop milik Mama memang buka sampai malam. “Ma, boleh aku pinjam mobil sebentar? Aku mau antar barang customer yang tadi ketinggalan.”

 

🌿🌿🌿



Toko buku antik. Setahuku, toko itu sudah berdiri puluhan tahun sebelum aku menginjakkan kakiku di kota ini. Biasanya aku datang ke toko buku ini dengan hati riang, namun kali ini hatiku merasa nervous parah

 

Baru kali ini aku nervous hanya karena datang ke toko buku.

 

Perlahan aku turun dari mobilku dan berjalan masuk ke dalam toko buku itu. Suara bel seperti biasa menyambutku. Aku melihat ke sekeliling—mencarinya. Bodoh. Dia tidak mungkin dengan mudah ditemukan di dalam toko buku ini. Sore itu hanya ada beberapa pengunjung dan seorang penjaga toko buku. 


Leo mungkin berada di dalam rumahnya. Tapi, mustahil juga aku langsung masuk ke pintu yang menuju rumahnya… Memangnya aku siapa? 

 

“Halo Kak Seira!” sapa anak SMA yang menjadi penjaga toko buku itu. Kami sudah saling mengenal. Namanya Maxillien tapi biasa kupanggil Max. Aku langsung menghampirinya. 


“Kamu tahu Leo ada di rumah atau enggak?” tanyaku dengan suara pelan—khawatir ada pengunjung yang mendengarnya.

 

Max yang berkacamata menatapku dengan tatapan penuh selidik. “Kenapa?”

 

Please, ada atau enggak?” tanyaku.

 

“Kapan kalian berkenalan? Bagaimana bisa kenal Kak Leo?”

 

Aku menahan kesabaranku. Aku tahu dia mengikuti ekskul KIR (Karya Ilmiah Remaja) di sekolahku tapi anak ini kadang terlalu kritis di saat yang tidak tepat. “Itu enggak penting. Dia ada di rumah atau enggak?”

 

“Kalau ada gimana? Kalau enggak ada, gimana?”

 

Aku mundur dari mejanya. Sudahlah. Tidak ada gunanya berbicara dengan Max.

 

“Dia pergi bawa gitar lagi,” kata Max sambil berdiri sebelum aku mencapai pintu. “Padahal udah enggak dibolehin.”

 

 Aku berhenti melangkah. “Thanks, Max!”

 

“Emang Kakak tahu kemana Kak Leo pergi?” tanya Max dengan polosnya.

 

Aku hanya tersenyum simpul seraya pergi meninggalkan toko buku antik tersebut. Lalu aku masuk ke dalam mobil dan mengemudikan mobilku ke tempat itu lagi—area padang rumput. Seperempat jam kemudian, aku memarkirkan mobilku di dekat celah pagar yang waktu itu ditunjukkan oleh Leo. Dugaanku tepat karena motor maticnya juga diparkir di dekat situ. 


Kuharap itu benar motor maticnya karena aku tidak ingat plat nomornya.

 

Aku turun dari mobil. Lantas aku melewati celah pagar itu dan berjalan menembus padang rumput. Sore itu, padang rumput itu terlihat sangat luas dan indah. Sejauh mata memandang, tidak ada siapapun di tengah area luas itu.

 

Tiba-tiba langkahku terhenti. 


Kenapa aku sampai rela berjalan di padang rumput ini cuma buat mengembalikan kartu pelajarnya? Seharusnya aku titipkan saja ke Max. Atau aku bisa ke toko bukunya lagi besok.

 

Bodoh. Silly girl. Ini bukan hanya sekedar mengembalikan kartu pelajarnya kan? Aku merasa seeprti orang bodoh, sampai mataku menemukan sepasang sepatu converse hitam tergeletak begitu saja. 


"Jadi dia benar ada di sini?" gumamku sambil memandnag ke sekelilingku. "Kamu di mana?" 


Aku memperhatikan arah sepatu itu seperti melihat kompas. Firasatku mengatakan kalau aku harus berjalan ke ujung padang rumput itu dan sampai ke sebuah pohon raksasa yang terlihat kecil dari tempatku berdiri. 


Pohon itu jelas bukan pohon yang biasa kukunjungi. Pohon itu jauh lebih besar dan rindang. Maka aku berjalan hingga sampai di bawah kerindangan pohon raksasa itu. Cukup melelahkan... Aku mengatur napasku setelah berjalan jauh. 




Lalu, aku mengelilingi batang pohon itu dan menemukannya tertidur dengan lengan menutupi matanya. 

 

Ia tidak memakai sepatunya dan hanya memakai kaus kakinya. Gitar tergeletak di sampingnya. Buku catatan terbuka—kertasnya berkibar tertiup angin. Ia tampak sangat tenang berbaring di atas rumput. Perlahan ia membuka mata ketika mendengar suara langkah kakiku mendekat.

 

Entah kenapa rasa lelahku hilang saat matanya menemukannya.

 

Aneh.

 

Kenapa?

 

"Kenapa kamu di sini?" tanyanya. Matanya terlihat makin cokelat di bawah sinar matahari sore. 


“Kartu pelajarmu ketinggalan di tokoku,” ucapku sambil menyodorkan kartu itu kepadanya. 

 

Ia mendudukan dirinya. Sorot matanya tanpa ekspresi. “Kamu bisa balikin besok kalau aku ke tokomu lagi,” ujarnya seraya mengambil kartu itu.

 

“Ada yang mau kutanyakan," ucapku spontan—tanpa berpikir dulu.

 

Ia mengernyitkan dahinya—tampak bertanya-tanya. Aku pun duduk bersila di hadapannya sementara ia membenarkan posisi duduknya. 

 

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Sebelum lima hari yang lalu di sini?” tanyaku langsung to the point.

 

Kami terdiam selama beberapa saat. Hanya terdengar suara angin bertiup dan rumput berdesir. “Ya,” jawabnya singkat. “You were the one who found me 12 years ago.

 

Aku menarik napas. “Kamu ingat?” Jawabannya sangat lugas, seolah ia masih mengingatnya persis. Tapi kenapa aku tidak?

 

“Aku baru teringat tadi pagi, rumahmu membuatku ingat,” jawabnya dengan suaranya yang tenang dan sedalam air danau yang tak beriak.

 

“Lalu kenapa aku enggak ingat? Why am I the only clueless one?

 

Bless you to forget that moment,” kata Leo sambil merebahkan dirinya lagi di bawah pohon. Ia memejamkan matanya lagi.

 

Baiklah, kalau itu kesimpulannya. Mungkin memang takdirku untuk tidak mengingat kejadian dari 12 tahun yang lalu. Lagi pula itu tidak relevan lagi. Aku beranjak berdiri—hendak pulang—karena urusanku sudah selesai. Tujuanku menemuinya hanya untuk mengembalikan kartu pelajarnya. Dan yeah bertanya. Jawabannya sudah kudapat.

 

“Jangan pergi,” pintanya.

 

Aku yang sudah berdiri menoleh ke arahnya dengan heran. Matanya masih terpejam. Aku tak mengerti kenapa dia memintaku tetap di sini? Kami bahkan tidak saling mengenal. “Aku harus pulang.”

 

“Sepatuku hilang,” ucapnya pelan. “Tolong bantu aku mencari sepatuku, setelah itu kamu boleh pulang. Tapi sebentar, aku mau di sini sebentar.”

 

Bagaimana bisa sepatunya hilang? Oh ya ampun. Padahal tadi aku menemukannya tergeletak di tengah rumput. Aku menghela napas. Matanya terpejam, aku bisa saja kabur...


"Jangan kabur," pintanya. "Aku bisa dengar suara langkah kakimu."


"Terus kalau aku kabur?"


Hening. Tangannya menutup kedua matanya. Ia mulai bernapas teratur. 


Mau tidak mau aku duduk kembali di sebelahnya sementara dia tertidur. Astaga. Apa yang kulakukan di sini? Kenapa aku menurut saja pada ucapannya yang persuasif? 

 

Tanpa sengaja aku melihat halaman journalnya yang terbuka. Aku membacanya sekilas sebelum angin menutup halamannya. Tulisannya sangat berantakan dan buku journal itu penuh tulisan yang tak terbaca. 

 

Aku menghela napas panjang. Pemandangan di sekelilingku sangat indah. Sudah berapa kali aku ke sini tapi masih terpesona dengan luasnya padang rumput yang  luas dan seolah tanpa batas. 


Aku suka melihat pemandangan yang luas karena itu membuatku seolah-olah bisa membayangkan berbagai kesempatan baik yang mungkin akan datang dalam hidupku... Aku teringat pengumuman kuliah yang akan muncul besok hari. Aku menggelengkan kepalaku—tak ada gunanya khawatir.


Seandainya aku membawa bukuku. Today is sucah a perfect day to read a book in nature. Tapihari ini—perjalananku ke sini adalah sebuah kecelakaan.

 

Aku duduk menekuk lututku dan mendekap kedua lututku. Aku bahkan sampai lupa membawa handphoneku ke sini. Aku memejamkan mataku dan berusaha mengingat kejadian 12 tahun yang lalu. Bagaimana caraku menemukannya? Apa yang terjadi? Kenapa dia menghilang?

 

Saat aku menbuka mataku lagi, samar-samar aku melihat dua orang berseragam polisi berjalan di kejauhan. Mereka berjalan ke arah kami... Aku tidak tahu apakah seharusnya kami boleh berada di sini atau tidak. Satu hal yang pasti, kami harus segera pergi.

 

“Leo,” panggilku sambil menoleh ke arahnya yang masih tertidur. “Leo! Bangun!”

 

Aku mengulurkan tanganku pada bahunya dan mengguncangnya. “Hey! Leo!” Something is not right.

 

"LEO!!" 


Akhirnya ia membuka matanya. Ia mendudukan dirinya dan mengernyitkan dahinya. “Kenapa, Seira”

 

“Polisi,” jawabku.

 

Aku menunjuk dua polisi yang sedang berjalan menyusuri padang rumput. Ia pun seera membereskan gitar dan buku journalnya ke dalam tas gitar. Lantas berdiri. “Ayo. Mereka tidak akan suka kita di sini.”

 

“Yeah, aku tahu. Aku pernah lihat tanda no tresspasing di depan pagar.”

 

Kami pun berlari menjauhi pohon raksasa itu. Ia berlari cepat di depanku tanpa alas kaki. (Entah sejak kapan ia melepas kaus kakinya). Kenapa dia sampai melepas sepatunya? He is so clumsy. Padang rumput ini tidak semuanya dipenuhi rumput tebal, terkadang ada bagian yang berkerikil dan kasar.


Aku masih ingat di mana aku menemukan sepatu converse yang mungkin miliknya. “Leo, aku tahu di mana sepatumu.”

 

Aku berbelok sebentar dan mengambil sepatu itu untuknya. Ia menerima dengan senyum di wajahnya. 


“Kupikir aku enggak akan nemu sepatuku lagi," kata Leo. 

 

Ia tidak sempat memakai sepatunya dan terus berlari tanpa alas kaki. Larinya cepat... Sementara lariku begitu lambat karena aku gampang capek. Ia pun menarik lenganku dengan tangannya yang bebas. Tangannya terasa panas di lenganku. Tapi ia sama sekali tidak menunjukkan ada yang salah dengan suhu tubuhnya. Ia tetap berlari di depanku dan aku hanya mampu melihat punggungnya. 


“Leo, kamu enggak apa-apa?” tanyaku.

 

Ia mengabaikan pertanyaanku sampai kami sampai di depan pagar dan melewati celah. Napas kami berdua sama-sama terengah. Sudah lama aku tidak berlari. Aku menoleh ke arah padang rumput itu dan mendapati kedua polisi itu masih jauh di sana. Mereka sepertinya tidak berniat untuk mengejar kami sampai ke luar area padang rumput.

 

Lalu aku menoleh ke arahnya. Ia kelihatan pucat. Keringat mengalir di pelipisnya. Rambutnya berantakan karena tertiup angin. 


Tanpa kami sadari, tangan kami masih berpegangan. Begitu kami sadar, aku langsung menjauhkan tanganku.

 

Thank you,” ucapnya sambil tersenyum. Yang seperti matahari. 

 

Saat kami berpegangan tangan seperti tadi, aku merasa aku sudah pernah melakukannya sebelumnya. Tapi aku tak bisa mengingatnya.

 

You are not okay," ucapku.

 

Leo tertawa. “Kenapa bilang begitu?”

 

“Kamu demam, Leo. You should go home.”

 

“Aku memang mau pulang. Thank you for bringing back my Student Card,” ucapnya seraya berjalan menuju motornya. Lantas ia memakai helmnya dan menyalakan motornya. “Cepat naik ke mobilmu," suruhnya.

 

Aku pun masuk ke dalam mobil dan menstarter mobil sedan milik Mamaku. Ia putar balik lebih dulu di depanku. Lalu, mobilku melaju di belakangnya. Ketika kami sampai di persimpangan, ia melambaikan tangan kanannya sebelum kami berbelok ke arah yang berbeda.

 

Aku tersenyum melihat gestur itu darinya. Banyak yang ingin kutanyakan. Banyak yang ingin kubicarakan dengannya. Aku—memikirkannya terlalu banyak hari ini. 


Kejadian barusan... aneh. In the middle of nowherehoweverit reminds me of something that I couldn’t remember. That warm hands, that honey brown eyes, that rare smile… somehow are like parts of my memory.

 

It feels like I just had a déjà vu. 


🌿🌿🌿




Alternative OC Universe

The Unwanted

Juni 02, 2023

 


🌙

The heath was not the decent place to be a shelter. But here I am in the midnight, when the moonlight illuminates the forbidden woods. 


Somebody said only the outcasts who are able to get through the forbidden woods safely. Probably I am one of them because I can be here after walking through that woods.

 

Hanya terdengar suara rumput bergemerisik malam itu. Angin yang berembus seolah berbisik kepadaku mengatakan aku tidak berhak berada di sini. Lalu di mana seharusnya aku berada? Padang rumput itu luas dan aku tidak melihat cahaya satupun sepanjang mata memandang.

 

Sepenuhnya aku sendirian—menjadi tak terlihat. Meskipun aku tak terlihat di mata siapapun, aku tetap mempunyai keinginan. Keinginanku hanya sederhana. Aku ingin dipeluk. Aku ingin dipeluk dan disayang...

 

Kakiku mulai terasa berat seolah gaya gravitasi bumi semakin membesar. Entah sudah sejauh apa aku melangkah di tengah padang rumput tanpa batas ini. Gelap. Hening. Kosong. Hanya cahaya rembulan yang menjadi satu-satunya alasan aku bisa melihat di tengah kegelapan total ini.

 

Barisan pohon hutan terlarang tampak semakin jauh di belakangku. Aku ingin kembali ke dalam hutan itu tapi hutan pun juga menolakku. Seolah aku ini barang tak berguna yang harus dibuang dan dijauhi.

 

Gravitasi bumi memperlambat langkah kakiku. Sampai akhirnya aku membiarkan gaya gravitasi itu menarikku dan rumput-rumput itu mengekang kaki telanjangku. Rumput itu tumbuh cepat dan bergerak seperti sulur, menarik kakiku, menarik tanganku, menyelubungi tubuhku yang jatuh telungkup di atas tanah.

 

Tanpa sadar air mataku meleleh. Apakah semua anak yang tak diinginkan akan berakhir seperti ini? Apakah aku tak boleh punya keinginan sedikitpun? Untuk merasakan dipeluk dan disayang?


Kupikir aku satu-satunya makhluk yang ada di tengah padang rumput itu. Tapi, samar-samar aku mendengar suara langkah kaki kian mendekat. 


Ada kunang-kunang mengikuti setiap langkahnya. Ketika ia sampai di hadapanku yang sudah dibelenggu oleh rerumputan jahat, ia berjongkok dan menatapku.

 

“Kamu juga dibuang?” tanyanya. Suaranya seperti danau yang tenang. Dalam.

 

Aku tak bisa melihat wajahnya. Tapi aku yakin dia laki-laki dari suaranya. Ia tampak seperti siluet. Aku hanya bisa melihat kalung berkilat di lehernya yang menunjukkan inisial huruf L.

 

“Ya,” jawabku lemah.

 

“Kamu bisa keluar dari belenggu itu, kalau kamu berhenti membohongi dirimu.”

 

Aku tak sanggup mengartikan ucapannya. Tak bisakah dia menarik rerumputan yang membebat tubuhku ini?

 

“Enggak. Aku enggak bisa menolong,” ucapnya dingin seolah dia mampu menebak isi pikiranku.

 

Sulur rerumputan itu mulai menutup mataku dan mulutku. Aku tak bisa bertanya lagi. Berhenti berbohong? Apa aku selama ini membohongi diriku?

 

Baiklah. Aku menarik napas sebelum rumput itu juga menutup jalur napasku. Pikiranku berpacu—mencari secercah prasangka baik yang pernah kubuat untuk diriku… yang kupikir itu satu kejujuran, bukan kebohongan. 


Mungkin masih ada orang yang menginginkan diriku ada di atas muka bumi ini—meskipun aku tidak tahu siapa. Mungkin aku tak seburuk yang pikiranku kira… Mungkin—

 

Rumput itu berhenti membebatku dan menyingkir dari wajahku. 

 

Aku bisa melihat dengan jelas sekarang. Mulutku bisa terbuka dan aku bisa bernapas. 

 

Aku terus mengulang pikiran itu berkali-kali hingga akhirnya sulur-sulur itu masuk kembali ke dalam tanah. Gravitasi bumi perlahan terasa seperti 9,8 m/s2 lagi sehingga aku bisa bangkit untuk duduk berhadapan dengan laki-laki itu.

 

Aku menatapnya dengan sorot tak percaya. Di bawah cahaya remulan, ia terlihat seperti patung. Kupikir warna abu-bau cocok untuk matanyam Namun, matanya berwarna cokelat madu. Manis. 

 

“Baru kali ini ada orang lain di sini,” ucapnya seraya duduk bersila di depanku. Kuperhatikan ia memakai kaos t-shirt, kemeja berwarna abu-abu, dan celana jeans. Wajahnya yang tanpa ekspresi terlihat seperti patung yang dipahat pemahat Yunani kuno. Tapi, mata, hidung, pipi, mulut, telinga, tangan, kaki, dan tubuhnya hidup.


 Dia jelas-jelas hidup.



“K-kenapa kamu bisa ada di sini?” tanyaku. Aku tersadar kalau aku memakai pakaian terakhirku dari dunia di balik hutan terlarang. Sweater berwarna pink lembut dipadu dengan pakaian overall pendek.

 

“Harusnya aku yang bertanya begitu.”

 

“Ini tempat apa?” tanyaku lagi.

 

Sekarang kunang-kunang mengelilingi kami berdua dan menjadi sumber cahaya selain rembulan. Cahaya kuning temaram berpendar dari para kunang-kunang itu.

 

Dia tak menjawab pertanyaanku.

 

Aku jadi takut. Apakah aku sudah tidak ada? Aku menekuk kedua lututku dan mendekap kedua lututku. Aku tak tahu tempat apa ini. Tenggorokanku tercekat. Lalu, air mataku tumpah. Pandanganku buram. Aku tak bisa menilai wajahnya dengan jelas lagi. Apakah dia baik? Atau jahat?

 

“Berhenti menangis,” ucapnya datar.

 

“Bagaimana bisa? Aku enggak tahu ini tempat apa," aku terisak. Lalu kutatap dirinya, "Dan kenapa kamu bisa melihatku?” tanyaku sambil menghapus air mataku meskipun air mataku belum bisa berhenti mengalir. 

 

Saat pandanganku mulai jernih, aku bisa melihat rerumputan di sekelilingku bergerak seperti ingin membelengguku lagi. Tapi para kunang-kunang itu menahannya.

 

“Kamu manusia, sama seperti diriku, tentu aku bisa melihatmu,” jawabnya datar.

 

“K-kamu menahan rerumputan itu?” tanyaku seraya menunjuk sulur-sulur rerumputan yang berusaha menjamah kaki dan tanganku lagi.

 

“Selama kamu belum bisa melepaskan perasaan burukmu, mereka akan menguburmu lagi.”

 

Aku menarik napas. Jadi karena aku? Aku menangkupkan tangan di depan wajahku dan aku berusaha menghilangkan perasaan negatif itu. Perlahan perasaan itu hilang digantikan dengan kehampaan dan keinginan yang semu...

 

Saat aku menurunkan tanganku, rumput-rumput itu normal kembali seperti rumput pada umumnya.

 

Aku menatapnya. “Bagaimana bisa?” tanyaku.

 

Ia mengangkat bahu. Aku yakin dia sebenarnya tahu jawabannya, tapi ia malas menjawab.

 

“Kamu masih mau hidup?” tanyanya dengan wajah penasaran.

 

“Mungkin.”

 

“Enggak boleh ada kata mungkin. Harus ya atau tidak.” Wajahnya serius. Alisnya hampir bertemu.

 

“Ya…” ucapku dengan suara lirih.

 

“Tapi mereka menganggapmu enggak ada. Masih mau ke sana?” tanyanya tanpa tedeng aling-aling sambil menunjuk hutan terlarang yang tampak berkilo-kilometer jauhnya. 


Aku mengerti yang dimaksud olehnya bukan hutan terlarang itu, tapi dunia yang ada di balik hutan tersebut.

 

“Kamu sendiri? Gimana?!” seruku.

 

“Aku tidak mau.”

 

Aku memperhatikan ekspresi wajahnya yang keras. Entah kenapa aku merasa di balik ucapan ketusnya, ia terlihat kesepian. Sangat kesepian. “Kenapa?” tanyaku.

 

“Karena mereka berharap aku pergi.”

 

“Kenapa?”

 

“Karena mereka beranggapan aku ini cuma beban. Karena kondisiku yang membuat mereka harus mengeluarkan banyak uang. Karena aku tidak bisa seperti anak lainnya!” Rerumputan itu tiba-tiba muncul begitu tinggi seperti ombak berwarna hijau gelap yang ingin memakannya hidup-hidup. 


Sulur-sulur itu seperti mau menarik tangan dan kakinya lalu membenamkan tubuhnya ke dalam tanah. Jika tidak ada para kunang-kunang kecil itu, rumput-rumput itu mungkin sudah menutup mata, hidung, dan mulutnya sampai ia berhenti bernapas.

 

Aku ngeri melihat rerumputan yang mengamuk ganas itu.

 

Detik berikutnya rumput itu normal kembali meskipun setelahnya cowok itu tampak semakin pucat dan bernapas lebih  cepat. 

 

Sorot matanya yang tadinya membara sekarang menatapku sedingin es. Aku melihatnya seperti landak. Berduri tajam tapi aslinya halus.

 

“Tapi kondisi itu bukan salahmu,” ucapku lirih.

 

Cahaya rembulan masih menyinari kami. Angin berembus perlahan membisikan suara-suara yang tak bisa diartikan dengan bahasa manusia. 


Padahal tadi aku sempat mendengar angin itu berbicara padaku dengan bahasa manusia.


“Mereka ingin aku enyah dari muka bumi ini,” ucapnya dengan nada datar—tanpa emosi apapun. Tapi mata cokelatnya tak bisa berbohong. “Jadi enggak ada gunanya kembali.”

 

“Lalu kenapa kamu enggak membiarkan rumput-rumput itu melahapmu?” Itu artinya kamu masih mau hidup. Kamu masih berkata ‘ya’ untuk hidup.

 

“Sebentar lagi aku akan membiarkan mereka untuk memakanku,” katanya. Lalu kusadari beberapa cahaya para kunang-kunang mulai redup.

 

“Terus aku sendirian di sini?” seruku panik.

 

“Bukan urusanku.”

 

“Jangan pergi sebelum katakan bagaimana caranya keluar dari sini!” 

 

Ia tertawa meremehkanku. Baru kali itu aku melihat ekspresi itu di wajahnya selain ekspresi datar. “Enggak ada yang bisa keluar dari sini.”

 

Aku merasa darah menghilang dari wajahku. “Benarkah?”

 

“Aku sudah melihat berbagai macam orang datang dan rumput-rumput itu memakan mereka. Aku melihat mereka perlahan ditelan bumi.”

 

“Tapi kamu masih ada di sini dengan kunang-kunang.”

 

“Ya…” jawabnya lirih. Sebagian besar kunang-kunang itu mulai redup dan berguguran. “Mereka temanku dan mereka bilang kalau mau keluar dari sini, aku harus bilang bersedia pada Kehidupan… dan aku harus siap pada konsekuensi menghadapi dunia lagi.”

 

Aku terdiam. Selama ini aku dianggap seolah tak pernah ada… Apakah aku mau merasakan perasaan itu lagi? Perasaan seolah-olah aku ini hanya hantu tak bernama di antara orang-orang yang kupikir seharusnya menyayangiku? 


“Y-ya, aku bersedia untuk hidup,” ucapku dengan ragu-ragu. Lantas aku menatap kalung huruf L di lehernya. “Boleh aku tahu namamu supaya aku ingat pernah bertemu seseorang di sini?”

 

“Leo.”

 

“Jadi itu arti huruf L di kalungmu. Leo.” Lalu aku menunjukan gelang bertuliskan namaku. Gelang itu terbuat dari manik-manik yang kurangkai sendiri. Lima di antara manik-manik itu adalah huruf yang membentuk namaku. “Seira,” ucapku—menyebutkan namaku.

 

Ia mengernyitkan dahi—tak mengerti. Atau tidak peduli? Atau tidak tertarik?

 

“Maksudku, namaku Seira.”

 

“Seira,” ucapnya menyebut setiap silabel namaku.  

 

Tiba-tiba bumi terasa bergoncang. Aku terkesiap. Lalu aku mendengar suara yang begitu memekakan telinga hingga aku harus menutup telingaku. Suara itu berkata dengan perkataan yang hanya bisa didengar di dalam kepalaku.

 

Kalian sudah bersedia untuk hidup meskipun diucapkan dalam hati bukan dengan mulut.

Kalian juga sudah siap menghadapi konsekuensi kehidupan.

Kalian juga sudah menyebut nama satu sama lain.

Jadi kalian bisa kembali ke dunia normal kalian.

 

Suara itu hilang. Aku melepas tangan dari kedua telingaku dan membuka mataku yang terpejam. Leo juga menurunkan tangan dari telinganya. Ia menatapku dengan mulut terbuka. Sepertinya suara tadi tidak hanya bisa didengar olehku, tetapi juga bisa didengar olehnya…

 

Air mata meleleh di pipinya. Ekspresinya yang sedingin patung seolah mulai mencair.

 

Apakah suara yang ia dengar mengatakan hal yang sama seperti yang kudengar? Karena reaksi kami berbeda. Aku tidak sampai menangis.

 

Tapi satu hal yang pasti, hutan terlarang itu tiba-tiba menjadi dekat seperti hanya sejengkal jaraknya dan ada jalan setapak di tengahnya yang diterangi kunang-kunang.

 


--

 

 

This is the place where all the unwanted beings meet. When one meet each other, they realize they do not feel unwanted anymore.

 

--

 

Fin.

Uncategorized

For Him

Mei 28, 2023


I could spend my days studying your laugh’s melody.


Untuk dia yang berdiri di antara keramaian dengan senyum lebar di wajahnya meskipun aku tahu dia tidak pernah suka keramaian. Untuk dia yang bercerita padaku tentang rahasianya. Untuk dia yang suka menertawakan hal-hal yang receh. Untuk dia… aku ingin mendengar tawamu lagi. I would kill just to be with you and laugh at stupid thing again.

 

Tapi bodohnya aku. Semuanya tidak mungkin terjadi lagi. Selesai. Titik. Tidak ada koma.

 

Jadi hari ini aku menatapmu dari bangku ini. Melihatmu di atas panggung, bermain gitar, menyanyikan lagu yang kamu tulis untuk seseorang yang lebih pantas untukmu. Mungkin sudah jadi takdirku hanya merasakan perasaan yang tidak terbalas.

 

Tapi sejujurnya. I wish I could spend my days again studying your laugh’s melody.  

 

Alternative OC Universe

Unexpected

Mei 26, 2023


 ☀️

Sometimes, I like when 'things' go unexpectedly.


The sudden change of weather that can’t be figured out by the forecast. Arranged plans that suddenly get cancelled for insignificant reason. Waking up late because the book you’re reading in the midnight is so intriguing. Or anything that all at once happens. 


Just like this morning. Perhaps, I got to skip the first class I should be attended.

 

Bus berhenti di halte sekolah. Aku memasukkan buku yang sedang kubaca ke dalam tas selempangku dan berdiri dari tempatku duduk. Kemudian, kami turun tanpa bicara sepatah kata pun.

 

Entah kenapa aku senang bisa bepergian menggunakan transportasi umum. Aku merasa bebas dan tidak perlu terus-terusan merasa diawasi. 


Tapi sepertinya itu masalah bagi kembaranku yang saat ini berjalan terburu-buru di depanku. Baginya, transportasi umum di kota ini sering tidak tepat waktu dan membuat jadwalnya jadi kacau. 

 

Pagi ini, dia terpaksa setuju berangkat sekolah denganku karena sopir yang biasa mengantar kami ke sekolah sakit. Awalnya, kami pergi tepat waktu seperti biasa. Namun, bus yang mengantar kami ke sekolah tiba-tiba mogok di jalurnya. Para penumpang terpaksa harus berpindah bus yang melewati jalur yang sama. 


Itu sebabnya kami sampai di sekolah saat gerbang sekolah sudah ditutup rapat. 


Selama beberapa saat, aku dan dia bergeming di depan gerbang sekolah. Tidak ada siapapun di depan sekolah, termasuk para security yang (mungkin) bisa menolong kami membukakan gerbang.


Syukurlah aku terlambat. Pelajaran pertama matematika. Diam-diam aku bersorak dalam hati. Walau begitu, aku tetap memasang ekspresi datar seraya bersender pada dinding bata yang mengelilingi sekolah kami. 

 

“Ini semua gara-gara kau,” kata Victor sambil menunjuk diriku.  

 

“Kenapa jadi salahku?"


"Jalanmu lambat." Dia menuduhku lambat waktu kami berjalan kaki dari rumah ke halte dekat rumah kami.  


Aku mengernyitkan dahi. "Ini salahmu yang enggak memperhitungkan ada kemungkinan BRT bakal mogok di tengah jalan,” balasku defensif.

 

Dia memutar bola matanya dan membuang muka. 


Cuaca sangat panas. Aku mengikat rambutku yang panjang. Lalu kulihat jam tanganku. Pukul 9 lebih 10 menit. Kami sudah telat lebih dari satu jam karena bel masuk berdering pada pukul 8. 


Matahari bersinar semakin terik. Kakiku mulai pegal dan aku berulang kali menekuk kakiku dengan gelisah. Victor sudah melepas cardigannya sambil berulang kali menghembuskan napas kasar.

 

Kupikir kami sudah yang paling terlambat sampai aku melihat bayang-bayang sosok familiar berjalan mendekati gerbang sekolah. 


Ya ampun. Kukira dia sudah berada di kelas menyimak pelajaran matematika favoritnya. Ternyata dia baru turun dari bus yang mengantarnya ke sekolah.

 

Ia berjalan santai ke arah kami. Tak lama kemudian, dia sampai. Senyumnya merekah ketika melihatku. Mau tidak mau aku membalas senyumannya. Lalu, senyumnya berubah mengejek ketika ia melihat Victor juga berada bersamaku. “Ketua Student Council bisa telat juga?”

 

Shut your mouth,” balas Victor tanpa menoleh ke arah Aiden yang berdiri di sebelahku.

 

“Van, kenapa kamu terjebak di luar sekolah bersama orang sepertinya?” tanya Aiden.

 

“Kebetulan aja.” Aku mengangkat bahu. Victor tidak tahu kalau aku sudah memberitahu rahasia ini kepada Aiden. Rahasia bahwa aku dan Victor adalah anak kembar. 


“Kalian mau sampai kapan di sini? Ayo pergi sebelum Pak Satpam datang,” kata Aiden sambil mulai berjalan menjauhi gerbang sekolahmenyusuri trotoar yang mengelilingi gedung sekolah. 

 

“Maksudmu bolos?” Belum apa-apa, Victor sudah menolak mentah-mentah ide dari Aiden.

 

Aiden mendengus tertawa. “Justru karena aku mau masuk kelas jadi aku lebih memilih masuk lewat pintu belakang.”

 

Betul juga. Daripada masuk lewat pintu depan yang berisiko ketahuan guru, aku lebih memilih masuk lewat pintu belakang. Tapi, setahu aku pintu belakang juga dijaga oleh security. "Bukannya pintu belakang juga dijaga ketat?" 


"Aku tahu pintu yang lain," jawab Aiden.


Aku pun mempercepat langkahku menyusul Aiden. Ketika menoleh ke belakang, kulihat kembaranku juga berjalan mengikuti kami. Dia berjalan dengan wajah kesal. Lalu, aku tersadar kalau warna rambutnya benar-benar cerminan warna rambutku. Warna merah tembaga itu tampak makin jelas di bawah sinar matahari.

 

Bagaimana orang tidak sadar kalau kami ini kembar?

 

Atau karena warna mata kami yang berbeda maka orang-orang tidak menyadarinya?

 

Aku kembali menatap ke depan. Tak lama kemudian, kami berbelok dari pinggir jalan raya ke jalan perumahan yang sepi. Di sekitar sekolah memang ada perumahan yang selalu terlihat sepi. 


Mungkin kebanyakan rumah itu sudah banyak dijual atau ditinggalkan penghuninya. Beberapa rumah tampak tidak terawat. Pohon-pohon tumbuh subur di depan pekarangannya. 


Selain tumbuh di halaman rumah terbengkalai itu, pepohonan besar juga menghiasi pinggir jalan. Kami pun terus berjalan di bawah teduhnya pohon.



Lalu kami berbelok lagi ke jalan yang lebih sempit. Sepanjang jalan sempit ini, terdapat semak belukar. Jalan ini terlihat tidak meyakinkan tapi dinding di samping jalan itu jelas bagian dari tembok sekolah. Beberapa saat kemudian, Aiden berhenti melangkah lalu menunjuk ke sebuah pintu yang bersender pada tembok. Pintu yang terbuat dari kayu itu seolah hanya ditaruh sembarang untuk menutupi sesuatu.


Baru kali ini aku melihat ada pintu itu di belakang sekolah. 


(Celah yang jadi pintu belakang sekolah illustrated by me)
 

Aku menduga pintu itu menutupi jalan masuk ke area sekolah. Dugaanku tepat. 


Aiden menggeser pintu kayu itu ke samping. Di baliknya, ada celah yang bisa dilewati satu orang dewasa dengan membungkuk atau merangkak. Tinggi celah itu tidak sampai satu meter dan bentuknya seperti retakan, seolah-olah ada yang menghancurkan batu bata yang menyusunnya. Atau mungkin ada seseorang yang sengaja menghancurkan bagian tembok itu dan mencuri batu bata tersebut… tapi kenapa cuma sedikit yang diambil?

 

“Nah, ayo masuk," kata Aiden dengan gerakan tangan mempersilakan kami untuk masuk ke celah itu.

 

"Dari mana kamu tau pintu ini?" tanyaku penasaran. 


Ia menyeringai lebar.


Aku hanya menggelengkan kepalaku sambil tersenyum kepadanya. “Kalau aku tahu pintu yang ini, aku enggak perlu khawatir telat lagi.”


Lalu, kuperhatikan celah itu. Aku harus merangkak masuk untuk melewatinya seperti Coraline yang merangkak masuk ke terowongan menuju dunia kancing. Bedanya, kalau kami masuk ke situ, kami akan sampai di kebun belakang sekolah. 

 

Aku pun berjongkok dan mulai merangkak memasuki celah itu. Begitu melewati celah itu, aku langsung disambut rerumputan dan tanaman hortikultura. Kebun belakang sekolah memang menjadi tempat murid-murid belajar biologi ataupun belajar menanam. 


Sepertinya tidak ada kelas yang punya jadwal belajar biologi di kebun itu. 

 

Lalu, aku beranjak berdiri seraya menepuk-nepuk lututku dari noda tanah dan rumput.

 

Kemudian, Aiden masuk melewati celah itu. Ia segera berdiri dan membersihkan rumput yang menempel di celana seragamnya.

 

“Kenapa enggak bawa motor hari ini?” tanyaku.

 

“Devan kan udah berangkat duluan.”

 

“Oh iya. Aku lupa sepupumu juga sekolah di sini,” kataku. Aku tahu Aiden tinggal di rumah keluarga besarnya dan biasanya berangkat sekolah bersama sepupunya. 

 

Berikutnya, Victor merangkak melalui celah itu. Begitu melewati celah itu, tiba-tiba ia jatuh terduduk di atas rerumputan yang ada di kebun belakang sekolah. Ia berteriak karena ada belalang sembah hinggap di tangannya. Ia langsung mengibaskan tangannya dengan panik. Namun, belalang itu menempel erat di jarinya. 


“VANYAA!!” teriaknya refleks seperti yang biasa sudah sering ia lakukan sejak kami kecil. (Dia sangat membenci serangga dan selalu meminta tolong kepadaku untuk menyingkirkan serangga).

 

Aku menghela napas. Lalu kuambil belalang mungil itu dari tangannya dan kubebaskan belalang itu di dedaunan pohon jeruk yang berada di dekatku.

 

“Kenapa kamu enggak bilang ada belalang di situ?” gerutunya seraya beranjak berdiri. Ia menyingkirkan daun yang jatuh di rambutnya. Rambutnya jadi terlihat berantakan. 

 

“Ya, aku kan enggak lihat!” balasku.


"Lain kali kita enggak perlu berangkat bareng lagi naik bus."


"Huh! Siapa juga yang mau berangkat bareng?"

 

Samar-samar aku mendengar Aiden menahan tawa dengan susah payah.

 

OH. Aku sampai lupa kalau dia ada di antara kami.

 

“Pffftt. Kalian memang betulan anak kembar ya?” kata Aiden sambil tertawa renyah.

 

Victor langsung menatapku garang dengan arti tatapan kenapa-kamu-bilang-soal-itu?! Tapi detik berikutnya ia menatap Aiden kalem. “Sekarang udah tahu kan? Bisa tutup mulut soal ini?” ucapnya dengan tenang tapi penuh penekanan pada setiap kata. 

 

Aiden menghentikan tawanya. “Aku enggak tertarik buat membeberkan rahasia kalian berdua.”

 

Aku tersadar kalau tinggi mereka hampir sama. Aiden lebih tinggi sedikit. 


“Udah hey. Sebentar lagi jam istirahat. Mending kita langsung ke kelas selagi guru enggak ada di kelas,” kataku menyela pembicaraan mereka. Lalu aku merasa Victor menatapku dengan maksud tertentu. “Iya, Vic. Aku tau peraturannya. Selama berada di wilayah sekolah, kita orang asing.”  

 

Bel istirahat berbunyi dengan nyaring.

 

Kami bertiga pun berjalan menyusuri jalan setapak yang menghubungkan kebun sekolah dengan gedung sekolah. Setelah sampai di koridor—tanpa bicara apapun lagi—kami berjalan berlawanan arah.


Dia menuju ruang kelasnya yang berada di lantai dua—tempat ruang kelas 11 berada. Sementara, aku dan Aiden berjalan menyusuri koridor lantai satu—menuju ruang kelas kami di deretan ruang kelas 10.

 

Dengan mudah, kami membaur di antara murid-murid yang berjalan menuju cafetaria sekolah. Pagi yang aneh. Begitu masuk ke dalam kelas, aku langsung menduduki bangku kosong yang tersisa di belakang. 


Lantas aku meluruskan kakiku yang pegal. Jam istirahat masih ada 15 menit lagi, aku masih bisa lanjut membaca bukuku. Aku mengambil buku yang sedang kubaca dari dalam tas selempangku (buku ‘Ras, Kuasa, dan Kekerasan Kolonial di Hindia Belanda’ yang waktu itu ketumpahan air oleh Aiden).

 

Aku mencoba membaca. 


Tapi—anehnya—tidak ada satu katapun yang masuk ke dalam benakku.  

 

Setelah sekian lama, baru kali ini aku bisa menghabiskan waktu selama itu dengan saudara kembarku hanya karena kami terlambat masuk sekolah. Selama ini, kami selalu berusaha menghindar meskipun tinggal di rumah yang sama. Kami hanya bersama kalau ada event keluarga yang membuat kami sekeluarga harus datang. 


Dari kecil, dia selalu tepat waktu. This might be his first time to come this late to school.

 

Aku mengenyahkan pikiranku tentang Victor. Aku mengamati ruang kelasku yang cukup sepi. Hanya ada beberapa murid yang tetap di kelas selama jam istirahat—termasuk Aiden yang kali ini dapat undian nomor kursi di depanku. “Van, mau temenin aku ke cafetaria?”

 

Aku pura-pura membaca bukuku.

 

“Aku traktir tuna sandwich,” katanya.

 

Aku langsung menutup bukuku dan berjalan di sampingnya menuju cafetaria sekolah. 


Suasana cafetaria saat itu sangat ramai dan entah kenapa aku melihatnya lagi. Tas ranselnya masih ia bawa. Apa dia sedang pamer kalau dia datang terlambat?


Hah, kalaupun dia ketahuan terlambat, dia bisa membuat alasan hari ini dia dapat dispensasi mengikuti lomba atau apalah. 


Teman-temannya sibuk mengobrol dengannya. Ia kelihatan sangat ramah—sangat berbeda dengan beberapa menit yang lalu saat belalang menempel di jarinya. Aku memperhatikannya dari kejauhan sementara Aiden membeli sandwich yang ia janjikan buatku.

 

Sial. Kenapa tadi sempat terlintas rasa khawatir di kepalaku?

 

Aku membuang mukaku saat kurasa dia menyadari kalau tatapanku dari tadi terarah kepadanya.

 

I am aware we are never born for each other. And, I always think ‘he’ and ‘I’ are like opposite compass needle. He is the North. I am the South.

 

--

 

But after all, there’s blood running between us.

 

 

--

 

Fin