Lost Interest At Everything

Maret 21, 2021

 Is it normal to have no interest at everything anymore? I’ve been lack interest at everything right now. I am still doing my duties or things I have to do. But, I am just having no interest to like something.

 

Apakah normal kalau aku terus-menerus punya perasaan seperti ini? Kadang rasanya kayak jadi daging yang dikasih nyawa karena engga punya interest apa pun. Rasanya kayak ngejalanin pesawat mode auto-pilot. Badanku gerak sendirinya secara normal, lalu aku diam di dalam pikiranku atau kadang aku berkelana jauh dari badanku.

 

Aku masih berinteraksi dengan orang-orang—dengerin ucapan mereka, menanggapi secarawa wajar, bertingkah layaknya manusia normal—tapi aku engga ada di dalam tubuhku. Aku engga tau di mana, melayang jauh, melihat diriku yang bergerak seperti biasanya.

 

Kedengeran kayak orang gila ya? Engga juga sih. Aku masih waras kok. Aku masih bisa berpikir rasional walau kadang emang banyak pikiran irasional hilir mudik di kepalaku. Tapi itu biasa aja. Aku masih bisa berfungsi layaknya manusia normal—cuma engga punya perasaan aja.

 

Mungkin penyebabnya aku terlalu banyak menekan keinginanku buat berbicara atau memiliki sesuatu sampai akhirnya perasaanku mati perlahan-lahan. Aku sering berhenti berbicara di tengah ucapanku karena tiba-tiba otakku bilang, “Berhenti bicara. Ucapanmu engga penting.” Aku langsung diam dan buat keadaan di sekitarku canggung.

 

Satu-satunya media aku bisa berekspresi cuma lewat tulisan. Untungnya, aku masih bisa menulis buat menuangkan pikiranku. Aku masih bisa senyum dan ketawa walaupun rasanya senyum dan ketawaku terasa otomatis karena aku butuh bereaksi pada orang yang berinteraksi denganku.

 

Aku engga jadi palsu. Bukan itu. Aku cuma lagi dalam mode auto-pilot. Sekarang, aku memang kehilangan minat pada banyak hal. Aku lagi engga pengen nge-hype apa pun saat ini, lagi engga pengen ngerasain excited. Walaupun kadang aku pengen ngerasain hidup yang bener-bener hidup... Aku keseringan menahan perasaan itu, sampai akhirnya aku engga punya minat lagi buat ngerasain excited atau seneng nge-hype sesuatu.

 

Walaupun aku lagi engga bisa ngerasain apa pun, aku berterima kasih ke kemampuan maladaptive daydreaming-ku. Aku bisa ngebayangin hal-hal yang bikin aku seneng atau aku bisa manipulasi pikiranku sendiri biar punya kenangan yang bikin aku seneng. Kadang di tempatku PKL, aku sering pas lagi melakukan sesuatu, aku melihat hal yang berbeda dari kenyataan. Aku bikin alternative universe-ku sendiri di mana aku bikin tokoh-tokoh buatanku sendiri dan ngebayangin setiap scene-nya. Berkat dunia paralel-ku itu, aku bisa terdorong buat melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan orang normal.

 

Jadi, begitulah. Sekian. Aku juga engga tau aku ngomong apa. Aku lagi berusaha membangkitkan minat aja karena sebetulnya aku capek ketika lost interest pada apapun.

 

Note For Myself

Maret 17, 2021


As you can see, I haven't edited my blog for such a long time. I think I have to remove the popular post widget because it's kinda cringe to see my ancient post being there. So, I just want to update my lay out blog but I still haven't got any ideas about the design because currently there are too many things in my head. 

Yes, I have always too many ideas when I am busy. 

Oh anyway, I also never edited my About Me page and I'm still written as high schooler there (lmao). After years, I just realize I never re-write my profile page. 

That's another note for me. This is the list I have to edit:

  1. My lay out blog (maybe I will also change the theme)
  2. My "About Me" page

FYI, right now I am a senior year college student and currently writing my thesis. While writing my thesis, I also get many ideas to write fic... Perhaps my brain is so active so that it produces many ideas. 

So, yeah. I think that's all I want to say here. Enjoy reading my blog! 




Lain Kali

Maret 13, 2021

 Lain Kali




 

Matahari mulai tenggelam di ujung Barat. Cahayanya yang berwarna oranye berpendar menghiasi langit. Suasana pantai sore itu cukup sunyi karena hari itu bukan akhir minggu. Suara ombak menjadi satu-satunya pemecah keheningan di antara mereka berdua.

 

“Makasih ya udah ngajak kabur ke pantai,” ucap perempuan itu sambil melangkah dengan riang di atas pasir dengan kaki telanjang. Namanya Nala—pecinta laut sejak kecil.

 

Laki-laki yang berdiri tak jauh darinya tersenyum memperhatikan perempuan itu. “Hati-hati kena ombak,” serunya dan benar saja gelombang ombak datang mengenai kaki Nala.

 

Perempuan itu tersenyum. Ia sudah lama tidak pergi ke laut dan ia sangat rindu pada ombak. Entah sudah berapa tahun sejak ia bertemu laut. Semenjak kuliah, ia tidak pernah lagi bepergian karena banyak hal menyita perhatiannya. Kuliah, organisasi, masalah keluarga. Ia sudah lama tak pernah pergi melihat dunia. Beberapa saat kemudian, Nala menoleh ke arah Joe—nama laki-laki yang sedang berdiri memperhatikannya. “Kenapa Joe?” tanyanya sambil berjalan mendekat. Ia terlalu tenggelam dalam pikirannya sampai lupa kalau ada seseorang di dekatnya.

 

“Enggak apa-apa, cuma lagi menikmati suasana aja,” jawab Joe sembari tersenyum. Ia memang sedang memperhatikan ombak yang datang silih berganti tapi sebenarnya ia juga beberapa kali memandang Nala. “Sepertinya kita harus lebih sering kabur.”

 

Nala tertawa renyah. Ia suka ide itu. “Lain kali kita kabur lagi ya.”

 

Sore itu mereka habiskan di pinggir pantai. Sejenak, mereka melupakan sedikit masalah mereka. Mereka mengobrol tentang banyak hal, membicarakan tentang masalah kuliah, pekerjaan, dan segala hal yang dirasa perlu mereka update setelah berminggu-minggu tidak bertemu. Joe memang akhir-akhir ini sibuk dengan pekerjaannya, tapi bertemu dengan teman masa kecilnya selalu jadi penghiburan tersendiri baginya. Ia sangat sayang pada sahabatnya itu.

 

Kenangan sore itu terus melekat di ingatan Nala. Di dalam dunia kecilnya, ia sering mengulang setiap adegan dari kenangan itu. Saat ia sedih, bahagia, atau tidak merasakan apa pun, ia selalu teringat sore itu karena setelah sore itu tidak pernah ada yang namanya lain kali.  

 

Terinspirasi oleh lagu Mondo Gascaro – Dan Bila…


How To Deal With Loneliness?

Maret 11, 2021

 How to deal with loneliness?




 

This question has been around my mind these days. Setiap orang pasti pernah merasa kesepian dalam kehidupannya. Tetapi, setiap orang juga pasti punya solusinya masing-masing. Entah itu ketemu teman, chattingan sama seseorang, telponan sama keluarga, ikut sebuah komunitas hobi, atau cari teman di media sosial.

 

Yah, aku tahu that’s how to deal with loneliness.

 

But I can’t do that because I have trust issues. I am scared to annoy people if I talk to them. I worry I will interrupt their day. I can’t start a conversation in phone call or even in chat. I am also awkward when talking with someone in real life. I never share about what inside myself.

 

Aku sering berpikir, mungkin itu juga sebabnya aku belum pernah terlibat dalam relationship. Aku terlalu tertutup dan aku engga pernah membuka hatiku buat siapa pun. Aku juga selalu menutupi perasaanku dan semakin dewasa aku jadi kurang ekspresif.

 

Rasanya terlalu sulit untuk membuka perasaan karena aku terlalu takut bagaimana kalau orang lain engga bisa menerimaku sepenuhnya?

 

I know. In the end of the day, it’s better to be alone.

 

 

Opini

Sampai Kapan Anak-Anak Tidak Menyentuh Pendidikan?

Januari 13, 2021

Sampai kapan anak-anak tidak menyentuh pendidikan?

 

Pandemi sudah berlangsung selama hampir setahun tapi belum juga memberikan tanda-tanda akan segera berakhir. Pertanyaan itu muncul di benakku setelah sehari-hari memperhatikan adik-adikku yang masih duduk di bangku SD dan SMP. Mereka adalah sampel dari anak-anak yang seharusnya belajar di sekolah menjadi harus belajar di rumah. Iya, katanya belajar di rumah atau pembelajaran jarak jauh. Tapi apa benar mereka mereka belajar di rumah?

 

Sayangnya, tidak semua anak mampu belajar di rumah. Ini berdasarkan pengamatan dan pengalamanku. Perlu digarisbawahi bahwa tulisan ini adalah pendapat pribadi yang subjektif. Berdasarkan apa yang aku lihat, tidak semua anak memiliki rumah yang mendukung untuk belajar di rumah.

 

Sebagai seseorang yang memiliki dua adik yang keduanya masih duduk di bangku SD dan SMP, aku melihat kenyataan yang berbeda dari ekspektasi yang dikatakan orang-orang tentang belajar di rumah.

 

Adikku yang masih SD setiap hari harus membantu orang tuaku menjaga depot air karena ayahku memang memiliki usaha air isi ulang. Belajar? Aku jarang melihat adikku belajar dan itu membuat hatiku miris karena aku pribadi sedari kecil selalu dimanjakan dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Aku tahu karakter setiap anak berbeda-beda dan aku tidak bisa serta-merta membandingkan diriku dengan adikku. Tapi aku tetap merasa sedih karena melihat adikku setiap hari disuruh ini-itu yang tidak berkaitan dengan belajar.

 

Lain ceritanya dengan adikku yang masih SMP. Sering kali aku mengintip handphone-nya yang lebih canggih dari handphone-ku. Ada absen kelas, tapi adikku masih tidur. Sudah kubangunkan berkali-kali, tidak bangun juga. Kadang temannya sampai menghubungiku untuk memberitahu kalau ada kelas luring hari ini, tapi adikku masih tidur. Bangunnya siang terus karena tidak pernah berangkat sekolah lagi sejak Maret. (Dia biasanya bangun subuh lalu tidur lagi).

 

Hadeeeh…

 

Capek deh. Aku udah cukup pusing dengan kuliahku tanpa harus ditambah dengan memikirkan adik-adik. (Maaf aku kedengaran egois). Aku juga sedang berjuang memahami materi kuliah dengan membaca buku pdf, membaca presentasi, menyimak video pembelajaran, dan mencatat. Terkadang aku juga ingin punya buku materi kuliah tapi kupikir pengeluaran ayahku udah terlalu banyak. Jadi—apa boleh buat—aku baca aja buku pdf ini.

 

Kembali lagi ke masalah awal. Pertanyaan itu terus muncul di benakku—dan mungkin di benak orang-orang tua. Kapan anak-anak yang duduk di bangku SD dan SMP bisa bersekolah lagi? Kadang aku merasa seperti adik-adikku tidak sekolah sama sekali. Pagi-pagi adik yang paling kecil beres-beres rumah, menjaga usaha milik ayah, dan bukannya memegang buku. Kalaupun dia sedang pegang handphone, isinya main game terus.

 

Anyway, aku pun juga bantu beres-beres rumah. Jangan salah kira.

 

Kadang aku merasa kasihan ketika adikku dimarahi karena ia menulis dengan lambat. This is not his fault. Dia sekarang jarang menulis. Ya tolong dimaklumi kalau ia menulis dengan lambat. Lagipula, bagaimana adikku mau belajar kalau dia selalu disuruh ini dan itu yang tidak ada kaitannya dengan belajar?

 

Okelah, pelajaran kehidupan lebih penting. Iya, aku tau. Seperti membereskan rumah, membantu orang tua. Tapi apakah itu harus dipikirkan oleh anak usia 10 tahun?

 

Aku seringkali tidak setuju dengan anak yang dari kecil sudah diarahkan untuk menjadi seorang money-oriented. Seolah-olah hidup hanya untuk bekerja. Padahal kan tidak. Hidup lebih bermakna daripada sekadar mencari makan. Tapi, seringkali aku melihat adik-adikku dididik seperti itu oleh ayahku. Aku tahu keadaannya berbeda. Waktu masih kecil, aku tidak pernah berpikir tentang uang karena waktu itu segalanya sedang baik-baik saja. Tapi keadaan adikku berbeda dengan diriku yang waktu masih kecil.

 

Saat ini, aku tidak punya kendali atas adikku yang masih SD. Beberapa kali aku berusaha menasihati adikku tentang pentingnya belajar, atau sekadar mengingatkan untuk membuka buku, tapi dia abai dan justru semakin bertingkah macam-macam.

 

Hal itu cukup melatih kesabaranku.

 

Aku tidak tahu bagaimana keadaan anak-anak lain seumuran adikku yang berada di lingkunganku. Tapi menurut perkiraanku, mereka juga mengalami hal yang sama. Di desa kecil ini, tidak semua orang punya kesadaran akan pentingnya belajar atau sekadar membuka buku.

 

Kadang kalau adikku punya PR, mereka biasanya hanya menyuruhku mengerjakannya. Adikku yang duduk di bangku SMP juga begitu. Selama pandemi, dia lebih sering menghabiskan waktu menonton youtube, bermain game. Boro-boro baca buku. PR pun dia selalu menyontek temannya. Walau begitu, sesekali dia pergi latihan karate. At least, adikku yang satu masih punya kegiatan yang bisa memotivasinya buat bergerak.

 

Sekarang aku tidak tahu harus bagaimana. Tidak semua orang tua bisa mendidik anaknya di rumah. Tidak semua orang tua bisa menghomeschoolingkan anak mereka. Tidak semua orang tua mau mengontrol anaknya belajar.

 

Sekarang memang zaman “moderen”. Ada aplikasi belajar seperti ruang guru, zenius, atau lainnya. Tapi tidak semua anak bisa duduk diam di depan handphone mereka menyimak pembelajaran. Juga, tidak semua orang tua paham dan mampu membayar biaya langganan aplikasi belajar itu.

 

Untungnya di rumahku ada fasilitas wifi. Aku sangat bersyukur akan hal itu. Aku memakainya untuk kuliah online dan lain sebagainya. Tapi adik-adikku menggunakan wifi untuk bermain game dan menonton youtube aja.

 

Aku cuma agak kasihan sama anak-anak itu. Enggak belajar. Enggak membaca buku. Minat baca mereka turun jelas jadi turun rendah sekali. Lalu, bagaimana selanjutnya? Mau sampai kapan?

 

Sudah 11 bulan mereka tak duduk di bangku sekolah. Apa kabar pendidikan mereka?

 

     Pendapat Pribadi Seseorang yang Tidak Tahan Melihat Adik-Adiknya Tidak Belajar