Chapter 2
Langit terlihat mendung selama perjalanan panjang itu. Terkadang
cerah menunjukkan seberkas sinar mmatahari. Namun, lebih sering mendung dan
hujan. Aiden memilih tidur di jok belakang bersama barang-barangnya yang
menumpuk di segala penjuru mobil.
Kali ini ia terbangun karena mobil berguncang begitu
keras sampai punggungnya terasa sakit. Padahal ia sudah merasa pegal dengan
seluruh perjalanan panjang ini.
“Ada apa?” tanyanya pada sopir—yang menjadi
satu-satunya orang selain dirinya di dalam mobil tua itu—ketika mobil berhenti.
Ia beranjak bangun. Rambut curly-nya terlihat acak-acakan setelah tidak
disisir selama perjalanan.
Waktu menunjukkan pukul 5 sore dan mereka berhenti di
tengah-tengah sawah. Tidak ada rumah dekat situ yang bisa memberi pertolongan.
Pak Radi yang menjadi sopir mobil itu kelihatan gugup karena mobilnya sudah
berkali-kali distarter tidak menyala juga. “Mogok, Mas.”

