OC Universe

Lost [CHAPTER 2]

Desember 18, 2022

 Chapter 2

Langit terlihat mendung selama perjalanan panjang itu. Terkadang cerah menunjukkan seberkas sinar mmatahari. Namun, lebih sering mendung dan hujan. Aiden memilih tidur di jok belakang bersama barang-barangnya yang menumpuk di segala penjuru mobil.

Kali ini ia terbangun karena mobil berguncang begitu keras sampai punggungnya terasa sakit. Padahal ia sudah merasa pegal dengan seluruh perjalanan panjang ini.

“Ada apa?” tanyanya pada sopir—yang menjadi satu-satunya orang selain dirinya di dalam mobil tua itu—ketika mobil berhenti. Ia beranjak bangun. Rambut curly-nya terlihat acak-acakan setelah tidak disisir selama perjalanan.

Waktu menunjukkan pukul 5 sore dan mereka berhenti di tengah-tengah sawah. Tidak ada rumah dekat situ yang bisa memberi pertolongan. Pak Radi yang menjadi sopir mobil itu kelihatan gugup karena mobilnya sudah berkali-kali distarter tidak menyala juga. “Mogok, Mas.”

OC Universe

Lost [CHAPTER 1]

Desember 18, 2022

Disclaimer:
Tulisan ini sebenernya baru berupa draft dan belum kubaca ulang karena belum selesai. Judulnya juga belum aku tentuin. But I still wanna put it here.  

--------------------------------

 

Chapter 1

Segalanya mulai terasa aneh ketika keheningan muncul di benaknya. Hening yang membuatnya tidak mendengar lagi suara apapun yang ada di sekitarnya. Kedua matanya menatap papan tulis yang menampakkan materi hari itu. Ia memahami setiap angka dan huruf yang tertulis di sana. Tangan kirinya menopang dagunya. Sementara tangan kanannya sibuk memutar pena yang dari tadi ia gunakan untuk menulis.

Ia tidak lagi mendengar suara guru yang sedang menjelaskan di depan kelas itu. Bukan. Bukan karena ia tuli. Rasanya seperti tenggelam dalam lamunan. Lamunan yang lebih dalam hingga membuatnya merasa terlepas dari tubuhnya. Hanya tangan kanannya yang terus bergerak memutar pena yang meyakinkannya kalau ia sedang duduk di dalam kelas fisika yang membuat semua orang mengantuk di jam menjelang makan siang.

Original Story

Feeling Like Ghost

Juli 31, 2022

 

She was alive but feeling like a ghost. Watching people from the window on her mind. Thinking about why she was there. Wondering if she was away. Longing about a place she never lived before.


**


Malam itu dingin. Hanya ada kami berdua di atas atap gedung itu. Gedung yang menjadi tempat tinggal kami selama berada di kota ini. Entah sudah berapa kali kami duduk di atas sini—melihat jalan raya yang tak pernah sepi. Mobil terus berlalu lalang di bawah sana. Dari ketinggian gedung 15 lantai, mobil-mobil itu terlihat kecil.


“Leo, pernah engga kepikiran jadi hantu?” tanyaku tiba-tiba sambil menatap ke bawah. Tanganku terjulur dan dagu tersandar pada pinggiran tembok. Sebetulnya tempat ini sama sekali tidak aman. Tempat ini bukan seharusnya dikunjungi oleh manusia.


Leo—cowok yang sudah jadi temanku sejak kami sama-sama berusia 15 tahun—termenung sejenak. Ia juga duduk di sampingku sambil melihat ke bawah dengan jari memegang sebatang rokok. “Lo jangan mikir yang aneh-aneh.”


Aku mendengus tertawa. “Bukan itu maksudku.” Sepertinya malah dia yang berpikiran aneh-aneh.  I don’t want to suicide. Aku sudah lama mengubur perasaan itu karena tidak ada efeknya lagi bagiku. Mati dengan sengaja bukan pilihan yang tepat untuk mengakhiri hidup. “Kamu pernah merasa ada tapi juga merasa engga ada?”


Being ignored?” Leo menoleh ke arahku. Aku bisa merasakan tatapannya mengarah pada kepalaku.


More than that. It’s like… people doesn’t event realize you exist between them.”


Does it mean… you want to get noticed?


Aku menghela napas lalu menoleh ke arahnya. “Bukan gitu. Ah sudahlah.”


**

My Stories

Riam Kanan

Juli 18, 2022

Halooo, hari ini aku bakal cerita tentang pengalamanku pergi ke Waduk Riam Kanan. Aku pergi ke tempat ini bareng orang-orang sebidang dari kantor. Acara jalan-jalan ini sebenarnya ada tujuannya yaitu perpisahan salah satu pegawai yang akan pindah.

 

Perjalanan dimulai dari kantor. Tiga mobil berangkat dari Kota Banjarbaru. Jaraknya dari Banjarbaru, engga terlalu jauh. Kalau dilihat di google maps, jaraknya sekitar 28 km. Perjalanan memakan waktu satu jam. Sekitar pukul 9, kami sampai di pinggir waduk itu.

 

Sebenernya aku masih agak bingung Riam Kanan ini waduk atau danau, soalnya kalau di google Riam Kanan ini waduk. Tapi kalau dilihat aslinya, lebih mirip danau karena luas banget dan di tengahnya ada banyak pulau-pulau kecil. Tujuan kami ke salah satu pulau yang ada di tengah danau itu, yaitu Pulau Pinus. Buat ke pulau kecil itu, kami harus naik kapal.

 

Pukul setengah sepuluh, kami semua naik dua kapal. Kapalnya model lesehan gitu dan mesinnya berisik banget. Aku sempat foto-foto di ujung kapal, habis itu aku duduk-duduk sambil ngeliatin Waduk Riam Kanan yang luas. Hmmm gatau kenapa jadi kangen laut kalau lihat air yang luas kayak gini… Tapi di Kalsel, jauh kalau mau ke pantai yang bagus. Di sini adanya sungai dan danau.

 

Kapal melaju selama 30 menit. Engga lama kemudian, kami sampai di Pulau Pinus. Sesuai namanya, pulau itu dipenuhi pohon pinus yang tinggi-tinggi. Aku sama temen-temen yang seangkatan langsung jalan-jalan di pulau kecil itu dan berfoto-foto. Sementara bapak-bapak dan kakak-kakak senior duduk-duduk di salah satu tempat semacam panggung. Suasananya adem walaupun cuaca panas karena ada pohon pinus yang rimbun.

 

Setelah puas foto-foto, waktunya makan siang. Kayaknya perjalanan ini tujuannya cuma buat foto-foto aja. Tapi pemandangannya emang indah banget, jadi sayang kalau engga diabadikan. Setelah makan siang, kami beres-beres panggung itu karena ada rombongan yang mau pakai lagi. Terus kami semua bersih-bersih sampah yang ada di Pulau Pinus itu.

 

Nah, udah beres bersih-bersih, kami nyebrang naik jembatan kayu ke bukit yang aku lupa namanya. Di situ ada pedesaan kecil. Sebenarnya di bukit itu ada yang lebih tinggi lagi dan bisa kelihatan semua pulau yang ada di Riam Kanan, tapi jaraknya 30 menit jalan kaki. Jadi aku naik tangga yang deket aja buat lihat pemandangan danau dari atas dan aku dapet foto ini.

 


Setelah puas jalan-jalan di desa dan menikmati pemandangan, turun lagi dan balik ke Pulau Pinus buat minum es. Aku beli pop es dan menikmati kesejukan pohon pinus. Sekitar pukul 12.20, kami balik ke kapal buat pulang. Selama kapal berlayar, aku cuma duduk-duduk aja menikmati keindahan danau sampai aku hampir tertidur karena enak banget ada di atas kapal kecil sambil kena angin semilir ditambah pemandangan yang indah.

 

Pukul 13.00, sampai lagi di tempat awal. Oh iya aku sampai lupa ngasih tau kalau Riam Kanan ini ada di Aranio. Kalau naik ke atas lagi, ada tempat namanya Matang Kaladan. Tempat itu udah pernah dikunjungi temen-temen seangkatanku waktu libur lebaran kemarin—tapi aku belom pernah ke situ hehe.

 

Kami pun kembali ke Banjarbaru. Pukul 13.50, kami sampai di kantor. Kenapa ya kalau pulang tuh rasanya jadi lebih cepat? Apa karena kita udah engga penasaran lagi sama tempat yang mau kita tuju, atau cuma sugesti dari pikiran kita aja?

 

Okeee pokoknya gitu aja cerita singkatku jalan-jalan ke Riam Kanan. Kesimpulannya, danaunya cantik banget. Airnya hijau jernih dan luaas. Tempat ini bisa jadi rekomendasi buat yang mau jalan-jalan lihat keindahan alam di Kalimantan Selatan karena enggak terlalu jauh dari Ibukota Provinsi.

 

Sekian. Terima kasih sudah menyimak!

 

After Five Years

Mei 15, 2022

Pemandangan Kapal-Kapal di Pelabuhan Parepare

Setelah lima tahun engga pulang ke Parepare, akhirnya aku bisa pulang juga di tahun 2022. Terakhir kali aku pulang ke sana itu tahun 2017. Udah lama juga ya? Sampai-sampai aku lupa Makassar-Parepare itu berapa jam. Ternyata bisa ditempuh 2 jam kalau perjalanan lancar (kalau macet bisa sampe 4 jam sih).

 

Aku emang bukan dilahirkan di Parepare, bukan pula dibesarkan di kota itu, tapi aku paling merasa di rumah kalau aku lagi di Parepare. I feel so home and I feel like I was belong there.

 

Lima tahun engga bertemu kota itu, banyak yang berubah, tapi banyak juga yang tetap sama. Suasana rumah itu tetap sama... selalu bikin aku nyaman. Entah kapan terakhir kali aku merasa senyaman itu. Rasanya bersyukur banget, begitu kakiku sampai di depan pintu rumah, Nenekku langsung menyambut dan memelukku. Aku sendiri udah lupa kapan terakhir dipeluk seperti itu… Selama aku tinggal di Jawa, no one ever hugged me.  

 

Lalu, aku masuk ke ruang tengah dan finally bertemu Ibuku setelah 4 tahun. Terharuuu banget. Panjang banget perjalanan buat bisa ketemu Ibu lagi. After a long time, I am home. Terakhir kali aku ketemu Ibu itu waktu aku masih kuliah semester 1 di Bintaro tahun 2018. Ternyata udah lama juga… tau-tau ketemu lagi sama Ibu, anaknya alhamdulillah udah lulus kuliah. Time flies so fast.

 

Di hari itu juga, aku ketemu tante-tanteku yang juga udah lama engga ketemu. Aku ketemu Kakekku juga, agak maleman, karena pas aku sampai Kakekku masih di masjid. Aku juga ketemu Om-ku. Jujur aja, aku engga pernah dipeluk sebanyak itu selama lima tahun and it feels nice. Ternyata rasanya dipeluk senyaman itu ya. 

 

Kurang lebih di Parepare selama 7 hari karena 3 hari sisanya aku di Makassar.

 

Lima tahun engga ketemu dan sekalinya ada waktu, cuma diberi waktu satu minggu.


But it’s okay, because that’s just the way life works. Sometimes hellos are shorter than goodbye.

 

Kangen? Banget. Jujur aja kangennya belum dibayar tuntas. Masih pengen bisa ngerasain masakan Ibu. Masih pengen bisa ketemu keluargaku di sana. Katanya rindu harus dibayar tuntas, tapi kalau ini rindu harus dibayar mencicil. 

 

Walau begitu, aku tetap bersyukur banget. Dan bahagia bisa ngerasain berkumpul bersama keluarga di Parepare. Kangennya terobati.

 

Sometimes it’s kinda hurt waktu aku berpikir aku melewati lima tahun tanpa pulang. Kayak kemana aja aku selama ini??? Yah tapi mau gimana lagi. I couldn’t afford the plane ticket when I was in college or in senior high school. Because what could I do that time?

 

Pasca berenang di Pantai Lumpue

Pantai Lumpue, Parepare

Selama di Parepare, aku sempat pergi ke Pantai Lumpue alias pantai yang deket-deket aja. Jujur, aku happyyyy banget bisa berenang di laut lagi setelah sekian lama! Kayaknya terakhir kali aku berenang di laut tuh pas aku di Bulukumba (2017). Tapi agak sedih di pantai itu ada banyak sampahnya, sampai aku harus bolak-balik ke daratan buat kumpulin sampah dari laut. Aku berenang dari jam 10 sampai jam 12 siang sama sepupu-sepupuku. 

 

Terus setelah puas berenang di pantai, sorenya aku sekeluarga pergi jalan-jalan ke Lejja yang ada di Kabupaten Soppeng buat menginap semalam, acara kumpul-kumpul keluarga. Sebenarnya di Pantai Lumpue pun itu ada acara arisan keluarga dan kumpul keluarga. Jujur aja, banyak yang engga aku kenal karena mon maap aku udah ga pulang 5 tahun. Tapi aku tetep seneng bisa silaturahmi sama keluarga besar <3 Ketemu saudaranya Nenek dan sepupu-sepupunya Ibu yang ternyata buanyak banget. 

 

Perjalanan dari Parepare ke Lejja memakan waktu 4 jam, melewati Kabupaten Sidrap (Sidenreng Rappang) dan Kabupaten Soppeng. Sampai sana jam 8 malam dan kami menginap di villa low-budget yang ada di pinggir pemandian air panas. Dari dulu keluargaku emang suka banget jalan-jalan dan explore ke tempat yang baru kaya gini. Rasanya tiap kali aku ke sini, selalu ada aja mini adventure ke tempat baru di Sulsel.

 

Tahun 2016, nginep semalam di Tana Toraja dan di sana melihat Kete Kesu dan Gua Londa. Terus tahun 2017, nginep semalam di Bulukumba dan pergi ke Pantai Apparalang, Pantai Tanjung Bira, dan pantai yang sepiiiiii banget di dekat tempat menginap. Dan sekarang tahun 2022, nginep semalam di Lejja. (Sebenernya pas aku engga pulang, keluargaku juga banyak acara liburannya tapi yah aku di Jawa)

 

Seru banget sih tidur sama-sama di villa low-budget yang bentukannya kayak rumah panggung dan letaknya di pinggir hutan-hutan gitu. Terus paginya sehabis subuh langsung berendam air panas karena Lejja itu memang wisata alam air panas. Sebenarnya tahun 2016, pun aku pernah ke sini sama sepupu-sepupuku tapi waktu itu engga sampai berendam karena aku mager.

 

Villa Yuliana, Kabupaten Soppeng

Siangnya mampir ke rumah adeknya Kakek di Soppeng. Sebelum sampai di rumah Ji’di (panggilan buat adeknya Kakek), aku sekeluarga mampir ke semacam cagar budaya yang namanya Villa Yuliana. Villa-nya itu horror banget tapi cantik bentukannya. Kata Omku, villa itu dulunya buat Ratu Belanda tapi begitu udah dibangun, ternyata Ratu-nya engga jadi tinggal di situ.


Kelelawar di tengah kota!

 

Terus aku juga liat kelelawar banyak banget bergelantungan di pohon-pohon!!! SUMPAHHH. Kukira selama ini kelelawar itu tidurnya di gua atau tempat gelap macam di film Batman, tapi ternyata mereka tidur di pohon tengah kota! Banyak banget kelelawar yang bergelantungan di pohon-pohon tapi pas kufoto hasilnya blur karena aku terlalu takjub (dan mobilnya jalan terus).

 

Setelah mampir di rumah Ji’di, pulang lagi ke Parepare. Ngelewatin jalan di pinggir persawahan, ngelewatin jalan rusak, dan mampir sebentar di pinggir jalan buat makan buah lontar sama minum tuak (air buah lontar). Pas pertama liat tuak, kukira tuak tuh miras, ternyata bukan :’) Rasanya segerrr banget.

 

Buah Lontar dan kerupuk gatau namanya tapi enak

Tuak (bukan miras)

Sesampainya di Parepare, capek juga tapi masih belum kerasa karena aku bener-bener berusaha menikmati waktuku di sana. Waktu bersama keluarga yang susah banget buat kudapatkan selama ini. Dua hari kemudian, aku balik ke Makassar. Di Makassar itu ada rumahnya Tante, makanya kalau liburan di Makassar pasti stay-nya di sini.


Oh iya sebelum pulang ke Makassar juga, sehari sebelumnya, sempat ke Ladoma, Bacukiki. Ibu dan tante-tanteku pun juga baru tau ada sungai berbatu-batu di Parepare. Sayangnya tempatnya belum begitu terawat karena katanya baru dibuka lagi setelah pandemi. Tapi enggapapa lah, lumayan buat denger suara aliran sungai dan duduk-duduk di atas batu besar sambil main air. 


Sungai berbatuan di Ladoma, Kec. Bacukiki, Parepare

 

Hari Jumat, aku kembali lagi ke Makassar. Selama di Makassar, aku cuma sempat main ke Mall Panakkukang :’) karena hari Sabtu-nya aku udah capek banget sedangkan hari Minggu aku harus balik ke Banjarbaru. Pas balik ke Banjarbaru, aku ngalamin delay dua kali di Makassar dan Surabaya. Hmmm... Harusnya Banjarbaru bikin penerbangan yang langsung ke Makassar dong, jangan yang ada transit-transitnya. 

 


**



Jadi begitulah liburan singkat di Parepare dan Makassar. Aku bakal selalu kangen dua kota itu. Kangen dengerin orang-orang yang semuanya ngomong pakek Bahasa Bugis. Ya walaupun aku engga bisa terjemahin, kadang aku bisa mengerti apa yang diomongin (dengan cara nebak-nebak). Kangen kotanya. Kangen keluargaku. Kangen sepupu-sepupuku. Kangen Kakek dan Nenek. Dan tentunya, kangen Ibuku, yang sudah melahirkan aku ke dunia <3

 

I wish I could go back there and stay there. I wish I could explore more cities in South Sulawesi. Someday.