Alternative OC Universe

Found You

Juni 22, 2023

Found You 


🌿🌿🌿

This town small was surrounded by trees.

 

He ran, ran, and ran until his lungs screamed to stop him from running. He went deep into the trees. Nobody would find him. Nobody cared if he was gone or disappear. Then, he cried softly.

 

The trees listened to him. The moonlight embraced him. The wind whispered to him.

 

He was completely alone and isolated but he kept on running away. Until the trees told him to stop and he fell to the ground. He laid on the grass, watched the moon up there, and breathed shakily. His body trembled. He cried until he did not feel and think anymore.

 

🌿🌿🌿

 

Gadis kecil itu mengerjapkan matanya. Ia menatap pepohonan di sekelilingnya. Keluarganya tengah sibuk menyiapkan tenda. Sementara keluarganya lain mendirikan tenda, Mama dan tante-tantenya menyiapkan makan malam.

 

Ia duduk sambil memakan es krim di atas batang pohon yang tumbang. Mata bulatnya menatap ke sekeliling hutan. Hutan itu terasa begitu besar dan luas bagi tubuhnya yang kecil. Ia takjub.

 

Seira merasa asing dengan kota kecil yang dikelilingi hutan itu. Ia rindu dengan kota besar tempatnya tinggal dulu. Saat ia pindah ke rumah barunya, orang-orang di sekelilingnya ribut membicarakan anak yang hilang di tengah hutan. Anak itu seumuran Seira.

 

Sudah dua hari tak ada yang menemukan anak itu. Tim Search and Rescue sudah dikerahkan. Warga kota turun ke dalam hutan untuk mencarinya. Polisi dan anjing pelacak turut serta. Namun, anak itu tetap tak ditemukan.

 

Meskipun umurnya masih 6 tahun, ia mengerti betapa mengerikan topik yang dibicarakan orang-orang dewasa di sekellilingnya. Anak seumuran dirinya takkan mungkin bisa bertahan di tengah hutan yang penuh dengan pohon pinus raksasa ini.

 

Berulang kali Mama menoleh ke arahnya untuk memastikan kalau ia berada di sana. Mama memang tipe yang tidak percaya takhayul dan tidak mudah terpengaruh ucapan orang-orang. Buktinya ia tetap mengajak Seira camping di hutan pada liburan semester kali ini. 


Namun, kejadian anak hilang itu tetap membuat cemas Mama jauh di dalam lubuk hatinya—ia juga takut jikalau putri satu-satunya ikut lenyap ditelan hutan. 

 

Seira belum punya sepupu sebaya. Kebanyakan sepupunya baru lahir atau berusia balita. Ia kesepian tapi juga menikmati rasa kesendirian itu.

 

Perlahan langit mulai gelap. Acara makan malam dimulai. Api unggun kecil dinyalakan oleh adik laki-laki Mama. Semua menikmati hidangan yang dimasak oleh Mama malam itu. Seira duduk di samping Mamanya dan memandang api yang berkobar di hadapannya. Meskipun ia sudah duduk cukup jauh dari api unggun itu, panasnya tetap terasa.

 

Tak lama setelah orang-orang menghabiskan hidangan dan bercakap-cakap sambil memainkan gitar, Seira jatuh tertidur di pangkuan Mamanya. Mamanya pun membawanya masuk ke dalam tenda.

 

Lewat tengah malam, api unggun mulai padam, kesunyian terasa makin mencekam. Seira terbangun. Ia dipeluk Mamanya. Tapi ia tidak bisa tidur lagi. Di luar tenda, ia bisa melihat cahaya beterbangan. Cahaya itu seperti keluar dari serangga… Seingatnya, nama serangga itu adalah kunang-kunang. Fireflies.

 

Pelan-pelan, ia melepaskan diri dari tangan Mama yang mendekapnya erat. Ia penasaran pada kunang-kunang itu.

 

Tanpa suara, ia menyelinap keluar dari tenda.

 



Udara dingin langsung menyergapnya. Ia memperhatikan ke sekeliling, tidak ada siapapun. Semuanya tertidur.

 

Sejak kecil, Seira selalu dibilang kalau ia anak berani dan tak kenal takut. Ia percaya itu. Dengan rasa penasaran yang membuncah di dadanya, ia melihat ke arah mana kunang-kunang itu terbang.

 

Ke dalam sana, pikirnya sambil mengenakan sandalnya dan mulai berjalan mengikuti kunang-kunang itu. Ia tersenyum melihat serangga yang mengeluarkan cahaya itu. Lalu, ia memperhatikan pemandangan di sekitarnya. Suara jangkrik terdengar jelas dari berbagai arah. Bulan bersinar cerah. Di balik dahan-dahan pohon, langit terlihat luas dan penuh dengan bintang-bintang.

 

Tanpa ia sadari, ia sudah berada di tengah hutan. Ia terus berjalan mengikuti kunang-kunang itu sampai tak melihat akar pohon yang ada di bawah kakinya. Ia terjatuh dan betapa terkejutnya ia melihat kaki seseorang di balik pohon.

 

Jantungnya berdegup kencang. Walau begitu, rasa takut tidak menyelinap di hatinya. Ia merangkak perlahan ke balik pohon itu dan terkesiap. Seorang anak laki-laki tersembunyi di bawah dahan-dahan pohon. 


Tubuhnya lebih kecil dari Seira… Anak laki-laki itu memakai celana pendek dan kaos sweater warna merah yang tampak sudah kotor. Kakinya penuh luka gores dan memar…  Salah satu pergelangan kakinya kelihatan bengkak.

 

Seira tak bisa melihat wajah anak laki-laki itu karena ia meringkuk membelakanginya.

 

“Kamu masih hidup?” gumam Seira pelan sambil berjalan mendekati anak itu untuk melihat wajahnya.

 

Di bawah cahaya remang-remang dari bulan dan kunang-kunang, Seira bisa melihat wajah anak laki-laki itu.



Mata anak laki-laki itu terpejam. Bibirnya terbuka. Napas pelan keluar dari mulutnya. Suara napasnya terdengar dangkal dan lambat. Wajahnya pucat, seolah tak ada darah mengalir ke wajahnya.
 

Seira menyentuh bahunya dan merasakan tulang di balik sweater itu. Tubuh itu sangat kurus dan ringkih, tapi juga hangat. Masih ada sisa-sisa aliran kehidupan di dalam tubuh kecil itu.

 

Jangan mati,” bisik Seira di telinga anak laki-laki itu. Lantas, Seira membangunkan anak laki-laki itu dengan pelan. Tapi anak laki-laki itu tidak juga membuka matanya. Tanpa sadar air mata Seira mengalir. Ia menangis. 


Untuk pertama kalinya ia merasa takut.

 

Ia menggenggam tangan anak laki-laki itu yang dingin.

 

Seira mulai terisak. “Mama… Mama…” Ia memanggil Mamanya. Namun suaranya hampir tak terdengar seakan pita suaranya dicabut.

 

Usianya baru 6 tahun, tapi Seira tahu seorang anak kecil tidak sewajarnya ditemukan di tengah hutan di malam hari—di tengah kunang-kunang yang berkerumun—dengan baju yang kotor dan tangan sedingin es.

 

Seira mencoba memapah tubuh anak laki-laki itu. Tak disangka tubuh anak laki-laki itu ringan. Ia berjalan menyeretnya dengan hati-hati… Cahaya bulan menolongnya dengan menyinari jalannya.

 

“Mamaaaa!” teriaknya. Air mata masih mengalir di pipinya. Ia takut. Sungguh takut kalau anak kecil di sampingnya mati.

 

Sayup-sayup terdengar namanya dipanggil. “Seiraaaaa!” Suara Mama. Disambung suara Omnya. Disambung suara Tantenya. “Seiraaaa! Di mana kamuuu?”

 

Seira terus berjalan. Ia melirik ke sampingnya. Kepala anak laki-laki itu terkulai lemah di bahunya. Tapi anak laki-laki itu masih bernapas pelan… Semakin lama tubuh anak laki-laki itu semakin berat membebani tubuh keci Seira. 

 

“Mamaaaa!” teriaknya lagi.

 

Air mata membasahi pipinya. Ia tak sanggup lagi melihat ke depan karena air mata yang berlinang di mata bulatnya. Hatinya entah kenapa terasa hancur. Ia juga tak mengerti perasaan yang membuncah ini.

 

Tak lama kemudian senter menyinari wajahnya.

 

“Oh astaga… Seira… Mama bersyukur menemukanmu,” bisik Mama sambil jatuh berlutut di depannya. “Anak ini? Bukankah dia anak yang hilang?”

 

“Mama, aku takut. Aku takut dia mati,” isak Seira.

 

Tak lama kemudian keluarga yang lain muncul di hadapannya. Mereka terkesiap dengan siapa yang berada di samping keponakan mereka. “Ya Tuhan…”

 

Begitu tangan lain menggendong tubuh anak laki-laki itu menjauhinya, Seira langsung jatuh ke pelukan Mamanya. Ia menangis. Menangis keras. Sementara sanak keluarga yang lain menelepon emergency call dan membawa anak laki-laki itu ke tempat yang aman.

 

“Sssh… Seira… Kamu aman sekarang,” bisik Mamanya sambil memeluk tubuh putrinya.

 

Seira tetap menangis kencang. Ia tidak tahu kenapa menangis. Ia hanya anak umur 6 tahun. Ia belum mengerti banyak hal. Termasuk perasaan ini yang tiba-tiba muncul di hati kecilnya.

 

🌿🌿🌿

 



Suara pintu diketuk berkali-kali membangunkannya. Leo mengerjapkan matanya, lantas beranjak berdiri dari sofa ruang tengah—tempatnya tertidur. Ia bermimpi tentang malam itu lagi. Anak perempuan yang menangis. Dirinya yang tersesat di tengah hutan. Penuh luka—baik secara fisik maupun hatinya. Dan perasaan marah berkecamuk. Anak kecil yang tersesat di tengah hutan itu sering kali muncul lagi di mimpinya dan membuatnya sesak.

 

Leo menyentuh kepalanya yang masih pening meskipun ia sudah menenggak dua tablet obat sakit kepala kemarin sore.

 

Ia membukakan pintu untuk abangnya yang baru pulang. Di luar hujan turun dengan deras. Tidak biasanya malam ini udara dingin terasa menusuk tulang.

 

“Kenapa lama sekali?” keluh Ryan seraya masuk ke dalam rumah dan melepas sepatu boots dan mantel hujannya.

 

Sorry,” kata Leo dengan suara parau. Ia melihat jam dinding di rumahnya—pukul 1 dini hari. Ryan baru pulang dari pekerjaannya yang kadang menuntutnya pulang sampai tengah malam.

 

Rumah keluarga Leo berada persis di belakang toko buku antik. Dari luar, toko buku itu mungkin terlihat kecil. Namun, di belakangnya terdapat halaman dan rumah yang cukup besar. Rumah itu dulu hangat dan memberikan rasa aman. Namun, semenjak kakek dan nenek meninggal, rumah itu dingin dan seolah tak bernyawa.

 

Sementara Ryan pergi membersihkan diri dan ganti baju, Leo kembali ke atas sofa dan menyelimuti dirinya dengan bed cover. Ia ingin kembali tidur, namun otaknya tak bisa berhenti bekerja. Mimpi itu terlalu realistis dan membuatnya teringat kejadian bertahun-tahun yang lalu. Ia masih ingat setiap detailnya dan tak akan mampu melupakannya.

 

Ia mengecek ponselnya untuk mengalihkan pikiran. Lalu ia teringat, tanggal kemarin adalah hari pengumuman nilai akhir semester. Ia membuka website kampus dan mengecek namanya. Seperti biasa, rantai nilai A memenuhi tabel nilai akhirnya. Ia mendapat perfect GPA lagi.

 

“Leo, mau susu cokelat?” tanya Ryan tiba-tiba. “Aku tahu kamu masih bangun.”

 

Leo pun menarik selimutnya dan mendudukan dirinya di atas sofa. Ryan membawa dua mug berisi susu cokelat panas. Sangat cocok diminum saat hujan turun deras dan suara petir menyambar-nyambar di luar sana.

 

Ia mengambilnya.

 

“Ada yang harus kubicarakan,” kata Ryan dengan nada serius.

 

Leo memperhatikan kakaknya dengan was-was. Walau begitu, ia tetap meminum susu cokelat yang masih beruap-uap itu.

 

“Rumah ini akan aku jual.”

 

Tanpa sadar Leo mempererat genggamannya pada mug panas itu. Meskipun ia sudah berhenti menyukai rumah ini, rumah ini tetap satu-satunya tempatnya pulang dari dormitory dan menyimpan kenangannya dengan kakek-nenek. 


Jika rumah ini dijual, maka toko buku itu juga pasti akan dijual… “Enggak,” kata Leo dengan suara ketus.

 

“Dengar dulu penjelasannya—”

 

“Aku enggak setuju.”

 

“Leo, kita butuh uang, apalagi kuliahmu itu enggak gratis.”

 

Leo meletakkan mug di atas meja. “Jadi karena aku?”

 

“Bukan cuma itu. Omzet toko buku itu juga  menurun. Mungkin selanjutnya, aku tidak bisa membayar pegawainya lagi.”

 

You don’t have to pay my fucking college tuition,” kata Leo. Jauh di lubuk hatinya, ia tahu apa penyebab Ryan tiba-tiba butuh banyak uang.

 

“Orangtua kita bahkan enggak mau bayarin kamu kuliah, jadi siapa lagi kalau bukan aku yang bayarin hah?” kata Ryan dengan nada marah. Suasana malam itu berubah. 

 

Leo menggertakan giginya. “Aku bisa kerja sambil kuliah.”

 

“Enggak. Rumah ini tetap harus dijual dan aku akan pindah ke kota tempatmu kuliah.”

 

“Bukannya pekerjaanmu bisa memberikan gaji yang layak sekarang tanpa harus pindah ke kotaku? Kalau uangmu tidak digunakan untuk biaya kuliahku, bukannya masih sisa banyak? Atau uangmu habis untuk beli beer? Untuk memanggil perem—”

 

Ryan menampar pipi Leo dengan keras.

 

Keparat," umpat Ryan.

 

Pipi Leo terasa panas. Samar-samar rasa anyir darah terasa di lidahnya. Namun ia menatap Ryan dan menyadari sesuatu. Kamu enggak bisa memutuskan sesuatu saat mabuk. You’re fucking drunk.”

 

“Siapa yang mabuk, Leo? Hah?”

 

You play nice in the morning than you become an asshole in the midnight. If you are not my brother, I would screw you right now.”

 

“Kalau begitu, pukul aja, Leo. Just like how you did when you were kid.

 

Napas Leo memburu. Kejadian bertahun-tahun yang laly  masih jelas di benaknya. Kejadian saat ia melempar gelas kaca kepada kakaknya di ruang rawat inap rumah sakit. Saat kakaknya datang menjenguknya—dan bukannya papa atau mamanya yang datang.

 

Lalu ia menatap mata kakaknya dengan nanar yang saat ini berdiri di hadapannya. Betapa ia ingin mengamuk, memukul, atau melempar sesuatu ke arah Ryan saat ini, tapi yang ada justru ia menelan mentah-mentah emosinya karena ia sadar malam itu bukan Ryan yang pulang ke rumah.

 

“Kenapa Leo? Enggak berani buat mukul kakak sendiri?”

 

Leo beranjak berdiri dengan kalem—meskipun itu dilakukannya dengan susah payah. “Jangan jual rumah ini. Dan jangan bayar uang kuliahku lagi,” ucapnya penuh penekanan. Lalu ia beranjak masuk ke kamarnya dan menutup pintunya.

 

Ia mengunci pintu kamarnya. Tanpa menyalakan lampu kamarnya, ia bersender pada pintu. Napasnya terengah. Tangannya gemetar. Pipinya masih terasa panas karena tamparan kakaknya. Apa susahnya menjadi waras sedikit? ucapnya dalam hati.

 

Kepalanya sakit. Ia berjalan menuju meja belajarnya yang berantakan dan mengambil obat sakit kepala yang ada di meja itu. Ia menenggak tiga pil tanpa air minum.

 

Berengsek. Leo mengumpat keras dalam hati.

 

Seandainya keadaannya normal, ia hanya ingin bilang kalau semester ini ia dapat GPA sempurna lagi. Ia sudah berusaha keras demi GPA sempurna itu. Ia melewati malam tanpa tidur hanya untuk belajar. 

 

Entah sejak kapan ia membenci Ryan—kakaknya yang usianya 10 tahun di atasnya. Entah sejak kapan ia membenci Papanya yang tidak pernah betul-betul menyayanginya. Entah sejak kapan ia membenci Mamanya yang pergi meninggalkannya bersama keluarga barunya.

 

Tapi ia tetap harus bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Ia tetap berpura-pura seolah ia punya kehidupan yang normal. Ia tetap berusaha dengan baik di sekolahnya. Tapi tidak ada yang tahu usahanya. 


Leo menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Ia menutup mata dengan lengannya. Ia ingin dirinya menghilang sejenak saja. Ia ingin tidak berpikir apapun lagi. Ia ingin melupakan segalanya.


Perlahan, napasnya mulai teratur. Efek obat sakit kepala itu perlahan membuatnya jatuh ke lubang gelap di dalam pikirannya.

 

🌿🌿🌿


Next part: 

https://bittersweetjourneyy.blogspot.com/2023/06/found-you-part-2.html?m=1

Alternative OC Universe

In the middle of Nowhere

Juni 12, 2023

 In the middle of Nowhere


🌿

A usual morning in my small town. The sky looks so bright and clear without any clouds. Birds are chirping outside the window. The wind blows the leaves. 


I avert my eyes from the scenery outside my mom’s bakery shop window before I accidentally drop one of these breads to the floor.

 

There’s only two bakery shops in this place. One is located by the main road and my mom’s bakery shop is located in residential areas. 


I still got one hour left to prepare and clean the shop. But I already arrange all the breads on the display. Well, I intend to finish my job earlier so I'll be able to read my book and drink my coffee before the open hours.

 

But I guess my plans to read book on the cashier table has to be postponed.



Motor matic itu berhenti di depan toko roti tepat saat aku meletakkan tanda ‘open’ di pintu kaca. Aku mengenali pengendara motornya. Maka, aku melangkah mundur dan pura-pura sibuk menata roti di atas rak roti. Namunmataku tetap terarah kepadanya. 


Dia laki-laki yang kutemui di padang rumput beberapa hari yang lalu saat hujan turun. Dia yang menunjukanku jalan keluar dari area padang rumput tanpa harus memanjat pagar.

 

Selama toko ini berdirisejak aku lahirbaru kali ini aku melihatnya ke sini. Kenapa? Apakah dia orang baru di kota yang penduduknya cuma 20.000 orang ini? Kalau dia orang baru, kenapa eksistensinya begitu familiar?

 

Ia menemukanku. Mata cokelatnya menemukanku yang sedang diam memperhatikannya di balik rak roti.


“Kamu? Yang waktu itu kan?” tanyanya.

 

Aku pura-pura berpikir padahal aku masih ingat setiap detail pertemuan hari itu. “Yeah, kamu yang waktu itu numpang mobilku kan?”  tanyaku sambil memperhatikan penampilannya hari itu. 


Hari ini dia memakai hoodie dan celana training. Astaga. Dia sepertinya baru bangun tidur karena rambutnya masih berantakan. Sangat berbeda dengan penampilannya beberapa hari yang lalu. Waktu itu dia kelihatan rebel dengan celana jeans robek-robeknya dan kemeja flannelnya. Tapi, kali ini dia terlihat seperti anak rumahan.


Ia tersenyum ramah. “Sekarang aku bawa motor, jadi enggak perlu numpang lagi.”

 

“Waktu itu kenapa enggak?” tanyaku berbasa-basi. Actually there are so many questions that I want to ask you. Firstly, why do you feel so familiar? 

 

“Waktu itu motornya dipakek abangku,” jawabnya sambil lalu. Ia mengalihkan matanya ke rak roti yang ada di sekitar kamitampak mencari-cari sesuatu. “Aku disuruh beli roti tawar, ada enggak?” 

 

Aku pun langsung berjalan menunjukkan rak yang berisi berbagai jenis roti tawar. Dia mengambil dua bungkus lantas membawanya ke kasir. Aku buru-buru kembali ke meja kasir karena pegawai yang lain masih berada di dapur menyiapkan roti.

 

Dengan cepat, aku mencatat pembelian dan menyebutkan harga yang harus dibayarnya. Lalu ia memberikanku uang. “Terima kasih sudah membeli,” jawabku sesuai SOP yang ada di bakery shop punya Mamaku.

 

Ia tidak langsung pergi. Ia terdiam selama beberapa saat memperhatikan buku yang tergeletak di atas meja kasir. Buku yang rencananya mau kubaca pagi ini. “Kamu beli buku ini dari toko buku antik?”

 

"Dari mana kamu tahu? Ah ya" Tiba-tiba aku teringat saat aku mengantarnya ke satu-satunya toko buku antik di kota ini. Rumahnya. “Iya. Kamu... tinggal di situ?” tanyaku hati-hati.

 

Ia mengangguk.

 

“Berarti toko buku itu milik keluargamu?”

 

“Yeah, makanya aku kembali.” Ia mengambil kantong belanjaannya dan pergi. Begitu saja. 

 

Oh aku iri. Dia punya toko buku yang isinya buku-buku terbitan pertama—termasuk novel klasik yang merupakan terbitan pertama dengan kertas menguning. Meskipun itu menjadi sebab beberapa buku di toko itu harganya mahal.  Namun, toko buku itu juga terkadang menjual buku terbitar baru yang cukup update.


Buku yang kubaca kali ini memang salah satu terbitan awal novel klasik dan harganya cukup menguras tabunganku.


Dari meja kasirku, aku memperhatikannya melaju dengan motor maticnya. Apa maksudnya “kembali? Atau itu sebabnya dia tidak pernah terlihat selama aku tinggal di sini? Tapi kenapa aku merasa mengenalnya dengan baik? 

 

Aku lanjut membaca selama tidak ada pembeli yang datang. Tetapi baru mencapai halaman ke-20, seorang pelanggan datang. Pelanggan yang baru saja masuk adalah tetangga baik kami yang setiap tiga hari sekali membeli stok roti gandum. Ia seorang wanita berusia 40 tahunan yang sudah kenal keluargaku sejak aku belum lahir. 

 

Tak lama kemudian, ia menghampiri meja kasir dengan roti gandum di tangannya. “Seira, ada kartu yang jatuh nih,” kata Tante Via—nama tetangga kami itu—seraya membungkuk dan menyodorkan sebuah kartu pelajar kepadaku.


"Eh? Kartunya siapa?" tanyaku seraya menerima kartu itu. 

 

Kartu itu jelas bukan punyaku karena foto ID-nya laki-laki. Kartu itu menunjukkan nama pemiliknya, nomor induk mahasiswa, tahun angkatan, dan tanggal lahir. Kartu itu milik Leo… dan dia ternyata seumuran denganku, tapi dia sudah satu tahun berada di universitas. Wow... universitas ini termasuk sulit ditembus.


Kartunya pasti tak sengaja jatuh waktu ia membuka dompetmya.

 

“Halooo? Tante mau bayar, Ra.” Suara Tante membuatku tersadar dari lamunanku.

 

Aku langsung mencatat pembelian dan menyebutkan harganya.

 

“Kartu pelajarnya siapa itu?” tanya Tante sambil mengamati kartu pelajar yang kuletakkan di atas meja kasir itu. Kartu pelajar punya Leo.

 

“Punya pelanggan, Tan,” jawabku.

 

Tante membaca nama di kartu pelajar itu. “Namanya kayak kenal. Bukannya dia anak yang pernah hilang waktu kecil ya?”

 

Aku mengerjapkan mataku. “Masa', Tan?”

 

“Tante ingat soalnya kamu yang menemukan anak itu.”

 

“Eh? Yang benar? Aku enggak ingat.” Aku tertawa kecil.

 

“Iya, waktu itu semua orang heboh. Semua orang di kota udah mencari anak itu, tapi enggak ada yang bisa menemukannya.” Tante Via mengambil kantong belanjaannya. “Udah ya, Tante udah ditungguin sama anak tante.”

 

Aku mengangguk sambil tersenyum. “Terima kasih, Tante.”


Lalu senyumku hilang. Aku baru tahu soal fakta itu? Apa maksudnya? Kenapa aku enggak ingat sama sekali??? Aku menatap nama di kartu pelajar itu. Leonard? Anak hilang? Aku yang menemukannya? It doesn’t make sense at all! 

 

Suara bel yang menandakan pintu terbuka membuat perhatianku terfokuskan lagi ke pekerjaanku hari ini. Aku menyimpan kartu pelajar itu kantong celana jeansku. Tidak ada waktu untuk melamun. Semakin siang, semakin banyak pembeli berdatangan sampai aku tidak sempat memikirkan kejadian yang tidak bisa kuingat.

 

Menjelang sore, Mama akhirnya tiba dari kota lain. Hari ini jadwalnya untuk membeli stok bahan-bahan kue. Ketika ia tiba, aku sedang merapihkan sisa roti yang terpajang di rak. Aku tersenyum cerah menyambut Mama yang sedang memasuki bakery shop.


“Bagaimana hari ini?” tanya Mama seraya duduk di depan meja kasir untuk beristirahat. Bahan-bahan kue itu sudah dibawa ke dapur oleh salah satu pegawai Mama. 

 

“Ramai dan sibuk,” balasku. 

 

“Syukurlah,” kata Mama seraya mengecek data penjualan hari ini di PC yang ada di meja kasir.

 

“Ma, memangnya aku pernah menemukan anak hilang?” tanyaku tiba-tiba. Bahkan aku tak sadar melontarkan pertanyaan itu. 

 

Mama yang tadinya sedang menatap layar langsung mengangkat wajahnya. “Mama pikir kamu masih ingat,” kata Mama.


Aku pun mendekati meja kasir dan mengambil tempat duduk di depannya. “Enggak. Aku sama sekali enggak ingat.”

 

“Waktu itu umurmu masih 6 tahun.”

 

“Berarti itu terjadi waktu kita mulai tinggal di sini?”

 

“Iya. Kamu yang tanpa sengaja menemukan anak hilang itu karena kebetulan waktu itu keluarga kita sedang camping. Siapa ya namanya? Mama bahkan tidak ingat nama anak hilang itu.”

 

“Leonard,” gumamku. “Kenapa aku bisa sampai enggak ingat kejadiannya ya, Ma?” Aku menghela napas.

 

“Memang kenapa tiba-tiba nanyain soal itu?” tanya Mama sambil mengelus kepalaku.

 

“Aku bertemu lagi dengannya,” jawabku.

 

“Eh bagus dong? Dia ingat kejadian itu?”

 

Aku menggeleng. Tiba-tiba aku teringat kalau aku harus mengembalikan kartu pelajar itu ke pemiliknya. Dan sebenarnya waktu shiftku sudah selesai. Bakery shop milik Mama memang buka sampai malam. “Ma, boleh aku pinjam mobil sebentar? Aku mau antar barang customer yang tadi ketinggalan.”

 

🌿🌿🌿



Toko buku antik. Setahuku, toko itu sudah berdiri puluhan tahun sebelum aku menginjakkan kakiku di kota ini. Biasanya aku datang ke toko buku ini dengan hati riang, namun kali ini hatiku merasa nervous parah

 

Baru kali ini aku nervous hanya karena datang ke toko buku.

 

Perlahan aku turun dari mobilku dan berjalan masuk ke dalam toko buku itu. Suara bel seperti biasa menyambutku. Aku melihat ke sekeliling—mencarinya. Bodoh. Dia tidak mungkin dengan mudah ditemukan di dalam toko buku ini. Sore itu hanya ada beberapa pengunjung dan seorang penjaga toko buku. 


Leo mungkin berada di dalam rumahnya. Tapi, mustahil juga aku langsung masuk ke pintu yang menuju rumahnya… Memangnya aku siapa? 

 

“Halo Kak Seira!” sapa anak SMA yang menjadi penjaga toko buku itu. Kami sudah saling mengenal. Namanya Maxillien tapi biasa kupanggil Max. Aku langsung menghampirinya. 


“Kamu tahu Leo ada di rumah atau enggak?” tanyaku dengan suara pelan—khawatir ada pengunjung yang mendengarnya.

 

Max yang berkacamata menatapku dengan tatapan penuh selidik. “Kenapa?”

 

Please, ada atau enggak?” tanyaku.

 

“Kapan kalian berkenalan? Bagaimana bisa kenal Kak Leo?”

 

Aku menahan kesabaranku. Aku tahu dia mengikuti ekskul KIR (Karya Ilmiah Remaja) di sekolahku tapi anak ini kadang terlalu kritis di saat yang tidak tepat. “Itu enggak penting. Dia ada di rumah atau enggak?”

 

“Kalau ada gimana? Kalau enggak ada, gimana?”

 

Aku mundur dari mejanya. Sudahlah. Tidak ada gunanya berbicara dengan Max.

 

“Dia pergi bawa gitar lagi,” kata Max sambil berdiri sebelum aku mencapai pintu. “Padahal udah enggak dibolehin.”

 

 Aku berhenti melangkah. “Thanks, Max!”

 

“Emang Kakak tahu kemana Kak Leo pergi?” tanya Max dengan polosnya.

 

Aku hanya tersenyum simpul seraya pergi meninggalkan toko buku antik tersebut. Lalu aku masuk ke dalam mobil dan mengemudikan mobilku ke tempat itu lagi—area padang rumput. Seperempat jam kemudian, aku memarkirkan mobilku di dekat celah pagar yang waktu itu ditunjukkan oleh Leo. Dugaanku tepat karena motor maticnya juga diparkir di dekat situ. 


Kuharap itu benar motor maticnya karena aku tidak ingat plat nomornya.

 

Aku turun dari mobil. Lantas aku melewati celah pagar itu dan berjalan menembus padang rumput. Sore itu, padang rumput itu terlihat sangat luas dan indah. Sejauh mata memandang, tidak ada siapapun di tengah area luas itu.

 

Tiba-tiba langkahku terhenti. 


Kenapa aku sampai rela berjalan di padang rumput ini cuma buat mengembalikan kartu pelajarnya? Seharusnya aku titipkan saja ke Max. Atau aku bisa ke toko bukunya lagi besok.

 

Bodoh. Silly girl. Ini bukan hanya sekedar mengembalikan kartu pelajarnya kan? Aku merasa seeprti orang bodoh, sampai mataku menemukan sepasang sepatu converse hitam tergeletak begitu saja. 


"Jadi dia benar ada di sini?" gumamku sambil memandnag ke sekelilingku. "Kamu di mana?" 


Aku memperhatikan arah sepatu itu seperti melihat kompas. Firasatku mengatakan kalau aku harus berjalan ke ujung padang rumput itu dan sampai ke sebuah pohon raksasa yang terlihat kecil dari tempatku berdiri. 


Pohon itu jelas bukan pohon yang biasa kukunjungi. Pohon itu jauh lebih besar dan rindang. Maka aku berjalan hingga sampai di bawah kerindangan pohon raksasa itu. Cukup melelahkan... Aku mengatur napasku setelah berjalan jauh. 




Lalu, aku mengelilingi batang pohon itu dan menemukannya tertidur dengan lengan menutupi matanya. 

 

Ia tidak memakai sepatunya dan hanya memakai kaus kakinya. Gitar tergeletak di sampingnya. Buku catatan terbuka—kertasnya berkibar tertiup angin. Ia tampak sangat tenang berbaring di atas rumput. Perlahan ia membuka mata ketika mendengar suara langkah kakiku mendekat.

 

Entah kenapa rasa lelahku hilang saat matanya menemukannya.

 

Aneh.

 

Kenapa?

 

"Kenapa kamu di sini?" tanyanya. Matanya terlihat makin cokelat di bawah sinar matahari sore. 


“Kartu pelajarmu ketinggalan di tokoku,” ucapku sambil menyodorkan kartu itu kepadanya. 

 

Ia mendudukan dirinya. Sorot matanya tanpa ekspresi. “Kamu bisa balikin besok kalau aku ke tokomu lagi,” ujarnya seraya mengambil kartu itu.

 

“Ada yang mau kutanyakan," ucapku spontan—tanpa berpikir dulu.

 

Ia mengernyitkan dahinya—tampak bertanya-tanya. Aku pun duduk bersila di hadapannya sementara ia membenarkan posisi duduknya. 

 

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Sebelum lima hari yang lalu di sini?” tanyaku langsung to the point.

 

Kami terdiam selama beberapa saat. Hanya terdengar suara angin bertiup dan rumput berdesir. “Ya,” jawabnya singkat. “You were the one who found me 12 years ago.

 

Aku menarik napas. “Kamu ingat?” Jawabannya sangat lugas, seolah ia masih mengingatnya persis. Tapi kenapa aku tidak?

 

“Aku baru teringat tadi pagi, rumahmu membuatku ingat,” jawabnya dengan suaranya yang tenang dan sedalam air danau yang tak beriak.

 

“Lalu kenapa aku enggak ingat? Why am I the only clueless one?

 

Bless you to forget that moment,” kata Leo sambil merebahkan dirinya lagi di bawah pohon. Ia memejamkan matanya lagi.

 

Baiklah, kalau itu kesimpulannya. Mungkin memang takdirku untuk tidak mengingat kejadian dari 12 tahun yang lalu. Lagi pula itu tidak relevan lagi. Aku beranjak berdiri—hendak pulang—karena urusanku sudah selesai. Tujuanku menemuinya hanya untuk mengembalikan kartu pelajarnya. Dan yeah bertanya. Jawabannya sudah kudapat.

 

“Jangan pergi,” pintanya.

 

Aku yang sudah berdiri menoleh ke arahnya dengan heran. Matanya masih terpejam. Aku tak mengerti kenapa dia memintaku tetap di sini? Kami bahkan tidak saling mengenal. “Aku harus pulang.”

 

“Sepatuku hilang,” ucapnya pelan. “Tolong bantu aku mencari sepatuku, setelah itu kamu boleh pulang. Tapi sebentar, aku mau di sini sebentar.”

 

Bagaimana bisa sepatunya hilang? Oh ya ampun. Padahal tadi aku menemukannya tergeletak di tengah rumput. Aku menghela napas. Matanya terpejam, aku bisa saja kabur...


"Jangan kabur," pintanya. "Aku bisa dengar suara langkah kakimu."


"Terus kalau aku kabur?"


Hening. Tangannya menutup kedua matanya. Ia mulai bernapas teratur. 


Mau tidak mau aku duduk kembali di sebelahnya sementara dia tertidur. Astaga. Apa yang kulakukan di sini? Kenapa aku menurut saja pada ucapannya yang persuasif? 

 

Tanpa sengaja aku melihat halaman journalnya yang terbuka. Aku membacanya sekilas sebelum angin menutup halamannya. Tulisannya sangat berantakan dan buku journal itu penuh tulisan yang tak terbaca. 

 

Aku menghela napas panjang. Pemandangan di sekelilingku sangat indah. Sudah berapa kali aku ke sini tapi masih terpesona dengan luasnya padang rumput yang  luas dan seolah tanpa batas. 


Aku suka melihat pemandangan yang luas karena itu membuatku seolah-olah bisa membayangkan berbagai kesempatan baik yang mungkin akan datang dalam hidupku... Aku teringat pengumuman kuliah yang akan muncul besok hari. Aku menggelengkan kepalaku—tak ada gunanya khawatir.


Seandainya aku membawa bukuku. Today is sucah a perfect day to read a book in nature. Tapihari ini—perjalananku ke sini adalah sebuah kecelakaan.

 

Aku duduk menekuk lututku dan mendekap kedua lututku. Aku bahkan sampai lupa membawa handphoneku ke sini. Aku memejamkan mataku dan berusaha mengingat kejadian 12 tahun yang lalu. Bagaimana caraku menemukannya? Apa yang terjadi? Kenapa dia menghilang?

 

Saat aku menbuka mataku lagi, samar-samar aku melihat dua orang berseragam polisi berjalan di kejauhan. Mereka berjalan ke arah kami... Aku tidak tahu apakah seharusnya kami boleh berada di sini atau tidak. Satu hal yang pasti, kami harus segera pergi.

 

“Leo,” panggilku sambil menoleh ke arahnya yang masih tertidur. “Leo! Bangun!”

 

Aku mengulurkan tanganku pada bahunya dan mengguncangnya. “Hey! Leo!” Something is not right.

 

"LEO!!" 


Akhirnya ia membuka matanya. Ia mendudukan dirinya dan mengernyitkan dahinya. “Kenapa, Seira”

 

“Polisi,” jawabku.

 

Aku menunjuk dua polisi yang sedang berjalan menyusuri padang rumput. Ia pun seera membereskan gitar dan buku journalnya ke dalam tas gitar. Lantas berdiri. “Ayo. Mereka tidak akan suka kita di sini.”

 

“Yeah, aku tahu. Aku pernah lihat tanda no tresspasing di depan pagar.”

 

Kami pun berlari menjauhi pohon raksasa itu. Ia berlari cepat di depanku tanpa alas kaki. (Entah sejak kapan ia melepas kaus kakinya). Kenapa dia sampai melepas sepatunya? He is so clumsy. Padang rumput ini tidak semuanya dipenuhi rumput tebal, terkadang ada bagian yang berkerikil dan kasar.


Aku masih ingat di mana aku menemukan sepatu converse yang mungkin miliknya. “Leo, aku tahu di mana sepatumu.”

 

Aku berbelok sebentar dan mengambil sepatu itu untuknya. Ia menerima dengan senyum di wajahnya. 


“Kupikir aku enggak akan nemu sepatuku lagi," kata Leo. 

 

Ia tidak sempat memakai sepatunya dan terus berlari tanpa alas kaki. Larinya cepat... Sementara lariku begitu lambat karena aku gampang capek. Ia pun menarik lenganku dengan tangannya yang bebas. Tangannya terasa panas di lenganku. Tapi ia sama sekali tidak menunjukkan ada yang salah dengan suhu tubuhnya. Ia tetap berlari di depanku dan aku hanya mampu melihat punggungnya. 


“Leo, kamu enggak apa-apa?” tanyaku.

 

Ia mengabaikan pertanyaanku sampai kami sampai di depan pagar dan melewati celah. Napas kami berdua sama-sama terengah. Sudah lama aku tidak berlari. Aku menoleh ke arah padang rumput itu dan mendapati kedua polisi itu masih jauh di sana. Mereka sepertinya tidak berniat untuk mengejar kami sampai ke luar area padang rumput.

 

Lalu aku menoleh ke arahnya. Ia kelihatan pucat. Keringat mengalir di pelipisnya. Rambutnya berantakan karena tertiup angin. 


Tanpa kami sadari, tangan kami masih berpegangan. Begitu kami sadar, aku langsung menjauhkan tanganku.

 

Thank you,” ucapnya sambil tersenyum. Yang seperti matahari. 

 

Saat kami berpegangan tangan seperti tadi, aku merasa aku sudah pernah melakukannya sebelumnya. Tapi aku tak bisa mengingatnya.

 

You are not okay," ucapku.

 

Leo tertawa. “Kenapa bilang begitu?”

 

“Kamu demam, Leo. You should go home.”

 

“Aku memang mau pulang. Thank you for bringing back my Student Card,” ucapnya seraya berjalan menuju motornya. Lantas ia memakai helmnya dan menyalakan motornya. “Cepat naik ke mobilmu," suruhnya.

 

Aku pun masuk ke dalam mobil dan menstarter mobil sedan milik Mamaku. Ia putar balik lebih dulu di depanku. Lalu, mobilku melaju di belakangnya. Ketika kami sampai di persimpangan, ia melambaikan tangan kanannya sebelum kami berbelok ke arah yang berbeda.

 

Aku tersenyum melihat gestur itu darinya. Banyak yang ingin kutanyakan. Banyak yang ingin kubicarakan dengannya. Aku—memikirkannya terlalu banyak hari ini. 


Kejadian barusan... aneh. In the middle of nowherehoweverit reminds me of something that I couldn’t remember. That warm hands, that honey brown eyes, that rare smile… somehow are like parts of my memory.

 

It feels like I just had a déjà vu. 


🌿🌿🌿




Alternative OC Universe

The Unwanted

Juni 02, 2023

 


🌙

The heath was not the decent place to be a shelter. But here I am in the midnight, when the moonlight illuminates the forbidden woods. 


Somebody said only the outcasts who are able to get through the forbidden woods safely. Probably I am one of them because I can be here after walking through that woods.

 

Hanya terdengar suara rumput bergemerisik malam itu. Angin yang berembus seolah berbisik kepadaku mengatakan aku tidak berhak berada di sini. Lalu di mana seharusnya aku berada? Padang rumput itu luas dan aku tidak melihat cahaya satupun sepanjang mata memandang.

 

Sepenuhnya aku sendirian—menjadi tak terlihat. Meskipun aku tak terlihat di mata siapapun, aku tetap mempunyai keinginan. Keinginanku hanya sederhana. Aku ingin dipeluk. Aku ingin dipeluk dan disayang...

 

Kakiku mulai terasa berat seolah gaya gravitasi bumi semakin membesar. Entah sudah sejauh apa aku melangkah di tengah padang rumput tanpa batas ini. Gelap. Hening. Kosong. Hanya cahaya rembulan yang menjadi satu-satunya alasan aku bisa melihat di tengah kegelapan total ini.

 

Barisan pohon hutan terlarang tampak semakin jauh di belakangku. Aku ingin kembali ke dalam hutan itu tapi hutan pun juga menolakku. Seolah aku ini barang tak berguna yang harus dibuang dan dijauhi.

 

Gravitasi bumi memperlambat langkah kakiku. Sampai akhirnya aku membiarkan gaya gravitasi itu menarikku dan rumput-rumput itu mengekang kaki telanjangku. Rumput itu tumbuh cepat dan bergerak seperti sulur, menarik kakiku, menarik tanganku, menyelubungi tubuhku yang jatuh telungkup di atas tanah.

 

Tanpa sadar air mataku meleleh. Apakah semua anak yang tak diinginkan akan berakhir seperti ini? Apakah aku tak boleh punya keinginan sedikitpun? Untuk merasakan dipeluk dan disayang?


Kupikir aku satu-satunya makhluk yang ada di tengah padang rumput itu. Tapi, samar-samar aku mendengar suara langkah kaki kian mendekat. 


Ada kunang-kunang mengikuti setiap langkahnya. Ketika ia sampai di hadapanku yang sudah dibelenggu oleh rerumputan jahat, ia berjongkok dan menatapku.

 

“Kamu juga dibuang?” tanyanya. Suaranya seperti danau yang tenang. Dalam.

 

Aku tak bisa melihat wajahnya. Tapi aku yakin dia laki-laki dari suaranya. Ia tampak seperti siluet. Aku hanya bisa melihat kalung berkilat di lehernya yang menunjukkan inisial huruf L.

 

“Ya,” jawabku lemah.

 

“Kamu bisa keluar dari belenggu itu, kalau kamu berhenti membohongi dirimu.”

 

Aku tak sanggup mengartikan ucapannya. Tak bisakah dia menarik rerumputan yang membebat tubuhku ini?

 

“Enggak. Aku enggak bisa menolong,” ucapnya dingin seolah dia mampu menebak isi pikiranku.

 

Sulur rerumputan itu mulai menutup mataku dan mulutku. Aku tak bisa bertanya lagi. Berhenti berbohong? Apa aku selama ini membohongi diriku?

 

Baiklah. Aku menarik napas sebelum rumput itu juga menutup jalur napasku. Pikiranku berpacu—mencari secercah prasangka baik yang pernah kubuat untuk diriku… yang kupikir itu satu kejujuran, bukan kebohongan. 


Mungkin masih ada orang yang menginginkan diriku ada di atas muka bumi ini—meskipun aku tidak tahu siapa. Mungkin aku tak seburuk yang pikiranku kira… Mungkin—

 

Rumput itu berhenti membebatku dan menyingkir dari wajahku. 

 

Aku bisa melihat dengan jelas sekarang. Mulutku bisa terbuka dan aku bisa bernapas. 

 

Aku terus mengulang pikiran itu berkali-kali hingga akhirnya sulur-sulur itu masuk kembali ke dalam tanah. Gravitasi bumi perlahan terasa seperti 9,8 m/s2 lagi sehingga aku bisa bangkit untuk duduk berhadapan dengan laki-laki itu.

 

Aku menatapnya dengan sorot tak percaya. Di bawah cahaya remulan, ia terlihat seperti patung. Kupikir warna abu-bau cocok untuk matanyam Namun, matanya berwarna cokelat madu. Manis. 

 

“Baru kali ini ada orang lain di sini,” ucapnya seraya duduk bersila di depanku. Kuperhatikan ia memakai kaos t-shirt, kemeja berwarna abu-abu, dan celana jeans. Wajahnya yang tanpa ekspresi terlihat seperti patung yang dipahat pemahat Yunani kuno. Tapi, mata, hidung, pipi, mulut, telinga, tangan, kaki, dan tubuhnya hidup.


 Dia jelas-jelas hidup.



“K-kenapa kamu bisa ada di sini?” tanyaku. Aku tersadar kalau aku memakai pakaian terakhirku dari dunia di balik hutan terlarang. Sweater berwarna pink lembut dipadu dengan pakaian overall pendek.

 

“Harusnya aku yang bertanya begitu.”

 

“Ini tempat apa?” tanyaku lagi.

 

Sekarang kunang-kunang mengelilingi kami berdua dan menjadi sumber cahaya selain rembulan. Cahaya kuning temaram berpendar dari para kunang-kunang itu.

 

Dia tak menjawab pertanyaanku.

 

Aku jadi takut. Apakah aku sudah tidak ada? Aku menekuk kedua lututku dan mendekap kedua lututku. Aku tak tahu tempat apa ini. Tenggorokanku tercekat. Lalu, air mataku tumpah. Pandanganku buram. Aku tak bisa menilai wajahnya dengan jelas lagi. Apakah dia baik? Atau jahat?

 

“Berhenti menangis,” ucapnya datar.

 

“Bagaimana bisa? Aku enggak tahu ini tempat apa," aku terisak. Lalu kutatap dirinya, "Dan kenapa kamu bisa melihatku?” tanyaku sambil menghapus air mataku meskipun air mataku belum bisa berhenti mengalir. 

 

Saat pandanganku mulai jernih, aku bisa melihat rerumputan di sekelilingku bergerak seperti ingin membelengguku lagi. Tapi para kunang-kunang itu menahannya.

 

“Kamu manusia, sama seperti diriku, tentu aku bisa melihatmu,” jawabnya datar.

 

“K-kamu menahan rerumputan itu?” tanyaku seraya menunjuk sulur-sulur rerumputan yang berusaha menjamah kaki dan tanganku lagi.

 

“Selama kamu belum bisa melepaskan perasaan burukmu, mereka akan menguburmu lagi.”

 

Aku menarik napas. Jadi karena aku? Aku menangkupkan tangan di depan wajahku dan aku berusaha menghilangkan perasaan negatif itu. Perlahan perasaan itu hilang digantikan dengan kehampaan dan keinginan yang semu...

 

Saat aku menurunkan tanganku, rumput-rumput itu normal kembali seperti rumput pada umumnya.

 

Aku menatapnya. “Bagaimana bisa?” tanyaku.

 

Ia mengangkat bahu. Aku yakin dia sebenarnya tahu jawabannya, tapi ia malas menjawab.

 

“Kamu masih mau hidup?” tanyanya dengan wajah penasaran.

 

“Mungkin.”

 

“Enggak boleh ada kata mungkin. Harus ya atau tidak.” Wajahnya serius. Alisnya hampir bertemu.

 

“Ya…” ucapku dengan suara lirih.

 

“Tapi mereka menganggapmu enggak ada. Masih mau ke sana?” tanyanya tanpa tedeng aling-aling sambil menunjuk hutan terlarang yang tampak berkilo-kilometer jauhnya. 


Aku mengerti yang dimaksud olehnya bukan hutan terlarang itu, tapi dunia yang ada di balik hutan tersebut.

 

“Kamu sendiri? Gimana?!” seruku.

 

“Aku tidak mau.”

 

Aku memperhatikan ekspresi wajahnya yang keras. Entah kenapa aku merasa di balik ucapan ketusnya, ia terlihat kesepian. Sangat kesepian. “Kenapa?” tanyaku.

 

“Karena mereka berharap aku pergi.”

 

“Kenapa?”

 

“Karena mereka beranggapan aku ini cuma beban. Karena kondisiku yang membuat mereka harus mengeluarkan banyak uang. Karena aku tidak bisa seperti anak lainnya!” Rerumputan itu tiba-tiba muncul begitu tinggi seperti ombak berwarna hijau gelap yang ingin memakannya hidup-hidup. 


Sulur-sulur itu seperti mau menarik tangan dan kakinya lalu membenamkan tubuhnya ke dalam tanah. Jika tidak ada para kunang-kunang kecil itu, rumput-rumput itu mungkin sudah menutup mata, hidung, dan mulutnya sampai ia berhenti bernapas.

 

Aku ngeri melihat rerumputan yang mengamuk ganas itu.

 

Detik berikutnya rumput itu normal kembali meskipun setelahnya cowok itu tampak semakin pucat dan bernapas lebih  cepat. 

 

Sorot matanya yang tadinya membara sekarang menatapku sedingin es. Aku melihatnya seperti landak. Berduri tajam tapi aslinya halus.

 

“Tapi kondisi itu bukan salahmu,” ucapku lirih.

 

Cahaya rembulan masih menyinari kami. Angin berembus perlahan membisikan suara-suara yang tak bisa diartikan dengan bahasa manusia. 


Padahal tadi aku sempat mendengar angin itu berbicara padaku dengan bahasa manusia.


“Mereka ingin aku enyah dari muka bumi ini,” ucapnya dengan nada datar—tanpa emosi apapun. Tapi mata cokelatnya tak bisa berbohong. “Jadi enggak ada gunanya kembali.”

 

“Lalu kenapa kamu enggak membiarkan rumput-rumput itu melahapmu?” Itu artinya kamu masih mau hidup. Kamu masih berkata ‘ya’ untuk hidup.

 

“Sebentar lagi aku akan membiarkan mereka untuk memakanku,” katanya. Lalu kusadari beberapa cahaya para kunang-kunang mulai redup.

 

“Terus aku sendirian di sini?” seruku panik.

 

“Bukan urusanku.”

 

“Jangan pergi sebelum katakan bagaimana caranya keluar dari sini!” 

 

Ia tertawa meremehkanku. Baru kali itu aku melihat ekspresi itu di wajahnya selain ekspresi datar. “Enggak ada yang bisa keluar dari sini.”

 

Aku merasa darah menghilang dari wajahku. “Benarkah?”

 

“Aku sudah melihat berbagai macam orang datang dan rumput-rumput itu memakan mereka. Aku melihat mereka perlahan ditelan bumi.”

 

“Tapi kamu masih ada di sini dengan kunang-kunang.”

 

“Ya…” jawabnya lirih. Sebagian besar kunang-kunang itu mulai redup dan berguguran. “Mereka temanku dan mereka bilang kalau mau keluar dari sini, aku harus bilang bersedia pada Kehidupan… dan aku harus siap pada konsekuensi menghadapi dunia lagi.”

 

Aku terdiam. Selama ini aku dianggap seolah tak pernah ada… Apakah aku mau merasakan perasaan itu lagi? Perasaan seolah-olah aku ini hanya hantu tak bernama di antara orang-orang yang kupikir seharusnya menyayangiku? 


“Y-ya, aku bersedia untuk hidup,” ucapku dengan ragu-ragu. Lantas aku menatap kalung huruf L di lehernya. “Boleh aku tahu namamu supaya aku ingat pernah bertemu seseorang di sini?”

 

“Leo.”

 

“Jadi itu arti huruf L di kalungmu. Leo.” Lalu aku menunjukan gelang bertuliskan namaku. Gelang itu terbuat dari manik-manik yang kurangkai sendiri. Lima di antara manik-manik itu adalah huruf yang membentuk namaku. “Seira,” ucapku—menyebutkan namaku.

 

Ia mengernyitkan dahi—tak mengerti. Atau tidak peduli? Atau tidak tertarik?

 

“Maksudku, namaku Seira.”

 

“Seira,” ucapnya menyebut setiap silabel namaku.  

 

Tiba-tiba bumi terasa bergoncang. Aku terkesiap. Lalu aku mendengar suara yang begitu memekakan telinga hingga aku harus menutup telingaku. Suara itu berkata dengan perkataan yang hanya bisa didengar di dalam kepalaku.

 

Kalian sudah bersedia untuk hidup meskipun diucapkan dalam hati bukan dengan mulut.

Kalian juga sudah siap menghadapi konsekuensi kehidupan.

Kalian juga sudah menyebut nama satu sama lain.

Jadi kalian bisa kembali ke dunia normal kalian.

 

Suara itu hilang. Aku melepas tangan dari kedua telingaku dan membuka mataku yang terpejam. Leo juga menurunkan tangan dari telinganya. Ia menatapku dengan mulut terbuka. Sepertinya suara tadi tidak hanya bisa didengar olehku, tetapi juga bisa didengar olehnya…

 

Air mata meleleh di pipinya. Ekspresinya yang sedingin patung seolah mulai mencair.

 

Apakah suara yang ia dengar mengatakan hal yang sama seperti yang kudengar? Karena reaksi kami berbeda. Aku tidak sampai menangis.

 

Tapi satu hal yang pasti, hutan terlarang itu tiba-tiba menjadi dekat seperti hanya sejengkal jaraknya dan ada jalan setapak di tengahnya yang diterangi kunang-kunang.

 


--

 

 

This is the place where all the unwanted beings meet. When one meet each other, they realize they do not feel unwanted anymore.

 

--

 

Fin.