Original Story

Biru - PART 1 -

Februari 17, 2018

𝓑𝓲𝓻𝓾

Photography by me

 

“Jadi, kamu lebih memilih stay di rumah?”

Seorang cowok jangkung baru saja selesai mengemasi barang-barangnya ke dalam koper untuk ia bawa pergi berlibur. Ia menatap adik perempuannya yang sedang bermalas-malasan di atas sofa sambil bermain laptop. Ia tak habis pikir, kenapa bisa ia punya adik cewek yang sangat pemalas karena seharian gadis itu hanya duduk di sofa.

“Iya,” jawab Kyranama adik perempuannyaketus.

Reza menatap adiknya dengan sangsi. “Yakin mau mendekam terus di rumah selama empat minggu liburan?”

"Iya. Lagian aku memang berencana buat berhibernasi,” jawab Kyra seenaknya.

Reza menggelengkan kepalanya lantas pergi ke dapur sambil berkata, “Baru kali ini aku ngajak orang liburan ke laut, malah enggak mau, cuma gara-gara kepengennya pergi ke gunung tapi enggak diizinin.”

Kyra menghentikan kegiatannya scrolling tumblr. Ia mendengus kesal.“Terus kenapa? Harusnya Kakak bersyukur, jadi enggak perlu beli tiket pesawat buat dua orang!”

Reza membuka kulkas, mencari-cari makanan. Setelah menemukan satu slice cheese cake, pizza sisa kemarin, es krim cookies, dan sekaleng soda, ia menutup kulkas menggunakan kakinya lalu kembali ke ruang tengah. Ia sedang lapar berat tapi malas memasak ataupun keluar cari makan. “Ini bukan masalah tiket pesawat, Kyra. Tapi ada keluarga kita di sana. Emang kamu enggak kangen Nenek? Udah empat tahun kan kamu enggak pulang ke sana?”

Kyra terlihat menimbang-nimbang sesaat. Keluarganya memang keluarga yang berkecukupan. Harga tiket pesawat hanya masalah kecil bagi keluarga mereka tapi Kyra sering tidak menyadarinya. Papanya punya perusahaan besar dan menjadi CEO di perusahaannya sendiri, sedangkan Mama memangku jabatan sebagai Menteri. Mereka orang hebat. Tapi akibatnya mereka jadi sangat sibuk sehingga sering lupa melupakan keberadaan Reza dan Kyra.

Kyra sendiri lebih sering menghabiskan waktunya di apartement kakaknya daripada di rumah karena di rumah hanya ada pembantu, tukang kebun, dan sopir. Meskipun ada 'banyak' orang, ia tetap selalu merasa kesepian.

“Tapi aku maunya liburan ke vila di gunung atau mendaki gunung.” Kyra masih berkilah.

“Kamu udah dengerin sendiri kan? Papa dan Mama enggak ngizinin kamu mendaki.”

“Kalau gitu aku enggak mau ikut Kakak.” Kyra mencibir dan melanjutkan bermain laptopnya.

Reza pikir adiknya akan berubah pikiran, tapi ternyata Kyra lebih keras kepala daripada yang ia duga. Tiba-tiba ia menyeringai usil. Sebenarnya tanpa meminta persetujuan Kyra pun, Reza akan tetap mengajak Kyra pergi ke rumah Nenek. “Enggak peduli kamu menolak terus, aku tetap akan ajak kamu. Soalnya aku udah beli dua tiket buat besok pagi.” Cowok itu terkekeh sambil menjilat es krimnya. 

WHAT?!” Kyra hampir menjatuhkan laptopnya karena terkejut. "Terus ngapain pakek tawar-menawar sama aku?" 

"Buang bosan." 

"Ih... Tetap aja aku enggak mau walau udah dibelikan tiket. Pokoknya besok pagi aku bakal bangun siang dan malam ini aku enggak akan bersiap-siap buat besok!”

“Terserah. Toh yang susah bakal kamu sendiri,” kata Reza sambil memakan cheese cake yang ada di tangannya.

Kyra menatap abangnya sebal. "Awas entar jadi gendut." 

"Bodo amat. Pokoknya besok kita berangkat. Enggak peduli kamu siap atau enggak. Kalau enggak ada aku di sini, siapa yang jagain kamu emangnya?" 

Kyra mendesah panjang. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Ia langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi teman-temannya agar mereka mau menjemputnya malam ini dari apartement

“Enggak. Nanti malam, kamu enggak boleh pergi sama anak-anak urakan itu,” kata Reza ketus seperti dapat membaca pikiran adiknya. 

Alis Kyra bertaut. “Mereka bukan anak urakan! Mereka teman-teman bandku!” Kali ini Kyra benar-benar tersinggung. Ia berjalan menuju kamarnya dan membanting pintu kamarnya. Ia kesal sekali. Ternyata Reza sudah tahu tentang band indienya. Dari mana Reza tahu?! Arghhh... Tapi yang paling ia tidak suka adalah saat teman-temannya disebut sebagai anak-anak urakan.


Selama di pesawat, Kyra lebih banyak diam. Begitu duduk di kursi penumpang kelas bisnis, ia langsung membuang muka ke arah jendela. Walaupun Reza mengancam tidak akan membereskan barang-barang Kyra, laki-laki itu tetap saja memasukkan beberapa pakaian Kyra ke dalam kopernya. Kyra dengan cuek hanya membawa gitarnya dan sebuah ransel hitam yang berisi pernak-perniknya. 

Reza selalu pura-pura bersikap tidak peduli pada adiknya. Tapi sebenarnya ia sangat memperhatikan adiknya. Ia tahu kalau adiknya pernah menjadi anggota band rock sebelum gabung dengan band indie, tapi tak berlangsung lama. Adiknya memang sangat berbakat di bidang musik. Papa dan Mama tak pernah menghalangi minatnya. Bahkan saat ulang tahun Kyra yang keenam, Papa membelikan putri satu-satunya sebuah grand prix piano.

Tunggu. Musik klasik ke musik rock?

Ya. Waktu pertama kali melihat piano di rumah teman Papa, Kyra langsung jatuh cinta pada alat musik tersebut. Gadis kecil itu bisa memainkan berbagai melodi sulit, tanpa guru yang membimbing. Namun saat SMP, Kyra mengenal gitar elektrik, gitar akustik, dan bass. Ia jadi lebih suka bermain kedua alat musik itu hingga ujung jarinya melepuh. 

Papa dan Mama tak masalah. Mereka pun membelikan Kyra gitar elektrik dan gitar akustik sekaligus. Tapi karena terlalu dibebaskan, Kyra menjadi semaunya sendiri. Ia merasa tak akan pernah ada yang menghalangi jalannya. Sampai akhirnya, saat SMA, Kyra mengikuti band rock dan menjadi gitarisnya. Ia bersama teman-teman bandnya bahkan mengikuti kompetisi band yang seharusnya untuk usia 18 tahun ke atas. Tapi Kyra bisa lolos mengikuti kompetisi itu saat umurnya masih 15 tahun. Orangtuanya tentu saja tidak mengetahui hal itu. Yang ia tahu, Kyra hanyalah anak perempuan tomboy yang suka bermain alat musik. 

“Kak... aku mual,” ucap Kyra tiba-tiba dengan wajah pucat pasi. Ia menarik lengan kemeja Reza dengan tangan lemas.

Reza mengambilkan kantong muntah yang selalu tersedia di kantong kursi penumpang. Bukannya bersimpati pada adiknya yang mabuk pesawat, Reza justru terkekeh. “Hehehe… Udah selesai ngambeknya?” Ia tahu, Kyra kalau sedang merajuk tak akan bicara pada subjek penyebab ia merajuk. 

Kyra mengernyitkan dahi sambil memuntahkan sarapannya. Kekesalannya semakin bertambah karena tak bisa membalas ejekan Reza. 


“Apa? Kamu pergi ke antah berantah selama sebulan?!”

Kyra menggigit bibirnya sambil mengetuk-ngetuk kusen jendela kamarnya dengan gelisah. Ia menyebut Pulau Kabaena sebagai tempat antah berantah. Karena untuk menuju tempat ini, ia harus naik pesawat, transit, naik pesawat lagi, lalu naik kapal feri, naik perahu kecil, naik mobil... Hhhh... Ia muntah berkali-kali.

Ia sudah beristirahat selama beberapa jam. Saat ini ia sedang duduk di jendela ruangan yang dulu pernah menjadi kamarnya. Jendela itu menghadap langsung ke laut yang jaraknya hanya seratus langkah. “Well, aku dipaksa Reza. Aku juga enggak menyangka kalau dia sudah membelikanku tiket pesawat! Kemarin malam pintu apartementnya juga dijaga ketat olehnya!" 

Terdengar helaan napas berat di seberang sana. Seorang laki-laki berumur 22 tahun. “Kami butuh kau di kompetisi band itu. Apa arti band kita tanpa seorang gitaris?”

Kyra memindahkan posisi kakinya agar terjulur ke luar jendela. “Bisa cari pengganti sementara kan?”

“Tapi pasti bakal susah buat menyesuaikan diri lagi, Ky." 

“Iya. Aku tahu. Aku bener-bener minta maaf, Yudha.” Hal yang ia sukai dari grup band ini, ia bisa sesuka hati memanggil orang yang lebih tua darinya tanpa honorific sebab member grup band itu tidak tahu kalau Kyra sebenarnya masih anak SMA kelas 11. 

“Baiklah. Kalau gitu, buat lagu original untuk band kita! Pokoknya sesampainya kamu di sini, kamu harus udah selesai bikin lirik sekaligus melodinya.”

“Oke.”

“Buat empat lagu, sesuai dengan jumlah kaburmu yang selama empat minggu.”

“Hey! Aku enggak kabur!”

TUUT TUUT…

Telepon diakhiri secara sepihak.

Kyra menggerutu dalam hati. Andaikan tidak perlu pergi ke pulau ini, ia bisa ikut kompetisi band dan manggung di cafe-cafe sesuai rencana Yudhaleader band indienya.

“Kyra? Ayo makan siang,” panggil Nenek. 

Kyra menyahut dengan malas. “Kyra belum lapar.”

“Ya sudah, nanti datang saja yang ke ruang makan.”

“Iya…”

Cewek itu berusaha menghubungi Yudha lagi. Tapi tidak ada sinyal. Ia bahkan tak bisa menyalakan koneksi internetnya. Arrrghhh… Kenapa aku harus pergi ke tempat ini?!


Kyra's Point of View

Rumah Nenek berada di pinggir laut yang tenang, dia sebuah kepualauan, di Provinsi Sulawesi Tenggara. Kalau disebutkan nama kepulauan itu, aku yakin tidak banyak orang yang tahu. Padahal pulau itu memiliki pantai berwarna biru yang sejernih kristal. 

Rumah Nenek adalah satu-satunya rumah mewah di tempat itu. Tentu saja karena anak-anak Nenek yang sudah menjadi orang sukses semua, Nenek jadi bisa menikmati hari tuanya tanpa mengkhawatirkan apa pun. Ia memiliki anak-anak yang sukses dan cucu-cucu yang sehat. 

Meskipun Kakek sudah meninggal sejak empat tahun yang lalu, Nenek tak pernah kesepian. Ada Tante Allisa yang selalu berada di dekat Nenek. Tante Allisa dan suaminya adalah pemilik resort di kawasan pantai ini.

Waktu masih kecil, aku pernah tinggal di sini selama lima tahun. Tempat ini menyimpan banyak kenangan. Dan yang paling kuingat adalah Kakek. Ingatan tentang Kakek masih sangat segar di kepalaku. Aku masih ingat Kakek yang suka bercerita saat ia masih menjadi pelaut dan segala macam petualangannya...

“Kyra senang bisa pulang ke sini?” tanya Nenek membuyarkan lamunanku. Nenek duduk di atas kursi sementara aku duduk di atas tangga. 

Saat ini aku sedang membantu Nenek mengupas kacang di dapur. (Sebenarnya Nenek punya pembantu, tapi lebih suka melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil dengan dibantu cucunya.) Di rumah ada dua saudara sepupuku, tapi aku masih merasa canggung, tidak seperti Reza yang baru datang sudah mengusili Zia dan Aziadik sepupuku yang umurnya masih 9 tahun. Terdengar suara tawa renyah Reza tiap kali ia berhasil mengerjai adik kembarnya.

Ini sudah hari ketiga aku berada di sini. Tapi aku masih belum merasa kerasan. Padahal masih tersisa 25 hari lagi. Ya ampun. 

“Huwaaaaa! Neneeeek! Kak Reza jahat!” jerit Zia sambil berlari menuju Neneknya.

“Eh, siapa yang jahat?” sahut Reza dengan wajah sok polos.

“Huwaaaaa!” Zia langsung memeluk Neneknya saat Reza datang ke arahnya.

“Udah… Udah…” Nenek mengelus rambut panjang Zia yang keriting.

Tak lama kemudian, Tante Allisa dan Om Anwar datang. Mereka akan makan malam di rumah Nenek. Kemudian terdengar suara klakson mobil, aku mengintip keluar. Dua saudara sepupuku yang berasal dari Makassar datang.

Sepertinya liburan kali ini benar-benar sulit untuk menulis lagu. Sangat ramai.


Di kamarku selalu ada dua ranjang karena keluargaku adalah keluarga besar yang memiliki banyak anggota. Tiap liburan, rumah ini menjadi sangat ramai. Padahal dengan adanya Zia dan Azi saja, rumah ini sudah terasa seperti pasar malam.

Aku memilih untuk mendekam di dalam kamar. Iseng, aku membuka laci meja belajarku waktu aku masih SD. Di dalam laci itu, terdapat sebuah boneka kayu lusuh yang di tengah-tengahnya terdapat batu berwarna toska. Aku yakin sekali, batu itu baru saja bersinar terang.

Aku terpukau oleh cahaya hijau kebiruan yang baru saja terpancar dari dada boneka kayu itu. Selain boneka kayu, aku menemukan buku diaryku waktu masih SD. Aku tersenyum sendiri saat membaca curhatan seorang bocah 7 tahun itu.

“Kak Kyra, lagi lihat apa?” sapa Safinaadik sepupuku yang berasal dari Makassar. Meskipun lebih muda dariku setahun, tubuhnya jauh lebih tinggi daripada diriku.

“Haha… Bukan apa-apa,” jawabku sambil menutup buku diaryku cepat-cepat. Aku malu banget kalau ada yang baca itu.

“Boneka Kakek ya?” kata Safina sambil menunjuk boneka kayu di tangan kiriku.

Entah kenapa seperti ada yang menusuk hatiku saat tahu benda ini ternyata peninggalan kakekku.

“Dulu kakek membuat tiap cucunya satu buah boneka kayu. Ada 11 boneka, sesuai jumlah kita,” jelas Safina dengan nada mengenang. ‘Kita’ yang dimaksud adalah aku, Safina, Reza, dan saudara-saudara sepupuku yang lain. Aku merasa hangat saat Safina mengucapkan kata itu. “Sayangnya punyaku dan punya Kak Alif sudah menghilang.”

Aku mengernyitkan dahi. “Menghilang?”

“Iya. Di rumahku, kedua boneka kayu itu diletakkan di tempat yang mencolok untuk dipajang. Tapi tiba-tiba suatu hari benda itu menghilang. Punya Azi dan Zia juga.”

“Dari mana kamu tahu punya Azi dan Zia juga hilang?”

“Tante Allisa yang bilang ke Bundaku,” jawab Safina. “Emang sih, kedengarannya sepele… Tapi waktu itu semua anak Kakek dan Nenek langsung saling menghubungi saat boneka peninggalan Kakek hilang. Padahal cuma boneka anak-anak.”

“Jadi, ini satu-satunya yang enggak hilang?” Aku cukup terkesan dengan cerita barusan dan merasa istimewasesaatkarena hanya bonekaku yang tidak hilang. Pasti Mama juga dihubungi oleh adik-adiknya, tapi Mama yang seorang Menteri mana punya waktu buat memikirkan hal remeh seperti boneka kayu.

Safina mengangguk yakin. “Punyaku berbatu warna merah dan merupakan boneka perempuan. Tapi kok punya Kakak, laki-laki?”

Aku menggeleng tak tahu. Tak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu, karena yang punya jawaban sudah lama tiada…


Selama beberapa hari selanjutnya, aku lebih banyak menghabiskan waktu di pantai. Tak sengaja aku menemukan kursi bambu di bawah pohon kelapa. Aku langsung menandai tempat itu sebagai teritorialku. Setiap hari, aku duduk di situ sambil memegang pensil dan buku tulisㅡberusaha merangkai kata untuk dijadikan lagu.

Kadang aku bermain gitar. Siapa tahu menemukan melodinya dulu, baru lirik. Tapi malah berujung aku disuruh bermain gitar untuk mengiring sepupu-sepupuku bernyanyi lagu anak-anak.

“Kyra, aku pergi memancing dulu ya! Bye!” seru Reza di atas yacht pribadi milik keluarga besarkuPapa yang membelinya. Ukuran yacht itu tidak terlalu besar karena hanya untuk memancing atau pergi antar pulau. Reza begitu lengket dengan Alifㅡkakaknya Safina. Mereka melambai kompak ke arahku.

Aku balas melambai dengan malas.

Dasar. Mereka berdua sama-sama sudah kuliah, tapi tingkahnya masih saja seperti bocah. (Reza sudah sidang, tinggal tunggu pengumuman kelulusan saja. Sedangkan Alif baru masuk kuliah tahun lalu.)

Aku memandang boneka kayu di tanganku. Batu di dada boneka anak laki-lakiku itu masih terlihat bersinar-sinar seperti kristal. Aku penasaran kenapa hanya bonekaku yang tidak hilang. Mungkin karena boneka ini tak kubawa sampai ke rumahku di Jakarta.

Bukannya memikirkan lirik lagu, malah memikirkan boneka enggak jelas.

Aku memutar pensilku dengan jari. Sepertinya bagus kalau aku membuat lagu tentang laut. Aku pun menulis verse pertamanya. Tapi langsung kuhapus lagi karena liriknya kentang banget. 

Aku menghela napas panjang. Ini sudah hari ke-6, aku di sini.

Lalu, aku berbaring di kursi bambu dan mengangkat boneka berbatu toska itu di atas wajahku. Boneka itu berwajah anak laki-laki. Rambutnya hitam dan pendek, terbuat dari serat sintetis. Matanya terbuat dari kancing berwarna hitam. Mulutnya diukir tersenyum. Ia memakai baju berwarna putih dan celana pendek berwarna biru. Di tengah baju itu, terdapat batu kristal berwarna toska.

Sekilas boneka ini tak ada spesial-spesialnya, kecuali dibuat langsung oleh Kakekku.

Arrrghhh… Kenapa aku malah lihat-lihat boneka sih? Ingat, Kyra! Lagu buat band indiemu!

Aku melempar boneka itu. Tapi air laut menyambarnya. Kemudian, boneka itu pun hanyut di atas air.

“Ah! Jangaaan!” Aku berlari ke arah laut.

Tubuhku menegang saat kakiku menyentuh air laut. Please trauma jangan datang di saat seperti ini. Oke. Tarik napas. Jangan ingat waktu aku tenggelam di laut. Jangan ingat!

Ah kalau disebutkan malah jadi ingat kan?!

Aku memejamkan mataku dan berlari lebih jauh ke arah laut. Aku membuka mataku sedikit untuk melihat apakah sudah dekat dengan si boneka?

Boneka itu berjarak tinggal sedikit lagi dariku. Tapi saat tanganku menggapainya, aku malah terjerembab jatuh ke dalam air.

Aku masih di berdiri di air yang kedalamannya hanya sepinggang. Tapi rasanya aku sudah panik. Aku membuka mataku di dalam air dan melihat seorang anak laki-laki…

Kakiku langsung menjejak pasir lagi agar tidak tenggelam dan kepalaku sudah berada di atas permukaan air laut. Aku bernapas seperti orang yang habis berlari jauh.

Boneka laki-laki itu berada di depanku. Tapi aku tidak melihat sosok anak laki-laki itu dari atas air. Hanya ada boneka kayu berbatu toska. Karena penasaran, aku berjongkok lagi agar seluruh tubuhku masuk ke dalam air dan betapa terkejutnya aku melihat seorang anak laki-laki ada di bawah air laut. Tangannya dilipat silang, matanya tertutup, dan ia seperti duduk bersila di dasar laut. Tak bergerak. Saking terkejutnya, aku sampai membuka mulut di dalam air dan menelan air laut.

Aku terbatuk-batuk. Ewww asin! Aku menyambar boneka laki-laki itu dan kembali ke daratan.


Keesokan harinya. Saat melihatku pergi ke laut dengan pakaian renang, orang-orang serumah langsung kaget. Seorang Kyra berenang? Impossible!

Begitulah pemikiran mereka dan kenyataannya memang begitu. Waktu umurku 11 tahun, aku pernah tenggelam. Hal itu membuatku trauma seumur hidup. Selain itu, aku juga tidak pandai berenang. Aku cuma pandai bermain gitar. Hehehe…

Tapi kali ini aku berusaha mengalahkan rasa takutku pada air. Aku akan menyelidiki anak laki-laki itu. Jadi, aku memakai kacamata renang juga agar mataku tidak perih saat berada di dalam air. Tentu sebelumnya aku sudah memakai sunblock banyak-banyak.

Aku melangkah di atas pasir putih yang sangat lembut, perlahan-lahan menuju ke arah laut yang berwarna sejernih kristal. Aku bahkan bisa melihat kakiku yang berada di bawah air dengan sangat jelas.

Ketika sudah berada di kedalaman setinggi pinggang orang dewasa, aku melepas boneka kayuku. Membiarkannya tenggelam di air laut. Kemudian, aku berjongkok agar seluruh tubuhku masuk ke dalam air.

Sekarang aku bisa melihat di dalam air dengan mudah berkat kacamata renang yang kupakai. Posisi tubuh anak laki-laki itu masih sama seperti kemarin. Rambutnya berwarna hitam. Kulitnya seputih susu. Ia memakai kaus berwarna putih dan celana pendek berwarna biru. Ia bertelanjang kaki. Wajahnya... tampan meski sedikit menyiratkan ekspresi bocah.

Aku mengangkat kepalaku lagi untuk menghirup udara. Setelah kuamati, anak laki-laki itu berpakaian sama persis dengan boneka kayuku.

Tidak mungkin kan… dia perwujudan boneka laki-lakiku?!

Setelah melihat fisiknya secara jelas, sekarang aku penasaran. Apakah dia hidup?

Aku menarik napas dan masuk lagi ke dalam air. Tanganku teraih untuk menyentuh pundaknya. Saat aku menyentuhnya, ia langsung membuka matanya seperti orang yang dibangunkan. Aku langsung kaget dan menarik napas di atas air.

“Dia hidup!” ucapku tak percaya.

Aku masuk lagi ke dalam air. Ia menatapku dengan sorot polos seperti anak kecil. Tapi dilihat dari proporsi tubuhnya, kira-kira ia berumur 17 atau 18 tahun. Ia tersenyum lebar saat melihatku. Ia tak lagi dalam posisi seperti memeluk sesuatu. Sekarang aku dan dia seperti sedang menyelam berhadapan di dalam air.

Aku tidak percaya ini. Tapi saat aku menyentuh tangannya, aku bisa merasakan tekstur tangannya. Tangan seorang laki-laki. Meskipun kulitnya seputih susu dan wajahnya berekspresi polos seperti bocah, tangannya berotot.

Ia menggenggam tanganku. Wajahnya terlihat terlalu senang sampai ia ingin menarikku ke laut yang lebih dalam, tapi aku menggeleng. Aku tidak bisa berenang. Wajahnya jadi murung saat aku menggeleng kuat-kuat. Ya Tuhan. Kenapa dia sangat mirip bocah menggemaskan?

Aku tak bisa menahan napas lebih lama lagi. Jadi aku mengangkat wajahku ke permukaan. Boneka laki-lakiku mengambang di atas air. Tapi saat aku menunduk ke dalam air, aku tak melihat sosoknya. Jadi, aku mengambil kesimpulan kalau anak laki-laki itu hanya bisa dilihat di bawah permukaan air laut.

Aku menyambar boneka laki-lakiku. Cukup untuk hari ini. karena ombak semakin besar dan langit terlihat kelabu. Aku harus naik ke daratan.


Berhari-hari kemudian, aku selalu pergi ke laut membawa boneka kayu milikku. Kalau adik-adik sepupuku juga pergi ke laut, diam-diam aku akan pergi ke daerah yang lebih sepi agar aku hanya bisa berdua bersamanya. Aku tak mau kelihatan seperti orang sinting yang berbicara pada makhluk yang aku sendiri tidak yakin dia nyata atau tidak. 

Aku belum tahu siapa namanya.

Aku pernah mengajaknya untuk naik ke permukaan, tapi ia menggeleng. Ia tidak bisa naik ke permukaan. Jadi kusimpulkan dia adalah makhluk laut!

Oke. Ini hanya imajinasiku saja. Tak mungkin ada yang namanya makhluk laut. Dia pasti tidak nyata. Dia hanya imajinasiku karena aku adalah seorang anak perempuan yang selalu kesepian.

Hari ini, aku melempar boneka laki-lakiku di air laut seperti biasanya. Kemudian aku berjongkok. Aku langsung disambut oleh senyum cerianya. Tangannya melambai ke arahku. Selama ini aku berkomunikasi dengannya menggunakan bahasa isyarat. Ia jago sekali berbahasa isyarat, seperti berbicara ke orang yang tunarungu. Tapi aku bisa mendengar dengan baik. Jadi seringkali aku tak paham maksud omongannya yang menggunakan bahasa isyarat itu.

Sepertinya ia baru saja menceritakan hal penting. Tapi aku tak mengerti satu kata pun bahasa isyaratnya. Ia terlihat frustasi. Wajahnya yang ceria seperti anak kecil berubah menjadi serius. Tiba-tiba saja ia mendekat ke arahku. Kini wajahku dan wajahnya berada sangat dekat. Mata kami saling beradu pandang. Bibirnya terbuka sedikit…

Aku tak kuat. Jadi aku menyembul ke atas air lagi.

“Apa yang mau dia lakukan?!” gumamku dengan jantung berdetak tak karuan. Memalukan!

Pipiku terasa panas saat mengingat kejadian barusan. Apakah dia berusaha menciumku? Tidak mungkin! Aku masih 16 tahun! Belum waktunya!

Aku pun berusaha berjalan ke arah pantai. Tapi kakiku tersandung pasir yang berat. Akhirnya aku jatuh terjerembab ke dalam air. Anak laki-laki itu langsung berenang mendekatiku. Kedua tangannya yang kokoh memegang pundakku dengan agak menekanseperti menahanku agar tidak menyembul ke permukaan air lagi. Kemudian ia mendekatkan wajahnya ke wajahku sebelum aku bisa menjauh lagi. Aku pasrah. Aku tidak bisa melawan tenaganya. Jadi aku hanya memejamkan mataku.

Tapi ia hanya mengecup keningku dengan lembut. Sangat lembut sehingga terasa seperti sapuan awan. 

“Kau bisa mendengarku sekarang?” 

𝓣𝓸 𝓑𝓮 𝓒𝓸𝓷𝓽𝓲𝓷𝓾𝓮𝓭

Here is the Part 2: 

Fairy Tale

Puff, the Magic Dragon

Desember 14, 2017

Hello~ It's been a while since I don't post anything on my blog. So, I will post a children story. Today, I joined story telling competition at my school. Actually, it's not a big event. It's just internal competition after final exam. 

The event allowed participants to write their own story. But, the genre must be Fantasy. So, I wrote this story to participate the event. 

Puff, the Magic Dragon

Autumn Forest

Once upon a time, lived a boy in the middle of forest, in a land called Honnah Lee. The boy’s name was Jackie Paper. He lived with his brother who always busy working. Their parents had gone away.

The lonely Jackie wanted a friend and good toys. However, his brother always ignored Jackie because he had to work hard to continue their life. Jackie was sad. He prayed to God to give him a friend and good toys.

One night, Jackie woke up from his tight sleep. He walked to the window because he saw something strange in the forest. The autumn mist had fallen down and covered the forest.

Jackie was surprised when he saw a silhoutte of big creature in the mist. The big creature had a pair of huge wings and its skin looked scally.

“W-what is that?” stuttered Jackie.

My Stories

One Night With PAKS~

Agustus 13, 2017

One Night With PAKS~ 



Haaai~ ^^

Kali ini aku mau cerita soal kegiatan yang baru aja kuikuti di sekolah, nama kegiatannya One Night With PAKS atau bahasa umumnya Makrab PAKS. Tahu kan, Makrab itu apa? :v Well, kalo enggak tahu, kukasih tahu deh. Makrab itu akronim dari ‘malam keakraban’. Sedangkan PAKS adalah salah satu sub-bidang OSIS di sekolahku yang membawahi berbagai macam ekskul yang berbau kreasi dan seni. For your information, PAKS itu singkatan dari Persepsi dan Apresiasi Kreasi Seni. Ekskul-ekskul yang termasuk dalam PAKS ini ada 10, yaitu Theater Pijar, Phosma, Saman of Smada, Jurnalistik, Broadcasting, Excelsiors, Multimedia, ESVO, Band, dan Karawitan. 

Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 12-13 Agustus 2017. Anwyay, aku nulis tulisan ini langsung setelah beres-beres dan makan siang /oke, ini sangat gak penting/. Aku pengen nulis ini karena di makrab ini ada banyak momen-momen yang enggak pengen kulupain, jadi kutulis dan kuposting di blog ini. Hehehe…

Oke, aku akan cerita mulai dari awal kegiatan ya…

Hari Sabtu, 12 Agustus 2017. Acara makrab dimulai jam 4 sore. Tapi khusus untuk kelas 12, kita disuruh berangkat lebih awal buat mempersiapkan registrasi adik kelas. Waktu itu, aku berangkat ke sekolah sekitar jam setengah empat-an dan sesampainya di sekolah, aku bingung. Aku enggak tahu tempat kumpul anak kelas 12 di mana :v

Terus ada yang kasih tahu aku kalau tempat kumpulnya di ruang kelas 12 IPS 1. Aku pun berjalan menuju ruang kelas itusendirian as always. Tapi begitu sampai di ruangan itu, enggak ada satu pun yang kukenal. SERIUS. Ada sih satu-dua anak yang aku kenal tapi sayangnya enggak begitu deket (u_u). Sementara aku ini orang yang awkward. Jadi, aku duduk di bangku panjang yang ada di depan ruang kelas itu buat menunggu temen-temen seekskulku datang. 

Beruntung enggak lama kemudian, ada temen dari ekskul Saman yang lumayan dekat sama aku. Terus temen se-ekskul-ku juga datang. Baru deh aku  masuk ke ruangan itu. Wkwkwk…

Sekitar pukul 5 sore, kegiatan Makrab PAKS dimulai di bangsal sekolahku. Ada acara penyambutan Waka Kesiswaan, Ketua Kegiatan, de el el. Tahu sendiri kan, acara pembukaan kayak gimana.

Berhubung aku udah kelas 12, jadi aku dan temen seekskul-kunamanya Adeberdiri di luar bangsal. Oh iya, for your infromation, aku ikut ekskul EXCELSIORS (Excelent and Incredible English Course) :3

Nah, habis acara pembukaan -> shalat. Harusnya sih aku shalat di masjid sekolah, tapi aku dan temen-temen seekskulku udah janjian buat shalat di Masjid Jendral Soedirman a.k.a. Masjid Jensoed yang berada dekat sekolah. Walaupun di Masjid Jensoed, shalatnya lama, paling enggak tempatnya sepi dan luas. Jadi bisa leyeh-leyeh dulu B-)

Di situ, aku bareng sama Ade, Karen, Rahmi, Bulan, Haqqi, dan Amel. Sampai adzan Isya, kita santai-santai di lantai dua masjid yang luas~ Kita enggak shalat berjamaah pas shalat Isya, karena udah enggak sabar buat makan roti bakar /eh/ karena kita harus mengikuti waktu di jadwal.

Selesai shalat Isya, kita makan malam di ruang kelas 12 IPA 1. Di saat yang lain makan di ruangtransit kelas 12 yang rame dan penuh, kita makan di ruang kelas yang sepi dan tenang~

Habis makan, kita ngobrol absurd. Bener-bener absurd sampe aku enggak mau nyeritain apa isi obrolan aku dan temen-temen Excelsiors di sini :v Takutnya kalian bakal illfeel.

Setelah puas ngobrol ngawur (?), kita menuju bangsal buat nonton acara Extrashow. Hmmm… Kita sebagai anak kelas 12, mengamati adek kelas yang lagi tampil... Anyway, extrashow itu semacam acara unjuk diri buat ekskul-ekskul di sekolahku. Misalnya ekskul Karawitan, ya menampilkan diri mereka bermain karawitan. Ekskul band, ya main band.

Sebenernya aku agak excited pas ekskul band memainkan lagu-lagunya Simple Plan :v Tapi aku tahan. Hehehehe…

Jam 9 malam, ada acara sharing masing-masing ekskul. Jadi, setiap ekskul langsung menuju ruang kelas terserah mereka, terus membicarakan banyak hal soal ekskul mereka. Kebanyakan acara sharing diisi dengan menyuruh adek-adek kelas ngungkapin uneg-uneg mereka selama di ekskul, terus ada orasi calon ketua ekskul yang baru, dan voting.

Kalo ekskulku ditambahin acara pemberian award ke kakak kelas B-) Jadiii, setiap anak kelas 12 bakal dapet award dari anak-anak kelas 11. Semua anak kelas 12 bakal dapet award tanpa terkecuali, biar semuanya seneng. Kapan lagi coba bisa dapet award?

Aku dapet award COOLEST. Hahaha xD Tapi aku emang cool sih…

Acara sharing di Excelsiors diakhiri dengan voting calon ketua ekskul yang baru. Terus kita semua balik ke ruang transit masing-masing buat tidur. YEAY~~~

Aku dan temen-temen seekskul-ku bukannya tidur malah NGOBROL :v Aku, Karen, Rahmi, dan Ade ngobrol sampe temen-temen lain yang ada di ruangan itu ngedumel ‘Berisik banget sih!’.

Kita cuma terkekeh-kekeh enggak jelas. Emangnya kita ngobrolin apa aja sih? :v Well, kita itu asik ngobrolin K-POP. Tapi bukan K-POP rookies yang lagi tenar sekarang macam Wanna One, BTS, Seventeen, de el el.

Aku dan Karen itu ELF (EVERLASTING FRIENDS), makanya omongan kita lumayan nyambung. Sedangkan Rahmi dan Ade multifandom di mana ELF termasuk di dalam fandom-fandom mereka (?) Aku udah lama banget ga nemu temen yang bener-bener ELF (T v T) /paling cuma di Twitter/, makanya aku seneng. Kita ngobrolin Suju (pasti), TVXQ, SHINee, SNSD, 2pm, U-Kiss, Beast, de el el. Sebenernya ada lagi temen seekskulku yang juga pure ELF, namanya Rana atau biasa dipanggil Caca. Tapi dia enggak tidur di tempat transit anak kelas 12 karena dia anak OSIS.

Jadi dari sore di tempat registrasi, aku, Karen, dan Caca nyanyi-nyanyi lagu-lagu Super Junior. Wkwkwk… Sampe Bulan harus nenangin kita bertiga biar enggak jadi pusat perhatian.

Pada akhirnya kita berempat memutuskan untuk enggak tidur. Eh bukan berempat, karena aku dan Rahmi berubah pikirian buat tidur aja sebentar :v

Jam 2 pagi, semua anak kelas 12 bangun untuk melakukan sesuatu... (?)

Skip.

Skip.

Skip.

Skip.

Skip.

Adzan Subuh berkumandang, aku, Karen, Rahmi, dan Ade pergi ke Masjid Jensoed lagi untuk menghindari keramaian masjid sekolah xD. Sekaligus mereka juga mau mandi pagi :v Tapi aku enggak mandi karena males.

Aku hampir ketiduran pas habis shalat Subuh di atas karpet masjid. Ngantuk banget gila. Ini pasti efek ga tidur semaleman (malemnya walaupun udah niat buat tidur, tetep aja aku enggak bisa tidur sama sekali :’v) Jam 5 lebih 20, kita balik ke sekolah.

Di saat yang lain pada tidur-tiduran lagi sehabis shalat, kita malah pergi ke lapangan :v Selama di podium (yang berada di dekat lapangan sekolahku), aku memejamkan mata tapi antara tidur dan enggak tidur :v Hal itu berlangsung secara putusputus sampai acara games berakhir. Aku sampe ga begitu merhatiin games karena ngantuk banget. Wkwkwk…

Sekitar pukul setengah 11, acara games selesai, terus disuruh balik ke ruang transit dan aku tidur lagi :v   

Sekitar jam 11-an, acara penutupan dimulai. Di acara penutupan itu, juga diumumkan siapa aja yang akan jadi ketua ekskul yang baru. Suasana menjadi haru biru setelah pengumuman ketua yang baru :’) Aku juga sedih karena habis ini, enggak bakal ada ekskul lagi… Walaupun aku enggak menjabat sebagai apa pun, aku tetep ngerasa sedih karena habis ini enggak akan ngajarin adek-adek kelas lagi… :’)

Suasana haru biru itu mereda saat pelepasan balon ke udara. Lalu ada acara foto bareng seluruh anggota ekskul dan ada foto bereng temen-temen seekskul di depan banner. Tiba-tiba aja ada yang memainkan lagu pakai gitar di sela-sela keramaian itu yang membuat suasana kembali baper.

Perasaan baru kemarin jadi anak kelas 11 yang mengatur kegiatan ekskul. Perasaan baru kemarin bisa ngajarin adek-adek kelas. Perasaan baru kemarin melaksanakan progja pertama… Entah kenapa, waktu berlalu begitu cepat sehingga tanpa kitaanak-anak kelas 12sadari, udah harus purna dari jabatan di ekskul.

Sepertinya, itu aja yang pengen kuungkapin agar dibaca oleh orang-orang biar mereka lebih menghargai setiap kegiatan ekskul mereka. Buat kalian, jangan suka bolos kegiatan ekskul entar kangen pas kelas 12 :v Hehehe… Ya udah. Sekian tulisan saya. Thank you for reading <3  

Article

6 Things To Do in South Sulawesi

Agustus 04, 2017

6 Things To Do in South Sulawesi

(Tanjung Bira Beach, Bulukumba Regency, South Sulawesi)

Hello guys! Have you ever visited South Sulawesi? The province with many historical and exotic destinations, from the city light of Makassar to the traditional cemetery in Tana Toraja. Today, I will give you suggestions about things to do in South Sulawesi ^^

If you visit South Sulawesi:

1. Explore Makassar City to discover Fort Rotterdam and Losari Beach. Both of places are near the sea. Fort Rotterdam is a heritage of Gowa-Tallo Empire. Meanwhile, Losari Beach is a famous beach in Makassar City. In Losari Beach, there is a Floating Mosque. Why is it named like that? Because the mosque is built above the water. After walking around, you must be hungry! So you should taste one of delicious Makassar street foods, that is Pisang Epe’. Pisang Epe’ is made of pounded bananas with variety toppings like caramel, sugar, and syrup. 

2. Observe Bulukumba regency which owns many beautiful beaches. This is very recommended! Your journey is not complete if you don’t go to the beach when you visit South Sulawesi! There are many beautiful beaches in Bulukumba regency with clear blue water, like Marina Beach, Apparalang Beach, Tanjung Bira Beach, and beaches in Selayar Island.These places take around 4 hours trip from Makassar. In Apparalang Beach, you can enjoy the scenery of blue sea and swim if you have courage. (I suggest you not to swim here! It's very dangerous because of the hard waves!) 

I will give you suggestions if you want to swim: book a villa which is near the sea for a night, then wake up early to enjoy sunrise in the morning and swim until you get attacked by jellyfish! (That is my experience xD). Next is Tanjung Bira beach. You can play water games here, like banana boats, diving, or take a boat to Penyu Island. You can also sail to Selayar Island to see more beautiful beaches. But it needs 4 hours sailing from Bira Harbour. You must visit those places! And for souvenir, I suggest you to buy Akar Bahar bracelet.

(Apparalang Beach, Bulukumba Regency, South Sulawesi)

3. If you prefer waterfall, you don’t have to worry that there is no waterfall in South Sulawesi. You must visit Bantimurung Waterfall to enjoy freeze water! Bantimurung Waterfall is near Makassar City. It only takes a hour to get there from the city. After playing with water, don’t forget to buy souvenirs! You can buy butterfly key chain, or many others insects souvenirs! It’s very unique to remind your memorable holiday in South Sulawesi.

4. Travel around Tana Toraja regency! Not only waterfall and beaches, South Sulawesi also has plateau. This is recommended for you who love to hike. You can go to a place called “Country Above the Clouds”. This place is a plateau that let you feel clouds beneath you feet. I suggest you to come here in the early morning to see beautiful sunrise. After that, you must visit Londa cemetery to see Toraja’s ancient culture to buried their ancestor’s mummy inside a hill. 

If you luck, you can visit the traditional ceremony of Toraja people. Be careful of pigs and Tedong (Sulawesi’s buffalo which has big torn in the head)! If you are a moslem, you should picky about the foods you want to eat, because it's hard to find halal food here. It takes 7-8 hours trip to Tana Toraja from Makassar.

(Traditional Ceremony of Toraja People)

(The view from "Country Above The Clouds")

5. Spare time to go to Pare-Pare city to enjoy the calmness. Yes, the city is serene and always has hot weather. In Pare-Pare, you can visit Habibie-Ainun monument which is very iconic because Pare-Pare is B.J. Habibie’s hometown. You can also go shopping in Pasar Senggol. There are many import products here with cheap price!

6. For kinds of food from South Sulawesi, you should eat Cotto Makassar. This food is very different from soto in Java, because the seasonings has stronger taste. Eat Cotto Makassar with burasa! Burasa is what lontong or ketupat called in Sulawesi, but it has rectangle shape. You can also try Pallu Basa. Pallu Basa is meat soup with rich seasonings and grated coconut. Don’t eat those foods if you have high colesterol! For dessert, try Pallu Butung. Pallu Butung is wrapped banana with green sticky rice that is usually served with Pandan syrup. It’s very delicious!

Well, that’s only a little about what you can do in South Sulawesi. There are still many destinations and many cultures to be explored! Don’t forget to consider South Sulawesi as your next holiday destination! Believe me, you won’t regret spending holiday in South Sulawesi! ^^


My Stories

A Short Journey

Februari 19, 2017

A Short Journey



A Short Journey, mungkin itu judul yang tepat buat hari ini :D Inget. Bukan lagunya Super Junior. Bukan judul novel. Tapi ini buat judul pengalamanku aja. Ya~ Hari ini emang lumayan seru, makanya langsung kutulis dan kushare di blog absurd ini XD Hari ini bener-bener hari yang enggak pengen aku lupain. Walaupun aku udah capek banget, aku tetep ambil laptopku dan nulis ini. Intinya: hari ini walaupun kurang beruntung, tapi… lumayan lah buat cari pengalaman…

Story begins!

Jadi, hari ini aku ikut lomba Quicky-Macky di UPS (Universitas Pancasakti) di Tegal. Berhubung aku sekolah + tinggal (ngekos) di Purwokerto, dan Tegal itu jaraknya sekitar 90 km dari Purwokerto (source: Google.com XD), aku dan temen-temen lain yang ikut lomba di UPS berangkat jam 4rencananya. Tapi ternyata malah berangkat jam 6 karena ngaret banget dan inilah, itulah, bla bla bla.

Tumben banget, aku bangun jam 3 pagi, terus langsung siap-siap berangkat lomba. Soalnya jam 4 udah harus ada di sekolah. Awalnya aku takut banget gak bisa bangun pagi karena aku ini tipe orang yang susah bangun pagi -____-‘ Muehehehe…

Selesai mandi, pakek baju, siap-siap, aku langsung jalan ke sekolah sendirian. Demi apa. Horor waktu ngelewatin bangsal sendirian >< Jadinya aku lari dari belakang sekolah sampai ke pintu gerbang Barat sekolah. Di depan gerbang Pak Sarkim (sebutan salah satu gerbang di sekolahku XD), udah ada Rifqi Hanif dan Karen. Mereka setim Quicky-Macky sama aku.

Tapi ngaret, ngaret, ngaret… Akhirnya kami berangkat jam 6. Jam 7 sarapan di Purbalingga. Selama di perjalanan, kita (total ada 11 anak yang ikut loba-lomba di UPS, soalnya lombanya bukan cuma Quicky-Macky tapi ada banyak) dengerin lagu /oke ini mendingan di skip -_- ga penting banget/

Intinya kita sampai di Tegal jam 9.30. Padahal babak Elimination-nya aja mulai jam 9.15. Tapi gitu deh… Orang Indonesia… Tahu sendiri kan? Ngaret. Di mana-mana ada aja yang ngaret. Realitinya mulai jam 10 pagi.