Alternative OC Universe

Fireworks and You

Mei 18, 2023

🎆

They said ohana means family and family means no one gets left behind. That’s freaking bullshit. Perhaps it is the reason why I always hated ‘Lilo and Stitch’ when I was a little. It doesn’t have connection but right now, my mind is a bit intricated.

 

Keramaian ini mulai terasa memuakkan. Aku berdiri dari kursi tempatku duduk dan melangkah menuju pintu keluar aula.

 

“Vanya! Mau ke mana?” seru seseorang memanggilku sambil memandangku dengan sorot kesal di balik kacamatanya. 


Tanpa menjawab, aku terus melangkah menjauhi barisan stan kelas-kelas yang menampilkan berbagai macam barang dan makanan untuk dijual. Selain menjual barang kerajinan dan makanan homemade, ada juga yang menawarkan jasa menggambar dan ramalan tarot.

 

Aku bisa melihat saudara kembarku menghampiri stan kelasnya. Tanpa sadar aku memutar bola mataku. Aku tahu dia hanya mampir sebentar di situ karena dia adalah Ketua Student Council (OSIS) alias manusia paling sibuk yang juga menjadi Ketua Panitia Event ini. Kalung co-card dengan tulisan Leader terpampang jelas di depan kemejanya. Teman-temannya menepuk bahunya sambil tertawa-tawa. 

 

Malam itu, sekolah terlihat meriah dan penuh sesak dengan manusia karena event ulang tahun sekolah terbuka untuk umum. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, stan-stan itu akan bubar begitu panggung di lapangan menampilkan bintang tamu yang akan meramaikan event.

 

Aku mau pulang tapi aku tidak mau pulang ke rumah karena aku yakin orang tuaku hanya akan menanyakan ‘Bagaimana acaranya Victor? Bagaimana Victor jadi ketua event?’ seolah aku tidak ada di dunia ini. 


Mungkin lebih baik aku menghilang aja dari muka bumi ini?

 

Koridor sekolah penuh dengan hiasan lampu berwarna warm white karena koridor itu menjadi jalur menuju lapangan yang ada di tengah area sekolah. Orang-orang dari luar sekolah datang berpasangan atau bergerombol dengan teman-teman mereka.

 

Sementara aku berjalan melawan arus, aku terpikirkan sesuatu. Di kontakku hanya ada dua orang yang kuanggap sebagai teman. Seira dan Aiden. Seandainya Seira tidak pergi keluar kota, mungkin dia akan bersamaku di sini. 


Kalau Aiden… argh entahlah. Dia teman sekelasku. Terakhir kali kami bertemu (yang artinya kemarin sore), kami bertengkar soal sepele. Kadang kami memang duduk sebangku kalau mendapat undian kursi yang bersebelahan. 


Kebetulan kemarin kami dapat nomor undian bersebelahan. Everything was fine. Dia tidak menggangguku dan aku pun demikian. Sampai dia menumpahkan minumannya di atas buku sejarahku.

 

Buku sejarah ini bukan textbook sekolah. Kalau textbook dari sekolah yang basah, aku tidak peduli! Tapi buku sejarah ini adalah buku yang baru kubeli hari Minggu lalu dan judulnya menarik perhatianku.

 

Tiba-tiba langkahku terhenti. Sial. Harusnya aku maafkan saja dia. Tapi dia malah bercanda soal bukuku. Dia bahkan sama sekali tidak minta maaf.

 

Lupakan. Aku malas memikirkannya. Lagipula sebenarnya buku itu masih bisa dibaca setelah kukeringkan (tapi kertasnya jadi keriting).

 

Aku berbelok ke arah gedung sekolah yang lain. Gedung sekolahku terdiri dari empat gedung utama yang mengelilingi lapangan di tengahnya. Gedung yang ini berada di sisi kanan dan terdiri dari ruangan-ruangan ekskul, termasuk ruangan seni untuk ekskul melukis. 


Ruang seni ada di lantai empat. Seira pernah menunjukkan ruangannya padaku. Ruangan itu sangat jarang kukunjungi. Tujuanku bukan ruangan itu, tapi balkonnya. Aku ingat ada sofa tua yang ditaruh di depan balkon itu untuk menikmati sunset karena gedungnya menghadap ke Barat.

 

Tepat saat aku mendudukan diriku di sofa tua itu, aku tertegun melihat pemandangan kembang api di atas langit sana… Kembang api satu per satu meluncur ke langit dan meledak menjadi percikan api berwarna-warni. Meskipun kembang api itu berada jauh dari wilayah sekolah, suara ledakannya tetap memekakkan telinga. Sorak sorai terdengar riuh dari lapangan sekolah. Murid-murid yang tadinya berada di dalam aula berjalan keluar untuk melihat kembang api itu.

 

Kembang api itu bukan bagian dari rangkaian acara ulang tahun sekolahku karena guru-guru melarang kami memakai kembang api. Entah siapa yang menyalakan kembang api itu, mereka pasti mengeluarkan banyak uang untuk menyalakan kembang api sebanyak itu.

 

Aku berdiri di depan pembatas balkon—menatap kembang api itu seperti baru pertama kali melihatnya. Indah…

 

“Hai Vanya?”

 

Aku hampir melompat kaget. Aku menoleh ke arah siapa yang baru saja mengagetkanku. Cowok itu tersenyum canggung sambil merapihkan rambut curlynya yang menutupi dahi. Sementara tangan kirinya memegang kantong plastik yang entah apa isinya.

 

“Sejak kapan kamu di sini hah?!” semburku.

 

Ia nyengir. “Aku mengikutimu dari tadi.”

 

Kembang api itu masih meletup-letup. Cahayanya terpantul di matanya yang berwarna abu-abu. Berbagai warna dari kembang api tampak sekilas di matanya. Oranye, merah, kuning, hijau, biru. Dia seperti perwujudan semua warna itu.

 

Aku membuang muka—berusaha mengenyahkan pikiran tadi. Saat aku menatap langit, kembang api itu sudah selesai. Tepuk tangan riuh rendah terdengar dari kerumunan di lapangan.

 

Sorry. Aku minta maaf soal bukumu yang kemarin. Tadi aku mampir ke gramedia buat beli buku yang kemarin basah itu, tapi aku enggak ingat judulnya. Jadi aku belikan pizza,” ucapnya sambil menyentuh tengkuknya.

 

Aku baru saja mau mengejeknya stalker karena sudah mengikutiku diam-diam sampai ke balkon ini. Tapi mendengar ucapan maafnya, mau tidak mau aku mengurungkan niatku.

 

“Judulnya ‘Ras, Kuasa, dan Kekerasan Kolonial di Hindia Belanda’,” balasku dengan cepat. “Tapi engga perlu beliin aku lagi. Bukunya masih bisa dibaca.” Entah kenapa aku merasa pipiku memerah. Udah lama aku tidak pernah menerima permintaan maaf sedramatis ini.

 

“SERIUS??!! Syukurlah, aku bahkan enggak ingat judul yang kamu bilang barusan,” kata Aiden dengan lega.

 


Berhubung kembang api-nya sudah selesai, aku duduk lagi di atas sofa reyot itu. Ia mengikuti gerakanku dan membuka pizza box dari kantong plastik yang ia bawa. Ia tersenyum lebar ketika membuka kotak pizza itu. Kelihatannya dia lagi pengen makan pizza. Melihatnya seperti ini mengingatkanku pada anjing shiba inu.

 

“Kupikir jadwalmu jaga stan kelas belum selesai,” ujar Aiden seraya mengambil satu slice pizza. Kami sekelas jadi tentu dia tahu jadwal jaga stan itu. Dia curang tidak kebagian jaga stan—dia kebagian tugas membuat kerajinan tangan untuk dijual di stan, jadi dia tidak perlu bertemu banyak orang seperti tugas penjaga stan.

 

“Di aula terlalu penuh sesak,” jawabku seadanya. Pizza itu ternyata mulai dingin tapi rasanya tetap enak.

 

“Jadi kamu kabur?”

 

“Ya, mau bagaimana lagi.”

 

Luckily, I found you.”

 

Mataku melebar. Aku berhenti mengunyah pizzaku. Hening sesaat di antara kami. Hanya terdengar samar lagunya Bruno Major yang berjudul Easily yang dicover salah satu murid cowok di panggung. Musiknya terdengar jelas sampai balkon lantai empat ini.

 

Dia mengerjapkan matanya seolah tersadar dari sesuatu. “Shit. Maksudku, untungnya aku nemu kamu jalan sendirian di tengah koridor kayak anak ilang.”

 

Aku tertawa kecil untuk mengalihkan suasana. Damn. Aku hampir menduga hal lain. “Bukannya tadi koridor rame banget ya?”

 

“Rambutmu yang warna merah mana mungkin bisa enggak kelihatan.” Ia mengambil satu lagi slice pizza yang mulai dingin itu.

 

Kami duduk diam sejenak mendengarkan musik yang mengalun dari lapangan. Malam itu terasa lebih dingin daripada malam lainnya. Aku memang hanya memakai kemeja lengan pendek dan rok selutut. Aku tidak kepikiran untuk membawa cardiganku. Malam itu langit tampak cerah tanpa awan. Taburan bintang terlihat jelas di langit yang berwarna hitam.

 

Tiba-tiba Aiden menyodorkan jaket hoodienya ke kepalaku. “Pakek. Lagian udah tau acaranya malam, malah pakek baju pendek.”

 

Dresscode-nya pakai kemeja lengan pendek,” balasku sambil menyampirkan hoodie itu di bahuku. Aroma perfumenya tercium jelas di hidungku. Aromanya lembut seperti vanilla dan juga ada aroma pelembut pakaian. Sepertinya dia memakai hoodie yang baru diambil di lemari. Aku tahu dia merokok, seharusnya ada bau rokok di jaketnya, tapi kali ini sama sekali tidak ada.

 

“Aku boleh merokok di sini?” tanyanya kemudian.

 

Aku menoleh ke arahnya. Di balik hoodie, ternyata dia hanya memakai t-shirt polos warna putih. Ada kalung yang baru kulihat tergantung di lehernya. “Enggak masalah.”

 

Dia merogoh sakunya dan menyalakan sebatang rokok.

 

Pizza itu tersisa satu slice. Aku mengambil sisanya.

 

Kami berdua tenggelam ke dalam pikiran masing-masing. Malam itu kusangka akan jadi malam yang memuakkan. Tapi, begitu dia datang, malam itu terasa tidak buruk juga. Bersama cowok ini, aku merasa tidak canggung sama sekali menjadi diriku sendiri dan aku tidak perlu khawatir dia akan membenciku.

 

Entahlah. Selama aku hidup 15 tahun di muka bumi ini, aku seringkali merasa doesn’t belong anywhere. Aku tidak cocok dimanapun aku berada—berbanding terbalik dengan saudara kembarku. Terus-terusan melihat kembaranku yang berlari jauh di depanku, tanpa sadar membuatku kehilangan arah.

 

Lalu aku bertemu dengan anak baru di sekolahku yang kebetulan masuk kelas yang sama denganku. Dia membuatku memikirkan hal lain selain rasa putus asaku yang selalu tertinggal dari kembaranku.

 

Fireworks, cold pizza, and two lost souls who met together. I don’t know how he did that but he could took me away from my self-loathing thoughts.


Fin 

 

Alternative OC Universe

Idle Town

Mei 15, 2023



🌿

This is just small town in the middle of somewhere. Almost everyone knows each other or related to someone that I know. Despite being the small town, this town got everything the people need. Everything is well-arranged. The people play their own role. 

 

I spend most of my life time here. I ever dream of escaping this town to bigger cities or other countries. But thinking about it alawys makes my heart feel heavier. It feels like a huge stone drop on my chest. The other side seems so scary and I don’t want to leave Gramma and my mom alone.

 

Siang itu, aku bersama kedua orang terdekatku. Pintu kamar dibuka lebar-lebar karena ada satu teman laki-lakiku di sini. Meskipun dia sudah sering main ke rumahku sejak aku menginjakkan kaki di rumah ini waktu berumur 6 tahun, Ibu tetap memberlakukan peraturan itu padanya.

 

“Jadi, kamu mau gap year?” tanya Vanya saat kami mulai bosan bermain uno stacko berdua. Tumpukan stacko itu kami biarkan tersusun sampai tinggi.

 

“Aku masih menunggu pengumuman universitas yang itu,” jawabku sambil duduk bertopang dagu. Sebentar lagi kami bertiga akan berpisah—memulai kehidupan kuliah masing-masing. Vanya sudah diterima di fakultas ilmus sosial dan ilmu politik universitas ternama. Ia diterima di jurusan Hubungan Internasional. Sedangkan Ansel—teman masa kecilku yang sekarang sedang membaca bukunya Carl Sagan—masuk fakultas MIPA jurusan Fisika Murni.

 

Tersisa aku yang masih menunggu universitas tujuanku menyeleksi portofolio seni yang sudah kubuat.

 

“Aku yakin kamu bakal keterima. Kalau universitas itu enggak menerimamu, universitas itu yang berarti enggak pantas buatmu,” kata Vanya.

 

Aku tersenyum kecil. Kamarku luas tapi terasa penuh karena berbagai alat lukis ada di sini. Berbagai canvas bersandar pada dinding. Postcard, art prints, dan berbagai pernak-pernik lainnya tertata di depan meja belajarku. Kami duduk di salah satu pojokannya dekat dengan jendela—tempatku menaruh pot-pot kecilku.

 

“Kamu masih kepikiran cowok waktu itu?” tanya Vanya dengan nada penuh selidik.

 

Spontan aku menggelengkan kepalaku. “Nope.”

 

Vanya memutar bola matanya. Lalu tertawa usil. “Jangan bohong, Seira, aku kenal kamu dari kamu masih bayi.”

 

Baiklah. Kuakui Vanya setengah benar karena aku penasaran kenapa aku merasa familiar dengan sosok yang kutemui beberapa hari yang lalu. Ini kota kecil jadi perasaan itu mungkin wajar. Tapi kenapa aku tidak pernah menemuinya saat aku pergi ke toko buku antik itu?

 

Vanya setengah salah karena aku sedang memikirkan kue wedding yang dibuat Ibuku tapi pemesannya tiba-tiba membatalkan rencana pernikahannya.

 

“Aku heran kenapa aku enggak pernah bertemu dengannya di toko buku itu,” ucapku pada akhirnya.

 

“Mungkin kamu terlalu fokus lihat-lihat buku,” kata Vanya.

 

Sefokus-fokusnya aku pada buku, harusnya aku sadar keberadaannya juga, bantahku dalam hati. Dia terlalu mencolok untuk diabaikan. Terutama matanya, rambutnya, entahlah… sedikit aroma cologne mahal yang tercium darinya waktu aku berjalan di belakangnya…

 

“Bisa jadi,” ucapku dengan nada melamun. “Ansel, kamu serius enggak pernah ketemu dia juga?”

 

Ansel mengangkat wajahnya dari buku yang ia baca. “Enggak. Aku enggak pernah lihat orang yang kamu deskripsikan.”

 

“Namanya Leo kan? Ada banyak Leo di kota kecil ini… Paman pemilik toko kelontong seberang rumahku namanya Leo, adik kelas kita ada juga yang namanya Leo,” Vanya mulai menyebutkan berbagai nama Leo di kota itu. 

 

“Bukan itu!” timpalku. Aku juga tahu adik kelas yang disebut oleh Vanya barusan. “Ah sudahlah, yang jelas dia bukan murid sekolah kita.”

 

“Atau dia berasal dari angkatan di atas kita?”

 

Aku mengendikkan bahu. Aku sedang malas berpikir. Kurebahkan tubuhku di atas tumpukan bantal dan plushie yang kupunya. Langit berwarna biru cerah terlihat jelas di luar jendela sana.

 

Vanya ikut merebahkan tubuhnya di sampingku. Beberapa helai rambut panjangnya terkena wajahku. “Vanyaa!” Aku menggerutu sambil menyingkirkan helaiannya dari wajahku. Rambutnya yang berwarna merah tembaga selalu terlihat mencolok di antara kami bertiga sejak dulu.

 

“Ansel? Kamu enggak capek baca terus?” kata Vanya pada Ansel yang masih punya hubungan sepupu dengannya. Begitulah. Orang-orang di kota kecil ini seolah saling bertaut.

 

“Enggak, aku mau selesaikan buku ini hari ini,” balas Ansel.

 

Angin sepoi-sepoi bertiup masuk—membelai kepala kami. Tanpa kami sadari, kelopak mataku mulai terasa berat. Sementara Vanya masih memainkan ponselnya di sebelahku, aku jatuh terlelap. Waktu-waktu di kota kecil ini mungkin akan segera berakhir.


🌿


Alternative OC Universe

Honey Brown Eyes

Mei 12, 2023

 


🌿

Nothing ever really happens in my life. I have a normal life or like everyone thinks about me. But one thing I never share to anyone is I am so easy to fall in love with everything around me. The chilly wind blowing this morning. The raindrops falling to flowers petals. The gray gloomy sky this afternoon. The bitter taste of americano. The smell of the book in my hand.

 

I fall easily for every details in my life, eventho not everday is beautiful days to notice small details around me. Sometimes I do feel grunge and too tired to listen. But I always try to be that girl my mom taught me to be.

 

Pohon tempat aku duduk membaca buku

Sore itu, aku menghabiskan kopiku di bawah sebuah pohon yang menghadap ke padang rumput luas. Kopi itu masih panas di dalam termosku. Aku baru mendongak ke atas ketika titik-titik air jatuh di lembar buku yang sedang kubaca. Ternyata gerimis mulai turun.

 

Hari ini memang bukan hari yang bagus untuk piknik, tapi itu kan menurut ramalan cuaca. Aku memandangi langit yang tampak kelabu. Aku pun mulai membereskan kain bermotif kotak-kotak yang kugunakan untuk duduk. Kumasukkan ke dalam tas beserta termos kopi dan bukuku. Aku pun tersadar kalau aku meninggalkan payungku di tasku yang lain.

 

Aroma petrikor merebak. Aku menarik napas dalam-dalam. Lalu, aku mulai berjalan di bawah gerimis.

 

Rambut pendekku yang bergelombang makin tidak karuan terkena terpaan angin. Aku mempercepat langkahku menuju mobil. Tiba-tiba entah kenapa aku jatuh terjerembab di atas rumput. Aku mengaduh pelan dan langsung berdiri. Ketika aku menoleh ke belakang, ternyata ada batu tersembunyi yang membuat kakiku tersandung.

 

Gerimis berubah menjadi hujan. Aku mengusap lututku yang tak terlindungi apapun. Aku memang memakai overall pendek. Perih. Iya, aku tahu lututku pasti lecet. Tanganku juga kotor oleh tanah dan warna klorofil. Aku menepuk-nepukkan tanganku agar tanah itu hilang.

 

Dengan langkah pincang, aku berjalan menuju mobilku yang jaraknya tinggal sedikit lagi.

 

“Hey? Kamu enggak apa-apa?”

 

Aku terkesiap. Mataku menatap sosok di hadapanku dengan tatapan tak percaya. Dari mana manusia ini muncul? Bukankah padang rumput ini lumayan terpencil dan bahkan aku harus memanjat pagar untuk masuk ke area ini.

 

Oh, aku sampai lupa. Pagar yang menghalangiku dengan jalan beraspal di depan. Aku harus memanjatnya dengan lutut nyeri seperti ini.

 

“Aku enggak apa-apa,” jawabku seadanya.

 

Sosok itu—bukan—laki-laki itu menatapku dengan prihatin. Ia membawa tas gitar di punggungnya. Ia memakai kemeja sebagai outer. Kaos print-an bertuliskan nama band entah apa tampak di balik kemeja itu. Celana jeansnya robek-robek. Aku mendongak menatap wajahnya sekilas.

 

Matanya. Meskipun di bawah cuaca mendung sekalipun warna matanya tetap cokelat. Like a honey drop in his eyes. Tidak seperti mataku yang hitam membosankan.

 

Aku buru-buru lanjut berjalan sebelum aku menemukan lebih banyak detail tentang sosok asing ini. Aku merutuki kebiasaanku melihat detail. Lagipula hujan tambah deras. Aku masih harus memanjat pagar setinggi dua meter itu.

 

“Kamu yakin bisa melewati pagar itu?” tanyanya dengan suaranya yang dalam.

 

“Ya, tentu,” jawabku dengan percaya diri. Tadi aku bisa memanjat pagar itu. Apa bedanya dengan sekarang?

 

“Hati-hati, pagarnya licin,” kata sosok itu.

 

Aku bisa melihat mobilku terparkir di balik jeruji pagar ini. Jantungku berdegup kencang—bukan karena cowok itu. Dia benar. Pagarnya licin. Aku tetap memaksa untuk memanjat pagar yang berbentuk seperti kawat saling bertaut itu. Tenang saja, di atasnya tidak ada kawat berduri. Aku menarik diriku ke atas lalu mengangkat kaki kananku, tapi tanganku terlepas dan aku terhuyung ke belakang.

 

Aku menoleh ke belakang. Sial. Ternyata dia memperhatikanku dari tadi. Sekarang aku bisa melihat rambutnya yang berwarna cokelat brunette yang mulai terguyur air hujan.

 

“Memangnya kau tahu jalan yang lain?”

 

Dia mengangguk. “Tapi aku boleh minta tolong menumpang dengan mobilmu sampai ke Jalan XXXX?”

 

Aku menatapnya dengan curiga. Rambut kami berdua mulai basah. Ayahku berkata untuk tidak mudah percaya pada orang asing yang mau menumpang mobil—bisa jadi mereka perampok. Tapi aku tidak menemukan celah melewati pagar kawat ini. Aku berdoa dalam hatiku. Semoga dia bukan orang jahat.

 

“Ya,” jawabku setelah berpikir sesaat.

 

Ia pun mulai berjalan di depanku. Kakiku terasa sakit dibuat berjalan. Aku berusaha tetap tegar. Aku menatap sosok di hadapanku. Ia berjalan cepat—entah karena kakiknya yang panjang atau ia tidak ingin terlalu lama kebasahan.

 

Petir menyambar. Aku berjengit, tapi dia tidak. Dia berjalan lurus menyusuri pagar ini sampai akhirnya kami sampai di pagar yang sama. Mungkin jaraknya 500 meter dari tempat mobilku terparkir. Ia berjongkok dan menarik pagar kawat yang sudah robek. Lalu ia melewati pagar itu sambil berjongkok.

 

Aku mengikuti gerakannya sambil meringis. Lututku…

 

Lalu, kami berjalan menuju mobil sedan tuaku. Kali ini aku agak berlari. Hujan semakin deras. Begitu sampai di mobilku, aku membuka pintu pertama kali berikutnya dia. Napasku tersengal karena baru saja berlari.

 

Ia duduk di sampingku. “Maaf, jok mobilmu jadi basah.”

 

“Enggak apa-apa, nanti bisa dilap,” jawabku seraya menstarter mobilku.

 

Aku memperhatikan dirinya sedikit dari ujung mataku—saat menoleh ke kaca spion kiri. Ia menyibakkan rambutnya yang tidak terlalu pendek dan tidak terlalu panjang. Aku memastikan tujuannya untuk berhenti di lokasi yang berada di depan sebuah toko buku antik di kotaku. Aku sering ke situ untuk cuci mata.

 

“Siapa namamu?” tanyanya setelah beberapa saat hanya terdengar suara wiper mobilku menyapu air dari kaca mobilku.

 

“Seira,” jawabku. “Dan kamu?”

 

“Leo,” balasnya. “Apa yang kamu lakukan di padang rumput sana?”

 

“Baca buku,” ucapku seadanya. “Kamu sendiri di sana ngapain?”

 

“Main gitar,” jawabnya straight-forward seolah aku tadi tidak melihatnya membawa gitar. Nada suaranya datar.

 

Aku penasaran kenapa dia bermain gitar sangat jauh di tengah padang rumput itu. Biasanya orang bermain gitar di atas balkon atau di dalam ruang kedap suara.

 

Tak lama kemudian plang toko buku itu tampak jelas. Aku memarkirkan mobilku di depan toko buku itu. “Kamu tinggal di sini?” tanyaku sebelum ia keluar.

 

“Kurang lebih begitu,” balasnya. “Thanks, Seira. Lain kali akan kubalas kebaikanmu.” Ia tersenyum simpul saat turun dari mobil. Ia membuka pintu belakang untuk mengambil tas gitarnya. Lalu ia berlari menuju toko buku itu. Aku baru menyetir mobilku menjauh dari toko buku itu setelah ia masuk ke dalam.

 

Kalau dia tinggal di toko buku itu, kenapa aku tidak pernah melihatnya sama sekali saat berkunjung ke toko buku itu?

 

🌿



Alternative OC Universe

Hujan, Laut, dan Rahasia

Maret 05, 2023

 Hujan, Laut, dan Rahasia


Pagi itu hujan turun dengan deras. Badai berkecamuk di luar sana. Seorang anak kecil terbangun karena suara kilat yang menyambar-nyambar. Begitu terbangun, ia langsung mencari hewan peliharaan barunya yang diberikan kakaknya seminggu yang lalu. Ia sangat menyayangi kucing berbulu pendek itu. Warna badannya putih tapi kaki dan ujung ekornya berwarna cokelat gelap.

Ia turun dari tempat tidurnya dan menundukkan kepala untuk melihat ke kolong tempat tidurnya. Tapi tidak ada apapun di bawah situ kecuali kotak mainan lamanya yang sudah berdebu. Petir menyambar lagi dan kali ini listrik mati. Lampu tidur berwarna kuning temaram di kamarnya mati dan sekarang kamarnya gelap total.

OC Universe

Lost [CHAPTER 5]

Februari 26, 2023

 Chapter 5


S
uara pintu yang dibuka dengan keras mengejutkan orang-orang yang sedang duduk melingkar di meja rapat tersebut. Pencahayaan ruangan yang remang-remang membuat suasana tegang dan dingin. Sosok yang baru masuk itu menutup pintu lagi dan langsung mengambil tempat di salah satu kursi kosong. “Kalian harus hati-hati dengan anak bernama Leonard ini. Lebih baik jangan punya urusan dengannya,” katanya memecahkan keheningan.

Salah satu yang duduk di deretan kursi itu adalah Jeffrey. Telinganya langsung tegak begitu nama Leonard disebut. Rasa penasaran memenuhi benaknya.

“Dan kalian harus hapus videonya yang ada di HP ataupun grup kelas. Dan kau Victor juga harus menghapusnya dan minta maaf langsung kepadanya,” kata Bima dengan nada gemetar. Di bawah sinar lampu temaram, wajahnya terlihat pucat pasi.

Baru sehari menjabat sebagai ketua OSIS, ia sudah menemukan masalah kecil. “Kenapa harus aku yang datang kepadanya dan minta maaf?”