OC Universe

Lost [CHAPTER 4]

Januari 14, 2023

Chapter 4 

“Nath, aku engga bilang bakal sepanjang semester ikut ekskul ini,” kata Leo suatu sore di ruang seni yang berada di lantai paling atas gedung utama.

“Kamu bertingkah seolah ekskul ini udah berjalan sebulan lebih,” kata Nathan seraya membuka peralatan melukisnya. Ekskul ini baru dibuat seminggu lalu yang berarti ini kedua kalinya Leo datang ke ruangan ini untuk ikut ekskul—secara terpaksa.

Leo menghela napas. Ia juga tidak tahu apa yang harus ia lakukan di rumah. Sejak dua hari yang lalu, kakaknya sudah berangkat bekerja lagi setelah diizinkan work from home karena jatuh tergelincir dari motor. Jadi, kalau ia pulang sekarang, ia hanya akan sendirian di rumah dan ujung-ujungnya ia bermain game di laptopnya. 

OC Universe

Lost [CHAPTER 3]

Desember 18, 2022

Chapter 3

 “Sekolah yang sama dengannya?” gadis itu langsung kehilangan selera makannya ketika kedua orangtuanya menyampaikan berita itu padanya suatu pagi saat mereka sarapan bersama. Ia menatap serealnya dengan enggan. Kenangan tidak menyenangkan semenjak TK sampai SMP memenuhi pikirannya. Ia selalu dibandingkan dengan saudara kembarnya oleh siapapun yang ada di sekolah. Victor yang begini. Victor yang begitu. Victor yang bisa menang semua kompetisi.

“Iya, Mama rasa akan lebih baik kalau kalian satu sekolah. Kalian bisa saling jaga dan mengajari,” kata wanita yang duduk di depan gadis itu.

Mereka tak tahu realitanya. Atau mereka tahu tapi menutup mata dan telinga? Atau mereka tahu dan sengaja membuatku merasa seperti ini? batin gadis berambut merah tembaga itu—Vanya. Ia tersenyum manis. “Oke, Ma. Aku mau satu sekolahan dengan dia.”

OC Universe

Lost [CHAPTER 2]

Desember 18, 2022

 Chapter 2

Langit terlihat mendung selama perjalanan panjang itu. Terkadang cerah menunjukkan seberkas sinar mmatahari. Namun, lebih sering mendung dan hujan. Aiden memilih tidur di jok belakang bersama barang-barangnya yang menumpuk di segala penjuru mobil.

Kali ini ia terbangun karena mobil berguncang begitu keras sampai punggungnya terasa sakit. Padahal ia sudah merasa pegal dengan seluruh perjalanan panjang ini.

“Ada apa?” tanyanya pada sopir—yang menjadi satu-satunya orang selain dirinya di dalam mobil tua itu—ketika mobil berhenti. Ia beranjak bangun. Rambut curly-nya terlihat acak-acakan setelah tidak disisir selama perjalanan.

Waktu menunjukkan pukul 5 sore dan mereka berhenti di tengah-tengah sawah. Tidak ada rumah dekat situ yang bisa memberi pertolongan. Pak Radi yang menjadi sopir mobil itu kelihatan gugup karena mobilnya sudah berkali-kali distarter tidak menyala juga. “Mogok, Mas.”

OC Universe

Lost [CHAPTER 1]

Desember 18, 2022

Disclaimer:
Tulisan ini sebenernya baru berupa draft dan belum kubaca ulang karena belum selesai. Judulnya juga belum aku tentuin. But I still wanna put it here.  

--------------------------------

 

Chapter 1

Segalanya mulai terasa aneh ketika keheningan muncul di benaknya. Hening yang membuatnya tidak mendengar lagi suara apapun yang ada di sekitarnya. Kedua matanya menatap papan tulis yang menampakkan materi hari itu. Ia memahami setiap angka dan huruf yang tertulis di sana. Tangan kirinya menopang dagunya. Sementara tangan kanannya sibuk memutar pena yang dari tadi ia gunakan untuk menulis.

Ia tidak lagi mendengar suara guru yang sedang menjelaskan di depan kelas itu. Bukan. Bukan karena ia tuli. Rasanya seperti tenggelam dalam lamunan. Lamunan yang lebih dalam hingga membuatnya merasa terlepas dari tubuhnya. Hanya tangan kanannya yang terus bergerak memutar pena yang meyakinkannya kalau ia sedang duduk di dalam kelas fisika yang membuat semua orang mengantuk di jam menjelang makan siang.

Original Story

Feeling Like Ghost

Juli 31, 2022

 

She was alive but feeling like a ghost. Watching people from the window on her mind. Thinking about why she was there. Wondering if she was away. Longing about a place she never lived before.


**


Malam itu dingin. Hanya ada kami berdua di atas atap gedung itu. Gedung yang menjadi tempat tinggal kami selama berada di kota ini. Entah sudah berapa kali kami duduk di atas sini—melihat jalan raya yang tak pernah sepi. Mobil terus berlalu lalang di bawah sana. Dari ketinggian gedung 15 lantai, mobil-mobil itu terlihat kecil.


“Leo, pernah engga kepikiran jadi hantu?” tanyaku tiba-tiba sambil menatap ke bawah. Tanganku terjulur dan dagu tersandar pada pinggiran tembok. Sebetulnya tempat ini sama sekali tidak aman. Tempat ini bukan seharusnya dikunjungi oleh manusia.


Leo—cowok yang sudah jadi temanku sejak kami sama-sama berusia 15 tahun—termenung sejenak. Ia juga duduk di sampingku sambil melihat ke bawah dengan jari memegang sebatang rokok. “Lo jangan mikir yang aneh-aneh.”


Aku mendengus tertawa. “Bukan itu maksudku.” Sepertinya malah dia yang berpikiran aneh-aneh.  I don’t want to suicide. Aku sudah lama mengubur perasaan itu karena tidak ada efeknya lagi bagiku. Mati dengan sengaja bukan pilihan yang tepat untuk mengakhiri hidup. “Kamu pernah merasa ada tapi juga merasa engga ada?”


Being ignored?” Leo menoleh ke arahku. Aku bisa merasakan tatapannya mengarah pada kepalaku.


More than that. It’s like… people doesn’t event realize you exist between them.”


Does it mean… you want to get noticed?


Aku menghela napas lalu menoleh ke arahnya. “Bukan gitu. Ah sudahlah.”


**